L’ Execution à la Notre-Dame

Source: farandwide.com

Aku menyusuri gang kecil yang menghubungkan Rue du Figuier dan Rue des Nonnains. Kutempelkan tubuh serapat mungkin ke dinding menghindari cahaya dari lampu jalanan. Gerimis yang turun membuat orang enggan keluar rumah. Baguslah, pikirku. Aku tak ingin bertemu dengan wajah-wajah penuh tanda tanya melihat darah yang membeku di tanganku.

Aku sudah membunuh orang itu di pojokan Taman Square Marie. Salahnya sendiri menguntit sejak turun dari Metro subway. Huhh, aku mendengus. Kali ini akan kuhabisi siapa saja yang menghalangiku menemui dia, penghancur kehidupanku. Satu orang sudah lenyap, tapi akan ada yang lain. Policier punya banyak kaki tangan yang bekerja secara undercover. Dulu aku salah satunya.

Katedral Notre-Dame tampak menjulang di seberang sana. Tinggal sedikit lagi aku sampai di tempat yang dijanjikan Sang Informan. Jembatan Pont Marie membentang di atas Sungai Seine. Sepanjang sungai berjajar kafe dan toko-toko kue memancarkan cinta dan kehangatan yang direnggut paksa dari hidupku. Enam bulan aku menjadi buronan polisi atas tuduhan kejahatan yang tidak pernah aku lakukan: menggelapkan sejumlah besar uang yang menjadi barang bukti transaksi sindikat narkoba. Enam bulan aku obrak-abrik Paris mencari orang yang memfitnahku. Pengkhianat itu ada di dalam korps. Sang Informan juga yakin soal ini. Dia yang memberi petunjuk bahwa malam ini aku bisa membuat perhitungan dengan pengkhianat busuk itu.

Menyeberangi Jembatan Pont Marie, sepasang muda-mudi berjalan dari arah Notre-Dame. Sedetik aku ragu dan ingin berbalik. Tapi itu akan tampak mencurigakan, walaupun sepertinya pasangan itu tak akan peduli. Di bawah payung, mereka bertengkar dengan suara pelan. Aku menaikkan kerah mantel, membenamkan topi rapat-rapat, dan terus berjalan perlahan. Lalu terdengar langkah kaki di belakangku. Langkah kaki bergegas, semakin lama semakin dekat.

Aku menepi dan bersandar di tembok jembatan. Berpura-pura merokok. Tanganku bersiap di balik mantel, menepuk belati kecil yang setia menemani selama enam bulan ini. Belati ini khusus kupesan, kata Sang Informan. Bentuknya tipis, agak feminin, tapi sangat tajam. Aku menerima belati itu dengan senang hati. Sejak pertama buron, hanya Sang Informan yang percaya aku tidak bersalah.

Laki-laki di belakangku berjalan lewat. Wajahnya tersembunyi di keremangan malam yang masih dibasahi gerimis hujan. Baru saja aku menarik nafas lega, terdengar jeritan dari pasangan muda-mudi tadi. Perhatianku teralih. Alas!! Laki-laki asing itu berbalik menyerang. Sedetik kemudian kurasakan nyeri di ulu hati. Darah mengalir. Aku tersungkur.

Suara langkah kaki mendekat. Aku tak bisa mengangkat kepala.

Inspecteur?” suara laki-laki dengan nada bertanya. Penyerangku.

Se débarrasser de lui” suara dingin seorang wanita. Aku merasa ada tangan merogoh mantel dan mengambil belati di sana. Hanya dia yang tahu belati itu. Informanku.

Malam ini, Notre-Dame menjadi saksi pengkhianatanmu.

Keterangan:

L’ Execution à la Notre-Dame = Execution at Notre-Dame

Rue du/des = Street

Se débarrasser de lui = Get rid of him

7 thoughts on “L’ Execution à la Notre-Dame

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s