Cerita Dalam Kue Satu

Cerita

“Kenapa satu? Kenapa gak dua? Kok bisa satu?” Itu adalah pertanyaan yang pertama kali terlintas di kepalaku, ketika dulu masih seorang bocah SD, setiap melihat Kue Satu muncul di toples-toples tetangga saat Badhan di hari raya Idul Fitri. Kue Satu, yang warnanya putih dan kerasnya seperti batu itu, ternyata bukan sembarangan kue apalagi untuk Zuraida yang dulu bercita-cita menjadi pramugari dan sekarang menjadi tukang Kue Satu. Buset! melenceng jauh ya cita-cita Zuraida dan profesi yang dijalaninya sekarang. Sebagaimana jauh melencengnya dugaanku pertama kali ketika menggigit Kue Satu. Aku menduga gigiku akan patah berkeping-keping, tapi begitu diemut langsung ambyar!! Eh ngomong-ngomong apa sih, padanan emut dalam Bahasa Indonesianya, ya? Iya Kue Satu kalau di-emut ternyata langsung ambyar, se-ambyar hatimu ketika menerima undangan dari gebetan yang ternyata nikahnya sama teman nongkrongmu. 😀 😀

11-12 lah dengan Zuraida—tenang ini bukan promo gratis ongkir—, Izmi pun pernah memiliki cita-cita yang begitu tinggi yaitu menjadi Dokter Hewan. Dan kenyataannya sekarang ia menjadi tukang jahit. Hemm… Dua tokoh yang sangat membumi dan dekat sekali dengan kehidupan di sekitar kita, bukan?

Tapi bukan Pak Cik Andrea Hirata kalau tokoh-tokoh semacam Zuraida, Izmi, Ukun dan Tamat hanya tokoh ecek-ecek belaka. Bukan Pak Cik penulis Dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas, kalau membiarkan tokoh-tokoh ini tak menarik perhatian pembacanya.

Mereka adalah tokoh-tokoh yang muncul di novel Ayah. Novel yang saat ini sedang menjadi perbincangan yang seru di antara para pengikat kata, sebab novel ini dijadikan tantangan menulis di aktivitas Ketik 9: “Memilih satu bab dari novel Ayah dan menceritakan pengalaman membaca buku tersebut.” Dan chapter Kue Satu inilah yang terpilih olehku secara acak.

Melalui novel Ayah dengan tokoh-tokoh sederhana dan membumi itu. Karakter yang jamak dijumpai di sekitar kita, sebagaimana tokoh-tokoh khas Andrea Hirata, ia membuatku iri. Bukan hal yang mudah, tentu saja, untuk menggambarkan sesuatu yang sangat nyata ke dalam suatu fiksi yang memukau. Bahkan hal seperti ini pernah diakui oleh Gabriel Garcia Marquez. Ia yang pernah meraih Nobel Sastra itu begitu kesulitan menggambarkan Amerika Latin, tropis dan budaya yang menjadi keseharian dalam hidupnya.

Bayangkan begini, kamu adalah tokoh utama dalam novelmu. Apa yang akan kamu lakukan kepada ‘kamu’ untuk menyentuh sisi magis yang hebat dari keseharian kamu itu. Dari sejak kamu bangun tidur, berangkat kerja, pulang dan tidur lagi. Akankah akan terjadi suatu kejadian yang luar biasa yang bisa menyebabkan tokoh ‘kamu’ ini bergerak secara novelis dan katakanlah fiktif nan memukau?

Tentu saja bisa tetapi itu tidak mudah.

Gabo bisa menggambarkan Amerika Latin dengan apik justru setelah ia berjarak dengan Amerika; setelah ada jeda antara dirinya dengan iklim tropis tanah kelahirannya. Ketika dia telah melihat bahwa batas-batas negara-negara di Amerika Latin hanya menjadi Amerika Latin saja, setelah dia melihat semua itu dari Eropa. Bahkan keseluruhan benua Amerika meliputi Selatan dan Utara hanya menjadi Amerika saja. Batas-batas teritorial yang memisahkan antar negara dan tetek bengek kebudayaan yang membedakan negara-negara tersebut menjadi bias dan tak lagi ada, karena begitu jauhnya cara pandang Gabo dari Eropa ke Amerika. Seperti jika aku bertemu orang Banyumas atau Banjarnegara di Jogja, mungkin aku akan merasa sedikit asing dengan mereka. Namun jika bertemu dengan mereka di luar Jawa, di Kalimantan misalnya, aku akan merasakan betapa mereka adalah saudara dekatku, seperti terlahir di atap rumah yang sama.

Ah kenapa jadi serius?

Baiklah kita kembali kepada Izmi.

Izmi, bagiku adalah karakter yang sangat menarik. Sepanjang membaca novel ini, aku tidak tahu Izmi ini perempuan atau laki-laki. Bahkan aku juga bingung Izmi ini karakter yang memiliki peran seperti apa. Maksudnya kalau Sabari jelas protagonis, Marlena love interest-inya protagonis, Ukun, Tamat, Toharun, Zuraida… mereka sidekick. Tetapi Izmi? Perannya dia apa? Jangankan perannya jenis kelaminnya saja, aku tidak paham.

