KERIS

keris
ilustrasi: omahnara.blogspot.com

Satu minggu telah berlalu sejak Raden Mas Iqbal Hadiwijaya meninggal dunia. Masa berkabung sudah mulai surut. Simbok Fiska, istrinya, mulai merapikan barang-barang peninggalan almarhum. Ada pakaian, sarung, peci, sepatu, cincin, tasbih, dan berbagai aksesori tertata di ruang tamu. Simbok berharap barang-barang itu masih bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang membutuhkan. Banyak yang mau mengambil barang-barang itu, tetapi banyak pula yang enggan. Takut dibayang-bayangi sosok almarhum yang dipercaya memiliki kesaktian.

Raden Mas Iqbal Hadiwijaya dikenal sebagai seorang keturunan bangsawan yang disegani di kampungnya. Sebagai keturunan bangsawan ia memiliki banyak ilmu. Di antaranya ilmu kanuragan, ilmu pengobatan, juga ilmu sastra. Semasa hidupnya, orang berbondong-bondong mendatangi kediaman beliau untuk konsultasi berbagai hal, tapi sebagian besar karena ingin mendapatkan kesembuhan dari berbagai penyakit. Dengan metode pengobatan tradisional yang disinergikan dengan doa-doa spiritual, Raden Mas Iqbal Hadiwijaya dikenal luas di daerahnya. Sudah banyak penderita penyakit yang disembuhkan, sehingga banyak warga dari kampung-kampung dan pelosok-pelosok desa lainnya rela jauh-jauh datang menemuinya.

Selama hidupnya Raden Mas Iqbal Hadiwijaya tidak pernah mengalami sakit yang serius. Karena usianya yang sudah sangat tua Tuhan pun menjemputnya di usia 92 tahun. Ia menemui ajalnya tanpa banyak merepotkan keluarga.

Simbok Fiska, istrinya kini hidup menjanda. Bersyukur almarhum memberinya keturunan tiga orang anak yang kini sudah dewasa, sehingga ia tidak kesepian.

Di sisi ranjang kamar almarhum, tampak Mbok Fiska menatap tumpukan kain dan sarung yang berserakan. Baru sebagian yang sudah ia lipat rapi dan sudah dipindahkannya di ruang tamu. Tinggal membereskan tumpukan yang tersisa. Pikirannya melayang. Entah sudah berapa banyak pakaian, kain, dan sarung yang masih baru, pemberian dari orang yang berkunjung ke rumah mereka, dihibahkan kepada orang lain. Mendiang suaminya itu selain dikenal sebagai sosok yang berilmu, ia juga dikenal sangat dermawan. Pantang baginya semasa hidup memberikan pakaian bekas kepada orang lain, apalagi kepada saudara atau kerabat dekatnya.

Dari balik pintu, Edwin, anak lelaki almarhum satu-satunya datang menghampiri Simbok. Laki-laki itu kemudian duduk di sampingnya. Tangan Edwin merangkul bahu ibunya dari samping, berusaha menguatkan perempuan yang rambutnya sebagian besar sudah mulai memutih. Simbok menarik napas panjang. Ia tahu kepergian suaminya adalah sebuah takdir yang harus diikhlaskan. Masih ada Edwin dan adik-adiknya yang masih harus ia jaga, dan akan menjaganya pula di kemudian hari.

Simbok menatap dan tersenyum ke anak lelakinya. Sirat wajahnya seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. Simbok kemudian bangkit, berjalan menuju sebuah lemari, lalu membuka laci kecil yang sudah bertahun-tahun terkunci rapat. Samar-samar Edwin melihat Simbok mengeluarkan sesuatu dari dalam laci. Sebuah benda, entah apa, yang terbungkus kain berwarna putih yang telah usang. Terbit rasa penasaran dalam diri Edwin. Ia merasa pernah melihat bungkusan kain itu sebelumnya, tetapi lupa kapan.

Milik Bapakkah? batinnya bertanya-tanya. Sejurus kemudian ia teringat. Ya, itu milik bapaknya. Setahunya, selama ini hanya satu orang yang pernah membuka laci itu, tak lain tak bukan adalah almarhum bapaknya. Dahulu, Edwin kecil pernah ingin membuka laci itu. Rasa penasaran menguasai dirinya. Namun, bapak terlebih dahulu memergoki, dan itu membuatnya mendapat omelan. Edwin merasa takut dan jera. Sejak saat itu ia pura-pura tak acuh dengan keberadaan laci kecil yang terkunci rapat di kamar orang tuanya.

Kini bapak sudah tiada, dan laci itu dibuka oleh Simbok. Mau tak mau rasa penasaran Edwin kembali bangkit. Rasa seganlah yang menahannya untuk tidak bertanya pada Simbok. Walaupun begitu, diam-diam ia merasa yakin bahwa itu sebuah peninggalan berharga milik almarhum bapaknya. Hanya sesuatu yang berharga yang tak boleh disentuh sembarangan, kecuali oleh pemiliknya.

