Nick Fury

Aku bagi menjadi dua bentuk pelajaran atau ilmu yang sudah kupelajari hingga hari ini. Aku memilih ruang lingkup komunitas Ikatan Kata untuk mengerjakan KETIK#11.

Pertama, pelajaran berupa materi bahasa Indonesia. Kedua, pelajaran dalam arti lebih luas. Bagiku kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Bahkan saling terkait dan terikat satu sama lain.

Materi bahasa Indonesia yang terakhir kupelajari di Ikatan Kata adalah puisi. Aku yang baru belajar menulis puisi berima selalu ternganga dan speechless saat membaca puisi karya Mas Narno. Darinya aku juga belajar bahwa bentuk puisi lama cenderung bebas dan bisa dikatakan liar. Dalam beberapa puisinya aku menemukan kosakata yang baru pertama kali aku dengar. Kalau membaca puisi-puisinya maka kamu ibarat sedang membaca sebuah kisah yang dituturkan dalam diksi yang apik dan tak terduga. Silakan intip karyanya di sini dan temukan keseruan dalam membacanya.

Selain itu ada juga kata ‘syahdan’ yang kutemukan pada pos yang dibuat oleh Devi. Berdasarkan informasi dari Para Pengikat Kata, kata tersebut memiliki arti yang sama dengan ‘konon’ atau ‘suatu hari’ yang ditulis di awal kalimat atau paragraf. Lalu ada pembahasan tentang Flash Fiction (FF) dari Andy.

Seingatku, aku belum pernah memakai kata ‘syahdan’ atau membuat FF. Mungkin nanti bisa aku terapkan pada salah satu pos berikutnya di blog Ishfah Seven.

Pelajaran berikutnya adalah membaca buku. Dalam komunitas ini, Para Pengikat Kata senang membaca buku hasil karya penulis-penulis ulung, baik dari dalam atau luar negeri. Banyak sekali judul buku dan nama penulis yang belum aku ketahui. Berkat informasi itu, aku sekarang memiliki Book Read List. Betapa luas ilmu yang telah mereka serap dari beragam buku yang dibaca. Aku tak mau tertinggal. Aku pasti bisa menyusul.

Bagian kedua perihal ilmu yang kupelajari dari Ikatan Kata lebih cenderung kepada pelajaran yang lebih luas. Aku mendapatkannya dari hasil pengamatan hari demi hari di Ikatan Kata.

Tentang Pengikat Kata

Member atau kusebut Pengikat Kata saat ini turun dan naik. Artinya ada yang keluar dan ada juga yang baru masuk ke komunitas Ikatan Kata. Pada akhirnya seleksi alam berlaku sendiri. Member yang semula bergabung kemudian ada yang memutuskan untuk hengkang. Kalau bicara alasan, tentu masing-masing memiliki alasan tersendiri. Namun, ada kesamaan alasan yaitu tidak memiliki waktu untuk Ikatan Kata. Padahal kita semua diberikan modal waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari.

Aku menghormati keputusan mereka itu. Setiap orang tentu memiliki prioritas hal apa saja yang harus ia kerjakan dalam hidupnya. Mungkin Komunitas Ikatan Kata ini tidak termasuk di dalam prioritas itu.

Pelajaran yang bisa aku ambil dari hal ini yaitu bahwa komitmen dan konsistensi menulis yang sejak awal aku tanyakan kepada mereka yang ingin bergabung, ternyata dalam perjalanannya bisa diabaikan begitu saja. Bahwa ternyata cara pandang seseorang terhadap sesuatu tidak selalu sama. Ada beda, ada warna.

Aku menjadi teringat tulisan seorang Pengikat Kata tentang komunitas. Dia menulis seperti di bawah ini :

Ikatan-ikatan itu mengikat. Longgar atau tidak tergantung kesepakatan, juga aturan. Ikatan itu lazim adanya di masyarakat. Ikatan itu bisa tetap, sementara, maupun yang dapat bubar kapan saja. Terbentuknya keluarga, berdirinya suatu negara, itu karena adanya kesepakatan mengadakan ikatan. Dan tidak boleh dianggap sebagai ikatan yang main-main, atau bersifat sementara. Sungguh berbahaya jika menganggapnya hanya untuk sementara waktu saja.

Ikatan paling longgar bisa bubar kapan saja, bisa dibuat semaunya seperti pada masa diriku kanak-kanak. Sepakat bermain bareng, yang mungkin saja salah satu peserta mengundurkan diri sebelum permainan selesai. Ikatan semacam ini lebih banyak permaklumannya, tanpa aturan ketat, tanpa ada sanksi apapun.

Zaman semakin berkembang. Ikatan bisa dibuat, kesepakatan bisa dirembug tanpa harus tatap muka. Dunia maya telah memfasilitasinya. Diriku yang sudah lama mencintai kata-kata, bahkan sejak belia memendamnya, telah berlabuh pada berbagai macam ikatan.

Dibandingkan dengan ikatan lain yang pernah dan sedang kuikuti yang serba puisi, maka ikatan di sini lebih cair. Semua genre penulisan dipersilahkan ikut bergabung, jika ada yang berminat mari turut bergabung karena masih sangat terbuka untuk menerima anggota baru.

Disiplin Menulis

Dengan adanya KETIK, membuatku semangat untuk menulis. Ada rasa lega saat bisa menyelesaikan sebuah KETIK. Tentu saja tantangannya berbeda antara satu KETIK dengan KETIK lainnya.

