Cryptaesthesia

Lima

“Ahh…” Antoni mengerang, menahan sakit di belakang kepalanya.

Ia terbangun, menemukan dirinya telah berada di sebuah kamar hotel. Masih dengan bajunya yang semalam, kaos kakinya pun masih terpasang di kedua kakinya. Sempoyongan, memutari ruangan kamar, mencari siapa pemilik kamar itu sebenarnya. Hingga ketika ia mendekat pada meja di sudut kamar, sebuah kertas dengan pesan yang dituliskan dengan pena, diletakkan di atas draf MoU yang telah dibacanya semalam.

Mas, aku dan petugas hotel terpaksa membawa Mas ke kamar ini. Soal biaya hotel sudah aku urus, Mas bisa check out siang ini, begitu Mas merasa baikan.

Angel.

Antoni langsung bergegas meninggalkan hotel, ia berjalan keluar dengan terburu-buru dan masuk ke mobilnya. Sebelum menyalakan mesin mobilnya, ia duduk dulu sejenak memikirkan sesuatu yang telah terjadi padanya. Ia merasa kebingungan dengan apa yang terjadi semalam, berusaha mengingat tetapi hanya dapat teringat pada saat pertemuannya dengan Angel di lobby hotel.

“Sial! Apa yang terjadi semalam denganku? Kenapa aku tidak bisa mengingat satu pun,” kata Antoni sambil memukul setir mobilnya.

Ia merasa ada yang tidak beres dan menduga sesuatu yang buruk yang akan terjadi padanya.  Sudah beberapa menit ia melamun dalam mobilnya sendiri, seketika saja mengingat Rima.

Ah, Rima. Dia pasti heran aku tidak ada kabar semalaman, pikirnya sambil merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya.

Ia pun mengaktifkan kembali ponsel. Seperti dugaan, ternyata banyak yang menghubunginya semalam, termasuk Rima yang menelponnya berkali-kali. Antoni mencoba menghubungi balik istrinya itu.

“Halo Ri…” Antoni yang belum selesai menyebut nama Rima langsung dibentak oleh Rima.

“Kamu dari mana semalam tidak ada kabar, hah? Kamu lupa Papa dan Mama menginap di rumah. Berkali-kali mereka bertanya tentangmu karena tidak pulang ke rumah. Aku sampai bingung mau ngomong apa pada mereka berdua,” ucap Rima begitu emosi.

“Maaf, membuat kalian khawatir. Ada suatu hal yang ingin kuceritakan. Tapi tidak sekarang.  Dan aku akan pulang malam nanti.”

Penjelasan singkat Antoni ini, tentu saja semakin membuat Rima penasaran dengan apa yang terjadi. Tidak biasanya Antoni seperti ini. Ia lalu mematikan panggilannya.

Setelahnya, Antoni mencoba mencari tahu sosok Angel yang ia temui semalam. Antoni pun mencoba menghubungi kerabatnya yang ahli dalam mencari informasi mengenai ini. Ia mencari-cari nama kontak yang bisa ia andalkan untuk bisa membantunya.

“Halo, tolong kamu cari tahu tentang Reindo Beef dan perempuan yang bekerja di sana yang bernama Angel.” Antoni pun dengan sibuknya menjelaskan sosok perempuan misterius yang ia temui malam itu.

“Tolong, ya, setelah kamu menemukan informasi tentang ini, langsung kabari secepatnya.” Ia menutup teleponnya dan bergegas menuju ke restorannya.

*

Hans yang berada di ruang tengah, sedang sibuk memindahkan file foto Antoni bersama Angel malam itu. Ia sibuk merencanakan skenario pembalasan dendamnya untuk keluarga Pak Hanung, yang juga adalah ayah Rima. Setelah ia selesai menyusun rencana, ia kembali menatap sebuah foto.

“Ayah, Ibu, sudah saatnya mereka merasakan penderitaan kita dulu.”

Ia menatap foto keluarga yang tersenyum bahagia, di foto itu terdiri dari Hans kecil, ayah dan ibunya. Pemandangan yang indah tapi ia menatapnya dengan tatapan kosong. Kenangan masa lalu itu justru hadir kembali di kepalanya.

Siang itu adalah jam pulang siswa-siswi SD. Hans dengan riang gembira terburu-buru ingin sampai ke rumah. Ia terlalu bersemangat mengayuh sepedanya, tidak sabar memamerkan nilai ulangannya karena mendapat nilai terbaik di kelas. Di tengah perjalanan pulang, ia membayangkan betapa bangganya Ayah dan Ibu nanti melihat nilai ulangannya yang sempurna.

Sesampai di depan pagar rumah, ia mendapati sudah banyak orang di sana. Sebuah mobil dan beberapa pria berseragam berdiri di depan rumah. Ia bingung, tidak biasanya rumah seramai ini. Baru saja ingin melangkah masuk ke dalam rumah, ayahnya keluar lebih dahulu dengan tangan terborgol dan didampingi dua polisi sebelah kiri dan kanannya.

