Semua Orang Bisa Menjadi Penulis Keren

Ada satu hal yang membuat saya kagum pada para tenaga didik, yakni kemampuan dan keterampilan dalam mengajar serta mendidik orang lain, atas apa yang telah mereka serap selama sekian lama makan bangku sekolah. Di luaran, ada segelintir kalangan yang bisa menyerap segala sesuatu, tetapi tidak tahu bagaimana caranya mengajarkannya kembali. Saya sudah menjadi salah satu di antaranya. Jadi, saya mohon maaf jika pembahasan saya di bawah ini tidak memenuhi kriteria atau tidak mampu dimengerti.

Semua materi penting soal kepenulisan sepertinya sudah dibahas tuntas oleh beberapa teman kita sebelumnya. Maka, ke depannya, yang bisa saya bagikan hanya beberapa tips yang saya petik selama sekian lama berkecimpung dalam urusan kepenulisan fanfiksi dan roleplaying. Semoga tips-tips di bawah ini bisa sedikit menambah ilmu kita semua dalam hal menulis, ya.

Pelajaran Pertama: IDE

Yang Mesti Kau Lakukan dalam Menulis, ya Menulis!

Memulai adalah langkah yang sulit, setidaknya bagi saya. Mungkin kerapkali Teman-teman juga merasa bingung bagaimana mengawali sebuah cerita. Lama-lama, karena larut dalam rasa bingung itu, Teman-teman justru jadi menyerah untuk mencari ide.

Dulu, saya seperti itu. Tetapi segalanya berubah setelah negara pencerahangakure menyerang.

Writerblock itu Cuma Mitos.

Tidak ada yang namanya writerblock. Yang ada hanya kemalasan menggali. Kalimat Panji Pragiwaksono ini memberi saya seberkas kesadaran.

Percaya enggak, kalau saya bilang bahwa ide itu ada di mana-mana? Ide itu bergelimpangan. Tersebar dalam bacaan yang pernah atau sedang kita baca, pada lagu yang baru saja kita dengarkan, fenomena alam, gosip kontroversial, di awan putih yang berarak bebas, pada nyanyian berisik kodok yang berkubang di kolam dadakan karena ceruk jalanan yang diisi air hujan, di jemuran tetangga yang penuh aneka warna, … di mana-mana. Bahkan pada satu kata yang terbersit dalam kepalamu saat ini, apa pun itu.

Teman-teman mungkin pernah melihat Writing Prompt bertebaran di dunia maya, biasanya terwujud dalam proyek 30 Hari Menulis, dengan petunjuk kata per hari yang berbeda-beda. Nah, menulis dengan prompt bisa jadi cara untuk menghempas kebuntuan ide. Maka, bisa dibilang proyek KETIK Ikatan Kata ini juga masuk dalam kategori cerdas demi menjaga kita tetap rajin menulis.

Kosmos ini adalah sumber minyak bumi. Yang kita perlu lakukan cuma menggali dan mengolahnya. Itulah mengapa beberapa penulis percaya, bahwa menulis, tidak harus menunggu ide, wangsit, atau ilham (bukan Mas Ilham Arya Soesanto lho ya, ini) datang. Menulis ya menulis. Titik habis. Dan, yang mesti kita lakukan hanyalah menulis.

TIPS (dicomot dari Diktat Kelas Menulis ASTRAFF oleh Chocola)

  • Persiapkan 1 block note khusus untuk mencatat tiap-tiap hal menarik yang kita temui, tidak harus terlalu istimewa. Misalnya saja dari suatu acara jalan-jalan, kita bisa tahu most of restaurant near fish market in Thailand cannot cook well, they just can grilled, catat saja di buku itu. Suatu hari, informasi kecil ini akan berguna jika saatnya tiba.
  • Brain storming perlu untuk memperluas wawasan. Perkaya wawasan dengan hal-hal baru agar lebih banyak ide yang bisa digali. Banyak bersosialisasi dengan orang, jalan-jalan, menonton banyak jenis film, banyak memperhatikan, dan… sebagaimana kata Mas Andy, banyak baca. Kita bisa menjadikan info-info dari banyak hal tersebut sebagai fragmen untuk membentuk cerita utuh milik kita sendiri.
  • Perbanyak foto tempat yang kita kunjungi, biar kita bisa melihat detailnya sewaktu-waktu untuk dideskripsikan dalam tulisan. Ini menjadi trik jitu bagi saya. Dulu ketika pertama kali mencelupkan diri dalam dunia kepenulisan, kesulitan saya adalah menceritakan suasana dan mendeskripsikan latar. Saya selalu main aman dengan membuat cerita mendayu agar konflik hanya berputar pada emosi, bukan latar. Namun, berkat tips ini, rasanya menulis apa pun jadi sama menyenangkannya.

