Melukis Malam

Keputusan untuk memilih singgah di kedai kopi setelah shift sore selesai adalah keputusan yang sangat tepat untuk hari ini. Mengambil tempat nongkrong yang paling tidak kelihatan pengunjung lain, memberi saya kenyamanan yang sangat saya perlukan sekarang.

Saya mengambil laptop yang selanjutnya saya letakkan begitu saja di atas meja. Lalu, mengambil handphone dan headset, siap untuk merayakan hari yang hampir selesai saat ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul 10 Pm, tapi kedai kopi ini buka 24 jam, jadi saya pikir tidak apa-apa.

Saya melihat ke sekeliling, tidak banyak orang malam itu. Saya dan beberapa anak muda yang kelihatannya sedang menyelesaikan tugas sekolahnya. Hening, seperti yang sangat saya butuhkan. Berjalan ke depan meja pemesanan, saya langsung menyebutkan “Warm Cappuccino”, dan langsung mendapatkan anggukan tanda mengerti dari ujung sana. Saya menunggu pesanan selesai dibuat, dan membayar.

Saya melihat file music di handphone dan memilih lagu “Sweet Night” dari BTS V untuk menemani saya di kedai kopi malam ini. Saya belum memutuskan sampai jam berapa akan berada di kedai kopi ini. Besok saya memang harus bangun pagi dan pergi ke tempat bekerja seperti biasa, menghadapi hari-hari yang sama seperti biasanya.

Sambil lagu diputar, saya mengingat tantangan yang harus saya hadapi esok dan beberapa hari ke depan. Saya bukannya tidak menyukai tantangan, saya hanya merasa tidak sabar, dan lucunya, pada saat ini saya malah merasa kekosongan yang sangat familiar. Suara BTS V mengisi waktu-waktu yang penuh dengan pemikiran saya sendiri.

Saya membuka laptop, berencana untuk mengerjakan sesuatu, tapi saya tidak tahu apa yang harus saya kerjakan. Saya tiba-tiba saja kehilangan minat, tapi juga tidak ingin menutup laptop segera. Saya memutuskan untuk mem-browsing beberapa gambar dengan tema “hutan” dan “pemandangan”. Saya mungkin sangat merindukan jalan-jalan saat ini. Setelah mendapatkan gambar yang saya rasa tepat, saya mengambil buku tulis dalam tas dan beberapa perangkat menulis. Saya mulai menulis.

On my pillow

Can’t get me tired

Sharing my fragile truth

That I still hope the door is open

‘Cause the window opened one time with you and me

Now my forever’s falling down

Wondering if you’d want me now

Suara BTS V menenangkan pikiran saya, dan membuat saya merasa nyaman, meskipun saat ini saya sedang mencontek gambar yang ada di layar laptop. Pada titik ini, saya merasa sebuah kombinasi yang sangat tepat antara warm cappuccino, gambar yang ada dihadapan saya, alat tulis dan kertas kosong, serta suara BTS V yang rasanya sempurna.

Ini adalah kemewahan versi saya.

Saya mulai melukis malam.

Saya tidak sedang berada di tempat tidur. Saya berada di sebuah kedai kopi, sendirian dan hanya ditemani oleh diri saya sendiri. Saya merasakan luapan emosi yang tidak biasa saat ini, saya merasa ini terjadi karena saya terlalu kelelahan hari ini, tapi saya pun tidak ingin beristirahat. Saya ingin menikmati malam ini, di sini.

Apakah saya membutuhkan seorang teman?

Entahlah, perasaan yang saya rasakan saat ini lebih pada keinginan untuk diam sendiri, dan menumpahkan rasa sesak ini pada kertas kosong di depan saya. Apakah saya merasa sesak?entahlah, saya pun tidak begitu yakin.

Saya merasa seolah berada di penghujung lorong yang sempit. Ada pintu yang harus saya buka pada saat ini, tapi rasanya saya pun tidak memiliki kekuatan untuk membukanya. Saya berharap ada orang yang mendorong saya untuk membuka pintu tersebut atau ada seseorang yang mau mengetuk pintu tersebut dari seberang.

