Les Préjugés

Source: https://www.dalloyau.fr/

Minette melihat Ella mengayunkan punggung pisau. Prakkk! Seketika bawang putih itu remuk. Dagingnya koyak, keluar dari kulitnya yang robek tidak beraturan. Prakkk! Prakkk! Tiga siung bawang putih sukses dihancurkan Ella. Tidak puas dengan kehancuran bawang putih, Ella mencincangnya sampai menjadi potongan-potongan tak berbentuk. Berikutnya perempuan itu membanting seonggok daging dan menyambar pisau besar. Gawat!! batin Minette.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh malam. Biasanya Leon sudah ada di apartemen mereka menikmati makan malam bersama. Tapi sekarang cuma ada Minette dan Ella serta semangkuk besar ratatouille, sepiring confit daging bebek, dan sekeranjang baquette di atas meja. Tidak ada kabar dari Leon. Telepon genggamnya tidak menyahut waktu dipanggil. Makanya Ella cemberut dan mengotori dapur lagi. Kini giliran daging yang akan disiksanya.

Buru-buru Minette menghampiri Ella. Ia mengelus perempuan itu dengan tangan kecilnya. Maksudnya ingin menyabarkan. Tapi Ella malah menghardiknya, “Stop it! Go away!

Minette mundur teratur. Tingkahnya membuat Ella mendapat alasan untuk ngomel, “Kemana sih, Leon???! Katanya minta dibuatkan daging bebek. Sudah dibuatkan malah gak pulang-pulang. Telepon gak diangkat!” Ella menghujamkan pisau dengan deras. Tak. Tak. Tak. Daging sapi terpotong tanpa sempat mengerang. Minette merasa tubuhnya ngilu.

Tiba-tiba ayunan pisau Ella berhenti. Jangan-jangan bis Leon kecelakaan? Atau dia terjebak demo? Sudah satu minggu ini Serikat Buruh demonstrasi. Buruh Perancis memang gila. Sebentar-sebentar demonstrasi. Ada-ada saja tuntutannya.

Kemudian pikiran lain berkelebat. Jangan-jangan Leon mulai selingkuh. Awas saja! Setelah lima tahun bersama, jangan anggap aku bisa kau campakkan. Kakek buyutku berjuang keras pindah ke negeri asing ini bukan tanpa alasan. Supaya kami, anak cucunya, dapat hidup dengan terhormat. Hati Ella panas memikirkan Leon dengan perempuan lain. Aku tidak rela. Tidak akan kubiarkan. Apalagi dengan kondisiku sekarang … Lamunan Ella terputus oleh suara pintu terbuka.

Minette berdiri di depan pintu menyambut tuannya. Ia telah mendengar langkah-langkah kaki di koridor selagi Ella sibuk berprasangka. Suara lembut Leon menyapa, “Halo, Minette.” Minette membalas dengan “miaou” yang serupa dengkuran. Ekornya mengibas ke kanan kiri penuh semangat.

Ella muncul dengan wajah ditekuk. “Kenapa kau tidak angkat teleponku?”

Leon tersenyum lebar melihat Ella cemberut. Ia mengangkat kantung tas cantik yang dibawanya. Tertulis DALLOYAU, toko kue yang resep macaronnya berumur 300 tahun. Belum juga Ella berkomentar, Leon merengkuhnya erat.

“Félicitations, mon amour. Comment va le bébé?”

Ella tertegun. Darimana Leon tahu ia hamil? Dia sendiri baru yakin pagi tadi setelah mengecek dengan maternity kit. Lima tahun mereka menunggu hari istimewa ini. Leon membawakan macaron favoritnya, dia malah berprasangka. Air mata Ella tumpah.

“Je suis navréé, chéri” Sesal Ella. “Je t’aime.”

Keterangan:

Félicitations, mon amour = Congratulation, my love

Comment va le bébé? = How’s our baby?

Je suis navréé, chéri = I’m very sorry, darling

Je t’aims = I love you

11 thoughts on “Les Préjugés

  1. Selain Japang, ternyata Bu Dian suka Eropa ya

    koreksi:
    1. Kemana (Ke mana)
    2. Darimana (Dari mana)
    3. menghujamkan pisau dengan deras (apakah diksi ‘deras’ cocok dengan pisau?)
    4. Untuk keterangan sebaiknya diberikan numbered list. Beri jeda antara akhir cerita dengan keterangan

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s