Lantas, bagaimana jika ide sudah kita kantungi, tetapi kita masih belum tahu bagaimana memulainya? Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak cara membuka sebuah tulisan.

Cara Membuka Tulisan

Kita bisa membuka tulisan kita dengan macam-macam jalan, seperti:

Aksi

Di dalam jenis pembuka ini, kita bisa memulai dengan menuliskan paragraf berisi adegan yang terbayang dalam pikiran.

Contoh:
Torah melompat dari tepi tebing. Bersama detik yang berlalu, suhu kian terasa turun sementara tekanan semakin naik. Sensasi gerakannya samar; bila matanya dipejamkan, rasanya dia tengah bergeming dan tak bergerak sama sekali.

Padahal faktanya, dia sedang meluncur dan terus saja melungsur.

“Haruskah kamu melakukan ini?” Tiba-tiba, pertanyaan ibunya terngiang di kuping.

Dia melorot, semakin ke bawah …

“Kamu mau Ayah menyertaimu?” Suara ayahnya turut menggedor gendang telinga dari dalam.

Semakin jauh ia turun, menjauh dari dunia di atas dan di belakangnya.

“Aku enggak mengerti kenapa kamu mau repot-repot. Ini enggak berguna, toh semuanya sudah hilang sekarang,” kata adik perempuannya.

Torah mendongak–hanya sesaat–dan tersadar bahwa tebing tempat ia meloncat tadi sudah tidak lagi tampak di pelupuk mata.

“Iya. Tidak.” Ia melirih. “Karena memang aku harus melakukannya,” jawabnya pada udara.

(Undersea Memorabilia)

Latar

Di dalam jenis pembuka ini, kita bisa menuliskan paragraf berupa penggambaran setting. Bisa tempat, bisa kondisi, bisa waktu. Meminjam istilah Ikatan Kata, sesuaikan dengan renjana kita.

Contoh:
Angin bulan Juni yang hangat dan sinar matahari yang cerah menjadi salah satu pilihan untuk berlayar. Kapal Monstrage dengan dua puluh lima penumpang yang kebanyakan berasal dari kalangan pedagang dan petugas kargo, siap memilih tanggal pelayaran. Lima awak kapal termasuk sang kapten kapal, Sir William MacNab berencana melakukan penyeberangan lintas benua yang dimulai dari laut Hebrides. Rencananya mereka akan tiba sebulan lagi, tepat pada pekan kemerdekaan Amerika Serikat, sehingga mereka bisa ikut menikmati pesta rakyat tetangga.

(A Matter Life and Death)

Percakapan

Di dalam jenis pembuka ini, pengarang menuliskan paragraf berupa percakapan antar tokoh.

Contoh:
“Di mana aku harus meletakkan ini?”

Dua kepala menoleh ke arah Dear. Salah satu di antaranya, wanita bersurai kelabu yang sering dipanggil Madam Howl Sang Penyembuh, menunjuk meja jati–yang nggak diampelas, dipernis, atau dipelitur sehingga masih tampak tonjolan serat-serat kayunya– dalam rumah bambu beratap rendah dan beralas tanah. “Di sini, Dear.”

(Nemesis)

Tokoh

Pengenalan tokoh juga bisa kita pakai sebagai paragraf pembuka cerita. Tetapi, jangan panjang-panjang atau terlalu detail. Sisanya bisa kita selipkan di bawahnya nanti, berselang-seling dengan penjelasan situasi atau dialog tokoh.

Contoh:
Farah Patricia Webster yang kini telah mengganti nama belakangnya dengan Leslaigh, adalah tipikal wanita Skotlandia yang menjunjung idealisme. Di usia dua puluh satu tahun, dia berhasil lulus sekolah hukum dengan predikat cum laude. Di usia dua puluh tiga, dia telah membuka firma hukum bersama lima orang temannya. Di usia dua puluh empat, dia membangun keluarga dan memiliki satu putri.

