Categories
KETIK

Substansi Terakhir dari Legenda Kotak Pandora

Wawancara dengan Ners Ary, salah seorang perawat yang merupakan bagian dari tim perawatan pasien dengan diagnosis penyakit covid-19 di salah satu rumah sakit rujukan di Kalimantan.

Situasi yang terjadi pada masa-masa pandemi covid-19 ini benar-benar seperti mimpi buruk yang panjang. Dalam waktu beberapa bulan saja, sudah tidak terhitung lagi kerugian yang ditimbulkan karena pandemi ini, belum lagi jumlah nyawa yang harus dilepaskan pergi. Kerugian yang ditimbulkan bukan lagi secara materil, tapi juga non-material.

Perawat adalah salah satu profesi kesehatan yang didaulat sebagai pasukan untuk menghadapi gempuran virus ini. Pada kesempatan yang lalu, saya bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk melakukan wawancara kepada salah satu teman sejawat yang melayani langsung di pusat perawatan pasien dengan covid-19 di salah satu wilayah di Kalimantan. Ia adalah Ners Ary.

Ners Ary bertugas di ruang intensif, yang merupakan ruang perawatan terakhir dari pasien dengan diagnosis penyakit covid-19. Ruangan tempatnya bertugas adalah benar-benar pos terakhir untuk melawan virus covid-19. Melalui tangannya, ia sudah berhasil membantu kesembuhan mereka yang beruntung, tapi melalui tangannya pula, ia sudah melepaskan dan mengantar banyak orang ke peristirahatan terakhir mereka.

Saya rasa dalam perbincangan, kami tidak sedang melakukan wawancara tapi lebih pada berdiskusi dan sharing pengalaman. Saya sudah mendapatkan ijin untuk menerbitkan tulisan hasil wawancara kami ini, dan untuk kepentingan publikasi saya sudah melakukan editing yang perlu pada hasil wawancara.

Topik: Pengalaman Perawatan pasien covid-19 di ruang intensif (Intensive care unit/ICU)

Rancangan pertanyaan:

  1. Bagaimana kegiatan perawatan di sana
  2. Berapa jumlah pasien yang dirawat saat ini? Ada berapa jumlah tempat tidur yang terisi? (Jumlah tempat tidur menunjukkan jumlah pasien yang dirawat).
  3. Bagaimana fasilitas dan perlindungan yang diberikan/disediakan oleh pemerintah untuk perawat/petugas kesehatan lainnya?
  4. Apa saja yang menjadi kendala merawat pasien sejauh ini ? mengapa ?
  5. Apa yang menjadi harapanmu sebagai perawat ICU kepada masyarakat di sana ?

Ayu                 : Hi, Ary. Bagaimana kegiatan perawatan di sana? Aman?

Ners Ary         : Ya, seperti ini. Setiap hari sama saja. Tidak seperti awal-awalnya, saat ini sudah lebih terbiasa dengan keadaan.

Ayu: Berapa banyak pasien yang dirawat hari ini ? Penuh ?

Ners Ary: Setiap hari selalu penuh. Kalau ada yang keluar, entah pindah ke ruangan atau meninggal, tidak lama pasti ada aja yang masuk kembali.

Ayu: Ia, lalu bagaimana keadaanmu?

Ners Ary: Seperti sebelumnya, masih pasrah saja dengan keadaan. Sudah tidak tahu mau bagaimana lagi. Jumlah pasien yang datang tidak berkurang, dan banyak petugas yang harus dirumahkan (isolasi diri) karena ternyata hasil PCR-nya positif.

Ayu: Ia, aku dengar dari beberapa teman kita kalau ada satu ruangan yang terpaksa di tutup karena semua petugas kesehatan di ruangan itu kontak dengan salah satu pasien yang ternyata positif covid-19.

Ners Ayu: Betul, banget! Saat ini pun kami harus berjuang dengan jumlah tenaga yang semakin sedikit dan pastinya kelelahan. Ada beberapa relawan yang datang membantu, tapi tidak banyak membantu juga. Kita memerlukan tenaga teknis yang bisa mengoperasikan alat, bertindak cepat dan berani mengambil resiko. Tapi yang ada, tidak seperti yang diharapkan.

Ayu: Apakah sudah mengajukan permohonan penambahan personil ke ketua tim ?

