Ayat-ayat Memadat

Adakah yang kau rindu menunggui malam selepas menelusuri jejak senja yang tembaga. Di sepanjang tepi mimpi bercabang-cabang memilih keinginan. Tengadahkan tangan sepilihan doa di tengah arus air mata yang mengingatkan luka. Pemakaman puluhan tahun silam kembali terkenang. Ayat-ayat memadat dalam komat-kamit mulut mungil mengalir melandai. Lebah kalah bersamaan mengepakkan dengung. Jelang malam di kampungmanis, 26 […]

Read More Ayat-ayat Memadat

C Sembilan Belas

Seperti namanya bermahkota Tak punya sayap Di mana-mana hinggap Kecil ukurannya Menggemparkan sedunia Meremukkan yang jumawa Porandakan pariwisata Paling dicari beritanya Belum pernah sebegini Saling asing dengan teman sendiri Jaga jarak saling berjauhan Hati kebat-kebit salah atau benar Jauh lebih takut penularan Bisa tertular mungkin menularkan Hujan, luruhkan pengembaraan Benamkan bersama basuhan Jaga wudlu tak […]

Read More C Sembilan Belas

Mengurai Seberapa Jauh Jarak

setiap kepulangan membicarakan perjalanan tak akan usai mengurai seberapa jauh jarak hanyalah memisahkan waktu yang itu-itu mengunggah peluang baru yang belum temu bagaimana clingak clinguk di peron selatan hujan begitu ramah menyambut kedatangan wajah-wajah bergegas mencari tumpangan mungkin khawatir sampai rumah kemalaman tak ada lagi bus perempat yang mengantarkan jadi ini bukan kemajuan, mungkin ditelan […]

Read More Mengurai Seberapa Jauh Jarak

Teruntuk Diriku Sepuluh Tahun Mendatang

Wahai diriku di masa sepuluh tahun mendatang. Apakah yang engkau pikirkan. Masih setia tentang musim yang hanya ada dua di negeri ini, atau terpikirkan musim yang lain entah apa itu namanya. Masih adakah goresan kata-kata yang disebut puisi ataukah sudah pensiun dini. Ah, kenapa pula ada pensiun dini memangnya pegawai negri. Seperti air mengalir, tak […]

Read More Teruntuk Diriku Sepuluh Tahun Mendatang

Di Ujung Hari

di ujung hari menyesap kopi menikmati setumpuk kumpulan puisi mengambil acak di deretan lemari sembilu kumpulan kesedihan yogya perubahan tak mengenakkan para pujangga sederetan nama yang banyak dikenal menggoreskan resah dalam sembilu

Read More Di Ujung Hari

Oleh Sepotong Koran

Ini hanyalah sekelumit kisah tentang anak kampung yang bermimpi menjadi penyair, tapi bingung bagaimana memulainya. Ini juga cara cepat menjalankan tugas di Ikatan Kata, mendaur ulang tulisan lama semoga bisa diambil manfaatnya terutama bagi yang baru memulai menata mimpi tentang cita-cita. Dari blog pribadi judul yang sama dengan sedikit penambahan isi seperlunya

Read More Oleh Sepotong Koran

Hujan akan Turun Sebentar Lagi

Hujan akan turun sebentar lagi. Mungkin saja. Udara terasa basah.  Seperti ada tiada rerintik yang hinggap di rambut kepala.  Langkahku tetap seperti biasa. Sebelum hujan benar biarlah tetap begini. Melangkah pelan namun tidak terlalu pelan. Juga tak perlu tergesa. Sehamparan hanyalah rerumputan yang kering di sana sini. Ada sisa jerami yang jauh lebih mengering. Galengan […]

Read More Hujan akan Turun Sebentar Lagi

Sejarah Kehidupan

ingatkah pelajaran tumpukan jerami comberannya berkeriap kehidupan setitik air rendamannya banyak kejutan sebelumnya hanyalah bahan tertawaan mana ada kehidupan di setetes comberan adanya hanyalah bebauan yang memuakkan apakah telah lupa sebelumnya orang berkata tikus dapat hidup dari serombeng pakaian lalat tumbuh dari sekerat daging tak sedap cacing lahir dan tumbuh dari tanah tetiba tetumbuhan lahir […]

Read More Sejarah Kehidupan

Tak Bisa Ke Lain Hati

Tak bisa ke lain hati Sisi ruang batinku hampa rindukan pagi Tercipta nelangsa merenggut sukma Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud Aku tak bisa pindah, pindah ke lain hati Pindah ke lain hati Pindah ke lain hati

Read More Tak Bisa Ke Lain Hati