Cryptaesthesia

Dua

Hari-hari setelah pernikahannya, semua berjalan sesuai dengan keinginan Rima. Ternyata Antoni orang yang bisa diajak bekerja sama meski kadang-kadang adu mulut antara mereka berdua tak bisa dihindari. Keduanya tahu batasan masing-masing sebagai pasangan yang disatukan atas dasar perjodohan. Tak ada bulan madu bagi mereka karena Rima berdalih, butiknya tengah mempersiapkan pagelaran busana dalam waktu dekat. Jadi sang Ibu mau tidak mau memaklumi dengan berat hati. Pun Antoni hanya bisa mengiyakan semua perkataan Rima agar istrinya itu tak memusuhinya.

Rima pulang dan pergi bekerja seperti biasa, begitu pun Antoni. Rencana pagelaran busana dari butiknya memang benar adanya, jadi hari-hari Rima setelah pernikahannya cukup padat dengan kesibukan. Kadang-kadang ia harus berangkat pagi dan pulang malam setelah seharian berkeliling mencari kain-kain terbaik untuk membuat baju rancangannya. Namun hal itu tentu sangat menyenangkan bagi Rima yang sejak dulu telah bermimpi untuk menjadi designer ternama. Ia senang mengeksplorasi bakatnya, menuangkan ide-ide liarnya dalam sebuah rancangan busana yang suatu saat, mungkin dapat mengguncang dunia. Rima suka kebebasan.

Ya, kalau saja ibunya tidak sakit dan tak menuntutnya untuk segera menikah, mungkin ia tak akan terikat dengan orang yang tak dikenalnya kini. Mungkin sekarang Rima masih bisa bebas bertemu Hans, tanpa harus sembunyi-sembunyi dari orang tuanya. Mungkin, Antoni nanti akan jengah menutupi hubungannya dengan Hans dan membongkar semuanya. Namun, Hans yang seolah tak peduli dengan statusnya kini sebagai istri orang, membuat Rima merasa bingung. Entah ia harus lega atau khawatir. Ia hanya tak bisa melepaskan Hans begitu saja, pun untuk kembali bersama dengan Hans seperti dulu rasanya mustahil.

“Kamu melamun.” Suara Hans kembali menarik Rima ke dunia nyata. Ah, ia melamunkan hal tak penting sepanjang jalan sampai tanpa terasa mereka telah sampai di depan rumah.

“Kita sudah sampai, Sayang,” kata Hans sambil mencoba untuk melepaskan seatbelt Rima yang terlihat masih tertegun setelah tersadar dari lamunannya.

“Ah, terima kasih, Hans,” kata Rima pada akhirnya. Ia sedikit merapikan penampilannya lalu menatap Hans lekat. “Aku masuk dulu, ya.”

“Aku masih kangen. Kapan kita bisa bebas berdua seperti dulu? Aku merasa jadi perusak rumah tangga orang sekarang,” kata Hans sambil memainkan jemari kekasihnya yang ada dalam genggaman.

“Sabar, Sayang. Aku juga tidak mau seperti ini terus. Terlalu dini untuk memberontak pada Mama, terlebih dia masih sakit. Tapi yang terpenting, kita masih bisa bertemu seperti ini walau harus diam-diam. Aku juga berharap ini akan segera berakhir.”

“Hmm, baiklah kalau begitu, cepat masuk. Besok kujemput lagi, ya. Bye, Honey, I love you.

Rima hanya tersenyum lebar lalu keluar dari mobil. Lambaian tangan menjadi salam perpisahan sebelum mobil hitam milik Hans menghilang dari pandangan. Rumahnya terlihat sepi. Ya, karena memang sudah malam, pukul 21.00 WIB. Lagipula Rima hanya tinggal bersama Antoni, yang mungkin sekarang lelaki itu tengah sibuk di kamarnya. Ia segera masuk ke rumah yang benar-benar sepi. Sepertinya Antoni sudah tidur, tapi siapa peduli.