Ners Ary: Sudah.Tapi, ya begitulah. Ketua tim juga menunggu instruksi dari atas, dan menunggu instruksi dari atasannya lagi. Kacau.

Ayu: Manajemennya kacau ?

Ners Ary: Kamu tahu sendirilah.

Ayu: Upsss, kalau aku ada di posisimu, “pasrah” itu kata yang jadi andalan.

Ners Ary: Itu dia.

Ayu: Bagaimana dengan kalian yang merawat ? Apa saja fasilitas yang diberikan oleh rumah sakit atau pemerintah ?

Ners Ary: Mereka yang merawat mendapatkan fasilitas makan, tidur/istirahat gratis di hotel yang sudah ditentukan. Tapi, aku ngak mau tidur di hotel, aku pulang aja ke rumah. Tapi ya itu, sejak pertama kali masuk ke tim perawatan sampai sekarang, aku sampai tidak bisa bertemu muka langsung dengan orang di rumah. Makan dan minum gratis aku ambil, kalau memang dapat jatah. Hanya saja, kemarin karena aku kelelahan dan menunjukkan tanda flu, aku diminta test dan istirahat. Lalu, dikasih obat yang hanya ‘vitamin c’ dan Imunos (Obat untuk mempertahankan dan meningkatkan daya tahan tubuh). Aku harus me-resep sendiri obat untuk diriku sendiri sebagai tambahan, bahkan harus merogoh kantong sendiri juga.

Ayu: Tapi, pemerintah menanggung biaya test kan ?

Ners Ary: Ia, pemerintah menangung itu. Tidak hanya rapid test, tapi sampai PCR test, apalagi seperti kami yang bersentuhan langsung dengan penderita.

Ayu: Lumayan lah, berbeda dengan kami yang bekerja di tempat swasta. Keadaan saat ini benar-benar berat. Mana saat ini, semua rumah sakit (tidak peduli negeri atau swasta) sudah menjadi tempat perawatan pasien dengan covid-19. Protokol sudah dipaksakan untuk semua tempat perawatan.

Ners Ary: Kalau melihat keadan saat ini, jelas dan memang harus. Kalau tidak, kasihan banyak pasien yang tidak bisa mendapatkan perawatan. Apalagi seperti ditempatmu sekarang, angka pasien yang positif semakin meningkat setiap hari, bahkan sampai menjadi perhatian presiden pula hahaha

Ayu: Itu lah, memang tantangannya berbeda-beda ya. Selain itu, apakah ada kendala lain dalam melakukan perawatan ?

Ners Ary: Nah, ada. Baru-baru ini aku mendapatkan keluarga pasien yang keras kepala. Pusing setiap kali mendapatkan pasien seperti ini.

Ayu: Apakah mereka ini para pengikut teori konspirasi?

Ners Ary: Sepertinya, soalnya ngak mau mendengarkan ketika diberi penjelasan atau pendidikan kesehatan. Masih belum percaya bahwa penyakit ini bisa membunuh kapan saja. Kalau sudah kejadian, kita yang disalahkan, katanya ngak becus.

Ayu: Itu bahayanya dari tidak paham dan tidak mengerti.

Ners Ayu: Itulah. Kesal jadinya.

Ayu: Ia, rasanya seperti mau membuang saja itu orang ke laut hahaha. Ternyata dampak dari pembicaraan soal teori konspirasi ini luar biasa memberatkan ya.

Ners Ary: Ia, ngak menyangka kalau sampai di ruang intensif juga masih berhadapan dengan orang yang ‘denial’ dan tidak menerima bahwa keadaan saat ini nyata. Lucu aja rasanya.

Ayu: Tapi, demikianlah kenyataan di masyarakat saat ini. Ini sesuatu yang tidak bisa kita hindari, hanya bisa kita hadapi. Terlalu banyak yang terjadi.

Ners Ary: Ia, terlalu banyak yang terjadi. Rasanya, seperti legenda kotak pandora itu nah, rasanya saat ini dunia sedang menghadapi masalah karena kotak tersebut di buka. Semua penderitaan dan hal buruk terjadi di mana-mana.

Ayu: Ia, tapi seperti legenda kotak pandora, kita berharap agar setelah semua penderitaan keluar, pada dasar kotak masih tersisa harapan

Ners Ary: Ia, itu dia. Meskipun hidup di dunia sekarang rasanya seperti mimpi buruk yang panjang dan tidak tahu kapan berakhirnya, tapi kita bisa berpegang pada satu hal itu, harapan.