How could I know

One day I’d wake up feeling more

But I had already reached the shore

Guess we were ships in the night

Night, night

We were ships in the night

Night, night

Saya teringat kejadian hari ini. Saya teringat dengan kesadaran yang tiba-tiba saja menguasai seluruh pikiran saya. Saya menyadari bahwa saat ini, saya seperti merasakan kekalahan pertama kalinya dalam hidup. Padahal, sudah berulang kali saya merasakan yang namanya kekalahan, kejatuhan dan ketidakberuntungan. Saya merasa bahwa saya masih berada pada zona nyaman, dan kesadaran saya saat ini seperti wake up call.

Merenungkan apa yang terjadi pada saat ini, membuat saya merasa lelah tapi juga beruntung. Secara sadar, muncul pula ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas nikmat hidup ini. Memang, hidup ini tidak bisa hanya berjalan di jalan yang lurus saja, tapi juga ada banyak naik dan turun, melalui tebing yang terjal atau tajamnya tikungan. Semua perjalanan ini menarik dan indah. Jelas indah, karena banyak sekali kisahnya.

I’m wondering are you my best friend

Feels like a river’s rushing through my mind

I wanna ask you If this is all just in my head

My heart is pounding tonight I wonder If you

Are too good to be true

And would it be alright if I

Pulled you closer

Pada keadaan seperti saat ini, seharusnya saya merasa tidak nyaman. Tidak nyaman karena berteman dengan sepi, serta ketenangan yang terlalu sunyi. Tapi, entah mengapa tidak masalah bagi saya. Rasanya tidak masalah untuk sendiri pada saat ini, di kedai kopi ini dengan ditemani oleh hanya benda-benda mati di sekeliling.

Dalam keadaan ini, saya pun berpikir, jika saja kejadian ini tidak pernah terjadi. Jika saja pandemik ini tidak terjadi, dan perpisahan itu tidak pernah saya alami. Apakah semuanya akan berbeda. Salah satu sahabat saya berkata bahwa “semuanya ini adalah mimpi buruk yang sangat lama”, saya rasa dia ada benarnya, saya sangat ingin terbangun dari mimpi ini dan membuka mata pada keadaan normal seperti sebelumnya. Tapi, setiap pagi tiba dan setiap kali hari baru saya sambut, rasa sesak itu muncul lagi. Hari ini, saya bertemu dengan orang ini, memegang tangannya, tapi pada hari berikutnya, saya harus melepaskan tangannya dan mengantarnya pada peristirahatannya yang terakhir. Waktu terlalu cepat berlalu, dan saya rasanya sungguh tidak siap.

Saya memikirkan tentang rasa sakit yang harus saya hadapi lagi. Saya tidak tahu, sebatas apa saya bisa menahan semua rasa sakit ini. Entah sampai kapan, hati ini berhenti untuk merasakan sakit dan remuk redam. Saya merasa hati ini sudah tidak berbentuk utuh lagi, tapi masih saja ada yang meremukkan dan menghancurkannya. Saya merasa air mata ini sudah kering, tapi masih saja saat ini saya curahkan, rasanya menyedihkan.

Apa yang ingin Tuhan tunjukkan pada saya?

Apakah Tuhan mendorong saya untuk melihat sesuatu yang berbeda?

Mengapa rasanya semuanya menyakitkan, dan mengapa rasanya penderitaan ini tidak ada ujungnya?

Saya lelah sebenarnya. Saya ingin berhenti merasakan, dan saya ingin berhenti peduli. Tapi, entah bagaimana semakin saya meminta demikian, semakin saya dihadapkan pada keadaan-keadaan yang menyakitkan dan tidak terduga, yang mencabik-cabik hati saya sampai habis. Membuat saya semakin harus peduli.

Rasanya sudah hilang perasaan saya sebagai manusia. Tapi, saya pun tidak merasa bahwa apa yang saya peroleh saat ini adalah sebuah pencapaian. 

How could I know

One day I’d wake up feeling more

But I had already reached the shore

Guess we were ships in the night

Night, night

We were ships in the night

Night, night

Malam semakin larut, dan saat ini hanya tinggal saya dan seorang pelanggan di kedai kopi itu. Untung saja kedai kopi ini buka dua puluh empat jam, jadi saya tidak usah khawatir akan diusir dari sini. Melihat dari arah tempat duduk saya, seorang pelanggan sangat sibuk dengan pekerjaan yang ada di hadapannya. Saya merasa iri. Saya lalu memutuskan untuk mematikan laptop yang ada dihadapan saya, meskipun saya membukannya, saya tidak sempat menggunakannya untuk tujuan mengetik. Malam ini, hanya lukisan sederhana ini saja yang jadi, lebih tepatnya ‘oret-oretan’ saja.

