Cryptaesthesia

Tiga

Awan tebal yang tadi bergayut kini mulai berubah menjadi titik-titik air besar. Antoni mempercepat jalannya menuju pintu kedatangan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat yang ditumpangi Rima sudah mendarat sepuluh menit yang lalu. Jadi, dia pasti sekarang sudah di bagian imigrasi dan segera menuju tempat pengambilan bagasi.

Melihat hujan yang sekarang turun dengan derasnya, Antoni bersyukur dengan keputusannya menjemput Rima, tanpa pemberitahuan. Pasti Rima terkejut. Antoni telah melupakan permasalahannya dengan Rima dan kekasihnya yang telah lalu, kini ia ingin mencoba untuk mendekatkan diri pada gadis yang telah menjadi istrinya itu.

Rima memang sedang mengomel sendiri. Dia lelah setelah menghadiri peragaan busana dengan para calon pelanggan di acara Meet & Greet Young Designers from South East Asia. Tidak bisa tidur selama tujuh jam perjalanan dari Tokyo karena cuaca buruk, dan mendarat di tengah hujan badai. Rima mendengar dering telepon genggamnya dan melihat nama Antoni di layar. Setengah malas dia menjawab panggilan suaminya.

“Hai,” suara Antoni terdengar. “Sudah ambil koper? Aku ada di luar, ya.”

Rima mencerna sejenak informasi itu. “Di luar? Kamu jemput aku?”

“Iya. Aku sudah minta Danis untuk handle urusan dapur hari ini.”

“Mestinya tidak perlu, aku kan, bisa pulang sendiri,” sahut Rima ketus walau diam-diam ia merasa lega ada yang menjemputnya.

“Nggak apa-apa.” Rima dapat melihat Antoni tersenyum sabar di seberang telepon. “Sejak pagi tadi aku khawatir hujan deras. Cuacanya dari kemarin nggak bagus.”

*

Suara berisik hujan disertai geraman guntur menyambut mereka ketika keluar dari gedung parkir menembus hujan. Wiper mobil berada pada posisi maksimal. Namun, air hujan seperti sungai mengalir deras di kaca mobil dan mengurangi jarak pandang Antoni. Ia berkendara dengan hati-hati sambil sesekali melirik Rima. Dilihatnya muka istrinya pucat dan jemarinya erat memegang tas tangan di pangkuannya.

“Kamu kelihatan capek sekali.” Antoni mencoba menghibur. “Kamu perlu banyak istirahat sampai rumah nanti.”

“Aku harus segera mengurus baju-baju pesanan!” Rima menyahut ketus. “Beberapa baju harus disesuaikan ukurannya dengan calon pelangganku.”

“Kamu bisa sakit kalau terus memaksa diri. Lihat tuh, mukamu pucat sekali.”

Rima baru membuka mulutnya untuk menyahut ketika suara petir menggelegar. DUARRR!

Rima menjerit keras dan menubruk pundak Antoni. Antoni sangat terkejut. Mobil seketika oleng ke kanan sebelum Antoni mengembalikan lagi ke jalurnya. Mobil-mobil di belakang mereka ramai membunyikan klakson. Peluh dingin keluar dari kening Antoni. Nyaris!

Kilatan petir masih bersahut-sahutan dengan guruh. Rima makin menyurukkan kepalanya di bahu Antoni. Antoni dapat merasakan tubuh Rima gemetar ketakutan. Ia sendiri merasakan dadanya berdebar-debar tidak keruan.

“Rima, kamu tidak apa-apa, Sayang?” ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Antoni.

Rima tetap bersembunyi di pundak suaminya dan memegang erat lengannya.

Antoni langsung memutuskan untuk singgah di hotel transit bandara. Tidak mungkin terus berkendara dengan pikiran terbelah begini. Rima baru menegakkan kepala ketika mobil masuk basement hotel dan suara hujan menghilang. Ia masih belum bisa berpikir waktu Antoni menggandengnya masuk ke lobi dan memesan kamar.

Suite. Semalam. Termasuk sarapan, ya, Mas.”

Setelah menyelesaikan pemesanan kamar, Antoni dan Rima segera menuju ke kamar mereka di lantai 4. Kamarnya luas dengan satu tempat tidur besar dan sofa. Dari balik jendela, hujan masih turun dengan deras dan petir sesekali menyambar tanpa suara. Rima berdiri menjauhi jendela. Ia masih bingung menyikapi kejadian yang tidak terduga ini.