Ayu: Yeap, harapan. Berharap semoga semuanya ini cepat berlalu, atau setidaknya kita bisa bertahan menghadapi masalah ini sampai akhir.

Ners Ary: Ya, semangat untuk kita.

Ayu: Semangat! Yuk lanjut kerja hahaha.

..

Percakapan atau wawancara kami berakhir demikian. Saya menyadari bahwa bahasa percakapan langsung memang sangat berbeda dengan bahasa tulis. Dalam percakapan, sangat sulit untuk mempertahankan nilai ‘baku’ dari bahasa Indonesia, belum lagi dalam bahasa sehari-hari, kita sering mencampurnya dengan bahasa daerah. Dalam percakapaan di atas, saya dan narasumber sering menggunakan istilah dalam bahasa daerah, dan bahkan tidak hanya satu bahasa daerah, ada lebih dari satu bahasa daerah yang kami gunakan. Tapi, selama kami sama-sama mengerti, percakapan akan jalan terus.

Dalam percakapan ini, saya dan narasumber sama-sama berbagi informasi. Saya bukan hanya menjadi pewawancara, tapi juga pemberi informasi. Meskipun saya berusaha agar tidak banyak mengeluarkan informasi karena saya ingin narasumber saya yang banyak memberikan data/informasi seperti yang saya inginkan. Kerap kali saya juga menggunakan teknik ‘validasi’ dan penguatan, tanpa berusaha memberikan penilaian sepihak kepada pernyataan narasumber. Teknik ini biasanya dipraktikkan oleh mereka yang melakukan konseling.

Dalam percakapan ini juga nampak bahwa petugas kesehatan saat ini sedang ‘menderita’ karena meningkatnya jumlah pasien yang harus di rawat. Saya harap para pembaca sekalian dapat melihat bahwa memutuskan untuk menjadi egois dapat merepotkan dan merugikan orang lain. Sayaa harap kita selalu ingat bahwa komplikasi dari sakit karena virus ini adalah kematian. Harap selalu berhati-hati, praktikkan kebiasaan hidup bersih dan sehat, dan hindari kerumunan.

Beberapa catatan-catatan kecil:

Selain belajar untuk menggunakan kata tanya dan mengimplementasikannya dalam bentuk kalimat tanya dalam sebuah wawancara, saya pun belajar hal lain yang tidak kalah penting. Hal yang saya maksud adalah menyusun kalimat tanya yang sesuai dengan topik wawancara dan melakukan wawancara.

Pada masa pandemic saat ini, ketika banyak orang dianjurkan untuk #stayathome, kegiatan wawancara yang baik, yang banyak dianjurkan adalah dengan menggunakan media komunikasi seperti Line atau WhatsApp (WA) dan media yang lainnya. Saya menggunakan media WA untuk melakukan wawancara. Meskipun lewat WA, dan wawancara dilakukan dengan cara diketik (pesan ketik), itu bukan berarti bahwa saya dapat melakukan wawancara dengan ‘suka-suka’ saja. Saya pun harus mengikuti kaidah wawancara yang baik, dan menggunakan kata-kata yang jelas dan mudah dipahami. Meskipun salah satu pekerjaan rutin saya adalah memawancara pasien yang datang ke tempat perawatan, tapi tetap saja, berbeda. Apalagi mengingat tujuan, topik wawancara dan jenis wawancara yang sangat jauh berbeda.

Dalam tulisan ini, pertanyaan yang saya formulasikan adalah bukan pertanyaan yang formal. Hal ini terjadi karena orang yang saya interview, sebenarnya adalah sahabat saya sendiri dan saya memilih Bahasa yang memang biasa kami gunakan sehari-hari. Tujuannya sederhana, agar pembicaraan nyaman dan lancar serta informasi yang saya perlukan dapat saya peroleh.

