Mengintip Pikiran Mereka yang Terbakar Api Neraka

Ia berjalan dengan tangan terkepal, mata yang tajam memandang ke depan. Tidak menentu. Nafasnya naik turun, isi pikirannya terpancar dari wajahnya yang mengerut, mengeluarkan segala sesuatu yang sangat tidak ingin diketahui orang lain. Pikirannya busuk, busuk!

Ia melihat wajah orang-orang yang dilewatinya, penuh kebencian dan memuakkan. Ada di antara mereka yang bertanya, tapi sangat jelas hanya ingin mengolok. Hipokrit!

Aura kebencian tercium kuat di udara, masih segar dan basah. Menimbulkan rasa mual yang tidak selesai-selesai, ingin muntah dan mengeluarkan semua, tapi rasanya tidak nyaman. Tiada yang bisa dibuang, yang ada hanya tertahan dan menggunung di dalam sana. Sulit untuk dicapai pula! Buruk! Buruk!

Ada api yang terus membakar di dalam dada, bukan hanya semangat, tapi rasa yang lain, yang lebih gelap. Mengerikan! Tapi juga menarik.

Api ini membakarnya dari dalam, menjalar sampai ke ujung-ujung jaringan di sana, melebur jadi satu dengan tujuan yang sama, melampiaskan! Lalu, merusak dan menghancurkan! Menahan energi seperti ini percuma saja, membawanya berlari pun percuma saja.

Hukumnya seolah sama, kalau tidak dikeluarkan, maka lukanya akan membakar ke dalam, terus sampai ujung-ujung saraf sana. Ini lebih menyiksa dan lebih berat terasa! Jadi, Ia putuskan untuk tidak peduli dengan apapun!

Ia keluar, melebur keluar!

Menyamakan dirinya dengan merah darahnya lingkungan di luar sana.

P.S. Tulisan ini tercipta setelah hampir dua jam memberi waktu pada seseorang yang memiliki masalah dengan manajemen marah. Catatan penting yang perlu diingat,

Mereka pun berjuang sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik setiap waktu.

13 thoughts on “Mengintip Pikiran Mereka yang Terbakar Api Neraka

  1. Cadas!

    Sedikit koreksi ya.

    1. diantara (di antara)

    2. melampiaskan! lalu, merusak dan menghancurkan!. Menahan energi seperti ini percuma saja, membawanya berlari pun percuama saja. // Lalu (huruf L kapital), mengahancurkan!. (Jika sudah ada tanda seru, tidak perlu ada tanda titik), percuama (percuma)

    3. โ€œMereka pun berjuang sekuat tenaga untuk menjadi lebih baik setiap waktuโ€. (Tanda titiknya sebelum kutip akhir ya. -> … setiap waktu.”

    Liked by 1 person

    1. Maaf mengecewakanmu, Kak. Tulisan ini sayangnya hanya sampai di sini saja. Kalau kakak ingin melanjutkan, silakan. Ayu jadi penasaran, kisah seperti apa yang akan terbentuk dan endingnya akan seperti apa.

      Like

    1. Terima kasih, Mas.

      Saya belajar untuk menulis pendek seperti ini, sesuai dengan saran pembaca tulisan-tulisan saya selama ini wkwkwkwkwk.

      Cukup sulit, dan menantang untuk menyelipkan pesan di setiap kata yang terbentuk di dalam tulisan. Tapi sangat menarik untuk dicoba.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s