WKWK 3 – Bioskop

“Nih, boi, cobain roti bakar ala Wak Kecik.”

Wak Kecik menyodorkan satu porsi roti bakar rasa cokelat stroberi. Harum dan hangat. Menggoda lidah untuk mencicipinya. Tanpa pikir panjang langsung kulahap roti dan menghabiskannya.

“Lagi?”

“Enggak. Bikinin aku teh tarik dingin saja, Wak. Tadi siang aku dah minum kopi di kantor.”

“Siap 86!”

Setelah Wak Kecik membuatkan pesananku, aku menghampiri teman-teman yang lain. Sore ini cukup ramai. Ada banyak yang datang dan bisa berkumpul di Warung Kopi Wak Kecik (WKWK).

Rencananya malam ini kita mau nonton film di bioskop. Letaknya tak jauh dari WKWK. Tapi kita masih belum tahu mau nonton film apa.

Kulihat Chan sedang asyik mengisi teka-teki silang. Kuintip sedikit. Ternyata lebih banyak kata yang ia coret daripada yang langsung jadi ditulis.

“Ih apa sih intip-intip segala?” protesnya

Aku tersenyum meledeknya. “Masa sih gak bisa isi TTS?”

“Susah tau. Pusing eike dari tadi.”

Chan melemparkan penanya. Dia menyerah. Teman-teman yang lain menertawakannya.

“Udah gak usah manyun. Kita bahas film aja. Sambil nunggu yang lain datang.”

Chan mengangguk pelan.

“Apa film Thailand terbaru menurut rekomendasimu yang bagus untuk ditonton?” tanyaku.

“Hanya tahu film lama,” jawabnya

Andy ikut nimbrung. Sambil makan kacang sukro dia berceloteh, “Film lama, lupa judulnya, intinya diary teacher.”

“Suckseed yang kutahu salah satunya. Sama film I Fai Thank You Love You,” aku menambahkan, “dan film yang ATM error. Filmya lucu banget, yang petugas ATM bikin error seluruh ATM di kota itu terus mesti narik lagi uang yang udah diambil sama nasabah.”

“Iya itu keren banget. Kalau narik uang yang  keluar dua kali lipat,” kata Chan.

“Ada juga film horror Thailand, Chan. Salah satu yang kuingat judulnya Coming Soon. Yang sekarang apa yah yang terbaru? Mungkin Mas HP tahu,” kulirik Mas Heri Purnomo alias Mas HP.

“Gak ngikutin, Kang,” jawabnya

“Tahunya Suzzana ya. Hehe.”

“Iye, sama Dono Warkop. Kesempatan dalam Kesempitan.”

Wak Kecik datang mengantarkan pesanan kopi Mas HP. Secangkir espreso dan sepiring pisang goreng. Melihat pisang goreng yang masih hangat, Andy langsung mengambilnya diikuti Chan dan aku.

By the way, aku pernah dikira orang Thailand,” kata Mas HP.

“Ada satu orang komika namanya Hifdzi Khoir, dia pinter impersonate orang Thailand meski katanya dia juga gak ngerti,” aku teringat sosoknya yang subur dan berkacamata. Kalau dipikir-pikir posturnya mirip aku. Tapi aku lebih ganteng, kalau kata istriku

Mas HP melanjutkan ceritanya, “Iya. Mungkin karena mataku agak sipit.. dan aku pake bahasa Inggris, ngomong sama orang China yang lagi jualan baju di daerah Patpong. Aku juga Inggris-inggrisan, Kang. Abaikan grammar. Patpong tuh daerah para Lady Boy dipajang mirip aquarium. Tapi aku cuman lewat doang, Kang. Jangan berpikir mampir ke aquariumnya.”

“Kok bisa Mas?” tanya Chan. “Terus dia nanya kamu orang Thailand yah?”

“Dia nanya aku dari mana. Terus saat kubilang dari Indonesia dia ketawa. Soalnya banyak juga orang Thailand yang iteman, kurus dan agak sipit,” jelas Mas HP.

Mas HP menyeruput kopi kemudian menikmati sensasi pisang Wak Kecik. Eh, maksudku pisang goreng buatan Wak Kecik.

Tak berapa lama, Nunu datang. Sebelum duduk dia berkeliling sambil memberi tos. Dia merasa sedang konser. Melihat tersisa satu buah pisang goreng yang tergeletak pasrah di atas piring, mata Nunu mendadak tajam, hidungnya mengisap aroma khas pisang goreng yang menyeruak di udara. Dengan kecepatan sepersekian detik tangannya sudah menyambar pisang itu lalu tanpa kita sadari pisang hilang. Aku sampai kaget sejak kapan dia mengunyahnya.

