Cryptaesthesia

Satu

Hari itu Antoni pulang kerja lebih cepat dari biasanya. Bu Ana, pemilik restoran tempat ia bekerja, meminta untuk bertemu sore itu di rumahnya. Walaupun Antoni merasa keberatan jika harus meninggalkan pekerjaan yang belum habis waktunya, namun ia tetap harus menurut. Ia tak sampai hati untuk menolak permintaan atasannya itu.

Tepat pukul 18.12 Antoni sampai di rumah, entah apa gerangan yang hendak dibicarakan Bu Ana sampai wanita paruh baya itu rela jauh-jauh datang kemari. Dilihatnya Bu Ana bersama suaminya, Pak Hanung, tengah duduk di teras rumah, entah ke mana kakaknya. Antoni langsung menyalami mereka secara bergantian. Sepertinya mereka sudah menunggu cukup lama.

“Bu Ana dan Pak Hanung ada perlu apa? Kalau ada yang perlu dibicarakan, saya bisa datang ke rumah. Apalagi Ibu sedang sakit begini.” Antoni berinisiatif memulai pembicaraan.

Pak Hanung lalu menatap istrinya yang tampak pucat dan terbatuk-batuk kecil. Mereka tidak langsung menjawab pertanyaan Antoni, mereka malah saling menatap satu sama lain, seolah ada keraguan di antara keduanya. Tak lama, Bu Ana mulai berbicara tentang tujuan kedatangan mereka.

“Memang benar, kami ada perlu denganmu, Antoni. Kami sudah bicarakan hal ini pada kakak dan kakak iparmu. Sekarang kami perlu persetujuanmu.”

Antoni masih menatap Bu Ana ketika sorot mata wanita itu mulai berubah.

“Ibu harap kamu mau menolong ya, mengabulkan permintaan Ibu. Satu kali ini saja.”

“Apa itu, Bu? Katakan saja, tidak apa-apa.”

Perlahan Bu Ana menarik napas, lalu berkata, “Tolong kamu nikahi Rima, ya. Dia sudah dewasa, Ibu takut dia hanya dipermainkan oleh pacarnya. Tolong, Toni, Ibu ingin melihat anak Ibu menikah dan kamu adalah calon yang baik untuk Rima.”

Ucapan tersebut sukses membuat ekspresi keterkejutan tergambar jelas dari wajah Antoni. Bagaimana mungkin dia menikahi putri sulung bosnya yang terkenal ketus itu? Antoni tahu bagaimana perangai gadis itu dari beberapa kali pertemuan mereka di restoran. Dan lagi, bagaimana bisa ia menikah begitu saja dengan kekasih orang? Ini pasti akan menjadi masalah besar.

“Aduh, Bu, maaf bukannya tidak mau menolong. Hanya saja, apa ini tidak terlalu mendadak?”

Mendengar jawaban seperti itu, tiba-tiba Bu Ana menjatuhkan diri untuk bersimpuh di kaki Antoni. Antoni segera mencegah lalu membimbingnya kembali duduk di sofa. Tidak mungkin dia membiarkan Bu Ana bersimpuh di kakinya. Dengan gelisah seraya membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit miring, Antoni berkata, “Bisakah Ibu dan Bapak memberi saya waktu untuk berpikir?”

Sontak Bu Ana tersenyum penuh rasa lega setelah mendengar penuturan Antoni yang mengisyaratkan bahwa ia akan mempertimbangkan permintaannya. Beberapa kali Ibu Ana mengucapkan rasa terima kasihnya dan berharap Antoni akan menyetujuinya. Tak lama, pasangan suami-istri itu berpamitan pulang. Pak Hanung sempat berbicara dengan Antoni secara empat mata. Menyampaikan maaf atas permintaan dia dan istrinya yang dirasa memberatkan.

Permintaan itu memang memberatkan, karena sampai membuat Antoni tidak bisa tidur hingga larut malam. Ucapan dan ekspresi wajah Bu Ana tadi siang terus terlintas di kepalanya. Dia juga membayangkan ekspresi Rima nanti saat mendengar permintaan ibunya tersebut. Mungkin amarah dan penolakan dari gadis itu sudah terbayang di benaknya.

Apalagi Rima sudah memiliki kekasih. Bagaimana jadinya jika dia dipaksa meninggalkan kekasihnya hanya demi menikahi orang asing? Antoni bahkan sudah bisa menebak apa yang akan terjadi nanti. Tinggal menghitung hari saja menunggu waktu itu terjadi.

