Perihal Gandengan dan Hewan Peliharaan

Ini adalah tulisan pertamaku di blog Ikatan Kata sekaligus memenuhi tugas KETIK4 yang sekian lama tertunda. Sempat bingung mau menulis apa, tapi pada akhirnya aku memilih topik yang paling sederhana.

Akhir-akhir ini aku dan teman-temanku sering bertukar cerita seputar hewan peliharaan, baik secara online maupun offline. Kami bukan sebuah komunitas pencinta hewan tertentu, karena setiap dari kami punya hewan peliharaan yang berbeda-beda. Mulai dari berbagai jenis ikan, ayam, kucing, burung, hingga sapi. Meski begitu obrolan kami selalu nyambung dan seru. Bagaimana tidak, kami tak hanya memamerkan kecantikan dan kegagahan peliharaan kami, tapi juga merencanakan perjodohan hewan peliharaan kami yang sama. Di lain topik yang lebih seru, kami meramalkan keuntungan memelihara hewan peliharaan untuk masa depan, terutama ayamnya Aldi yang berjenis Bangkok dan Cemani, dan sepasang sapinya Fajar yang digadang-gadang bakal ditukar mas kawin sebelum hari H-nya suatu hari nanti.

Lah, terus apa sih istimewanya punya hewan peliharaan? Begini, mungkin hewan-hewan peliharaan kami—terutama ikan dan sapi, tidak tergolong hewan yang belaiable dan kecupable sebagaimana hamster atau kelinci. Beberapa di antaranya juga tidak bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Walaupun begitu kami kadung memeliharanya, tentu kami mengistimewakan dan ingin memberi yang terbaik untuknya. Apalagi si pemeliharanya adalah pemuda-pemudi berstatus lajang, yang pada masanya menggebu-gebu ingin berbagi kasih dengan sosok lain. Kepingin punya gandengan lah istilahnya. Kalau tak kunjung dapat, kelihatannya hewan peliharaan bisa jadi salah satu objek pengganti yang tepat. Menyayangi hewan bukan hal yang memalukan di mata manusia dan Mata Tuhan, malahan bisa mendatangkan pahala. Benar-benar bisa jadi alternatif yang baik, daripada bertahan jadi kaum rebahan yang suka berkhayal tidak-tidak.

Seperti halnya aku pada Olive. Hewan peliharaanku ini adalah kucing kampung yang setelah kuadopsi mau tak mau harus tinggal bersama Jino, kucing Persia peliharaanku yang lebih dulu merasakan hidup enak bersamaku. Olive kuadopsi bulan Juli lalu dari rumah sepupu ketika usianya baru tiga bulan. Sejak kedatangannya, Olive tidak pernah akur dengan Jino. Sampai sekarang pun begitu. Jino yang tubuhnya jauh lebih besar tidak pernah mengusik Olive, justru jika mereka sampai bertengkar bisa dipastikan Olive yang mulai duluan. Dia betina tapi genit dan galak. Jangankan Jino, cicak-cicak yang dia tangkap di rumah kerap kali disiksanya habis-habisan alih-alih untuk dimakan. Entah siapa yang mengajarinya menjadi tirani. Dia juga tumbuh jadi kucing rumahan, tidak bisa bergaul dengan kucing tetangga yang biasa keluar masuk rumah seenaknya. Hal ini berbanding terbalik dengan Jino yang kerjaannya keluyuran, tapi punya kesan ‘tetap merakyat walaupun bangsawan’.

Jino lagi rebahan

Olive kepergok nakal pukul 2 dini hari

Walau Olive berbeda kelas dan berbeda wataknya dengan Jino, dia tetap kuperlakukan sama baiknya seperti aku memperlakukan Jino yang bangsawan itu. Sebisa mungkin kumandikan mereka seminggu sekali pakai shampo wangi. Bagaimanapun wangi dan higienis itu perlu. Tiap hari juga kuberi mereka jatah makanan pokok dan jatah kasih sayang yang sama. Terkadang karena saking gemasnya, kedua kucing itu kuanggap sebagai adikku yang nomor tiga dan empat. Mereka bisa diajak bercandaan dan selfie-selfie.