Lelah saya masih ada, tapi saya tidak merasa sebagai masalah besar dengan rasa lelah ini. Lelah itu bagian dari manisnya hidup ini. Saya pasti merasa lelah dan itu adalah harga yang harus saya bayar untuk mimpi-mimpi yang ingin saya capai.

Saya dihadapkan oleh banyak masalah, tapi masalah itu pun saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan peluang yang berhasil saya temukan. Masalah selalu datang dengan pasangannya, yaitu peluang. Peluang untuk memecahkan masalah dengan cara yang lebih kreatif, peluang untuk belajar hal baru, dan peluang untuk bertumbuh sebagai pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya.

Dalam keadaan seperti saat ini, saya merasakan ketidaksempurnaan yang sempurna dari malam ini, dan saya merindukan tempat tidur saya yang empuk dan hangat. Ini sudah saatnya untuk pulang, membersihkan badan dan beristirahat.

Besok, saya memiliki banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.

-Selesai-

Catatan tambahan:

Selama merawat pasien-pasien dengan diagnosa Covid-19, beberapa perawat mendapatkan terapi non-farmakologi untuk menyehatkan mental-nya. Salah satunya adalah modifikasi dari Art Therapy. Sederhananya, perawat diminta untuk melukis atau menggambar sesuatu yang menurutnya menarik, dan dapat mewakili apa yang ia rasakan pada saat itu. Tujuan dari terapi ini juga sederhana, untuk menyalurkan emosi yang masih tertahan dalam pikiran dan perasaan. Terutama emosi yang tidak bisa dilukiskan dalam bentuk kata-kata. Setelah lukisan/gambar selesai, biasanya akan dilakukan diskusi bersama secara online dengan seorang pendamping yang juga profesional.

Banyak hal yang terjadi sepanjang masa pandemi. Sungguh, banyak sekali! Menggambar atau melukis bebas dengan tujuan untuk menyalurkan perasaan sesak di dada, adalah sebuah aktivitas yang sangat menarik, dan sangat mendamaikan. Saya rasa, ini adalah salah satu aktivitas yang ikut membantu menegakkan pundak saya, untuk menghadapi hari-hari penuh ketidakpastian ini.

Bagaimana dengan teman-teman sekalian ? Yuk, cerita!

6 thoughts on “Melukis Malam

  1. Hai Ayu!

    Aku juga sudah kangen ingin nongkrong di kedai kopi. Dan ternyata aktivitas pelepas penat seperti menggambar itu dibutuhkan oleh para petugas kesehatan. Semoga Ayu dan rekan kerja seprofesi selalu diberikan kesehatan dan tenaga ekstra untuk merawat para pasien.

    Sedikit koreksi ya

    1. pukul 10 pm – ganti dengan pukul 10 malam
    2. dihadapan – di hadapan
    3. Salah satu sahabat saya berkata bahwa “semuanya (tambahkan tanda koma antara ‘bahwa’ dan tanda kutip awal)
    4. mental-nya (mentalnya)

    Liked by 1 person

  2. “Saya dihadapkan oleh banyak masalah, tapi masalah itu pun saat ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan peluang yang berhasil saya temukan. Masalah selalu datang dengan pasangannya, yaitu peluang. Peluang untuk memecahkan masalah dengan cara yang lebih kreatif, peluang untuk belajar hal baru, dan peluang untuk bertumbuh sebagai pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya.”

    Tetap kuat ya mba Ayu..Mba dan teman2 seprofesi mba adalah harapan bagi banyak sekali orang di negeri ini..
    Semangat, lakukan apa saja untuk bertahan mba..
    Kami semua disini memuji pengorbanan, kesulitan, kesedihan yang kalian alami, berharap kesedihan itu tergantikan dengan kepuasan yang kalian impikan nantinya..

    Liked by 1 person

    1. Hi, Mas. Terima kasih banyak atas semangat dan doanya. Semoga, semoga dan semoga. Doa yang terbaik untuk kita semua.

      Jangan lupa pakai masker dan selalu menjaga jarak aman dengan orang lain ketika bepergian ke luar.

      Salam dari Banjarmasin.

      Liked by 1 person

Comments are closed.