“Duduklah di sini.” Antoni menunjuk ujung tempat tidur. “Aku buatkan kopi, ya, biar kamu tenang.”

Rima diam-diam mengawasi suaminya menyiapkan kopi dan memesan sup panas dari fasilitas Room Service. Antoni mengatur suhu pendingin udara agar tidak terlalu dingin dan memilih channel TV yang disukai Rima. Ia meletakkan kopi panas untuk Rima di meja tempat tidur dan cangkirnya sendiri di meja dekat sofa. Rima menyecap kopinya. Aroma dan rasa pahit kopi sedikit membangun semangatnya.

“Sudah lebih baik?”

Rima mengangguk menjawab pertanyaan Antoni.

“Terima kasih,” katanya lirih.

“Apa kamu bisa cerita kenapa kamu takut badai?” Rima melihat tatapan Antoni yang penuh perhatian. Tidak tampak cemoohan di sana. Maka meluncurlah cerita Rima.

“Aku masih kecil waktu mereka menculikku.” Rima memulai.

“Kamu diculik?” Antoni terbelalak.

Rima mengangguk. “Biasanya aku dijemput pulang sekolah. Guru-guru tidak tahu kalau yang menjemputku ternyata bukan sopir kami. Aku sendiri baru sadar waktu mobil tidak menuju rumah. Aku dikurung di kamar sempit, tidak ada lampu, pengap, terlebih saat itu turun hujan badai, mengerikan sekali. Kamar itu jadi banjir karena atapnya bocor. Orang-orang jahat itu tak peduli.”

“Berapa lama kamu disekap?”

“Kata Mama aku hilang selama lima hari. Tapi, rasanya lama sekali.”

“Kenapa kamu diculik?”

“Aku tidak tahu.” Rima menggeleng. “Mama dan Papa tidak pernah bicara soal itu. Mereka membawaku ke psikolog karena selalu ketakutan. Butuh waktu lama sampai aku berani keluar rumah lagi.”

“Apa yang terjadi dengan penculikmu?”

“Mereka mati ditembak.”

Rima bergidik teringat kembali waktu ia dibebaskan. Suara-suara gaduh, kaki-kaki orang berlari, bentakan-bentakan kasar, lalu tiba-tiba suara tembakan itu. Suara tembakan berbalasan sebelum akhirnya pintu kamarnya terhempas ditimpa seorang penculiknya yang tertembak. Rima menjerit sekuat-kuatnya dan tidak sadarkan diri. Ketika terbangun ia sudah di kamarnya bersama Mama.

Rima tersedu mengingat kejadian itu. Ia tidak menyangka bisa berbagi kisah kelam itu dengan Antoni. Antoni langsung menghampiri istrinya dan memeluknya erat. Ia melakukannya tanpa ragu, seperti telah terbiasa memeluk Rima setiap hari.

“Mulai sekarang aku akan melindungimu,” katanya.

Rima terkejut tapi pelukan Antoni sangat menenangkan. Untuk pertama kalinya Rima merasa lemah tak berdaya, tidak percaya diri dan tidak tahu harus melakukan apa. Ia memejamkan mata. Detak jantung Antoni terdengar teratur seperti irama musik di telinganya. Perlahan-lahan hatinya menjadi hangat. Tubuhnya semakin rileks. Tak berapa lama kemudian, untuk pertama kalinya, Rima tertidur di pelukan Antoni.

*

Seminggu setelah peristiwa itu, Rima dan Antoni selalu sarapan bersama. Rima mengambil inisiatif membuat kopi untuk mereka. Rima bersyukur Antoni tidak berkomentar apapun. Ia akan kikuk bila suaminya mengucapkan terima kasih atau memuji-muji kopinya. Antoni cuma menyeruput kopinya dengan santai sambil menikmati sarapan.

Perlahan-lahan mereka saling bercerita kegiatan mereka masing-masing. Rima dengan antusias membagi pengalamannya selama di Tokyo dan apa rencana desain berikutnya. Antoni menceritakan kisah-kisah pedagang langganannya, tempat ia berbelanja bahan-bahan untuk menu restoran. Ia juga menceritakan perjuangannya menjadi chef di restoran Mama. Rima baru menyadari apa yang dilihat oleh mamanya pada diri Antoni.