Sebetulnya Olive suka meminta lebih. Hampir tiap subuh dia melakukan serangan fajar untuk meminta sarapan lebih awal. Caranya dengan naik ke tempat tidurku lalu menggigit-gigit kakiku, atau dia akan naik ke atas tubuhku kalau aku berusaha bersembunyi di balik selimut. Dia mengeong terus sampai aku bangun dan menuangkan makanan untuknya. Aaaah ngeselin juga kalau dipikir-pikir. “Aku memberimu segayung cinta, tapi kau justru meminta seember dan bonusnya.” Sisi baiknya, aku memang jadi tertib bangun pagi, sih. Mungkin itu juga yang menjadi sisi istimewanya Olive.

Tak hanya itu, Olive juga sering memanjatku ketika aku sedang makan atau minum sesuatu. Aku yang tidak tegaan pun harus rela mencuil makananku lalu menyuapkan ke mulutnya. Kalau dia suka, dia akan melahapnya dan minta lagi. Kalau tidak, dia akan pergi begitu saja. Hasilnya, dari pengamatanku selama ini, selain daging dan tulang, dia juga doyan roti sobek, pancake, es krim bersusu, dan jus sirsak! Kalau Jino melihat kelakuan Olive begitu, dia sama sekali tidak ada niat untuk merebut. Dia lewat begitu saja dengan wajah cueknya.

Hmm… Kedengarannya memang aneh, ya? Tapi semua itu sesuai dengan kenyataanya.

Ada satu alasan sederhana mengapa aku menerima kucing sebagai hewan peliharaan. Yaitu karena setelah kambing-kambingku dijual nenek 7 tahun lalu, aku diberi kucing sebagai gantinya. Sejak saat itulah aku mulai menyukai hewan imut itu. Hingga pada suatu hari aku menyadari bahwa memelihara kucing bisa meredam stress dan mengatasi rasa kesepian. Dan seperti yang sempat kusinggung di atas, kucing termasuk hewan yang belaiable. Bisa dibelai, maksudnya. Nah kalau kita membelai-belai kucing ternyata tak hanya bisa membuat si kucing merasa rileks saja. Menurut artikel yang kubaca, membelai kucing bisa membuat kita awet muda dan bahagia. Lebih lanjutnya bisa kalian baca di sini.

Miraç Çağrı Aktaş, seorang penulis berkebangsaan Turki, pernah mengatakan: “Kedi sevmiyorsa, evlenme.Jika dia tidak menyukai kucing, kamu jangan menikah dengannya. Ingat perkataan ini jika bisa menenteramkan hati.

At least, tak usah berkecil hati jika kalian—kita, masih belum punya gandengan juga. Kita bisa mulai gandengan  dengan hewan peliharaan kita. Menerima kelembutan juga celotehan mereka yang kadang mengusik telinga. Menjalin hubungan harmonis dan hidup berdampingan sebagaimana mestinya. Membuat mereka nyaman dengan setia pada kita. Entah dengan kambing atau kucing, tak jadi masalah. Menuntun anjing atau menuntun sapi saat jalan-jalan pagi pun tak masalah. Tenang. Sabar. Ikhtiar. Hal-hal yang kelihatannya tidak mainstream terkadang justru berkah dan penuh hikmah bagi kita.

Seperti yang kita tahu, bahwa semua akan indah pada waktunya. Cheer up!