“Ayah! Ayah! Ayah mau dibawa ke mana?” Hans berteriak-teriak panik dan berlari mendekati ayahnya.

“Jaga Ibu baik-baik ya, Nak. Ayah akan kembali,” ucap ayahnya yang menenangkan Hans.

“Ayah saya mau dibawa ke mana, Pak?” tanya Hans kepada petugas polisi sambil menangis.

“Kembalilah ke ibumu, Nak. Ayah akan baik-baik saja.”

“Tidak, Ayah. Jangan pergi!”

Hans tidak rela membiarkan ayahnya pergi. Ibunya sambil terisak mencoba melepaskan Hans dari ayahnya, mati-matian mencegah Hans, melepaskan genggaman dari ayahnya.

Hans yang berada di pelukan ibunya sambil terisak tangis. Harus merelakan ayahnya dibawa dengan borgol. Ia melihat tatapan tetangga yang bergantian berbisik-bisik, mereka melihat ibu Hans sinis, tidak percaya salah satu tetangganya ternyata seorang kriminal.

Beberapa hari setelah penangkapan tersebut, Hans dan ibunya jarang menampakkan diri di sekitar rumah. Hans tidak lagi pergi ke sekolah. Ibu mulai sakit-sakitan karena tak kuasa menerima kenyataan yang dihadapinya. Para tetangga tidak henti-hentinya bergunjing sana-sini tentang mereka. Hal itulah yang membuat ibunda Hans terpukul. Beberapa minggu kemudian, ibunya sakit parah, sampai pada akhirnya harus meninggal dunia.

Usianya masih 10 tahun kala itu, ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ketika ayahnya dibawa oleh petugas kepolisian entah ke mana dan tak tahu karena apa. Ibu yang sakit-sakitan sampai meninggal dunia. Seketika hidup Hans berubah menjadi kelam akibat peristiwa itu. Peristiwa yang mengubah hidup keluarga indahnya jadi begitu menderita.

Hans mengingat kejadian itu. Ia kemudian menghela napas. Foto keluarga bahagianya, ia taruh kembali di meja. Teringat harus melanjutkan rencana mengenai foto Antoni dan Angel selanjutnya. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu apartemennya.

“Rima? Ada apa tumben datang ke sini?” ucap Hans setelah membuka pintu.

“Bolehkah aku masuk barang sebentar saja?” balas Rima lembut.

Tanpa ada panggilan sayang seperti yang biasa disematkan Rima kepada Hans. Meski harus Hans akui, bahwa Rima sungguh cantik hari ini.

Hans hanya mengangguk kemudian mempersilakan Rima untuk masuk. Keduanya duduk di sofa merah ruang tengah. Sofa yang tadinya adalah tempat mereka bercanda, saling merayu lalu bercinta dengan hebatnya.

Sebenarnya Hans sudah tahu apa maksud kedatangan Rima, dan sejujurnya juga, Hans sudah mencoba untuk tidak lagi peduli. Sudah hilang semua kecemburuannya kepada Antoni, yang ada hanya kesumat terhadap Pak Hanung. Namun untuk soal cintanya kepada Rima, masih akan terus selalu ada. Tak akan pernah mati begitu saja.

“Kamu adalah pria yang benar-benar kucinta. Tak ada satu pun yang dapat menghilangkan rasa itu. Tidak ibuku, tidak juga Antoni. Kamu adalah pria yang luar biasa, Hans.” Tanpa aba-aba Rima mengatakan hal tersebut cepat sekali. “Tapi…”

Perkataan ini, sudah tersusun rapi sejak tadi pagi. Ia telah memutuskan untuk menyingkirkan Hans dari kehidupannya. Memulainya dengan awalan yang begitu manis, berharap agar punchlinenya tidaklah terlalu menyakiti perasaan dari Hans.

Sedang Hans hanya tersenyum. Sudah menebak apa yang akan dikatakan Rima selanjutnya. Ia telah memprediksi dan mengantisipasi semua ini. Seluruh reka adegan untuk hari ini dan besok, sudah sangat terkonsep dengan ideal di dalam kepalanya.

“Aku telah merelakan kamu dan Antoni kemarin. Bukan untukmu, juga bukan demi ibumu. Melainkan demi diriku sendiri. Aku juga akan terus mencintaimu, Rima. Seperti janji kita dulu, saat kita berlibur berdua ke Yunani, kemudian bercumbu mesra di bawah agungnya langit Santorini.” Berbeda dengan Rima, Hans menjawab dengan lembut dan tenang.

Jawaban dari Hans tadi membuat Rima terbang sejenak melintasi waktu ke tiga tahun yang lalu. Saat sepasang kekasih muda yang sedang dimabuk cinta bertualang ke Eropa dua bulan lamanya. Rima masih ingat benar, apa janji yang mereka telah berdua ikrarkan di gugusan pulau laut Aegea tersebut.