Lamunan Edwin buyar ketika Simbok menutup laci yang berderit. Sambil membawa bungkusan putih itu, Simbok kembali duduk di samping anak lelakinya. Ditaruhnya benda itu di atas meja ketika Edwin membenarkan posisi peci di kepalanya.

Le, Simbok mau bicara…,” kata Simbok. Suaranya parau.

“Ada apa, Mbok? Sesuatu yang sangat pentingkah?” tanya Edwin.

Iyo, Le.” Simbok membenarkan posisi duduknya. “Ngene … semasa hidup, almarhum pernah menyampaikan ini pada Simbok. Beliau berpesan, kelak kalau sudah tiada, barang ini tolong diserahkan pada Edwin, anakku, untuk disimpan dan dirawat.”

Bapak? Menyerahkan benda ini padaku? batin Edwin tanpa terucap sepatah kata pun, tetapi Simbok dapat membaca isi hatinya lewat keningnya yang mengerut.

“Simbok pun ndak tahu, Le. Namun, itu pesan yang Simbok dapat dari Bapak. Simbok hanya meneruskannya, dan menyerahkan ini padamu. Jadi, kamu harus merawatnya baik-baik sebagai tanda baktimu padanya.” Simbok melanjutkan penjelasan seraya menyodorkan buntalan kain yang masih menutupi isinya. Entahlah apa yang ada di dalam buntalan itu, Edwin terus bertanya-tanya. “Terimalah, Le. Laksanakan amanat bapakmu.”

“Memangnya apa ini, Mbok?”

“Simbok juga ndak tahu apa isi di dalamnya, Le. Barang ini memang ndak pernah diperlihatkan oleh Bapak kepada siapa pun, termasuk Simbok. Sudah buka saja.”

Walau ragu masih hinggap di hati, Edwin menggerakkan tangannya dengan perlahan. Dengan rasa penasaran yang juga besar, tangannya membuka kain yang membalut benda tersebut. Setelah diperhatikan lekat-lekat, baru ia sadari jika benda ini tidak hanya dilapisi sehelai kain―setidaknya ada dua. Kain pertama dibuka, lalu kedua … belum nampak isinya. Ia melanjutkan membuka kain ketiga, dan ternyata ini yang terakhir. Demi melihat isinya, Edwin terperanjat.

Astaghfirullah … keris, Mbok?” Edwin spontan menyebut, setengah berteriak. Mendadak ia merasa gelisah dan agak takut. “Mbok, aku ini seorang ustadz. Tidak mungkin aku menyimpan keris ini di rumah, Mbok. Tidak mungkin.”

Simbok menampakkan guratan di keningnya, pertanda kecewa saat melihat dan mendengar reaksi Edwin menerima peninggalan ayahnya.

“Lho, lho … kenapa, Le? Apa ada yang salah dengan benda ini? Ini cuma keris, Le. Benda berharga Bapak yang dia ingin kamu jaga….”

Edwin menggeleng, kemudian menutup keris itu dengan kain terakhir yang tadi menutupinya. “Mbok, saat ini aku sudah menjadi ustadz. Edwin sudah mendakwahi banyak orang di banyak tempat tentang pentingnya menjauhi hal-hal berbau mistik, termasuk benda ini. Keris. Kalau tidak, bisa berakibat merusak keimanan atau akidah, Mbok.”

Wajah wanita tua di depannya menunjukkan ketidakpahaman. “Edwin, Simbok ndak ngerti dengan apa yang kamu jadikan alasan itu … tapi apa salahnya kamu menyenangkan bapakmu, karena ia sudah tiada? Ini pesan terakhirnya, Le. Masa kamu mau menolaknya?” tanya Simbok dengan suara pelan. Simbok tidak menyangka jika respons anak lelaki satu-satunya itu akan seperti ini. Ia hanya mengemban tugas dari almarhum suaminya untuk menyampaikan wasiat terakhir. Itu saja.

Edwin masih bungkam. Wajahnya gelisah. Simbok menangkap keraguan dari raut wajah anaknya. Digesernya keris di atas kain itu sedikit lebih dekat dengan Edwin, kemudian ia berujar, “Terima ya, Le. Siapa lagi yang akan merawat benda ini. Kamu satu-satunya yang dipercaya bapakmu,” kata Simbok. “Kedua adikmu perempuan semua, barangkali karena itu Bapak ndak memilih mereka.”

Melihat Edwin yang masih tidak mau bicara, Simbok ikut bungkam. Wajahnya menunduk, menatap keris peninggalan mendiang suaminya itu. Sepintas wajah almarhum melintas dalam pikiran Simbok. Wanita tua itu ingat bahwa suaminya hampir tidak pernah meminta hal yang aneh-aneh kepadanya. Bahkan, waktu akhir hayat saat suaminya tergeletak berjuang melawan sakit parah yang diderita pun tidak sekalipun ia merengek atau mengeluhkan dan meminta sesuatu yang memberatkan istri tercintanya. Padahal Simbok tahu, pada saat itu suaminya pastilah sangat kesakitan. Maka dari itu, ia ingin sekali membahagiakan almarhum suaminya dengan melaksanakan wasiat terakhir yang diamanatkan kepadanya.