Satu hal yang saya rasa kurang dari KETIK kali ini adalah adalah informasi mengenai “cara untuk mewawancarai narasumber”. Saya rasa ini sangat penting disuguhkan dalam BTS Ikatan Kata. Memang, masing-masing orang memiliki gaya membuat pertanyaan atau melakukan wawancara sendiri, tapi saya rasa ada banyak aturan wawancara yang umum digunakan oleh pewawancara, yang juga bisa ditambahkan. Salah satu sumber informasi yang bisa digunakan oleh para pewawancara adalah seperti yang diterbitkan oleh gurupendidikan.co.id. Saya menganjurkan teman-teman untuk melihat “tahap-tahap wawancara” dan “hal-hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan wawancara” untuk membantu mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum melakukan wawancara

Setelah selesai melakukan wawancara, saya melakukan transkrip dan setelah itu menyodorkan hasil wawancara dalam bentuk dokumen kepada narasumber agar dapat dilihat dan di cek ulang. Saya tidak ingin informasi yang saya tulis akan menimbulkan arti yang berbeda atau berada di luar persepsi narasumber saya. Nah, setelah itu baru saya siap untuk menerbitkan hasil wawancara ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan salam dari saya as always.

Categories
KETIK

Sepuluh Tahun dari Sekarang

Dear Ayu,

Tidak terasa sudah sepuluh tahun berlalu. Sepuluh tahun setelah tahun-tahun penuh perjuangan. Tahun-tahun yang penuh dengan waktu kurang tidur, kerja keras, dan air mata.

Setelah sapuluh tahun berlalu, aku berharap ketika kau membaca lagi tulisan ini, kau berada dalam keadaan yang bahagia, sejahtera dan masih bersemangat seperti pada saat aku menulis surat ini. Sampai pada titik ini, pasti banyak yang kau korbankan. Meskipun demikian, itu semua memang harus kau lalui agar kau dapat berada pada titik ini, sekarang dan saat ini.

Setelah sepuluh tahun berlalu, aku berharap agar kau dapat menyadari bahwa segela penderitaan, pengorbanan dan jalan yang kau lalui selama ini adalah cara Tuhan untuk mengajarkanmu agar lebih dekat dan lebih mengenal Dia. Aku harap kau sadar bahwa kau adalah wadah bagiNya, bagi rencanaNya yang lebih besar dari dirimu sendiri. Semoga kau tidak menjadi sombong dengan apapun yang kau miliki, dan tidak menjadi terlalu kehilangan pada sesuatu yang tidak kau miliki. Semuanya memang sudah tertulis demikian, dan aku harap kau berbahagia dengan apapun yang ada pada saat ini, sekarang.

Aku berharap kau masih terus menulis sekarang. Sudah berapa banyak tulisan yang kau terbitkan? Sudah berapa banyak buku cetak yang kau terbitkan atas namamu?. Tapi, kau tahu bahwa bukan jumlah terbitanlah yang penting, tapi manfaatnya. Aku ingin menanyakan pertanyaan yang tepat sekarang,

“Sudah berapa banyak jiwa yang kau tolong dengan tulisan-tulisan yang kau hasilkan?”

Semoga sampai saat ini, kau masih menyimpan dan memiliki semangat ini, yaitu menulis untuk kebaikan.

Setelah sepuluh tahun berlalu, apakah kau masih mempertahankan kebiasaan membacamu?. Aku berharap saat ini, lebih dari dua buah buku yang berhasil kau selesaikan setiap minggunya. Kau tahu bahwa membaca adalah kegiatan untuk menimba kekuatan. Kau menemukan ketenangan dan kekuatan untuk melangkah dari bacaan-bacaan yang kau konsumsi, selain berdoa tentu saja.

Setelah sepuluh tahun berlalu, apakah kau masih merawat pasien-pasienmu secara aktif? Aku harap, setelah tahun-tahun berlalu, kau tidak berhenti untuk memberikan asuhan keperawatan kepada siapapun yang membutuhkan. Keahlianmu bukan hanya untuk orang yang sakit, tapi juga yang sehat. Aku harap kau masih ingat alasan mengapa melayani sesama itu penting bagimu. Aku juga berharap, setelah tahun-tahun berlalu kau semakin sadar bahwa ketika kau membantu orang lain dan keluar dari dirimu sendiri, bukan kau lagi yang bekerja, tapi Tuhan yang diam dalam dirimulah yang bekerja dan mengambil alih. Jangan terlalu sombong dengan dengan apapun yang sudah kau kerjakan, tapi bersyukurlah bahwa dalam dirimu Tuhan bekerja dan melalui tanganmu Tuhan menyalurkan berkatNya.