Diam-diam rasa suka dan hormat terhadap suaminya tumbuh di hatinya. Namun, semakin ia suka pada Antoni, semakin besar rasa bersalahnya kepada Hans. Setelah kepulangannya dari Tokyo belum satu pun pesan atau panggilan telepon Hans yang dijawabnya.

Pada hari kesepuluh, Rima tidak bisa mengelak ketika Hans datang ke studionya. Hans heran melihat Rima tidak antusias menyambutnya seperti biasa.

“Kamu tidak kasih kabar sama sekali. Aku pikir masih di Tokyo.” Hans sedikit protes.

Rima tersenyum gugup. “Maaf, aku langsung mengerjakan pesanan-pesanan pelanggan. Lagipula, di akhir pekan Mama dan Papa minta kami makan malam dengan mereka. Mama ingin dengar ceritaku selama di Tokyo.”

Hans mengerenyit mendengar Rima mengucap kata kami.

“Kamu makan malam bareng dia?”

Rima tampak tidak nyaman mendengar komentar Hans. “Yaaa kan, Mama yang minta.”

“Biasanya kamu punya banyak alasan untuk menolak.” Suara Hans seperti menyalahkan Rima karena memenuhi undangan makan malam orang tuanya.

Rima tiba-tiba merasa dihadapkan pada kenyataan bahwa rupanya ia sering menolak permintaan ibunya bila ingin bertemu.

“Sudahlah, Hans, aku masih harus bekerja.” Rima melihat jam tangannya, sebentar lagi ada pertemuan daring. “Nanti aku hubungi lagi, ya.”

Hans menangkap pergelangan tangan Rima. Genggamannya kuat membuat Rima meringis.

“Kenapa kamu menghindariku?” tanya Hans. Ia tidak menyembunyikan suaranya yang gusar.

“Kamu menyakitiku, Hans.” Rima mencoba menarik tangannya tapi Hans tidak melepasnya. “Bukannya aku tidak mau ketemu, tapi memang banyak yang harus aku selesaikan. Nanti aku cek jadwalku, ya.” Rima mencoba membujuk Hans.

Hans menatapnya tajam lalu melepaskan genggamannya. Ia pergi tanpa bicara lagi. Entah kenapa Rima jadi membandingkan sikap Hans yang emosional dengan Antoni yang sabar. Ia jadi teringat lagi perkelahian Hans dan Antoni malam itu. Rima menarik napas panjang mencoba mengusir kenangan-kenangan yang menyeruak dalam pikirannya.

*

4 thoughts on “Cryptaesthesia

  1. Bagus ceritanya, walaupun di halaman Satu cerita berjalan datar tapi mulai berkembang ketika pernikahan Antoni dan Rima menimbulkan percekcokan yang melibatkan Antoni, pacar Rima yang seharusnya menikahinya.

    Konflik terus berlangsung, hingga berakhir pada terbalaskan dendam seorang Hans pada Antoni. Dan pak Hanung si pembunuh bapaknya berhasil dihabisi. Sempurna, meski harus dibayar dg menghuni terali besi.

    Tapi pada adegan Angel dan Antoni yang dijebak, itu kok seperti belum menjadi amunisi untuk memisahkan Antoni dan Rima ya? Seperti terputus begitu saja, walaupun ada efek yang menimbulkan ketidakpercayaan Rima pada Antoni. Apa sebab perubahan sikap Rima yang begitu cepat rasanya bisa ditimbulkan argumennya terkait peristiwa Antoni dan Angel.

    Btw, endingnya cukup greget. Hanya saja sudah nampak dari awal ( paragraf pembuka ) bahwa pada akhirnya pernikahan yang dijodohkan itu akan berakibat buruk. Andaikan sebaliknya, mungkin akan sedikit mengecoh pembaca yang dari awal digiring untuk menganggap wajar pertikaian itu terus terjadi.

    Trus, mungkin ada baiknya judul dikasih keterangan di akhir cerita, utk memudahkan pembaca memahami artinya.

    Aku apresiated utk kerjasama yang kompak ini. Ilustrasinya keren, Juga effortnya yang luar biasa, sdh berhasil merampungkan cerita sepanjang 7 halaman, dan semua punya kontribusi yang hampir merata.

    Itu saja sedikit yang bisa aku sampaikan sebagai pembaca. Selamat untuk karya yang luar biasa. Sumangat! 😀

    Liked by 2 people

    1. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca dan meninggalkan kritik dan sarannya hehe, masukannya jadi bahan pelajaran agar kami bisa lebih baik lagi ke depannya 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s