Simbok menyentuh punggung tangan anak lelakinya. Edwin menoleh, dan pandangan mereka beradu. Ia melihat wanita yang memandangnya dengan sayu.

“Jangan kecewakan almarhum, Le. Kamu harus sungguh-sungguh merawat titipan ayahmu ini,” ujar Simbok. Ia melepaskan tangannya dari Edwin, kemudian mengambil sesuatu dari saku. Secarik kertas yang terlipat―yang kemudian diberikan pada Edwin. “Ini surat, dari Bapak. Ia juga menitipkan surat ini untukmu. Kamu baca saja nanti. Barangkali ini akan membantumu melaksanakan tugas terakhir yang diperintahkan bapakmu.”

Edwin memandang kertas terlipat yang diselipkan Simbok di dalam genggaman tangannya. “Iya, Mbok. Tapi….”

Ndak ada tapi lagi, Le. Sudah, berhentilah kamu dari keraguanmu. Kamu anak lelaki satu-satunya. Almarhum sangat menaruh harapan padamu!” Nada suara Simbok mulai meninggi. Ia mulai kesal dengan Edwin,  mengapa pula terus menolak hal yang sederhana seperti ini. “Tinggal disimpan saja, Le, apa susahnya?”

“Mbok, bukannya Edwin tidak senang diberi kepercayaan. Tapi, seperti yang kukatakan tadi, Mbok, kalau Edwin sekarang sudah jadi ustadz. Pekerjaanku sering mengingatkan orang untuk menjauhi kemusyrikan. Apa jadinya kalau nanti jemaahku mengetahui ustadznya justru melanggar nasehatnya sendiri?”

Simbok kini geleng-geleng kepala. “Pemikiranmu kok ngono to, Le? Kalau begitu, menurutmu selama ini bapakmu melakukan kemusyrikan, begitu?” tanya Simbok, kemudian ia melanjutkan sebelum Edwin menjawabnya. “Le, kamu tahu kan, bapakmu itu rajin beribadah, salat, puasa. Rajin berdoa setiap punya hajat apapun. Selalu meminta petunjuk sama Gusti Allah. Dia hanya suka merawat benda-benda pusaka ini, Le, ndak lebih. Seperti juga kamu yang menyukai dan merawat sepeda motor atau mobilmu. Masa begitu saja kamu katakan musyrik?” Simbok berujar panjang lebar. Kini ia tidak mau kalah dengan alasan Edwin. Wanita itu tahu sekali bahwa suaminya bukan seorang dukun yang menyimpan benda-benda keramat untuk memuja setan.

Namun, Edwin masih dengan pendiriannya. Ia menggeleng pelan. “Maaf, Mbok. Ini sudah menyangkut masalah akidah dan keimanan. Bagaimanapun, sepanjang yang aku pelajari menyimpan benda ini tetap saja berbahaya terhadap keimanan kita. Apapun alasannya. “

“Ya ampun, Le, Le. Kok angel dituturi.” Simbok menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya cepat. Heran, anaknya masih saja keras kepala. Segala argumentasi tetap tidak bisa meluluhkan hati Edwin. Namun, simbok tak akan mundur dan pasrah dengan keputusan anak lelakinya itu. “Ndak, Le. Kamu tetap ndak boleh menolak amanah bapakmu. Alasanmu itu ndak bisa diterima. Bapakmu ndak akan tenang di alam sana kalau kamu menolak pesan terakhirnya. Apa kamu senang bapakmu kecewa di sana? Bukankah tugas anak semasa hidup itu termasuk menjaga amanahnya?”

Dibilang seperti itu, Edwin semakin kalut. Simbok kembali melanjutkan, “Ayo, Le, turuti saja keinginan bapakmu. Simpan barang ini, lalu jaga baik-baik di rumahmu.”

“Mbok, aku mohon.…” Edwin semakin memelas. Ia sebenarnya tidak ingin membantah keinginan Simbok. Apalagi selama ini tidak banyak hal yang bisa ia berikan kepada Simbok. Namun, permintaan Simbok kali ini menyangkut akidah yang ia anut dan pahami. Tidak boleh ada toleransi untuk ini.

Ndak, Le. Kapan lagi kamu akan berbakti pada orang tua sementara permintaan seperti ini saja kamu tak sanggup lakukan. Keris itu pusaka dan kebanggaan khas orang Jawa. Pangeran Diponegoro dulu pun memiliki keris kebanggaannya, padahal ia pun alim dalam urusan agama. Apakah kamu juga menganggap beliau musyrik hanya karena memiliki keris?”

“Menurut Edwin memang begitu, Mbok. Mungkin dulu Pangeran Diponegoro belum belajar secara total soal agama,” sanggah Edwin cepat, kemudian membuang muka ke samping. Matanya tidak berani menatap Simbok. Kalau saat-saat begini ia tahu Simbok bakal lebih panjang lebar menasehatinya. Atau justru gerutunya ini malah membuat Simbok naik pitam. Edwin mulai bersiap.