Saat membaca sepanjang novel ini, terkadang timbul rasa harapku bahwa kisah Sabari dan Purnama Ke Duabelas-nya akan berakhir happy ending. Andaikata tidak dengan Marlena, maka cukuplah dengan Izmi. Ayolah please kumohon! Di mana Sabari adalah seluruh inpirasi hidupnya. Saking menariknya Sabari di mata Izmi, dia tertelan dengan energi positif yang ditularkan Sabari dan membuatnya menjadi penjahit yang sangat tekun melebihi ketekunan kuda yang bekerja karena riang gembira. Ia oleh Andrea Hirata digambarkan sebagai Isaac Newton dalam hal menjahit. Dan karena selalu optimis jika mendengar segala hal tentang Sabari, maka jika ada seseorang yang bisa membuat Izmi menjadi dokter hewan, orang itu pasti Sabari. Apakah akhirnya Izmi dan Sabari happy ending? Apakah Izmi menjadi dokter hewan? Baca saja bukunya, terlalu banyak spoiler di sini. 😀 😀

Lalu soal Ukun dan Tamat, Pak Cik Andrea Hirata benar-benar seniman gila. Meskipun andai chapter ini dibuang pun tidak akan mengubah jalan cerita keseluruhan novel. Tapi chapter ini sungguh terlalu sayang kalau terlewatkan. Sebab chapter ini adalah chapter yang akan membuatmu terbahak-bahak. Pak Cik memang seniman gila. Begini ceritanya.

Dikisahkan pada chapter Kue Satu ini, setelah lamaran Sabari untuk bekerja di pabrik batako milik Markoni—seperti nama ilmuwan penemu Radio dari Italia—diterima, dalam waktu singkat Sabari segera hafal sepak terjang Markoni dan anaknya, Marlena. Saking hafalnya Sabari dengan kebiasaan Marlena dengan ayahnya, ia berkata kepada Ukun dan Tamat pada suatu sore pukul 05:00 Wib.

“Rupanya telah terjalin hubungan batin antara aku dan Lena.”

“Maksudmu?”

“Kalau kudengar bunyi motor dari jauh, kutempelkan telingaku ke tanah dan aku tahu berapa motor yang mengantar Lena pulang. Aku juga tahu Lena membonceng motor siapa.”

“Yang benar?” Alis Tamat naik.

“Ya, dengan menempelkan telingaku di tanah aku pun tahu merek motor yang memboncengkan Lena. Senin, Lena diantar pria naik motor Honda bebek Super Cub. Selasa, Yamaha L2G. Rabu, Kawasaki Binter. Kamis, Honda CG 100. Jum’at, Vespa VX150. Sabtu, sepeda keranjang.”

“Minggu?” tanya Ukun.

“Aku tak tahu.”

“Mengapa tak tahu?”

“Karena aku libur.”

“Oh.”

“Bahkan, aku tahu warna baju yang sedang dipakai Lena.”

“Hanya dengan menempelkan telinga wajanmu itu ke tanah?” Tamat mulai jengkel.

“Ya.”

“Mungkin kau bisa tahu berapa liter bensin yang ada dalam tangki-tangki motor itu, Ri! Atau kau tahu jumlah uang dalam dompet Lena.” Tak tahan Tamat mendengar omong kosong itu.

“Yang jelas lebih banyak daripada jumlah uang dalam dompetmu, Mat.”
Tamat panas.

“Dapatkah kau tahu bahwa Dra. Ida Nuraini sedang menuju arahmu untuk membawamu ke panti rehab kejiwaan?!”

Sabari tak berkutik.

12 thoughts on “Cerita Dalam Kue Satu

  1. Iya Kue Satu kalau di-emut ternyata langsung ambyar, se-ambyar hatimu ketika menerima undangan dari gebetan yang ternyata nikahnya sama teman nongkrongmu. 😀 😀

    kisah pilu, atau pemanis tulisan?

    Liked by 2 people

    1. Saya coba bantu jawab aja! Sepertinya ngerjain tugas sambil curhat pak, hahaha, saya masih menerka-nerka apakah ada bab yang tersisa untuk saya 🙂 👍😂

      Like

  2. Lengkap reviewnya, Ndy.

    Saat kubaca keseluruhan novelnya ini rasanya aku juga patah hati. Kasihan dan prihatin dengan nasib Sabari. Tapi tidak semua cerita itu happy ending seperti cerita-cerita di Disney

    Liked by 1 person

  3. Tadinya aku bingung, kue satu itu apa? Ternyata―memang―yang sering ada saat Idul Fitri. 😂 Omong-omong, emut itu udah bahasa Indonesia kok, Mas.

    Walau aku belum baca seluruh babnya, aku langsung setuju kalau tokoh-tokoh di novel Andrea Hirata bukan tokoh ecek-ecek. Semuanya punya sisi menarik. Aku pun setuju kalau tokoh-tokohnya sangat membumi. Fiktif, tapi realistis, sekaligus memukau.

    Dan aku juga bingung, Izmi itu perempuan atau laki-laki, hahaha. Untung nggak dibocorin di sini. Nanti kuungkap sendiri saja~

    Lagi-lagi aku juga setuju kalau Andrea Hirata memang ‘seniman gila’. Ada chapter yang sebenarnya dibuang pun tak mengapa, tapi sayang aja. Soalnya menghibur banget. Bikin ngakak. 😂

    Yak, karena komentarku sudah bablas (lagi), aku pamit undur diri, hahaha.

    Liked by 3 people

  4. Nuansa Gabo memang terasa banget di Ayah. Karakter Sabari juga mirip banget sama Florentino Ariza dalam Love in the Time of Cholera, meskipun nggak se-playboy Florentino. 😀 Keliatan banget kalau Andrea Hirata melek banget sama sastra dunia.

    Like

Comments are closed.