(Vengeful)

Pemikiran

Di dalam jenis pembuka ini, kita bisa menuliskan paragraf berupa pemikiran atau apa yang terlintas di dalam pikiran si tokoh fiksi. Metode ini juga bisa diterapkan jika apa yang kita tulis bukan fiksi, lho. Kita bisa menggantinya dengan pemikiran kita sendiri.

Contoh:
Qiang Jie kecil menyukai musim dingin, sebab aromanya seperti aroma ibunya.

Ibu yang selalu flu saat musim dingin tiba, akan membawa serta sebotol minyak obat dari negara asalnya di area khatulistiwa. Ibu memang bukan orang asli Cina. Meski ia berdarah Tionghoa, ia lahir dan besar di Indonesia.

(Aroma Ibu)

Statement / Pernyataan

Di dalam jenis pembuka ini, kita bisa membuka dengan menuliskan paragraf berupa pernyataan yang bertujuan untuk mengingatkan, menyindir, ataupun menegaskan suatu pernyataan atau premis yang umum.

Contoh:
Para pujangga sering mendeskripsikan cinta dengan berbagai gejala. Bila virus merah muda telah mendera, maka matahari akan jadi mentari, bulan bakal bertransformasi jadi rembulan. Seisi dunia terlihat lebih berkilau daripada yang sesungguhnya. Jantung berdetak lebih cepat. Otak menebak-nebak, menarik setiap garisan Semesta sebagai pertanda bahwa Ia pun merestui rasa yang sedang melanda hati.

(Samudera Asing)

Pertanyaan

Jika pernyataan bisa menjadi pembuka, kenapa pertanyaan nggak bisa? Kita bisa melempar pertanyaan pada pembaca dan membuat mereka bertanya-tanya tentang apa yang akan kita ceritakan pada mereka.

Contoh:
Pernahkah kau terlelap di suatu tempat dan ketika matamu terkuak di pagi hari, kau berada di tempat yang sama sekali berbeda dengan lokasi semula?

(A Tale of a Milky Man)

World Building

Nah, ini khusus fiksi, sih. Kalau kita membuat sebuah cerita yang punya latar dunia berbeda, kita bisa membuka dengan world building.

Contoh 1 (karena saya nggak punya cerita yang masuk kategori world building dalam karya yang ‘wah’, saya mencomot cerita surealis saya saja)

Nama desa itu Desa Lara. Tempat berpusatnya semua duka dari seluruh penjuru dunia. Lembahnya adalah lokasi berkubang orang mengais kesia-siaan. Gunungnya adalah tempat orang meratap kepada gemintang yang berjatuhan. Lautannya adalah muara dari setiap tetes darah dan air mata. Udaranya beraroma seperti bau air comberan, busuk dan menjijikkan: didominasi oleh embus napas keputusasaan yang nantinya dihirup kembali, lalu diembuskan lagi. Terus begitu sampai waktu yang belum terdeteksi.

(Desa Lara)

Contoh 2

Tahun 1919, Detroit, Michigan, adalah satu-satunya kota industri yang paling berhasil di dunia. Perang Dunia I baru saja berakhir, dan Detroit telah memainkan peran penting bagi kemenangan pihak Sekutu ”memasok tank, trunk dan pesawat terbang. Sekarang, dengan musnahnya ancaman dari kaum Hun, sekali lagi pabrik-pabrik mobil mengalihkan energinya untuk membuat mobil. Dalam waktu pendek, empat ribu mobil setiap hari dibuar, dirakit dan dikirimkan. Buruh terampil maupun tak terampil dari segala penjuru dunia berdatangan mencari pekerjaan dalam industri otomotif. Orang Italia, Irlandia, Jerman, mereka berdatangan bagai gelombang pasang.

(Sosok Asing dalam Cermin, karya Sidney Sheldon)

Pelajaran Kedua: Diksi dan Gaya Bahasa

Tibalah kita pada bagian yang paling saya sukai, yaitu diksi. Kalau boleh jujur, diksi adalah bagian yang pertama kali saya nilai dalam membaca karya sastra.