“Hush! Kamu kok berani berkata seperti itu? Ndak boleh sombong. Kalau kamu masih mengakui sebagai anak almarhum Raden Mas Iqbal Hadiwijaya, kamu harus dan harus melaksanakan amanah beliau. Titik!” Kali ini simbok sedemikian marahnya menghadapi penolakan Edwin. Tampak dari rona wajahnya yang memerah karena menahan emosi. Otot-otot di keningnya membesar. Beruntung Edwin cepat berusaha menyurutkan amarahnya setelah ia pasrah menerima apa yang disampaikan.

Edwin membuang napas pendek. “Baiklah kalau begitu, Mbok. Aku akan menyimpan benda ini di rumah,” ujarnya. “Hanya menyimpan ya, Mbok. Tidak lebih.”

“Nah, begitu to, Le. Apa susahnya merawat benda sekecil ini. Ndak memakan tempat dan biaya yang besar seperti merawat mobil dan motormu, kan?” tanya Simbok. Kini Edwin hanya mendengar saja, tidak menanggapi lagi.

**

Pak ustadz itu baru saja memarkirkan motor di halaman rumahnya. Pintu rumahnya terkunci, pasti istrinya sedang menjemput si sulung di sekolah. Laki-laki itu meraih kunci cadangan dari saku celananya, kemudian membuka pintu di depannya. Saat ini hanya ada dirinya seorang di rumah. Tepat setelah masuk ke dalam, ia melewati ruang tamu berdinding kosong, kemudian duduk di kursi meja makan tidak jauh dari sana. Tas punggung hitamnya ia geletakkan di atas meja yang kosong. Diliriknya tas yang masih tertutup rapat itu, kemudian ia membuang napas panjang. Keris yang sedari tadi tidak ingin ia bawa itu kini ada di dalam tasnya.

Ia merogoh saku celananya, dan mendapatkan kertas terlipat yang tadi juga diberikan oleh Simbok. Ditaruhnya surat dari almarhum bapaknya di atas meja, kemudian dia pandangi tanpa ada niat untuk segera membacanya. Keris itu juga sama, sebenarnya ia enggan untuk menyentuh dan melihat benda itu lagi. Namun, rasa penasaran yang tersemai sejak dari masa lalunya bangkit kembali. Ditambah lagi saat ini ia sedang seorang diri, ini satu-satunya waktu yang tepat untuk melihat keris itu dengan seksama.

Setelah membulatkan niat, ustadz Edwin membuka tas dan mengeluarkan sebuah buntalan kain. Selama melihatnya bersama Simbok tadi, ia tidak begitu memperhatikan keris tersebut dengan seksama. inilah saatnya. Maka, dibukalah lapisan demi lapisan kain yang membungkus keris itu hingga tampak benda peninggalan bapaknya. Kedua matanya memandang setiap inci dari keris itu lekat-lekat.

Keris ini ternyata memiliki desain yang sangat cantik, gumamnya dalam hati. Sepertinya keris ini benar-benar hasil karya sang empu yang mumpuni.

Edwin mendekatkan wajahnya pada benda pusaka itu. Diperhatikannya hulu keris tempat pegangan yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi. Terdapat motif ukiran yang tampak seperti hasil karya seorang seniman yang mumpuni. Ia mencoba mengeluarkan keris itu dari rangkanya, kemudian mengamati setiap bagian pokok keris yang menampakkan lekukan bertingkat. Permukaannya rapi dan halus. Entah mengapa benda itu memiliki aura dingin yang juga terasa saat diraba dengan telapak tangannya. Diam-diam, ia merasa takjub dengan benda itu.

“Tidak, tidak.” Edwin berujar pada dirinya sendiri seraya menggeleng cepat. “Aku tidak mungkin menyimpan keris ini.”

Ia menjauhkan wajahnya dari keris itu, tetapi pandangannya masih berada di sana. Hatinya kembali dililit keraguan. Pilihannya berat sekali, antara memenuhi wasiat terakhir bapaknya dan berdiri di ujung kemusyrikan atau mengamankan akidahnya dengan menentang amanah dengan membuang keris itu jauh-jauh. Betapapun indahnya keris peninggalan bapaknya, ustadz Edwin tetap khawatir keberadaan benda pusaka itu dapat mencemari keimanannya. Apalagi istrinya jelas tidak akan setuju ada benda itu di rumah mereka. Ia sangat terobsesi untuk membersihkan segala hal berbau TBC, alias Takhayul, Bid’ah dan Khurafat, sebagaimana doktrin keras yang ia dapat di pengajiannya. Edwin melayangkan pandangannya pada dinding-dinding rumah yang nyaris kosong-melompong. Tidak ada foto keluarga di dalam rumahnya. Istrinya tak mau ada gambar hidup di rumah ini.

“Tapi aku tidak mungkin membuang benda ini. Bagaimanapun, ini amanah dari almarhum Bapak,” ujarnya lirih. “Sepertinya aku harus mencari orang yang sudi merawat benda ini.”

