Mereka yang Ikhlas Memeluk Tanpa Berniat Menusuk

“Selamat hari pahlawan,” katanya.

Aku akan mengingat orang-orang yang begitu berjasa di hidupku ketika kata-kata itu tertulis atau terucap dari seseorang. Bagaimana? Apakah kamu juga demikian?

Semalam kawanku berkata bahwa pahlawan menurutnya adalah orang yang peduli, dia yang ada dan selalu ada di hidup kita untuk mendorong kita menjadi lebih baik. Yang tidak menjadi hakim atas kesalahan kita tetapi memberikan solusi yang terbaik.

Apakah arti pahlawan menurut kalian sama seperti itu? Ahh … aku rasa tidak. Kita punya pemikiran masing-masing untuk mendiskripsikan kata pahlawan itu sendiri.

Lantas apa itu pahlawan menurutku?

Pahlawan bagiku adalah orang atau seseorang yang mendedikasikan dirinya untuk menyelamatkan diri kita dari kegelapan dan atau kesalahan. Semua orang bisa menjadi pahlawan di hidup kita, semua orang juga bisa menjadi sosok yang menyelamatkan diri kita ketika kesusahan, juga semua orang bisa menjadi pahlawan yang seperti apa pun di hidup seseorang. Di hidup aku yang sudah ada seperempat abad ini beberapa orang datang dan pergi tanpa disadari, tetapi di antara datang dan pergi itu ada mereka yang selalu bertahan dan menetap. ‘Ntah sebagai apa pun itu, sadar atau tidak mereka sangat berkontribusi untuk hidupku sampai saat ini.

Mereka yang pertama adalah, orang tuaku.
Orang tua bagiku adalah pahlawan paling nomor satu. Bukan hanya sekadar memberi makan dan menyelesaikan tanggung jawab untuk mendidik aku sampai saat ini, tetapi merekalah yang selalu menjadi salah satu semangat dan alasan mengapa aku menjadi seseorang yang seperti saat ini. Orang tuaku tidak hanya terkhusus sebagai orang tua, tetapi lebih dari itu. Merekalah sahabat sekaligus pemberi keputusan yang terbaik. Pokoknya tidak ada hal buruk yang bisa diungkapkan untuk orang tua.

Yang kedua, guru.
Kenapa guru? Karena mereka yang mencerdasakan, mendidik sekaligus menjadi orang tua ketika di sekolah. Katanya, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Menurutku itu benar, karena tanpa mereka mungkin aku tidak melek baca tulis. Aku bisa menulis seperti ini sedikit banyak atas bantuan guru-guru yang dulu membimbing aku dengan sabar. Mungkin bagi sebagian orang, sosok mereka tidaklah terlihat tetapi sadar atau tidak gurulah yang paling banyak berjasa untuk diri kita hari ini. Jadi, sudahkah kalian berterima kasih dengan guru atau dosen atau pembimbing kalian hari ini?

Yang ketiga, saudara.
Saudara apalagi sedarah, adalah mereka yang sangat dekat denganku. Meski terkadang suka marah-marah tetapi dalam hati, merekalah yang sayang dan peduli saat aku sedang tidak baik-baik saja.

Yang keempat, sahabat.
Mungkin ada banyak teman dalam hidup yang berkontribusi untuk diriku, tetapi di antara proses menjadi seorang aku yang sekarang ini ada satu sahabat yang sangat setia menemani aku dalam setiap proses tersebut. Dia perempuan yang berusia sama denganku, kami bersahabat sejak tahun 2012 sampai sekarang dan doaku kami akan tetap bersahabat sampai tidak tahu kapan. Bagiku dia adalah orang yang dari dulu selalu memberi aku dorongan dan dukungan, yang selalu ada di saat senang atau sedih yang menjadi orang terpenting bagiku mengambil keputusan setelah orang tuaku. Kalau dibilang dekat, kami cukup dekat. Bahkan orang tua kami juga sudah saling kenal dan dekat. Jadi, apakah kalian juga punya sahabat yang sepertiku ini? Jangan disia-siakan, ya.

Mungkin pendiskripsian pahlawan menurutku dan kalian tidaklah sama. Mungkin juga orang yang kalian sebutkan untuk menjadi sosok pahlawan ini juga berebeda denganku. Tidak apa-apa. Setiap kita pasti punya pahlawan dalam hidup yang tidak pernah bisa disamakan. Porsi mereka pun juga pasti berbeda-beda. Intinya semua orang itu baik dan berpengaruh, ‘ntah memberi pengaruh baik atau buruk yang jelas mereka berpengaruh. Pahlawan sendiri adalah yang menyelamatkanmu ketika tenggelam di dalam kegelapan. Pahlawan yang seharusnya selalu diingat tentunya.

Sesekali kita memang harus memberi apresiasi juga mengingat untuk sosok-sosok berpengaruh yang terkadang kita tidak bisa secara lisan mengucapkan terima kasih. Karena dengan mengingat saja mereka akan merasa bahagia dan merasa bahwa diri kita membutuhkan juga menghargai mereka. Jadi, sebelum siapa pun orang yang menjadi pahlawan itu tiada, sebelum pada akhirnya kita menyesal sebab tidak pernah mengucap terima kasih. Lakukan yang terbaik untuk mereka, meski tidak dengan lisan. Dengan perbuatan pun sekiranya akan sama saja.

Selamat menyayangi pahlawan kalian. Selamat mendewasa dan membaca.

Salam, perempuan aksara.

11 thoughts on “Mereka yang Ikhlas Memeluk Tanpa Berniat Menusuk

  1. Intinya semua orang itu baik dan berpengaruh, ‘ntah memberi pengaruh baik atau buruk yang jelas mereka berpengaruh…
    Setuju, semua orang … karena setiap orang memandang dari sudut yg berbeda. Seperti pengkhianat di satu pihak namun pahlawan di satu pihak.

    Like

  2. Setuju. Apresiasi pada yang tepat dan hakiki serta berdayaguna jasanya secara nyata dahulu, saat ini dan masa depan dan… akhirat nanti.

    Like

Comments are closed.