Menurut KBBI, Diksi artinya pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).

Misalnya:

Aku melihatmu kemarin berdua dengannya. (Oke)

Aku mengintipmu kemarin berdua dengannya. (Uhm… oke)

Aku menatapmu kemarin berdua dengannya. (What?)

Jika saya memutar waktu dan membandingkan tulisan saya tujuh tahun silam dengan tulisan yang sekarang, saya akan terkejut terheran-teran. Saya yang dulu tidak akan percaya karya saya yang sekarang adalah miliknya juga.

TIPS Memperkaya dan Mempercantik Tulisan dengan Diksi:

  • Perbanyak membaca. Jangan cuma membaca alurnya, tetapi juga membaca kata-katanya. Dengan begitu, kita bisa belajar banyak cara untuk mendeskripsikan atau menarasikan sesuatu. Sejujurnya, saya banyak sekali belajar dari para penulis fanfiksi soal ini. Mereka sangat piawai dalam memainkan kata-kata hingga membuat saya tersentak, ‘Lho? Bisa dijelaskan kayak gini, ternyata?’
  • Hindari penggunaan kata berulang dalam satu paragraf bahkan satu kalimat.

Contoh:

Dia menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Aku ikut membalas tatapannya hingga kita balas bertatap-tatapan, dan aku bisa melihat kemarahan dalam tatapannya. (Hah?)

Dia memandangku tepat di bola mata. Ketika tatapan kami saling berserobok, aku sadar, dalam sorot matanya terselubung murka. (Mendinganlah, ya…)

  • Teknik membuat kalimat lincah adalah dengan berlatih membuat turunan dari sebuah kalimat. Semakin banyak kita bisa membuat turunan dari kalimat tersebut, maka semakin lincah kita nanti membuat cerita.

Contoh:

Bola matanya menghujam tajam di balik kacamata
Di balik kacamata itu, matanya sedang bergerilya berjaga-jaga dari penjahat
Atensi dalam bingkai kacamata menyorot tajam kawanan perampok bersenjata di hadapannya

Pokoknya, kita bisa berlatih dengan membolak-balikkan katanya sampai bisa mendapat feel yang oke. Kita juga bisa berlatih dengan mencari sinonim yang berkelas.

  • Bebaskan makna dari kata. Kita bisa berlatih dengan mencari majas-majas metafora yang sesuai.

Contoh:
Iris matanya menyapu kerumunan di sekitar;
Seberkas pemahaman menyambar dirinya;
Angin dingin menggigiti permukaan kulit, dsb.

Tetapi yang harus diingat adalah kita harus berusaha menggunakannya secara proporsional. Jangan melulu pakai majas-majas yang lebay.

Pejuang Diksi Starter Pack:

Tesaurus Indonesia (buat mencari kosakata alternatif)

KBBI daring/ luring (terserah mau pakai yang mana. Ini untuk memastikan ketepatan makna kata yang akan kita pakai. Di antara melihat, menatap, memandang, dan sebagainya, meskipun sama-sama merupakan aktivitas indra penglihatan, ada perbedaan pengertiannya, ‘kan?)

  • Kembali pada fungsi peletakannya. Diksi adalah ‘penggunaan kata yang tepat’, bukan ‘penggunaan kata yang (sekadar) indah’. Jika kita menulis cerita anak-anak atau cerita humor, kita tidak mungkin menyusunnya sama dengan cara membuat cerita yang sastrawi. Yang ada, anak-anak malah cengo membaca cerita kita dan orang-orang bukannya tertawa, malah balik kanan bubar jalan.
  • Jangan terjebak pada struktur dasar kalimat: Subjek+predikat+objek+keterangan. Jika kita selalu bertumpu pada pakem ini, kalimat kita bakal kaku dan terkesan monoton.

Contoh:
Aku berlari sekuat tenaga. Aku ingin mengejarnya secepat mungkin. Aku harus menjelaskan ini. Aku ingin semua kembali baik-baik saja.

Haduh, datar sekali.

Apa yang harus kita lakukan? Yang harus kita lakukan adalah menjungkirbalikkan kalimatnya, tetapi masih dalam kaidah yang benar.