Saat sedang mengingat-ingat kenalan yang menyukai barang sejenis keris ini, Edwin teringat pada Heri, temannya yang merupakan kolektor barang-barang antik. Ia menganggukkan kepalanya. Aku rasa Heri orang yang tepat untuk kutitipkan barang ini, batinnya, dan almarhum Bapak pasti tidak akan terlampau kecewa di alam sana. Paling tidak masih ada yang merawat peninggalannya, meski bukan anaknya.

 

*

 

Sore hari Edwin bergegas ke rumah Heri, teman SD-nya yang kini seorang kolektor barang-barang antik. Heri dikenal memiliki banyak benda-benda antik dan bersejarah di rumahnya yang sudah disulap seperti museum. Dari sepeda, mobil, mebel, dan perhiasan. Benda-benda pusaka juga tak luput mengisi koleksinya.

“Halo, Her. Apa kabar?” sapa Edwin. Ia menghentikan aktivitas favorit Heri di sore hari: memandangi setiap koleksi antik di rumahnya.

“Hei, Win. Ternyata kamu.” Heri menyambut kedatangan teman masa kecilnya itu dengan semringah. “Kabarku baik. Tumben sore-sore ke sini? Ada apa?”

“Sepertinya ini adalah hari keberuntunganmu.”

“Maksudmu?”

“Aku membawa sesuatu,” ujarnya. “Mungkin lebih baik kalau kita bicarakan di dalam?”

Tanpa pikir panjang, Heri mempersilakan temannya untuk masuk ke dalam ruang tamunya. Mendengar Edwin membawa sesuatu untuknya, ia juga semakin antusias dan menerka-nerka. Tebakan pertamanya tentu saja barang antik. Apakah Edwin mau memberi sebuah barang antik? pikirnya. Heri sama sekali tidak dapat menebak barang yang dibawa oleh Edwin. Setelah mempersilakan Edwin untuk duduk dan menyajikan dua gelas air putih, Heri duduk di sofa yang berseberangan.

“Jadi, ada apa, Win?”

“Begini, Her. Aku membawa sesuatu yang kurasa kamu akan menyukainya,” ujar Edwin.

“Apa itu?”

Untuk menjawab segala pertanyaan di benak temannya, Edwin lekas membuka tas hitam miliknya dan mengeluarkan sebuah buntalan kain. Heri bertanya-tanya dalam hati. Apa itu?

“Sebenarnya ini peninggalan almarhum Bapak, Her. Aku ingin kamu yang menjaganya. Aku percaya kamu bisa merawatnya dengan baik.”

“Memangnya ini apa?”

“Keris.”

Heri terhenyak mendengarnya. Keris? Kini ia paham. Temannya yang satu itu tidak mungkin menyimpan benda pusaka seperti ini di rumahnya, lantas dirinyalah yang diminta untuk menyimpan benda tersebut. Sebenarnya Heri juga sedikit terkejut, ia tidak menyangka seorang ustadz seperti Edwin membawa benda seperti ini. Seingatnya, ustadz Edwin pernah mewanti-wanti untuk menjauhi kemusyrikan, dan keris pernah dijadikan sebagai salah satu contoh di dalam khotbah-khotbah tersebut. Adalah sebuah ironi ketika seorang ustadz justru menyimpan benda yang ia wanti-wanti untuk dijauhi.

“Jadi, gimana, Her? Kamu tidak keberatan, ‘kan?”

Lamunan Heri buyar ketika Edwin bertanya padanya. Namun, ia tidak serta-merta menanggapi permintaan kawan baiknya itu. Diraihnya gelas berisi air di atas meja, kemudian diteguk hingga setengah habis. Sebelum menjawab pertanyaan Edwin, Heri tersenyum.

“Win, sebelumnya terima kasih sudah memercayaiku untuk menyimpan benda ini, tapi … maaf. Aku sudah tidak mengoleksi benda-benda seperti ini lagi. “

“Lho, kenapa, Her?” Edwin kembali khawatir karena rencananya tidak disambut dengan baik. “Aku percaya sekali kalau kamulah orang yang tepat untuk merawat keris ini, Her. Ayolah, hanya merawat. Mau hanya disimpan juga tidak apa-apa. Ini juga sekaligus menambah koleksi barang-barang bersejarahmu, Her.”

Edwin giat sekali demi membuat Heri mau menyanggupi permintaannya, tetapi kawannya tampak tetap pada pendiriannya. Tidak menyerah begitu saja, Edwin membuka lapisan-lapisan kain yang membungkus keris itu hingga tampak benda di dalamnya.

“Lihat, Her. Keris ini sangat artistik dan gagah bila dipajang di museummu. Aku tidak salah memilihmu, dan aku memercayaimu untuk menyimpan benda ini. Jadi, tolong jangan tolak permohonanku ini.”

“Lebih baik cari orang lain saja, Win.”