Setelah sepuluh tahun berlalu, apakah kau masih juga takut? Apakah masih kurang nyenyak tidurmu? Aku harap, setelah tahun-tahun berlalu, kau bisa mengikis rasa takutmu atau setidaknya mengubahnya menjadi kekuatan. Aku harap, kau masih ingat bahwa jika kau harus takut, takutlah pada kekuatan yang tidak hanya bisa membinasakan tubuh, tetapi juga membinasakan “jiwa”. Aku harap, kau bisa hidup bukan hanya untuk dirimu sendiri, tapi juga untuk orang lain, untuk orang-orang yang kau kasihi bahkan untuk orang-orang yang tidak kau kenal.

Setelah sepuluh tahun berlalu, sudah berapa banyak orang-orang yang hilang dari pelukanmu? Aku harap kehilanganmu tidak sebanyak jumlah orang-orang yang kau temukan dalam hidupmu. Aku harap, kau juga tidak menyalahkan dirimu atas kehilangan-kehilangan yang terjadi. Jika niatmu tulus, dan cintamu cukup, tidak ada kehilangan yang tidak berarti.

Saat menulis ini, aku tidak mengkhawatirkan keputusan apa yang akan kau ambil sehingga kau berada pada titik sekarang. Apapun yang terjadi, dan keputusan apapun yang kau ambil, kau selalu berhasil untuk belajar dari apapun yang terjadi. Aku hanya berharap agar kau tidak terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan, aku berharap kau giat mencari alasan ini bukan untuk membenarkan dirimu sendiri, tapi untuk lebih memahami bahwa ada kuasa yang lebih besar dari dirimu sendiri, yang mengatur semua ini. Lalu, menerima semua yang terjadi dengan rendah hati dan hati yang lapang.

Aku tidak khawatir pada seberapa banyak luka yang mengiris hatimu. Aku harap kau masih percaya apa yang diucapkan Gong Yoo pada salah satu wawancaranya, bahwa hal seperti ini “tidak apa-apa”. Aku harap kau pun masih ingat bahwa belajar dari apapun yang terjadi, itulah yang terpenting.

Setelah sepuluh tahun berlalu, aku harap kau bertumbuh semakin menjadi dirimu sendiri. Aku tidak berharap saat ini kau menjadi lebih bijaksana. Tapi, setidaknya kau tidak menjadi salah seorang penyumbang kekacauan bagi dunia.

So, that’s it.

Saat aku menulis surat ini, keadaaan dunia benar-benar kacau. Sebuah pandemi besar terjadi dan membuat banyak populasi manusia harus diam di rumah dan melindungi diri mereka. Kau adalah bagian dari orang-orang yang berperang melawan virus ini dan saat menulis surat ini aku tidak yakin apakah peperangan ini akan kita menanngkan. Tapi, sama seperti legenda kotak pandora, apapun hal buruk yang dikeluarkan dari kotak ini, harapan selalu ada di sana, dan itu adalah kekuatan untuk melewati semua ini. Aku tidak kehilangan harapan, dan aku harap sepuluh tahun dari sekarang kau pun demikian.

Salam dari masa sekarang, dari dirimu yang masih sangat muda sepuluh tahun yang lalu. Tidak apa-apa, meskipun surat ini berasal dari 10 tahun yang lalu, tapi tetap saja aku yang sepuluh tahun yang lalu, adalah bagian dari dirimu saat ini juga.

Sincerely,

Dirimu sepuluh tahun yang lalu.

Categories
KETIK

CORONA

“Corona is a small circle of light seen around the sun or moon, due to diffraction by water droplets” (Dictionary.com)

Nindi, seorang pelajar Indonesia yang baru saja memulai semester barunya di salah satu universitas di kota kecil-China. Ia terpaksa harus mengubur sementara niatnya untuk sekolah akibat isu mengenai wabah penyakit mematikan yang tiba-tiba saja melanda kota tempatnya tinggal. Penyakit ini membuat penderitanya mengalami demam tinggi, kelumpuhan ekstremitas (kaki dan tangan) hingga tidak sadarkan diri dan bisa tiba-tiba meninggal. Tidak ada yang tahu dari mana penyakit ini muncul, dan bagaimana menyembuhkannya. Akibat wabah penyakit ini, Ia bersama dua orang sahabatnya diminta tinggal di apartemen mereka dan tidak diperbolehkan keluar tanpa ijin.

Categories
KETIK

Kabut Asap di Kota Palangka Raya

#Musimkemarau

Kering

Rapuh

Panas membara

Gersang

Tidak nyaman!

