Cryptaesthesia

Empat

Hans tiba di kamar apartemennya. Ia membuka pintu dan berjalan masuk dengan langkah lemas. Dibiarkannya lampu tetap mati seperti saat ia pergi, hanya ada lampu kecil di ruang tengah yang tetap menyala remang-remang. Hans menjatuhkan dirinya di sofa, menarik napas panjang, berusaha mengusir rasa kesal karena kejadian dengan Rima sore tadi. Matanya terpejam, malam ini ia merasa lelah dan kalah.

Perubahan sikap Rima belakangan ini membuatnya khawatir. Rima sudah beberapa kali ini mencoba menghindarinya, sebaliknya mulai tampak tidak mempermasalahkan kehadiran Antoni di kehidupan mereka, sesuatu yang biasa Rima keluhkan padanya selama ini.

Jangan-jangan Rima mulai…Ah, tidak. Itu tidak boleh terjadi! Pikirnya dalam hati.

Lintasan pikiran itu sontak membuat mata Hans kembali terbuka. Sebuah foto di dinding terlihat begitu ia membuka matanya. Hans terus menatap foto itu, ia perlahan mendekat. Diusapnya sosok laki-laki di foto dengan perlahan. Laki-laki itu sedang memeluk pinggul wanita anggun di sebelahnya, keduanya nampak bahagia memegang pundak bocah laki-laki di tengah-tengah mereka yang tersenyum polos, menggenggam sebuah mainan pesawat di tangannya.

Mata Hans mulai basah. Ia kemudian berjalan menuju kamar tidur, membuka laci meja yang terletak di samping ranjang tidurnya, mengeluarkan dua lembar kliping koran yang cetakan tulisannya tampak sudah memudar.

Napasnya memburu begitu ia melihat foto yang ada di kliping koran itu. Kliping pertama memuat foto wajah laki-laki yang sama dengan sosok laki-laki di foto yang tertempel di dinding kamar apartemen Hans tadi, dengan judul besar tercetak di atasnya, ‘Aktor Makar Merdeka Utara Tak Diketahui Keberadaannya.’

Sedang kliping kedua berjudul Akan Saya Buru Meski ke Ujung Neraka, di bawah judul itu tampak foto seorang laki-laki penuh semangat mengepalkan tangannya ke atas, tengah melakukan konferensi pers. Jenderal ABRI Hanung Dwi Anggara, nama laki-laki itu tertulis di bagian isi berita. Laki-laki itu mirip sekali dengan Pak Hanung, ayah Rima. Tak diragukan lagi, laki-laki itu memang Ayah Rima, Pak Hanung, di usianya yang lebih muda.

Hening kamar apartemen itu pecah oleh lirih suara yang terdengar bersama isak napas yang keluar dari mulut Hans.

“Ayah… dendam ini harus terbalaskan!”

*

“Bagaimana gulai ayamnya Mama, Antoni?” Di tengah menikmati santap malam bersama, Antoni dikejutkan pertanyaan dari ibu mertuanya.

“Enak, Ma, enak.” Antoni segera membalas.

“Ayolah, kamu kan, seorang chef.” Desak ibu mertuanya agar Antoni jujur saja menilai masakan buatannya.

“Ehm…” Antoni mulai berpikir, sambil terlihat membenahi cara duduknya. “Tenang saja, Mama siap menerima kritik, kok.” Bu Ana mencoba membuatnya nyaman.

“Kentangnya, Ma, bagus ada di sini, tapi lebih baik kalau misalnya tidak dimasak begitu matang sampai kering dan hilang teksturnya.” Ia mengambil jeda. “Antara ayam atau gulainya, salah satu atau dua-duanya, menurut saya kurang garam, ehm… agak kurang garam lebih tepatnya.”

“Tapi saya suka sambal matahnya Mama yang sangat segar dengan gulai yang manis ini, menjadikan suatu paduan hidangan yang enak untuk dimakan, eh maaf, dinikmati.” Antoni mengakhiri dengan sebuah senyum.

Bu Ana, Pak Hanung, bahkan Rima terdiam mendengar review cepat dan lugas yang baru saja disampaikan Antoni. Tak terdengar dentingan sendok dan garpu, semua khidmat mendengarkan penilaian Antoni. Mereka sebelumnya, memang tidak pernah secara langsung mendengar bagaimana pedasnya seorang chef jika menilai suatu masakan.

