Perjalanan Waktu

Aku sedang berada di ruang kelas, tertidur di meja, dan guru memukul-mukul papan tulis sambil memanggilku berulang kali. Aku tahu seharusnya menaruh perhatian. Aku pun tahu guru akan menganggapku kurang ajar karena tertidur di kelas. Tapi sungguh aku tidak sanggup mengangkat kepala dari meja.

“Fahmi.”

“Mmmhghh,” balasku lemas.

“Fahmi!”

Mejanya empuk sekali. Kubuka mata. Kata-kata itu diucapkan di atas kepalaku, didesiskan, tapi dengan penekanan berat dan panjang. Fahmiiiii. Lalu aku mendengar suara ketukan. Bukan! Ini lebih dari itu. Sebuah suara pukulan di pintu.

Aku terbangun karena mendengar namaku dipanggil-panggil. Ah, ini ternyata mimpi tentang masa lalu saat berada di sekolah SMA. Masa SMA, masa di mana semua remaja sangat bergairah, bersemangat, namun sering bertingkah tanpa berpikir dan banyak melakukan kesalahan.

Dengan setengah sadar aku berdiri menghampiri pintu dan membukanya. Ada anak dari bapak Kos yang memberiku kunci gembok pagar kosan yang baru. Aku mengambilnya, mengangguk sedikit, berterimakasih, menutup pintu lalu kembali ke kamar. Kulihat handphone. Jam 6 pagi. Hari minggu setelah shalat Shubuh, kalau tidak ada acara pagi, aku akan tidur lagi.

Sambil bersandar di dinding kamar, aku merenung sebentar. Aku berpikir, bagaimana kalau aku bisa mengetahui kejadian atau rahasia yang akan terjadi di masa depan. Rasanya itu akan sangat berguna. Dengan kekuatan itu aku bisa tahu apa yang akan terjadi di suatu tempat, menimpa siapa saja, bagaimana alurnya dan sebagainya. Misal, kalau aku akan pergi ke suatu tempat dan ternyata setelah aku terawang, di tempat itu akan terjadi bencana, maka aku akan bisa menghindari dan menjauhi tempat tersebut. Hebat, bukan?

Sekilas memang itu adalah kekuatan yang menggoda untuk dimiliki. Jadi tak akan ada tuh gengsi dan sakit hati karena ditolak oleh perempuan idaman hati. Tapi apakah memang semudah dan sesederhana itu?

Setelah dipikir kembali, ternyata hal itu memang mustahil bagiku. Dalam cerita di film saja semua orang yang mempunyai kekuatan melihat ke masa depan atau bahkan kembali ke masa lalu tidak seenak yang dibayangkan.

Film tentang kemampuan melihat ke masa depan seperti film Next, Final Destination, The Edge of Tomorrow dan One Piece episode Fishman Island tentang cerita Madam Shirley. Atau film tentang kembali ke masa lalu seperti How I Met You, The Butterfly Effect dan Proposal Daisakusen.

Dari film-film itu diceritakan bahwa manusia tidak bisa mengubah sesuatu di masa lalu agar masa depannya sesuai dengan yang diharapkan. Ada saja hal yang berbeda di masa depan yang tidak sesuai dengan keinginan. Misal kamu berharap bahwa akan menikah dengan si A tapi setelah kembali ke masa depan, tidak terjadi perubahan apa pun. Malah bisa jadi lebih buruk dari yang seharusnya terjadi.

Ada banyak hal yang aku sesali di masa lalu. Aku memang ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki banyak hal. Ada banyak keputusan bodoh, konyol dan tolol yang aku ambil di masa lalu. Ada keadaan yang ingin aku ubah. Ada keinginan untuk lebih berani. Andai saja bisa.

Tak mau ambil pusing, aku abaikan pikiranku itu. Aku bergegas ke kamar mandi sebentar, melepaskan cairan urin yang sudah penuh, kembali ke kamar, minum seteguk air lalu mencoba untuk tidur. Lagi.

Mataku merasakan sebuah cahaya sedang menyorotinya. Terpaksa aku bangun. Betapa kagetnya diri ini saat melihat berada di tempat lain. Ini bukan kamar kos. Terlalu luas dan mewah. Lantainya putih. Dinding dan langit-langit pun sama.

Aku berjalan mendekati sebuah pintu. Membukanya pelan-pelan. Ternyata ada sebuah lorong panjang yang semuanya berwarna putih. Lampu neon yang bersinar memperjelas semuanya.

