Pergi

Hari itu, Okta mengajakku ke suatu tempat untuk mengajar anak-anak jalanan. Ketika melihat Okta anak-anak itu mulai berlarian menyalami Okta juga aku.

“Kenalin ini namanya kakak malu.” Aku menyikut lengannya, Okta mengenalkanku pada adik-adik yang terlihat antusias melihat kedatanganku. Hari itu aku benar-benar keluar dari zona nyaman, berusaha tak terlihat malu karena tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang-orang luar selain Okta.

“Hari ini tak ada buku dan beberapa minggu ke depan.” Katanya memulai pembicaraan.

“Terus?” Jawabku.

“Setiap hari kamis kita akan ke sini dan kalau kamu masih tetap malu, tak ada lagi buku, kecuali kamu berhasil membuat adik-adik nyaman denganmu, maka akan ada hadiah buku lagi.”

“Memaksa.” Kataku ketus, dia hanya tersenyum dan kutahu berhasil atau tidak buku akan tetap menjadi hadiah yang selalu dia berikan. Dia memang seperti itu, toh itu juga demi kebaikanku.

Lagi-lagi hanya lamunan tentang kegiatan kami sekitar tiga tahun yang lalu pertama kali dia mengajakku bertemu anak-anak jalanan membuatnya terasa masih pada di mensi yang sama denganku. Aku kembali menatap susunan buku yang hanya di temani desauan kipas angin.

Sebulan yang lalu Okta telah tiada dan tetap ketika Okta pergi dia kembali memberiku satu buku. Aku menata rapi buku itu di rak yang sebentar lagi penuh dengan buku pemberiannya. Selama enam tahun mengenalnya aku coba menerka-nerka kenapa pada tahun ketiga akrab dengan Okta, dia selalu memberi buku terkadang juga memberiku tango rasa vanila kesukaanku. Sebulan yang lalu dia memberiku jawaban bahwa kepergiannya akan membuatku terkurung kembali di dunia gelap tak ada yang mengajakku keluar dan aku tetap bersamanya lewat buku-buku yang berjajar rapi di rak itu dan akan kubaca setiap hari.

Aku menatap buku-buku itu dan aku berharap Okta juga menatapku di kejauhan sana. Aku memeluk satu buku pemberiannya sebelum dia pergi, berharap dia juga memelukku. Setiap aku tertidur dengan bacaan-bacaanku, aku berharap Okta ada di sampingku.

“Terima kasih untuk enam tahun yang penuh kejutan Okta, semoga kau tenang di sana.”

Bagaimana seru gak? Maafkan tulisanku yang masih abal-abal, tulisan ini menggunakan gaya tulisan explisit dan sudut pandang orang pertama tunggal.

One thought on “Pergi

Comments are closed.