Andy yang melihat kelakuan sahabatnya itu hanya geleng-geleng kepala. Tak ambil pusing ia kembali pada topik. “Film Thailand legendaris yang aku tonton, Kraithong. Sama yang kepalanya ular itu apa ya, aku lupa.”

“Kalau yang ikan kepala setan itu apa ya?” Nunu tampak berpikir. Masih dengan mulut mengunyah ia berkata, “Yang nyaplok anak kecil di jembatan.”

“Ah, pada gak hafal judulnya,” keluh Andy.

Kemudian datanglah Charlie’s Angels menuju meja kami. Dialah Frida, Fiska dan Mira. Chan bangun lalu cipika-cipiki dengan ketiganya. Nunu juga bangkit dan berharap mendapat kecupan yang sama. Melihat itu Fiska mendorong tubuh Nunu hingga ia duduk terjatuh ke sofa yang tadi ia duduki.

“Ngarep!” ketus Fiska.

Nunu diam saja. Melihat itu Andy tertawa cekikikan. Tampak sekali wajahnya dipenuhi kepuasan.

“Jadi, malam nanti kita mau nonton apa nih?” tanya Mira.

“Ada film apa aja sih?” tanya Mas HP antusias.

“Ada banyak sih Mas,” Mira membuka handphonenya, “Ada Milea : Suara dari Dilan.”

“Itu mah film aku dong,” Mas HP tersenyum bahagia. Menurutnya, Dilan adalah dirinya. Tahun lahirnya saja berdekatan, wajah sama-sama tampan, dan pernah ikut geng motor anak-anak kompleks. Bedanya Dilan tinggal di Bandung, dia di Depok.

“Aku sih dah baca ketiga novelnya. Gak begitu penasaran kalau nonton film itu,” kata Fiska

“Sama. Aku juga,” tambah Nunu.

“Apaan sih, ikut-ikut aja,” Fiska gemas.

“Pokoknya aku ngikut apa yang Non Fiska pilih deh,“ Nunu sok cool.

Frida menahan tawa. Dia menutupi mulut dengan tangan kirinya. “Kalau aku sih penasaran dengan Film Fantasy Island. Filmnya ini diadaptasi dari serial tv horor tahun 1970-an. Katanya film ini tentang sekelompok muda mudi yang berkunjung ke pulau tropis terpencil. Pulaunya bisa mewujudkan permintaan orang gitu.”

“Ah, bosan. Mirip-mirip film Final Destination dan sejenisnya,” sela Andy.

“Tapi kayaknya seru deh,” kata Frida keukeuh. “Itu ada horror dan thrillernya.”

Mas HP memesan kembali makanan. Kali ini kue serabi hangat dengan toping yang berbeda. Ada yang dari oncom, original, durian dan lain-lain. Begitu makanan terhidang di meja, Nunu sudah mengambil satu. Satu di tangan kiri dan satu di tangan kanan. Kalau sekarang kita sedang berada di dunia superhero, kekuatan Nunu itu persis The Flash.

“Kalau mau nonton film serem, mendingan ini aja,” Andy berdiri dan mulai berkisah, “Judulnya Mangkujiwo. Ada si cantik Asmara Abigail yang meranin tokoh utama. Terus ada aktor lawas yang keren. Roy Marten dan Sujiwo Tejo. Penasaran kan?”

“Aku dah lihat trailernya, “ lanjut Andy, “mengambil setting zaman dulu, dikisahkan bahwa setelah disingkirkan dari jabatannya di Keraton oleh Cokrokusumo, Brotoseno berniat membalas dendam. Brotoseno mengajak seorang perempuan bernama Kanti yang juga dipenuhi kebencian kepada Cokrokusumo.”

Tangan Andy bergerak ke kiri dan kanan, ia bertutur laksana dalang. Kita serius memperhatikan.

“Kanti dan Brotoseno pun bekerja sama, mengatur pembalasan dendam yang melibatkan kekuatan gelap dan jahat untuk melawan Cokrokusumo yang dilindungi orang-orang kepercayaan hebat, seperti Nyi Kenanga yang dapat melihat petanda-petanda buruk. Sementara itu, tanpa Brotoseno dan Kanti duga, keadaan justru semakin pelik karena pembalasan dendam yang mereka ciptakan justru membawa malapetaka yang jauh lebih besar dan mengerikan.”