“Tidak ada yang bisa kupercaya selain kamu, Her. Tolonglah temanmu ini. Istriku tidak akan suka jika aku menyimpan benda ini di rumah.” Edwin memohon dengan sangat. Ia tidak menghiraukan lagi segala penolakan Heri. “Kamu mau kan, Her? Bahkan, kalau kamu menyukainya, tak apalah jika barang ini benar-benar menjadi milikmu. Kamu punya hak penuh pada benda ini. Terserah mau dijual atau diapakan.”

Heri membuang napas panjang. “Betulan tak apa jika aku memiliki hak penuh benda ini?”

Edwin mengangguk cepat. Melihatnya yang begitu bersikeras meminta bantuan, Heri mulai tidak sanggup menolak. Ia pun bersedia menyimpan keris itu di rumahnya walau setengah terpaksa.

“Terima kasih banyak, Her! Aku tidak akan melupakan kebaikanmu.”

Edwin segera berpamitan setelah meneguk habis segelas air mineral. Kini dia bisa pulang ke rumah dengan tenang. Rasanya ada beban berat yang terlepas dari pundak dan batinnya.

 

*

Tinggallah kini Heri bersama sebuah keris yang menjadi koleksi baru barang-barang antiknya. Ia memandangi kembali benda yang ditaruh di atas meja tamu. Saat mengamati, ia tercengang.

“Wah, ternyata ini bukan keris biasa. Ini mahakarya,” ujar Heri pada dirinya sendiri, kemudian tangannya menyentuh dagu. “Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan lagi mengoleksi benda-benda berbau mistik.”

Ya, sebenarnya ada sebuah alasan mengapa Heri, sang kolektor barang antik, berani menolak sebuah mahakarya ini. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengoleksi benda antik dengan aura mistik. Ia takut jika nanti tidak kuat menyimpannya, atau buruknya bakal terjadi apa-apa di keluarganya akibat menyimpan benda sekeramat ini. Sekalipun ia menyanggupi untuk menyimpan keris tersebut di rumahnya, Heri tetap harus putar otak untuk tidak memilikinya terlalu lama. Lagipula Edwin juga memberi lampu hijau ketika ia menanyakan hak kepemilikan secara penuh terhadap keris ini.

Tiba-tiba ia menjentikkan jari. “Aku tahu, kubawa saja ke Toko Kado Rifina. Aku pikir akan ada orang yang butuh kado seperti ini. Kado yang bisa menjadi kejutan untuk orang tersayang!”

Tetapi hari sudah menjelang malam. Toko kado Rifina biasa tutup jam 5 sore. Heri mengurungkan rencananya membawa barang itu ke Toko kado Rifina. Disimpannya keris titipan Edwin di dalam sebuah lemari. Malam ini barang antik itu menginap di museum barang antik milik Heri.

Saat tengah malam pukul dua pagi, tiba-tiba terdengar suara gaduh di dalam lemari. Pintu lemari tempat menyimpan keris seperti digedor-gedor oleh seseorang yang memaksa membukanya dari dalam. Suaranya nyaring dan menggema. Heri dan istrinya sontak terjaga dari tidurnya. Kengerian langsung menyelimuti mereka.

“Mas, itu suara apa?” Istri Heri berbisik lirih. Ia memeluk Heri sambil menahan takut. Tidak biasanya ia mendengar suara aneh ini, seperti ada maling yang mau memasuki rumah.

“Sstt…! Tenang, Ma. Aku akan coba lihat di ruang museum. Rasanya suara itu berasal dari sana.“

Perlahan Heri keluar dari kamar, lalu berjingkat penuh waspada menuju ruangan museum. Sang istri mengekor di belakang. Seiring langkah Heri yang mendekati ruangan tersebut, entah mengapa suaranya perlahan mereda. Lalu, tepat ketika ia menginjakkan kaki di ruang museum dan matanya tertumbuk pada sebuah lemari kayu, suaranya menghilang seketika. Heri menelan ludah. Seingatnya, di lemari itulah ia menaruh keris titipan Edwin tadi sore.

Dia melihat ke sekeliling, dan hanya ada dirinya bersama sang istri. Tidak ada manusia lain selain mereka. Mendadak bulu kuduknya berdiri.

Aku yakin sekali suara tadi berasal dari lemari itu, dan jelas bukan ulah manusia, kata Heri dalam hati. Sudah kuduga, keris itu berbahaya.

Kini makin bulat tekadnya untuk menjauhkan keris itu dari rumahnya. Kejadian saat dini hari itu seperti isyarat bahwa benda itu memiliki kekuatan gaib, dan kekuatan itu tidak senang tinggal di tempat barunya. Heri ingin sekali membuangnya jauh-jauh, tetapi dia juga tidak ingin terkena karma. Ia kembali teringat idenya kemarin. Lantas Heri bergegas membawanya ke Toko kado Rifina. Tidak ada kata nanti. Hari ini juga, barang itu harus sudah tidak ada di rumahnya.

Pagi itu juga, tepat ketika toko baru buka, Heri berangkat ke Toko Kado Rifina. Toko kado ini bukan toko biasa. Ia terkenal lengkap barang-barangnya. Ibarat kata mau mencari kado meriam pun toko itu sanggup menyediakannya. Tanpa halangan berarti, Heri berhasil menjual barang yang telah membuatnya khawatir dan was-was itu. Agar pemilik toko tidak curiga, Heri menjual keris itu untuk menunjukkan bahwa itu benda normal. Rifina, sang pemilik toko, meneliti benda tersebut dengan seksama.