Aku susuri lorong itu hingga berakhir di sebuah ruangan baru. Ada banyak komputer di sana. Satu hal yang menarik perhatian adalah sebuah layar besar. Lalu muncul sebuah tulisan. PERJALANAN WAKTU. Di bawahnya tertera pertanyaan, “Kamu mau melihatnya atau tidak?”

Aku sentuh layar itu pada tulisan “YA”. Kemudian ada suara bising dari mesin yang berada di sekitarku. Perlahan tapi pasti aku merasakan hawa dingin. Sentuhan angin merasuki kulit. Lama-kelamaan semakin kencang. Kulihat di belakang ada sebuah pusaran. Badanku bergerak tanpa dikomando. Aku memegang apa saja yang dapat kuraih tapi percuma. Tubuhku tersedot ke dalam pusaran itu.

Beberapa menit kemudian aku tersadar sudah berada di tempat yang berbeda. Pakaian dan sepatu yang kukenakan pun beda. Kuangkat tangan kiri. Wah, aku punya jam tangan canggih. Kusentuh permukaannya lalu muncul sebuah hologram.

“Selamat datang di T3. Time Travel Time. Di sini kamu bisa menjelajahi masa lalu yang pernah dilalui. Kamu hanya bisa melihat tapi tidak bisa berinteraksi. Silakan pilih waktu yang diinginkan. Kamu memiliki 7 waktu.”

Aku sempat bingung dan ragu. Aku menjadi teringat orang-orang baik yang kukenal. Mereka semua telah membantuku di perjalanan hidup ini.

Aku memiliki 7 kesempatan untuk melihat 7 orang yang berbeda. Kenapa tidak aku coba saja? Aku ingin mengingat kembali pertemuanku dengan mereka. Bismillah.

Yogie

Pertama, aku memilih waktu saat mondok di pesantren. Aku melihat suasana pesantrenku yang dulu. Oh, sungguh bisa bernostalgia. Dari kejauhan aku memperhatikan seseoerang. Dia adalah Yogie.

Dia temanku saat di pesantren dan Tsanawiyah. Yogie mempunyai ciri khas di bagian dagu yaitu tompel hitam. Tompelnya itu menjadi pembeda di antara teman-teman yang lainnya. Saat aku bekerja di Bandung, aku sering berkunjung ke rumahnya bahkan menginap. Mama Yogie dan keluarganya bahkan sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarganya. Untuk hal ini aku sangat bersyukur. Aku seperti menemukan keluarga baru. Karena bagiku keluarga itu tidak selalu identik dengan orang yang bertalian darah atau satu garis keturunan. Keluarga adalah orang-orang baik yang bahagia menyambutmu kembali kepada mereka. Mereka memberikanmu naungan, perlindungan, kenyamanan dan kasih sayang. Keluarga adalah sesuatu yang berharga

Tempat kedua yang kukunjungi adalah SMA, Di sana aku melihat ada Lia dan Ari.

Lia

Lia itu pintar dan dapat diandalkan. Namun ia juga bisa sangat menyebalkan karena sifat jail dan usilnya. Lia itu cerewet banget. Kalau sudah ngomong, duh nyerocos terus tanpa henti. Untungnya dia cantik. Jadi, kalau pas dia nyebelin masih tetap enak dipandang mata.

Ari Bule

Ari ‘Bule’ adalah namanya. Ia temanku saat sekolah di SMA. Aku, Ari dan Lia merupakan teman sekelas. Kalau bicara tentang si Bule, aku selalu ingat akan keramahannya. Dia itu ramah kepada siapa pun. Orangnya asyik dan humoris. Dia juga terkenal di sekolah. Ari punya perawakan badan yang kecil dan agak pendek tapi karena kulitnya lebih putih bahkan dari teman-teman cewek, dia dijuluki dengan nama Bule.

Samba

Beralih ke masa aku bekerja. Ada teman baikku bernama Samba. Dia adalah teman satu tim denganku saat bekerja di GCC (Garuda Indonesia Call Center). Orangnya ulet, giat dan semangat dalam belajar dan bekerja. Samba itu sopan dan orangnya ‘ga enakan’ dengan orang lain. Agak berbeda denganku yang suka frontal dan gampang marah (pada saat itu). Selama sembilan bulan bekerja dengannya, aku semakin dekat dengan Samba.