Satu hal ajaib yang kudapatkan dari Para Pengikat Kata adalah mereka bisa menuliskan KETIK di luar ekspektasiku. Tulisannya seolah memiliki jiwanya sendiri-sendiri. Misal Nunu menuliskan cerita saat ia blogwalking, Andy waktu melakukan review novel Ayah, Mas Narno dengan puisinya, Dian dengan kegelisahannya, MasHP dengan….. (hmmm dengan apanya ya?) Oia, MasHP dengan semangatnya, Mul dengan jagat persilatan yang hilir-mudik berada di pikirannya, Ayu dengan tulisan detailnya dan seterusnya.

Apa yang kudapatkan? Luar biasa. Kalau kutulis satu per satu mereka itu ibarat Avenger yang memiliki kekuatan masing-masing yang khas. Sedangkan aku meski berbadan Hulk tetapi lebih cocok pada posisi seperti Nick Fury. Tak punya kekuatan apa-apa kecuali ‘mengajak’. Mereka luar biasa, sementara aku biasa.

Dari membaca karya mereka aku menjadi tahu tentang karakter dan kepribadiannya masing-masing. Ada yang selalu bersemangat, ada yang muncul sebentar di chat Whatsapp Group lalu kemudian hilang, ada yang biasa cuhat colongan, ada yang mengeluh tentang bagaimana hebatnya orang lain padahal dirinya tak sadar bahwa ia pun hebat dan sebagainya.

Masuk Kuping Kiri, Keluar Kuping Kanan

Pelajaran terakhir yang kudapatkan adalah bahwa tidak semua Pengikat Kata bisa sekaligus paham saat diingatkan tentang sesuatu atau untuk mengoreksi sebuah pos. Pernah sekali diingatkan tentang satu hal. Contohnya seperti preposisi. Walau sudah melewati KETIK yang membahas itu tetapi pada pos berikutnya lupa dan mengulangi kesalahan yang sama.

Itulah kenapa KETIK merupakan akronim dari Kumpulan Edukasi dan Tantangan Ikatan Kata. Kita bergabung tidak hanya untuk mengobrol tetapi belajar. Edukasi pada pos KETIK akan menjadi sebuah pos berisi tulisan semata tanpa pembelajaran jika apa yang sudah dipelajari hari ini hanya untuk dilupakan esok hari.

Pada salah satu footer Ikatan Kata tertulis, β€œJangan terburu-buru untuk menerbitkan posmu, Kawan. Baca 2 kali, cari mana yang salah tulis, sunting dan terbitkan.” Sebenarnya kalau bisa menerapkan prinsip ini maka kesalahan penulisan bisa diminimalisir atau bahkan hilang sama sekali.

Demikian yang bisa aku sampaikan, guys!

Terakhir, ada sebuah pertanyaan untukmu yaitu pelajaran apa yang sudah kamu dapatkan hingga hari ini?

26 thoughts on “Nick Fury

  1. Tulisan Kang Fahmi membuatku flashback ke awal dibentuknya komunitas ini. Kita membuat grup ini karena kita ingin ada ikatan untuk melangkah bersama. Belajar menulis, berbagi tulisan, berbagi pengetahuan, juga berbagi canda tawa sebagai bumbu persahabatan. Dalam perjalanannya dinamika tentu menjadi sebuah keniscayaan. Harapanku dinamika itu tidak membuat kita kehilangan semangat dan harapan. Smg kita tetap saling support untuk memelihara Ikatan Kata.

    Semangat, Kang Fahmi. Di sini aku jg banyak belajar.. Termasuk belajar menjaga stamina dan menyemangati diri, membukan diri dan belajar banyak hal dr teman-teman. Meski secara umur barangkali aku paling old di sini.
    πŸ˜€

    Liked by 2 people

    1. Benar, Mas. Kata dosen waktu aku kuliah, “Kalau kamu ‘tersesat’ dalam perjalanan, coba kembali ke awal. Telusuri kesalahannya, perbaiki lalu jalan lagi.”

      Mungkin benar OLD tapi paling tampan

      Haahaa…

      Kang Dilan, dilawan

      Liked by 1 person

  2. gimana mau komentar, bingung juga, begitu banyak menurut mas Fahmi pelajaran yang bisa didapat, di antaranya dariku.

    baiklah, ada slogan yang masih kuingat dengan baik waktu awal-awal aktif di blog, yang sekarang sudah banyak tidak terlacak lagi. Slogan kami waktu itu “berbagi tak pernah rugi” di dunia maya maupun dunia nyata kurasakan betul. sebagai guru mengajar adalah berbagi ilmu, di blog ada saja yang bisa mendapatkan sesuatu dari yang kita tuliskan, dan aku pribadi tak pernah merasa rugi akan hal itu

    Liked by 1 person

      1. belum yakin pekan ini, karena masih wira wiri ke beberapa keluarga, konsentrasinya belum dapat, beda dengan puisi sekali klik langsung ngebut sampai jadi

        Like

  3. Waduuuh Nick Fury telah bersabda, haha. Waktunya Avengers bertindak.

    Omong-omong soal grup, saya membuka dan mengikuti ratusan percakapan, kadang sudah kadung basi ditanggapi hihi. Mungkin jam aktif media sosial saya beda akibat hari-hari terlalu keras. 😁

    Liked by 1 person

Comments are closed.