Antoni sendiri tampak tidak nyaman. Dalam hatinya, ia merasa keceplosan, insting seorang chef membuatnya spontan mengeluarkan kata-kata itu. Padahal, menurutnya, review yang baru saja ia sampaikan, sudah ia poles sebaik mungkin dengan kata-kata yang lebih halus.

“Ha…Ha…Ha…”, tawa Pak Hanung memecah kecanggungan. “Kamu mengingatkanku sewaktu aku masih muda dulu, Antoni.”

“Iya,” kata Bu Ana menimpali, “teliti, tegas, perhatian pada yang detail, mirip sewaktu Papa masih bertugas dulu.”

“Ternyata kompetensi seorang intel juga dimiliki oleh seorang chef, ya.” Rima ikut mencairkan suasana di malam itu.

“Papa dulu seorang intel?” tanya Antoni karena yang ia ketahui, ayah mertuanya itu hanyalah seorang purnawirawan jenderal ABRI.

“Kepala Intel lebih tepatnya, Antoni.” Bu Ana menjelaskan. “Dulu Papa pernah diberi tugas untuk memimpin Badan Intelijen Negara.”

“Diperlukan perhatian pada yang detail jugakah untuk menjadi pimpinan di Badan Intelijen?” Antoni menambahkan pertanyaannya.

“Sangat.” Pak Hanung kali ini menjelaskan sendiri. “Sangat dibutuhkan, Antoni. Apalagi dulu, hampir seluruh waktu saya dihabiskan untuk mengejar para pelaku makar.”

“Pelaku makar?” tanya Rima, bukan tidak mengetahui arti kata itu, tapi lebih karena ia juga baru tahu jika ternyata ada bagian seperti itu juga dari pekerjaan papanya dulu.

“Iya, mereka mengambil segalanya dari Papa, Rima.”

“Termasuk kedekatan Papa dengan kalian berdua saat itu.” Pak Hanung terlihat menunduk, garpu di tangan kirinya dilepas, ia gunakan tangan kirinya untuk menggenggam tangan kanan Bu Ana.

Tak semua dari pekerjaan penting Pak Hanung saat itu, ia anggap sebagai kebanggaan. Seolah ada yang harus dibayar dari kejayaannya dulu. Pak Hanung takut, sesuatu itu harus dibayar terlalu mahal olehnya dan keluarga.

*

Kriiing…Kriiing…

“Telepon, Chef.” Salah seorang asisten chef berteriak kepada Antoni di tengah riuhnya kondisi dapur restoran.

Antoni memberi kode asistennya yang lain untuk segera mengurus pesanan, selagi ia berlari menuju pesawat telepon di sudut dapur.

“Iya, Chef Antoni di sini.” Antoni sigap menjawab.

“Halo, Mas Antoni?” Suara lembut wanita terdengar.

Wanita seperti apa yang belum kenal sudah memanggil Mas? pikirnya dalam hati.

“Aku Angel, Mas. Dari Reindo Beef, salah satu vendor daging sapi terbesar di Bandung. Aku ingin menawarkan deal menarik buat Mas Antoni.”

“Kami sudah cukup dengan beef yang ada di sini.” Antoni membalas datar.

“Tawaran dari aku ini sangat menarik, Mas, khusus buat Mas Antoni saja. Karena kami menilai prospek restoran yang Mas pegang cukup menjanjikan. Jika Mas bersedia bertemu denganku, aku coba agar Mas bisa mendapatkan diskon hingga 35 persen.”

Tiga puluh lima persen? Antoni cukup terkejur. Itu adalah diskon yang paling besar dari perusahaan penyuplai daging, yang pernah didengarnya di sepanjang karirnya sebagai chef.

“Tiga puluh lima persen?”

“Iya, Mas, tiga puluh lima persen.” Wanita itu meyakinkan.

“Baiklah, di mana kita bisa bertemu?” Antoni mengiyakan.

“Mas Antoni, bisa datang ke Montana Hotel? Kebetulan saya sedang menginap di sini. Kita bisa bertemu di lobby hotel nanti.”

