Sebelum Terlepas

“Ini maksudnya apa?” Perempuan dengan rambut sebahu yang sudah menunggu sekitar tiga puluh menit di taman sore ini, mengeluarkan suara setelah menerima map hijau dari seorang laki-laki yang baru saja datang.

Dengan mukanya yang merah padam, dia membuka map tersebut dan membacanya beulang. “Bisa-bisanya kamu memberikan aku surat seperti ini setelah tiga tahun pernikahan kita, Beni.”

“Aku tidak pernah merasa bahagaia bersamamu, Arila. Aku tidak pernah merasa bahwa pernikahan ini sungguh-sungguh aku jalani,” ucap laki-laki itu sembari mengambil duduk di samping Arila.

“Arila, bukankah aku pernah berkata kepadamu bahwa setelah kedua orang tuamu meninggal, kita tidak lagi bisa bersama? Pernikahan ini hanya orang tua kita yang ingin, bukan aku atau kamu. Aku tidak pernah menyentuhmu selama itu dan aku tidak pernah berniat untuk melakukannya karena dalam hati tidak pernah ada perasaan apa-apa kepadamu.” Dengan tatapannya yang lurus ke taman, Beni terus menjelaskan keinginannya untuk bercerai meski Arila sedari tadi tidak bisa menahan air matanya.

“Jadi kamu memintaku untuk datang ke sini, sekarang. Seteleh dua minggu kamu tidak pulang hanya untuk ini, Ben? Bodohnya aku, kenapa aku sudah membayangkan hal-hal manis lain, jika tau begini aku tidak sudi untuk hadir. Jangankan datang, menemui dan membalas pesanmu saja tidak sudi aku lakukan.” Arila terus menangis, dia benar-benar tidak menyangka jika pernikahan ini hanya berakhir dengan hal yang tidak dia inginkan.

“Arilaa-“

“Kita pulang dulu, bicarakan ini di rumah. Aku janji akan memenuhi permintaanmu setelah kita sampai rumah dan kamu mendengar penjelasanku,” ucap Arila pelan sembari mencoba menggandeng tangan Beni.

“Aku tidak mau, aku mau kamu menandatangani surat itu dan setelah itu aku tidak akan mengganggumu kembali.” Beni tetap tidak bergeming meski Arila sudah berdiri dan mencoba membujuknya.

“Ben, aku mohon. Sekali ini saja.”

“Apa kamu tidak dengar kalau aku tidak sudi datang ke rumah itu lagi?!” Dengan raut muka yang merah padam menahan gejolak panas dari dalam dirinya Beni membentak Arila yang saat itu kembali duduk.

“Tapi kita bisa membicarakannya baik-baik di rumah, Beni. Tidak perlu dengan seperti ini.” Arila kembali menangis dan map yang dipangkuannya basah.

“Berikan map itu kepadaku, Arila!”

“Apa yang kamu mau? Map?” ucap Arila sedikit keras sembari menunjukkan map yang ada di tangan kanannya. Dengan hitungan detik tanpa bisa Beni merebut, map itu sudah terbelah menjadi empat.

“Arilaa, brengsek!” bentaknya kasar.

“Bawa pulang ini, map hijau kamu. Dan jangan temui aku jika hanya untuk ini.” Arila lalu menyerahkan sobekan surat cerai lengkap dengan mapnya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Beni yang masih duduk terpaku. 

– perempuan aksara.

https://pin.it/5niHkl2
Advertisement

5 thoughts on “Sebelum Terlepas

  1. Oalah ini cerita di balik Arila yang menangis di dalam mobil saat perjalanan pulang.

    Btw, di cerita selanjutnya kok bisa Beni balik ke rumah Arila lagi?? hehe. Seperntinya menarik nih ceritanya . hehe

    Like

Comments are closed.