“Ini sungguhan ingin dijual, Pak Her?”

“Iya, Rifi,” jawab Heri cepat.

“Harga dari Pak Heri kayaknya kemurahan, deh. Ini ukirannya istimewa.”

Heri memasang cengiran kuda, berusaha menyembunyikan grogi. “Mau beli benda antik lain, jadi yang lama dijual biar uangnya cukup.”

Perempuan itu bergumam sambil menatapnya curiga. Heri menelan ludah, berharap tidak ditanya-tanya lagi. Untung saja doanya terkabul, alasan yang terakhir ternyata dapat meyakinkan si pemilik toko. Karena keris itu sudah berpindah tangan, senyum Heri mengembang sepanjang perjalanan pulang. Saking traumanya dengan kejadian semalam, uang hasil penjualan keris tidak berani ia pakai. Alih-alih, ia bagi-bagikan kepada banyak orang, seperti para tukang becak, tukang gali gorong-gorong yang sedang mengerjakan proyek di pinggir jalan, dan para pengemis yang ia temui di dekat pasar. Heri pulang dengan perasaan lega, seolah ada gendongan sebesar tempayan di punggungnya yang baru saja terlepas.

 

*

 

Ting tong!

Di suatu malam, dua hari setelah keris peninggalan Raden Mas Iqbal Hadiwijaya berpindah dari tangan ke tangan, suara bel rumah Edwin berbunyi.

“Assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikumsalaam. Ya, siapa?” sahut Edwin sambil membuka pintu.

“Iki Paklik, Win.” Pria yang sebagian rambutnya telah habis itu balas menyahut sambil tersenyum lebar. Paklik atau paman Edwin ini adik dari mendiang bapak, namanya Sunarno. Di tangan kanannya ia membawa sebuah kantung plastik hitam besar.

Lhooo, Lik Sunarno. Janur gunung, kok kadingaren berkunjung malam-malam begini? Kukira siapa. Masuk, Lik!” seru Edwin dengan semringah. Wajahnya berseri-seri. Saat sedang melepas sandal, istri Edwin ikut menunjukkan batang hidungnya.

Monggo, Paklik,” sapanya dengan senyuman ramah. Kedua anaknya yang tadinya bersiap tidur pun lupa pada tujuan awalnya. Mereka kembali menghambur ke ruang tamu, bergantian menyalami si mbah.

Dulu, Paklik Sunarno kerap bertamu ke rumah keponakannya ini, tetapi belakangan mulai jarang berkunjung. Di suatu malam yang hampir larut ini paklik Sunarno justru sekonyong-konyong datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Tapi pastilah ia membawa kabar baik, salah satunya terlihat dari bungkusan plastik besar yang dibawa olehnya.

“Ada apa, Lik? Ada sesuatukah?”

“Ah, ndak ada apa-apa. Cuma ingin berkunjung, kan sudah lama ndak main.”

Edwin manggut-manggut.

“Oh iya, ada yang ingin kusampaikan padamu juga, Win.”

“Ada berita apa nih, Lik? Apa Lik Sunarno mau mantu jeng Gendis Pambayun?” tebak Edwin sekenanya.

“Ah, ndak, Win. Ini, aku mau menyampaikan kabar gembira buat kamu. Ada bingkisan kecil.” Paklik menyodorkan bungkusan plastik besar yang dibawanya tadi. Edwin meraihnya.

Walah, kok repot-repot, Lik.”

“Hahaha, ndak kok. Tadi kan ndak bawa oleh-oleh, ternyata di dekat sini ada toko kado lengkap, Paklik iseng mampir. Waktu kulihat-lihat barang di sana, kok ada barang yang pernah dipunyai bapakmu.”

“Maksudnya, Lik? Barang apa?”

“Keris, Win.”

Mendengar nama benda itu, darah Edwin langsung berdesir. Aku tidak salah dengar, kan?

“Sebenarnya itu rahasia, ndak ada yang dikasih lihat, tapi aku pernah diam-diam mengintip, hahaha,” ujar Paklik, membongkar kenakalannya dahulu.

“Oalah… hahaha.” Edwin mengangguk pelan sekali, nyaris tidak terlihat. Pikirannya sedang tidak fokus.

“Tapi, yang aku ndak ngerti, kenapa barang itu bisa ada di sana. Apa mungkin dicuri orang terus dijual sekenanya?” tanya Paklik Sunarno, ia tidak sadar jika raut wajah Edwin mulai berubah. Bahkan, keponakannya itu buru-buru membuka bungkusan plastik tersebut untuk meyakinkan dirinya. Namun, Paklik salah mengartikan sikap Edwin sebagai keantusiasan.