Rima langsung menuju dapur, ia lapar karena tadi menolak ajakan Hans untuk makan malam. Mungkin ia bisa memasak makanan sederhana untuk malam ini dengan bahan-bahan seadanya. Namun ketika ia membuka lemari pendingin, sepiring fettucini carbonara, menarik atensinya. Di atas penutupnya ada secarik kertas catatan kecil.

Fettucini carbonara with soya milk, low fat. Panaskan saja.

Ia mendengus, hampir tertawa. Ia lupa Antoni adalah seorang chef yang andal. Dan, pasti ibunya yang memberitahu lelaki itu bahwa ia alergi susu sapi. Baguslah, jadi Rima tak perlu bersusah payah memasak malam ini. Sepiring fettucini carbonara itu terlihat menggiurkan, ia akan segera memanaskannya.

*

Hans mengenal Rima tiga tahun lalu sebagai mahasiswa tingkat akhir jurusan fashion design. Saat itu, Rima tengah membagikan selebaran promosi pada para mahasiswa lain, agar tertarik menghadiri pagelaran busana yang ia adakan sebagai tugas akhirnya. Hans menjadi salah satu orang yang ditawari dan entah mengapa saat itu Hans mengajukan diri untuk membantu Rima, membujuk teman-teman satu jurusannya untuk datang ke acara gadis itu. Lalu setelahnya, mereka menjadi dekat.

Hans memang telah mengincar Rima sejak lama. Berbagai skenario telah ia coba untuk bisa masuk ke dalam hidup gadis itu, tapi tak kunjung mendapat celah. Hanya orang bodoh yang melewatkan kesempatan untuk bisa dekat dengan gadis seperti Rima. Ia cerdas, supel dan cantik hingga sosoknya cukup dikenal di lingkungan kampus. Tapi, bukan hanya itu alasan Hans mengincar Rima. Ada beberapa alasan, salah satunya karena dengan masuk ke dalam kehidupan gadis itu, ia bisa mewujudkan apa yang selama ini Hans perjuangkan. Namun nyatanya, Hans benar-benar jatuh cinta pada gadis itu hingga sering mengaburkan niat yang telah ia pupuk sejak lama.

Hubungan mereka selama ini hampir tanpa kendala sebelum tiba-tiba usahanya selama tiga tahun harus terbuang percuma. Saat Rima tak bisa menolak perjodohan yang diupayakan oleh kedua orang tuanya. Hanya dalam hitungan bulan, Rima telah menjadi istri orang. Hans pikir kesempatannya untuk masuk lebih dalam di kehidupan Rima akan sepenuhnya tertutup setelah kekasihnya menikah. Ia sempat marah, merasa terkhianati dengan keputusan Rima. Tapi nyatanya Rima sendiri yang memohon untuk tidak meninggalkan dirinya. Katanya Rima akan mengakhiri pernikahan itu secepat yang ia bisa, asalkan Hans tetap bersamanya.

Kamu benar-benar mencintaiku, ya?

Hans tersenyum mendapati sebuah pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya. Dari Rima, ia telah menantinya di butik, tak sabar untuk menghabiskan malam berdua sebagai pasangan kekasih rahasia. Ya, Hans tak peduli dengan status Rima kini. Hal terpenting adalah, ia masih punya kesempatan untuk berada di sekitar Rima dan mulai memikirkan rencana baru untuk mewujudkan keinginannya. Ia tak ingin menyia-nyiakan lagi kesempatan emas yang telah ia nantikan selama ini, membalas dendam. 

*

Sore itu, Bu Ana tiba-tiba datang ke restoran lalu segera menyuruh Antoni pulang, untuk menghabiskan malam akhir pekan kali ini dengan Rima. Antoni jelas keberatan, di akhir pekan begini, pengunjung restoran tengah padat. Mana bisa ia meninggalkan restoran dan membebankan pekerjaan pada satu-satunya rekan memasak yang ia miliki. Toh Rima pasti sedang bersama dengan kekasihnya, yang Bu Ana tidak ketahui. Namun hendak berkelit bagaimanapun, perintah sang Ibu mertua tak bisa dibantah. Pukul enam sore, Antoni akhirnya pulang.