Sekuat tenaga, aku berderap, memecut langkah. Sekencangnya, lebih lesat dari kuda. Harus cepat, secepat mungkin. Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Tiada lagi waktu yang tersisa jika aku ingin segalanya kembali seperti sedia kala.

Ada sejuta cara untuk menjadikan sebuah kalimat jadi variatif, kata Pak Edi A.H. Iyubenu.

Pelajaran Ketiga: Hal Kecil yang Tidak Kalah Bermanfaat bagi Saya

Selain kedua hal pokok di atas, ada juga beberapa tips mungil dari saya.

  • Tanda baca adalah tombol-tombol permainan. Koma, titik, tanda seru, tanda tanya, titik koma, elipsis, en dash, dan em dash, adalah koentji untuk bisa memberikan ‘rasa’ dalam tulisan.
  • Bagaimana caranya agar tombol bisa kita mainkan dengan tepat? Cara sebetulnya adalah dengan mengenali frasa dan klausa. Tetapi, berhubung buat saya itu kelewat ribet, biasanya saya ganti dengan cara membaca ulang sambil bersuara. Kebiasaan untuk membaca tulisan kita keras-keras, bisa memberikan kita gambaran akan tanda baca apa yang harus kita masukkan dalam tulisan. Kalau kalimat kita sepanjang jalan kenangan, ada baiknya kita jeda sejenak pada posisi yang tepat, agar yang membaca tidak kehabisan napas. (Coba baca kalimat terakhir itu dengan mengabaikan tanda koma. Apakah Teman-teman kehabisan napas? Atau rasanya seperti sedang nge-rap?)
  • Kalimat dan paragraf dalam satu tulisan adalah hal yang padu. Maka, kita perlu memastikan korelasi antarkalimat dan antarparagraf tidak terputus begitu saja. Mesti ada kesinambungan. Kita bisa memanfaatkan ‘Oleh karena itu’, ‘Meski demikian’, dan kroni-kroni lainnya sebagai tali untuk menyambung mereka.
  • Nulis dulu. Revisi itu nanti, kalau sudah kelar nulis. Boleh sambil nangis, kok.
  • Mengendapkan tulisan itu penting. Misalnya, saya ngetik subuh-subuh. Ditaruh dulu sebentar. Buka lagi buat direvisi pas istirahat makan siang. Dari sana, saya bisa melihat ada banyak hal yang bisa saya ubah, karena pemikiran saya sudah jadi lebih segar. Ada beberapa novelis yang mendiamkan naskahnya selama sebulan, begitu dibuka kembali, dia menemukan banyak sekali plot hole-nya. Kenapa? Karena pada kesempatan berikutnya, mereka membaca ulang bukan sebagai penulis, tetapi sebagai penikmat tulisan sendiri.
  • Coba untuk mengubah deskripsi tokoh dalam wujud kalimat kaku menjadi kalimat luwes. Ini sudah pernah saya selipkan dalam komentar saya pada kiriman Mbak Rifi.

Contoh:
Ayahku sudah tua. Rambutnya sudah memutih. Tahun ini, usianya mencapai delapan puluh dua tahun. Ia masih kuat. Dari dulu sampai sekarang, ayah tidak pernah makan selain makanan yang dimasak ibuku.

Kita ubah menjadi:
Ayahku adalah lelaki yang setia. Kendati usianya sudah tua dan rambutnya sudah dipenuhi uban, beliau masih kuat. Lelaki delapan puluh dua tahun itu pernah mengaku, bahwa dari dulu sampai sekarang, beliau tidak pernah makan selain masakan ibuku.


Saya harap ulasan di atas bisa dimengerti oleh Teman-teman. Jika ada yang masih buram seburam masa depan saya, Teman-teman bisa menanyakannya langsung, ya.

Setiap orang bisa menulis, saya percaya itu. Dan, setiap orang bisa menjadi penulis yang baik dan keren. Menulis adalah kompetensi yang akan semakin tajam jika kita mengasahnya. Maka, teruslah menulis, Teman-teman. Bebaskan anak-anak kata dan embrio ide yang berkubang di pikiran, ke dalam wujud untaian huruf di lembar buku atau di monitor yang menyala.

Advertisement

15 thoughts on “Semua Orang Bisa Menjadi Penulis Keren

Comments are closed.