“Baiklah, saya akan datang pukul 10 malam tepat.” Antoni membalas.

*

Mereka duduk berhadapan di salah satu sudut lobby hotel. Angel, sudah bisa ditebak adalah wanita yang berparas jelita. Rambut hitam panjangnya tergerai hingga sepinggang. Mengenakan blazer hitam, di malam itu tak hanya membuatnya nyaman dipandang mata, tapi juga menambah kesan misterius yang tercipta. Usai beramah-tamah dan meneguk minuman yang sebelumnya sudah dibelikan Angel, Antoni memulai percakapan.

“Jadi, bagaimana saya bisa dapat yang tiga puluh lima persen itu?”

“Mas Antoni, terlebih dahulu membaca draf MoU yang kami buat ini saja dulu.” Angel membalas sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.

Antoni menerima dan mulai membacanya. Tapi tak berselang lama, cetakan tulisan di kertas itu seolah melayang, semakin samar dan terus semakin samar terlihat oleh Antoni. Dirasakannya, kepalanya terasa berat sekali. Seketika itu pula kepala Antoni jatuh berdebam mengenai lembar-lembar kertas yang ada di atas meja.

Angel tampaknya sudah mengantisipasi itu semua. Tak ada raut wajah terkejut darinya, dengan tenang ia memberi isyarat pada dua pria yang duduk di seberang, tidak jauh dari posisi mereka berdua duduk. Satu orang berperawakan seperti Hans. Ketiganya memapah Antoni yang hilang kesadarannya ke kamar, tempat Angel menginap di hotel itu. Lalu dimulailah apa yang nantinya menjadi hantaman besar bagi keluarga Dwi Anggara.

Laki-laki yag berperawakan seperti Hans dengan sigap mengeluarkan kamera DSLR dari dalam tasnya. Kemudian yang lain dengan cepat membuka baju Antoni, tak menyisakan satu helai benang pun. Sedangkan Angel sendiri, tanpa diberitahu, terlihat sangat mengerti harus melakukan apa. Membuka semua pakaiannya dan langsung lompat ke ranjang di mana Antoni telah berbaring telanjang di sana.

*

4 thoughts on “Cryptaesthesia

  1. Bagus ceritanya, walaupun di halaman Satu cerita berjalan datar tapi mulai berkembang ketika pernikahan Antoni dan Rima menimbulkan percekcokan yang melibatkan Antoni, pacar Rima yang seharusnya menikahinya.

    Konflik terus berlangsung, hingga berakhir pada terbalaskan dendam seorang Hans pada Antoni. Dan pak Hanung si pembunuh bapaknya berhasil dihabisi. Sempurna, meski harus dibayar dg menghuni terali besi.

    Tapi pada adegan Angel dan Antoni yang dijebak, itu kok seperti belum menjadi amunisi untuk memisahkan Antoni dan Rima ya? Seperti terputus begitu saja, walaupun ada efek yang menimbulkan ketidakpercayaan Rima pada Antoni. Apa sebab perubahan sikap Rima yang begitu cepat rasanya bisa ditimbulkan argumennya terkait peristiwa Antoni dan Angel.

    Btw, endingnya cukup greget. Hanya saja sudah nampak dari awal ( paragraf pembuka ) bahwa pada akhirnya pernikahan yang dijodohkan itu akan berakibat buruk. Andaikan sebaliknya, mungkin akan sedikit mengecoh pembaca yang dari awal digiring untuk menganggap wajar pertikaian itu terus terjadi.

    Trus, mungkin ada baiknya judul dikasih keterangan di akhir cerita, utk memudahkan pembaca memahami artinya.

    Aku apresiated utk kerjasama yang kompak ini. Ilustrasinya keren, Juga effortnya yang luar biasa, sdh berhasil merampungkan cerita sepanjang 7 halaman, dan semua punya kontribusi yang hampir merata.

    Itu saja sedikit yang bisa aku sampaikan sebagai pembaca. Selamat untuk karya yang luar biasa. Sumangat! 😀

    Liked by 2 people

    1. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca dan meninggalkan kritik dan sarannya hehe, masukannya jadi bahan pelajaran agar kami bisa lebih baik lagi ke depannya 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s