Tentu saja Antoni pulang secara harfiah, pulang ke rumah. Ia tak mungkin menghubungi Rima hanya untuk sebuah makan malam seperti yang diinginkan ibu mertuanya. Tidak, Antoni tahu di mana Rima menghabiskan di setiap malam minggunya. Selama sebulan mereka tinggal berdua, Rima tetap berada di dekapan kekasihnya. Sungguh ia tak peduli, namun mengingat bagaimana Bu Ana terlihat antusias saat menyuruhnya pulang dalam keadaannya yang tak sehat, membuat Antoni merasa bersalah.

Wanita paruh baya itu sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, jauh sebelum pernikahan ini terjadi.  Bu Ana sudah berbaik hati memberikan pekerjaan hingga mengirim Antoni selama satu tahun untuk sekolah culinary di Australia. Sayangnya beberapa tahun belakangan, kondisi kesehatan Bu Ana sedang tak baik. Antoni mencoba untuk membalas budi, menuruti segala permintaannya agar wanita itu bahagia. Termasuk mencoba mendekatkan diri pada istri yang tak dicintainya, namun Rima masih terlalu egois, bahkan demi ibunya sendiri.

Pukul delapan malam, akhirnya Antoni sampai setelah berjibaku menerobos macetnya jalanan Jakarta saat jam pulang kerja. Setidaknya ia beruntung diminta untuk pulang cepat, ia sudah punya rencana untuk mencoba resep makanan yang baru kemarin dipelajari. Namun, baru saja ia hendak memasukkan mobil ke dalam rumah, sebuah mobil hitam metalik menghalanginya, yang terparkir tepat di depan garasi. Entah kenapa, emosi mulai menguasai diri begitu ia tahu siapa pemilik mobil hitam itu.

Buru-buru ia masuk ke rumah yang terang-benderang oleh lampu di setiap ruangan yang menyala. Dapat ia dengar gurauan sepasang manusia dari arah ruang tengah yang membuat telinganya hampir pecah. Berani-beraninya Rima membawa kekasihnya ke rumah mereka.

“Apa-apaan ini?” hardik Antoni begitu matanya menangkap dua sosok manusia tengah saling berpelukan sambil menonton film di ruang tengah. Jelas suara itu mengejutkan Rima dan Hans yang langsung melepaskan diri masing-masing lalu berdiri menatap Antoni.

“Apa yang kamu lakukan di sini? Ini masih jam delapan.”

Harusnya Rima balas menghardik, namun hanya suara cicitan yang keluar saat amarah tergambar jelas pada wajah Antoni, sementara Hans merangkulnya erat dari samping. Tak biasanya Antoni pulang cepat di akhir pekan, Rima tak memperkirakan hal itu.

“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan di rumahku?” kata Antoni geram. “Aku membebaskanmu bertemu dengannya selama ini, bukan berarti kamu bisa menjadikan rumah ini sebagai tempat kencan!”

“Berani-beraninya Anda membentak Rima,” kata Hans membela kekasihnya, sementara Rima meremas lengan Hans sebagai isyarat padanya untuk berhenti bicara.

Tapi Hans terus bicara. “Ini rumah Rima juga, menjadi hak dia akan membawa siapa saja untuk datang ke rumahnya.”

“Oh, saya juga pemilik rumah ini. Menjadi hak saya untuk mengusir siapapun yang tak pantas berada di sini, termasuk Anda.”

“Apa sih, Antoni! Hans hanya bertamu dan kami hanya menonton film, tidak lebih,” kata Rima akhirnya. “Kamu tiba-tiba datang lalu marah-marah. Kalau tidak suka, kami bisa pergi.”