Setelah kembali ke dunia nyata, ia tiba-tiba saja dilanda rindu yang luar biasa. Dengan mudahnya, ia lupa akan maksud awal kedatangannya ke sini. Tidak kuasa menahan diri untuk meluapkan segala rasa kepada lelaki pujaannya. Bukan lagi Antoni, yang tadinya sempat menjadi pilihannya. Namun kembali lagi pada Hans, lelaki yang telah menemaninya sejak lama.

Rima segera mencumbu Hans yang malam itu tampak gagah dan begitu bijaksana. Kemudian kala Hans mulai menyentuh tubuhnya, Rima sama sekali tak berkeberatan saat mereka berdua bercinta untuk terakhir kalinya.

Di sofa merah ruang tengah. Sofa tempat mereka bercanda, saling merayu lalu bercinta dengan hebatnya.

*

Keesokan harinya, Hans kembali duduk di sofa. Seorang diri hanya ditemani oleh colt revolver kaliber 38. Senjata yang dulu dibawanya dari kampung ke Jakarta.

Ia kini sedang menunggu sosok yang paling bertanggung jawab atas segala getir dalam kehidupannya. Jenderal Hanung, orang yang menangkap dan menghilangkan ayahnya. Ia sangat sadar bahwa politik kadang-kadang kala tidak akan memandang siapa. Tapi ini soal nyawa ayahnya, juga soal ibunya yang tak lama meregang nyawa setelah penculikan suaminya.

Pagi tadi, ia telah mengirimkan seorang kurir untuk mengantarkan foto-foto Antoni yang sedang bersama Angel khusus untuk Pak Hanung. Juga tidak lupa, rekaman CCTV adegan percintaan Hans dan Rima kemarin. Kemudian setelah kurir melaporkan bahwa paket tersebut telah diterima, Hans menghubungi pria tua itu lewat sambungan telepon.

Menyebutkan bahwa ia masih punya segala salinan dari foto dan video tersebut, yang mana telah siap untuk disebarkan ke media massa dan sosial media. Hans juga menegaskan kepada sang Jenderal, bahwa ia akan memberikan semua salinannya, asalkan pria itu datang ke apartemennya sendirian pada siang ini.

Senyum merekah dengan megah kala sesaat kemudian, ada seseorang yang mengetuk pintunya dengan keras dan kasar. Hans berdiri, menarik napas, meregangkan kedua tangannya, berjalan sambil perlahan menarik pelatuk revolvernya.

Setelah pintu tersebut dibuka oleh sang empunya. Maka terdengarlah tiga kali suara tembakan yang diakhiri oleh tawa lega dari seorang pemuda.

*

4 thoughts on “Cryptaesthesia

  1. Bagus ceritanya, walaupun di halaman Satu cerita berjalan datar tapi mulai berkembang ketika pernikahan Antoni dan Rima menimbulkan percekcokan yang melibatkan Antoni, pacar Rima yang seharusnya menikahinya.

    Konflik terus berlangsung, hingga berakhir pada terbalaskan dendam seorang Hans pada Antoni. Dan pak Hanung si pembunuh bapaknya berhasil dihabisi. Sempurna, meski harus dibayar dg menghuni terali besi.

    Tapi pada adegan Angel dan Antoni yang dijebak, itu kok seperti belum menjadi amunisi untuk memisahkan Antoni dan Rima ya? Seperti terputus begitu saja, walaupun ada efek yang menimbulkan ketidakpercayaan Rima pada Antoni. Apa sebab perubahan sikap Rima yang begitu cepat rasanya bisa ditimbulkan argumennya terkait peristiwa Antoni dan Angel.

    Btw, endingnya cukup greget. Hanya saja sudah nampak dari awal ( paragraf pembuka ) bahwa pada akhirnya pernikahan yang dijodohkan itu akan berakibat buruk. Andaikan sebaliknya, mungkin akan sedikit mengecoh pembaca yang dari awal digiring untuk menganggap wajar pertikaian itu terus terjadi.

    Trus, mungkin ada baiknya judul dikasih keterangan di akhir cerita, utk memudahkan pembaca memahami artinya.

    Aku apresiated utk kerjasama yang kompak ini. Ilustrasinya keren, Juga effortnya yang luar biasa, sdh berhasil merampungkan cerita sepanjang 7 halaman, dan semua punya kontribusi yang hampir merata.

    Itu saja sedikit yang bisa aku sampaikan sebagai pembaca. Selamat untuk karya yang luar biasa. Sumangat! 😀

    Liked by 2 people

    1. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca dan meninggalkan kritik dan sarannya hehe, masukannya jadi bahan pelajaran agar kami bisa lebih baik lagi ke depannya 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s