Categories
KETIK

Kata Populer yang juga Gaul

Kata populer adalah kata yang dikenal dan digunakan oleh semua lapisan masyarakat dalam percakapan sehari-hari. Kata populer kerap disandingkan dengan kata “kajian” untuk tujuan membandingkan. Tidak seperti kata populer, kata kajian adalah kata yang banyak digunakan oleh orang-orang yang cukup terbatas, misalkan dikalangan para ilmuan dan kaum terpelajar. Sedangkan kata “gaul” banyak dikaitkan dengan praktik penggunaan kata oleh anak-anak gaul, anak-anak zaman sekarang, atau yang juga dikenal sebagai zaman now.

Categories
KETIK

Saya Berhenti Mengonsumsi Kopi

Sabtu itu, ketika hari masih saja hujan seperti hari-hari sebelumnya. Saya dan sahabat saya memutuskan untuk mampir ke kedai kopi tradisional langganan kami. Saya hanya bertugas untuk menemani hari itu. Maklum, beberapa hari ini saya putuskan untuk tidak mengonsumsi kopi setelah dokter memperingati saya tentang “tanda-tanda kebanyakan mengonsumsi kopi”. Saya akhirnya memutuskan untuk belajar mengurangi dan kalau bisa berhenti mengonsumsi kopi.

Categories
KETIK

Purnama Kedua Belas

Saya bukan pecinta novel-novel yang ditulis oleh Andrea Hirata. Berita tentangnya pernah saya dengar beberapa tahun silam, Ia adalah seorang Novelis terkenal dan berpengaruh. Ia berpengaruh karena novel karyanya dibaca banyak orang, dan dibawa sampai ke layar lebar. Tidak hanya itu, novelnya memberi energi positif untuk banyak orang, terutama untuk anak-anak muda yang sedang berjuang dengan hidupnya.

Para pecina Andrea Hirata akan segera mem-bully saya ketika membaca tulisan pengantar di atas. Jelas.

Categories
KETIK

Ganta

Ganta, dalam Bahasa Dayak Ma’anyan berarti pertemuan, bertemu dan bisa juga diartikan sebagai berkunjung, mengunjungi. Ganta juga bisa diartikan sebagai kegiatan mengunjungi tempat tinggal seseorang; berkunjung sampai masuk ke dalam rumah orang yang dikunjungi dan menyempatkan melakukan percakapan sampai beberapa menit lamanya.

Seorang Dayak Ma’anyan yang memberikan undangan, “Yuk, Ganta…” secara otomatis akan membuka pintu rumahnya dan mengharapkan kunjungan dalam waktu yang singkat atau bisa dalam waktu yang lama, sambil disertai dengan kegiatan tukar informasi dan tukar cerita, plus bunus tambahan makanan atau minuman dari si pemberi undangan. Ada juga ketika seorang Dayak Ma’anyan akan mengatakan kepada saudara/i-nya, “Aku..Ganta” yang dapat diartikan sebagai bentuk ekspresi/keinginan untuk berkunjung ke tempat saudara/I atau kerabatnya. Pernyataan ini secara otomatis akan disambut dengan tindakan membuka pintu rumah, mempersilakan masuk rumah, duduk dan mulai saling menyapa dan berbagi cerita.

Categories
KETIK

Tujuh Orang Terdekat dan Menyoal Definisi Orang ‘terdekat’

Tantangan Ketik#7 dari Ikatan Kata yang meminta para pengikat kata untuk mendeskripsikan orang -orang terdekat adalah satu tantangan yang cukup rumit untuk saya pribadi. Ketika saya membaca tantangan ini, saya langsung dihadapkan pada dua pertanyaan, “Siapakah orang-orang terdekat saya?” dan, “Seberapa jauh saya mengenal mereka sampai saya mampu mendeskripsikan siapa mereka?”.

Bagi saya dua pertanyaan ini berat!

Categories
KETIK

Belajar Preposisi : Laut dan Dinda

Belajar tentang tata Bahasa Indonesia bukanlah kegemaran saya. Entah mengapa dan kenapa, setiap kali menautkan pikiran dengan formula-formula dalam pembentukan kata dan kalimat, kepala saya terasa berat dan pusing. Mendapatkan respon ini, saya otomatis mundur dari pelajaran tata Bahasa. Meskipun demikian, demi menjawab sebuah tantangan, saya akhirnya mengatakan “siap” dan “bersedia” untuk menyelesaikan tantangan.