“Dan saya pantas berada di sini selama Rima menginginkannya,” tambah Hans lagi.

“APA?”

Emosi Antoni sudah tak terbendung lagi. Ia mendekatkan diri, bersiap memuntahkan semua caci-maki yang bersarang di kepalanya tepat di depan wajah Hans.

“Anda merasa pantas berada di rumah seorang wanita saat suaminya sedang tidak di rumah? Apa yang akan orang lain pikirkan saat melihat apa yang sedang saya lihat sekarang ini? Saya mendiamkan hubungan kalian karena saya pikir Rima akan berubah dan Anda akan lebih tahu diri kalau wanita yang Anda pacari adalah istri orang. Tapi kalian malah semakin parah.”

“Hei, Bung,” Hans ikut tersulut emosi hingga berani menunjuk wajah Antoni. “Anda tak perlu repot-repot menasihati karena saya akan segera merebut posisi Anda sekarang ini. Sayalah yang lebih pantas menjadi suami Rima.”

“Oh, Anda merasa lebih pantas daripada saya, saat bahkan tak ada usaha untuk segera meminang Rima atau merebut hati kedua orang tuanya?” Antoni terkekeh sinis sebelum melanjutkan kembali, “Ya, ya, Anda pantas berada di posisi pecundang.”

“Brengsek!” Hans meledak.

BUGH!

“Hans!” Rima tak sempat mencegah.

Kacamata yang Antoni kenakan terlempar, begitu tinju Hans mengenai pipi kirinya. Pipinya kebas, sebelum akhirnya rasa asin darah begitu lekat di dalam mulutnya. Rima menjerit histeris melihat semua itu. Ia menyesal tak bisa melerai mereka berdua dan hanya berdiri kaku di antara dua lelaki itu.

“Kuharap kamu tidak mengulangi hal ini, Rima,” seru Antoni.

*

4 thoughts on “Cryptaesthesia

  1. Bagus ceritanya, walaupun di halaman Satu cerita berjalan datar tapi mulai berkembang ketika pernikahan Antoni dan Rima menimbulkan percekcokan yang melibatkan Antoni, pacar Rima yang seharusnya menikahinya.

    Konflik terus berlangsung, hingga berakhir pada terbalaskan dendam seorang Hans pada Antoni. Dan pak Hanung si pembunuh bapaknya berhasil dihabisi. Sempurna, meski harus dibayar dg menghuni terali besi.

    Tapi pada adegan Angel dan Antoni yang dijebak, itu kok seperti belum menjadi amunisi untuk memisahkan Antoni dan Rima ya? Seperti terputus begitu saja, walaupun ada efek yang menimbulkan ketidakpercayaan Rima pada Antoni. Apa sebab perubahan sikap Rima yang begitu cepat rasanya bisa ditimbulkan argumennya terkait peristiwa Antoni dan Angel.

    Btw, endingnya cukup greget. Hanya saja sudah nampak dari awal ( paragraf pembuka ) bahwa pada akhirnya pernikahan yang dijodohkan itu akan berakibat buruk. Andaikan sebaliknya, mungkin akan sedikit mengecoh pembaca yang dari awal digiring untuk menganggap wajar pertikaian itu terus terjadi.

    Trus, mungkin ada baiknya judul dikasih keterangan di akhir cerita, utk memudahkan pembaca memahami artinya.

    Aku apresiated utk kerjasama yang kompak ini. Ilustrasinya keren, Juga effortnya yang luar biasa, sdh berhasil merampungkan cerita sepanjang 7 halaman, dan semua punya kontribusi yang hampir merata.

    Itu saja sedikit yang bisa aku sampaikan sebagai pembaca. Selamat untuk karya yang luar biasa. Sumangat! 😀

    Liked by 2 people

    1. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk baca dan meninggalkan kritik dan sarannya hehe, masukannya jadi bahan pelajaran agar kami bisa lebih baik lagi ke depannya 😁

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s