“Menarik tuh. Aura menyeramkannya sudah terasa bahkan sebelum kita tonton,“ Mas HP memberikan responnya.

“Nah, kan! Udah ini aja,” kata Andy.

“Aku ngeri kalau nonton film-film serem gitu,” keluh Fiska.

“Kan ada Mang Nunu yang di sampingmu, Non,” candaku

“Ih, lebih sereman dia, Kang.” Fiska melafalkan sesuatu. Mungkin semacam doa.

Nunu cuma cengar-cengir. “Cewek mah gitu. Sok jual mahal dulu.”

Fiska melemparkan tisu yang ia gulung ke arah Nunu. Nunu menangkapnya dengan bahagia. “Kuterima Non, kuterima.”

Fiska ngambek. Dia bangkit lalu berjalan menuju toilet. Semoga dia baik-baik saja dan tidak muntah.

“Sabar, Nu,” kata Mas HP. “Sebagai cowok kita mesti peka. Biarin aja dulu. Nanti dia…”

Belum sempat Mas HP menuntaskan kalimatnya, Andy menimpali, “Nanti dia kabur. Haha.”

Nunu berjalan ke tempat Andy duduk lalu menggelitiki pinggang Andy. Andy tertawa. Duh romantis sekali mereka berdua.

“Atau kita tonton filmnya Donnie Yen saja, kawan-kawan.” Mas HP mencoba menengahi. Nunu kembali lagi ke tempat duduknya sesaat sebelumnya dia sudah menyambar lagi kue serabi di atas piring. Memang The Flash tak ada duanya.

“Ada film IP Man seri keempat. Ini finalnya nih. Aku udah nonton film satu sampai tiga. Pasti seru deh. Dan satu lagi filmya berjudul, bentar, bentar, apa tadi ya.” Mas HP mengambil handphone Mira, “Nih judulnya Enter the Fat Dragon.”

“Kalau film action, aku sukanya Will Smith,“ kata Chan

“Setuju,” Mira mengacungkan jempolnya. “Bad Boys for Life juga itu seri film terakhir loh. Duetnya dengan Martin Lawrence selalu kutunggu.”

Aku meneguk teh tarik dan menghabiskan sisanya yang tinggal sedikit. “Atau kita tonton Margot Robbie saja. Judulnya Birds of Prey. Aku penasaran setelah nontin film Joker, apakah film ini ada kaitannya? Margot berperan sebagai Harley Quinn. Saat dulu nonton film Suicide Squad, aktingnya keren menurutku. Walau secara keseluruhan filmnya tidak bagus. Banyak dapat kritikan juga.”

Mira berdiri dan mengajak kami untuk voting. “Yaudah kita voting saja. Film yang dapat suara terbanyak, maka film itu yang akan kita tonton. Setuju?”

Semua mengangguk. Lalu Mira menyebutkan film tadi satu per satu lalu kita disuruh memilih film yang ingin ditonton. Mira menghitungnya.

Kira-kira film apakah yang akan mereka sepakati untuk ditonton? Coba berikan pendapatmu.

###

Temukan keseruan obrolan Para Pengikat Kata di WKWK

17 thoughts on “WKWK 3 – Bioskop

  1. Kalau untuk film horor aku enggak begitu tahu. Akan tetapi, aku sedikit tahu kalau yang baku itu “cokelat” bukan “coklat”😊 dan untuk penggunaan dialog tag yang berlebihan. Kadang ada kalanya untuk membuat pembaca memikirkan ekspresi dari beberapa tokoh, daripada membeberkannya secara gamblang. Aku rasa itu lebih greget.😂

    Like

    1. Kalau tokohnya cuma 2 atau 3 sih gampang bisa dilakukan seperti itu hehe

      Tapi aku berpikir dialam cerita ini tokoh yg ada banyak, terus nanti pembaca disuruh nebak yang ngomong A itu si anu, B si itu. Nggak dong.

      Coba deh baca yg WKWK 2. Di sana Devi bisa menemukan dialog tag seperti yg Devi sebut tadi

      Jadi menurutku itu sudah proporsional

      Liked by 1 person

  2. Mangkujiwo awal februari udah nonton. Lumayan. Baru ngeuh pas tayangan cast kalau yang jdi nyi kenanga itu djenar mesa ayu

    Like

  3. Gile… masih tersimpan aja dialog chating yg udah lama ini. 😀 Memorimu masih tajem, Kang. Barusan temenku posting poster film The Call of The Wild, kelihatannya bagus.

    Like

Comments are closed.