Sumber: Twitter Semesta Sains

 

26 thoughts on “Perihal Gandengan dan Hewan Peliharaan

  1. Wah, perjodohan hewan peliharaan? Seru juga pembicaraan ini ya? Baru tahu kalau ada perbincangan begitu. Selama ini yang kutahu hanya perjodohan anak dengan sesama teman.
    Keren kali si mbak ini membuat deskripsi antara kucing tirani dan kucing bangsawan he he he…
    Kucing tirani yang sadar diri sehingga menjadi kucing rumahan yang kuper, eh koq jadi mirip aku pada suatu masa ya he he he
    Sementara Juno si bangsawan yang luwes, hmmm…

    Liked by 2 people

    1. Hihihi ada dan nyata mbak (kurang kerjaan banget, ya). Tapi ya bukan perjodohan seperti halnya manusia, cuma kita suka bilang begitu. Teman saya yg pelihara kucing pernah jodohin kucingnya sama kucing temen lain yg lebih berkelas. Memperbaiki keturunan alasannya. Dia tau kapan musim kucing kawin, pas itu dia pinjem kucing temen barang dua minggu. Habis itu dikembaliin lg.

      Asli saya juga baru sadar ternyata saya memelihara kucing yg bertolak belakang sifatnya. Nahhh, itu si kucing tirani malah bikin mbak flashback yaa.. hihihi..

      Liked by 1 person

  2. kalau hewan peliharaanku dulu sapi, dijadikan sebagai tabungan,ketika butuh uang dalam jumlah banyak barulah dijual,seperti saat mau masuk kuliah. Bayarnya 450 ribu, jual sapi dapat 700 ribu. jadi masih ada saldo yang bisa untuk keperluan lain

    Liked by 1 person

    1. sungguh amat menjanjikan ya kalau tabungannya berupa sapi. saya lihat orang yg pelihara sapi, peliharanya mesti baik baik sampai si sapi besar atau beranak dulu, baru dijual. beda kalau pelihara ayam. satu-satu dijual lah tu kalau kepepet butuh uang. Haha

      Liked by 1 person

      1. ya, kalau di kampungku (bukan kampungmanis ya), memelihara sapi sekaligus ayam, waktu itu itu hampir semua rumah melakukan. tabungan jangka pendek (ayam), dan tabungan jangka panjang (sapi), ada juga sapi atau kerbau untuk kerja di sawah

        Liked by 1 person

  3. “Sebetulnya Olive suka meminta lebih. Hampir tiap subuh dia melakukan serangan fajar untuk meminta sarapan lebih awal. Caranya dengan naik ke tempat tidurku lalu menggigit-gigit kakiku, atau dia akan naik ke atas tubuhku kalau aku berusaha bersembunyi di balik selimut.”

    Uhh, mendengar kata ‘serangan fajar’ aku jadi ingat yang ‘lain’ nih, Frida. Haha..

    Aku juga suka kucing sejak kecil. Tapi ibu, istri dan anakku tak suka. Jadi sekarang belum bisa pelihara lagi.

    Like

    1. Serangan fajar sebelum bulan April kemarin tuh hahaha..

      Ooow.. Pasti karena tak suka sama bulunya ya kak.. Memang kadang bahaya juga sih kalau bulunya sampai kehirup.

      Like

  4. Aku punya temen kantor yang miara kucing karena kasihan tertabrak kendaraan sampai kakinya patah. Waktu dibawa ke dokter ternyata bisa diselamatkan, tetapi kakinya pincang. Ia pelihara dengan penuh kasih sayang dan diberi nama si Mengmeng. Kucing itu berjalan dengan ngesot. Temenku bersama suaminya merawat si Mengmeng seperti merawat anaknya. Dibelikan rumah dan mainan yang bagus-bagus. Nutrisi dan kesehatanpun terjaga. Mungkin biaya hidup sebulan melebih merawat seorang anak.

    Kadang aku terenyuh melihat temaku itu. Ia sudah berusaha mempunyai anak dengan berbagai macam cara. Termasuk mencoba proses bayi tabung. Tapi selalu gagal. Barangkali si Mengmeng menjadi tempat mengalihkan keinginan memiliki anak sekaligus menolongnya.

    Btw, selamat Frida. Atas tulisan pertamamu.
    😀

    Liked by 1 person

Comments are closed.