Seneng to, Win? Hehe. Untung saja paklik-mu ini sempat menemukannya. Akhirnya tak beli saja untuk menyelamatkannya. Barang itu harus dikembalikan ke keluarga bapakmu, Win. Ya, ke siapa lagi kalau bukan ke kamu? Karena kamu anak laki-laki satu-satunya.” Senyum Paklik mengembang, kontras dengan senyum Edwin yang meredup. “Jadi, aku serahkan barang ini padamu. Kamu harus merawatnya baik-baik, Win. Jangan sampai jatuh ke tangan orang lain lagi. Ingat, peninggalan ini tak ternilai harganya. Jangan sampai kamu menjualnya.”

“Ha, hahaha…. Nggih, Lik. Matur suwun…. ” Edwin tersenyum kaku. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Pertama, dari keberadaan keris ini yang tidak pernah dia harapkan untuk kembali lagi. Kedua, dari pandangan curiga istrinya yang jelas tidak menyukai adanya benda seperti itu di dalam rumah mereka.

Apa maksudnya ini, Mas? Keris? Coba jelaskan?―kurang lebih begitulah arti dari sorot mata menyeramkan yang sempat dilemparkan oleh istri tercintanya.

Sabar, nanti aku jelaskan…, Edwin membalas tatapan itu dengan tatapan kode lainnya.

Setelah tidak berapa lama, Paklik Sunarno pamit pulang. Anak-anak Edwin sudah tidur duluan.

“Sudah makin larut, aku pamit dulu ya, Win. Salam buat anak-anakmu.”

“Iya, Lik. Nanti disampaikan.”

“Kerisnya jangan lupa dijaga ya, Win. Peninggalan bapakmu itu.” Paklik melambaikan tangannya. “Pamit yo, Assalamu’alaikum.”

Edwin mengangguk pelan. “Nggih, Lik. Wa’alaikumsalam….

Selepas kepergian paklik-nya yang pergi dengan ojek pangkalan tak jauh dari sana, kegelisahan Edwin semakin membuncah. Ia masuk kembali ke dalam rumah bersama istrinya. Ditatapnya benda yang paling tidak ingin dia lihat itu di tengah ruang tamu mereka.

“Kenapa barang ini datang lagi…?” tanya Edwin pada dirinya sendiri dengan suara lirih. Ia berusaha menyembunyikan kekesalan dan kegelisahannya di depan Paklik Sunarno. Rasa pusing kembali menggelayuti pikirannya setelah Paklik-nya pamit pulang.

Saat sedang dalam pikirannya, istrinya tiba-tiba menghampiri seraya menyodorkan kertas yang terlipat ke hadapannya. “Aku nemu ini di atas meja makan tadi siang. Aku buka karena takutnya penting, dan ada nama bapak.”

Melihat kertas terlipat itu, Edwin langsung teringat. Itu adalah surat dari almarhum bapaknya yang kemarin siang diberikan oleh Simbok. Waktu itu ia belum sempat membukanya. Kini rasa penasaran itu semakin membuncah, lalu dengan perasaan campur aduk dibukanya surat itu.

Senen Kliwon, 4 Dulkaidah 1949

Edwin, anakku,

Jika kelak aku sudah tiada, Bapak titipkan keris ini untuk kaurawat baik-baik. Hanya kau yang kupercaya untuk menyimpannya. Dia akan tetap kembali padamu meskipun semua orang berusaha menjauhkannya darimu. Jangan kecewakan Bapakmu ya, Nak.

Bapakmu,

Raden Mas Iqbal Hadiwijaya

 

***

Keterangan:
– simbok = panggilan ibu
– kadingaren = kok tumben
– janur gunung = sebuah kata kiasan / wangsalan yang berarti aren -> kadingaren
– le .. ( tole ) = panggilan untuk anak lelaki
– ngene = begini
– dituturi = dinasihati
– semringah = riang gembira
– kanuragan = ilmu beladiri

 

Cerita pendek ini adalah hasil keroyokan dan imajinasi oleh tim Bengawan yang terdiri dari  Edwin, Fiska, masHP, Iqbal, Rifina . Usai mendapat wangsit saat mereka napak tilas di pertapaan Sunan Kalijaga, tepatnya di pinggiran sungai Bengawan Solo maka lahirlah ide cerita ini. Cerita dengan setting di tanah Jawa yang masih hidup dengan tradisi bernuansa mistik. 

Ini sebenarnya cerita tentang pertentangan cara pandang generasi milenial dengan cara pandang budaya Jawa yang penuh simbol dan filosofis. Edwin mewakili generasi milenial yang kuat dengan doktrinasi keyakinan atau pemahaman, berhadapan dengan feodalisme Jawa yang memandang keris sebagai sebuah ageman, busana, status atau simbol pencapaian perjalanan hidup. 

Terima kasih sudah berkenan membaca cerpen ini.

17 thoughts on “KERIS

    1. Kalau kisah cintanya di masa lalu dikupas, barangkali mirip kisah Pangeran Harry dan Meghan Markle. Dan bila itu dilakukan, mungkin cerpen ini akan berubah menjadi Novelet . 😀

      Like

Comments are closed.