Megalomania

Surga didapatkan dengan sebuah harga
Tapi aku belum siap membayarnya
Bekal yang terkumpul belum cukup
Selalu tak sabar saat diuji, berujung amarah yang meletup-letup
Alih-alih beribadah, aku menumpuk dosa sebesar gajah
Disuruh beramal soleh amatlah susah
Dilarang berlaku salah malah mudah

Untuk apa kita diciptakan?
Seseorang, tolong beritahu
Tampar dan pukullah aku
Hingga sadar menekuri diri
Lantas mendulang iman kembali

Dalam sujud, kudengar sebuah suara
“Lepaskan penyamaranmu
Sembuhkan dirimu dari demensia, megalomania, melankolia
Bebaskan pikiranmu dari delusi, fantasi, halusinasi
Kamu hanya manusia biasa
Semua sama dalam pandangan-Nya
Yang paling takwa dialah paling tinggi derajatnya”

Kenapa kita mati?
Akankah seseorang memberitahuku juga?
Tubuh ini tak berguna bila tanpa nyawa
Jantung berhenti berdegup jika ruh lepas dari raga
Izrail tampak di pelupuk mata
Menjemput ajal, mencabut nyawa
Sudah siapkah bila giliranmu tiba?

Aku terlalu percaya diri
Menganggap Surga telah berada di genggaman ini
Aku merasa paling tinggi
Sementara orang lain rendah diri
Ternyata aku yang tak tahu diri
Aku megalomania sejati

Seseorang, tolong bunuh aku
atau
sembuhkan diriku

17 thoughts on “Megalomania

      1. iya, saya paham. penulis bebas mengekspresikan tulisannya apakah sebagai pelaku atau sebagai pengamat, pembaca lebih bebas lagi terserah mau menganggap hal itu nyata atau bukan

        Like

      1. banyak sih orang2 sekarang yg narsis. apalagi di zaman medsos. Tapi aku gak bisa mengukur tingkatannya. Mungkin ada yg narsis tingkat dewa. 😀

        Like

  1. Saya memiliki kepercayaan bahwa untuk menemukan surga, seseorang memang harus merendahkan dirinya sampai ke dalam bumi.

    Tulisan yang menarik, Kak. Mengajak kita untuk merenungkan ke dalam diri.

    Like

      1. Membuat puisi itu benar-benar tantangan, Kak. Kalau menyimak pembicaraan teman-teman di WA group, membuat puisi itu benar-benar harus dengan hati, masalahnya saya ini, bagian itu yang tidak berkembang dalam otak hahahaha.

        Setiap kali mau mulai menulis, selalu saja tidak selesai. Beneran menyebalkan jadinya!

        Tapi, akan Ayu usahakan untuk tantangan ketik selanjutnya ya, Kak. Pastinya mohon diberi koreksi juga nanti ya. Semoga tidak keberatan.

        Like

      2. Betul. Saya belajar dari tulisan-tulisan Mas Narno, tapi masih berusaha untuk menangkap makna setiap bait puisi yang ditulis. Menyingkap makna yang dimaksudkan penulis dalam karya puisinya itu bukan perkara mudah bagi Ayu, Kak hahaha

        Like

Comments are closed.