Hal yang paling aku ingat adalah Samba kurang fasih berbicara dalam Bahasa Inggris. Waktu itu ada telepon yang masuk dan ternyata dari orang luar negeri yang menggunakan bahasa inggris. Samba berusaha menanganinya terlebih dulu tetapi ia menyerah. Lantas ia berkata, “I‘m sorry, Sir. I’m little english. I transfer you to my friend.” Maksudnya Samba adalah seperti ini, “Maafkan saya, Pak. Saya hanya bisa berbicara bahasa Inggris sedikit dan tidak lancar. Saya akan mentranfer atau mengalihkan telepon Bapak kepada Agent Call Center yang lainnya.”

Aku tertawa sendiri melihat kejadian ini lagi. Dan setelah itu dia menarikku dari workstation dan aku duduk menggantikannya. Well, lepas dari semua itu, Samba is my best friend. Dia sering sekali menolongku dalam berbagai hal.

Eby

Jangkung, ramping dan punya suara bagus. Dialah Eby. Dia temanku di GCC selain Samba. Hal yang lain aku ingat tentangnya adalah Virgo. Dia memiliki sifat dan karakter yang hampir sama denganku karena aku juga Virgo. Sifat kita yang paling menonjol adalah keras kepala, jutek, egois, pintar, selalu kekeuh terhadap pendapat sendiri, dominan, sensitif (bahkan lebih daripada perempuan) namun tetap peduli terhadap perasaan orang lain. Hal yang paling berbeda dari kita berdua yaitu, aku lebih cenderung pendiam sedangkan Eby gak bisa diam, tipe haha-hihi, senang ngobrol dan mudah bergaul. Kalau kamu melihatku sekarang, maka kamu akan melihat diriku berbeda, Eby. Aku tidak sependiam dulu.

Ramdan

Dua kesempatan perjalanan waktu terakhir kugunakan di tempat kerja yang sekarang. Tapi aku atur pada 4 tahun ke belakang.

Lalu ada Ramdan. Dia temanku sejak di GCC hingga sekarang di tempat kerja yang baru. Orangnya sih cool dan cuek tapi jika kamu sudah kenal dengannya dia bisa gokil dan seru-seruan. Suaranya bagus dan ’empuk’ mirip suaranya Ridho Roma kalau dia sedamg bernyanyi. Dia juga mempunyai hobi yang sama denganku yaitu nonton film. Kita adalah Movie Freak alias penyuka film. Kita sering bertukar film dan membahas banyak hal tentang film. Ya, I’m happy that I knew him.

Zul

Dzulkarnain atau Zul adalah teman baru di kantorku yang sekarang. Dia supel, easy going dan sangat suka lagu dangdut. Rambut polem (poni lempar) adalah ciri khasnya. Zul seringkali membantuku dalam banyak hal terutama dalam pekerjaan. Kadang-kadang jika tim sedang ‘goyah’, Zul adalah orang yang paling mengerti dan membantuku menangani setiap permasalahan yang ada di antara anggota tim maupun dalam pekerjaan yang menuntut kita untuk fokus dan teliti. He’s really a good partner.

Bip. Bip. Bip.

Alarm di jam tanganku berbunyi. Artinya waktuku telah habis. Meskipun sebentar setidaknya rasa rinduku terobati. Aku sadar satu hal bahwa selama ini jumlah orang yang baik, sayang dan perhatian kepadaku jauh lebih banyak daripada mereka yang membenci. Aku bersyukur akan hal itu. Sangat.

Aku tekan kembali permukaan jam tangan Time Travel Time. Aku sudah kembali ke masa sekarang.

Aku bangun dengan dua perasaan. Satu rasa syukur yang kusebutkan tadi. Kedua, aku sangat lapar. Aku perlu sarapan.

Lalu bagaimana denganmu, Kawan? Siapakah 7 orang terdekatmu?

23 thoughts on “Perjalanan Waktu

  1. Wow.. time travelnya seperti membaca film petualangan Jumanji. Kereeen, Kang Fahmi. Seandainya ada interaksi dengan teman2 di masa lalu bisa lebih seru kali ya. Apalagi kalau…… bisa ketemu mantan. 😀

    Like

      1. Takut CLBK ya, Kang. Cinta Lama Belum Kelar. Hehehe.

        Btw, kata inggris-nya mestinya huruf kapital kan ya?
        “Maafkan saya, Pak. Saya hanya bisa berbicara bahasa inggris sedikit dan tidak lancar.

        Like

Comments are closed.