*

Apa yang ditakutkan Antoni terbukti saat diskusi perihal pernikahan dilaksanakan di rumah Bu Ana malam itu. Rima tampak marah dari wajahnya yang terlihat merah padam seperti udang rebus. Antoni bahkan enggan untuk menatap ke arahnya, bersiap kalau nantinya Rima mulai mumuntahkan segala amarahnya. Namun ternyata hal itu tak pernah terjadi, gadis itu terlihat cukup tenang dalam menanggapi semua perkataan ibunya.

“Tapi, Ma, kenapa harus dia? Memangnya Mama tidak curiga kenapa dia bisa langsung setuju dengan perjodohan ini? Jangan-jangan dia punya niat jahat pada Mama,” kata Rima tanpa menghilangkan tatapan tajamnya pada Antoni.

“Bukan begitu Rima, Mama mengenal Antoni dengan baik. Dia bisa menjagamu dibanding Hans yang hanya bicara tanpa bukti! Tolong Rima, Mama ingin melihatmu menikah sebelum…”

Bu Ana menghentikan ucapannya akibat batuk yang kembali menggelitik tenggorokannya. Rima pun terdiam, enggan membantah lagi. Dan kini dia malah merasa bersalah terhadap ibunya. Rima meminta waktu beberapa hari untuk berpikir sebelum akhirnya menyetujui permintaan sang ibu dengan sangat terpaksa, karena tidak tega melihat kondisinya yang sekarang.

*

Pesta pernikahan pun digelar di salah satu hotel milik keluarga Bu Ana yang terletak di pusat kota Jakarta. Kerabat, teman dan kolega dari kedua belah pihak datang untuk memeriahkan acara. Ucapan selamat dan doa kepada kedua mempelai tak henti-hentinya menggema. Namun di tengah riuh-rendah pesta pernikahan itu, Rima mencoba untuk memperingatkan Antoni tentang status pernikahan mereka.

“Kita perlu membuat kesepakatan perihal rumah tangga kita nanti. Kamu tahu kan, kita menikah karena terpaksa dan aku melakukannya demi ibuku. Kita memang menikah, tetapi tidak akan sama seperti pasangan biasa. Kita masih tetap menjadi orang asing setelah ini, jadi jaga urusan dan privasi masing-masing, mengerti?”

Antoni yang sudah langsung paham apa maksud perkataan Rima, hanya bisa menyetujui saja. Apa yang dikatakan barusan itu memang ada benarnya, mereka menikah karena terpaksa.

*

4 thoughts on “Cryptaesthesia

  1. Bagus ceritanya, walaupun di halaman Satu cerita berjalan datar tapi mulai berkembang ketika pernikahan Antoni dan Rima menimbulkan percekcokan yang melibatkan Antoni, pacar Rima yang seharusnya menikahinya.

    Konflik terus berlangsung, hingga berakhir pada terbalaskan dendam seorang Hans pada Antoni. Dan pak Hanung si pembunuh bapaknya berhasil dihabisi. Sempurna, meski harus dibayar dg menghuni terali besi.

    Tapi pada adegan Angel dan Antoni yang dijebak, itu kok seperti belum menjadi amunisi untuk memisahkan Antoni dan Rima ya? Seperti terputus begitu saja, walaupun ada efek yang menimbulkan ketidakpercayaan Rima pada Antoni. Apa sebab perubahan sikap Rima yang begitu cepat rasanya bisa ditimbulkan argumennya terkait peristiwa Antoni dan Angel.

    Btw, endingnya cukup greget. Hanya saja sudah nampak dari awal ( paragraf pembuka ) bahwa pada akhirnya pernikahan yang dijodohkan itu akan berakibat buruk. Andaikan sebaliknya, mungkin akan sedikit mengecoh pembaca yang dari awal digiring untuk menganggap wajar pertikaian itu terus terjadi.

    Trus, mungkin ada baiknya judul dikasih keterangan di akhir cerita, utk memudahkan pembaca memahami artinya.

    Aku apresiated utk kerjasama yang kompak ini. Ilustrasinya keren, Juga effortnya yang luar biasa, sdh berhasil merampungkan cerita sepanjang 7 halaman, dan semua punya kontribusi yang hampir merata.

    Itu saja sedikit yang bisa aku sampaikan sebagai pembaca. Selamat untuk karya yang luar biasa. Sumangat! 😀

    Liked by 2 people

    1. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca dan meninggalkan kritik dan sarannya hehe, masukannya jadi bahan pelajaran agar kami bisa lebih baik lagi ke depannya 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s