WKWK 1 – Latihan Menulis

Aku baru sampai di Warung Kopi Wak Kecik. Kami biasa menyebutnya WKWK. Karena selain sebagai tempat berbagai cerita dan ilmu, kami, Para Pengikat Kata pun seringnya bercanda dan tertawa. Bukan lagi tertawa hahaha atau hihihi tapi wkwkwkwkwk, mirip netizen mahabenar di Indonesia.

Wak Kecik menghampiri dan manawariku kopi. Aku memesan Latte karena tidak terlalu suka pahit. Aku belum sekuat MasHP atau Andy yang suka Espresso.

“Yang lain belum datang, Wak?”

“Baru ada Nunu sama Edwin.”

Kulihat meja di sebelah timur, tempat biasa kami nongkrong. Nunu sedang asyik ngobrol dengan Edwin. Aku duduk di sebelah Nunu.

“Lagi ngobrolin apa sih? Seru kayaknya.”

“Mang Nunu lagi PDKT sama seseorang.” jawab Edwin

Nunu malah cuek. Dia lalu asyik sendiri chatting dengan seorang perempuan berawalan huruf F dan berakhiran huruf A. Kata Edwin, huruf tengahnya itu S.

Aku beralih tempat duduk ke sebelah Edwin saat Wak Kecik datang mengantarkan pesanan.

“Kang, ajarin dong apa saja sih yang diperlukan dalam menulis? Riset dulukah, mengedit dulukah atau apa lagi ya, hehe.”

Aku mengisap aroma khas dari Latte lalu menyeruput pelan. Kusimpan cangkir di atas meja. Nunu masih tak peduli.

“Edwin sedang bingung mau nulis apa?”

“Iya masih bingung hehe.”

“Ok. Caranya bisa disimpulkan nanti ya. Coba jawab pertanyaan ini.”

Belum sempat aku meneruskan ucapan, Nunu tiba-tiba memotong, “Biasanya kosakata selalu muncul di saat pikiran sedang resah.” Lalu dia kembali asyik dan tenggelam dalam aktivitasnya, gombalin cewek.

Ingin kujitak saja dia. Tapi tenang. Yang waras, ngalah.

“Menulis yang paling mudah itu adalah menuliskan apa yang sedang kamu pikirkan. Hal terakhir apa yang sudah kamu baca, tonton, lihat atau dengar hari ini, Edwin?”

Dia tampak berpikir. Tangannya menggaruk-garuk kepala yang kurasa tidak gatal sama sekali.

“Lagi baca tazkiyatun nafs, baca novel Ardan dan Adelia, dan tadi nonton Istri Paruh Waktu. Hehe.”

Aku angguk-angguk manja seperti mainan di dashboard mobil.

“Dari ketiga hal ini, mana yang paling membuat Edwin tertarik?”

“Tazkiyatun nafs, Kang.”

“Tazkiyatun Nafs atau pembersihan diri ya. Dari buku itu, bab mana yang membuat Edwin merenung paling lama?”

Dia menggaruk pipinya kali ini.

“Bab tentang keikhlasan, Kang.”

Nunu menyimpan handphone di atas meja. Mengambil cangkirku dan menyeruput paksa Latte yang baru kuisap seperdelapannya.

“Udah tahu konsepnya, Win?”

Dia meneguk lagi isi cangkirku hingga habis.

“Nu, itu punyaku.”

Dia melihat cangkirnya.

“Waduh, aku salah cangkir, Kang.”

Lalu dia berdiri dan setengah berlari ke tempat barista. Dan kembali lagi.

“Beres, Kang.”

“Apanya?” tanyaku heran.

“Aku dah pesan lagi yang baru. Dua.” Jawab Nunu sambil mengacungkan dua jari.

“Satu lagi untuk siapa?”

“Ada deh. Entar juga tahu,”

Nunu mengambil lagi handphone. Sekilas kuintip chat dia dengan si nona misterius itu. Dari percakapannya kulihat nona itu menyebutnya Nunu Cute.

Daripada pening memikirkan tingkah Nunu, aku sebaiknya kembali fokus pada Edwin. Edwin pun dari tadi cengar-cengir saja.

“Ok, Win. Pasti banyak hal yang ingin kamu tanyakan atau ketahui tentang keikhlasan itu. Ini bisa menjadi bahan tulisanmu. Coba lakukan langkah mudah dengan menjawab pertanyaan ini  :

    1. Menurutku *APA* sih arti ikhlas itu?
    2. *KENAPA* seseorang mesti ikhlas?
    3. *SIAPA* yang harus belajar ikhlas?
    4. *DI MANA* aku bisa belajar ikhlas?
    5. *KAPAN* seseorang harus ikhlas?
    6. *BAGAIMANA* cara agar bisa ikhlas?”

“Minimal tahu dulu, ngerjainnya bisa sambil jalan, saya juga belum bisa jika melihat konsep itu, “ tambah Nunu, masih sambil memegangi handphone.

“Itu metode sederhana dengan menjawab 5W+1H. Coba tuliskan jawabanmu dalam sebuah pos. Salah satu cara memancing ide menulis ada dengan bertanya. Kenapa aku harus nulis tentang hal ini ya? Daripada semuanya terendap dalam pikiran lebih baik luapkan dalam tulisan, Win.”

“Iya ini Kang lagi nyoba mengukir kata. Hehe,” balas Edwin.

Wak Kecik datang mengantarkan pesanan Nunu tadi. Aku segera mengamankan cangkir berisi Latte. Lalu kuberikan jawaban pamungkas untuk Edwin.

“Riset bisa dilakukan jika memang diperlukan. Untuk masalah sunting atau edit tulisan dilakukan setelah semua isi tulisan selesai ditulis. Jangan menulis sekaligus menyunting. Tulis saja apapun kata yang keluar dari pikiranmu. Setelah selesai baru lakukan sunting. Baca 2 kali isi tulisan. Pastikan semua isi tulisan sudah benar.  Intinya, tuliskah dulu hal-hal yang paling dekat dari dirimu. Jika sudah berlatih itu, maka nanti Edwin bisa menulis hal yang lebih luas dan berat. Tentu tips and trik setiap orang berbeda satu sama lain dalam usahanya untuk bisa menulis. Satu metode bisa cocok atau tidak. Kamu pun bisa menemukan caranya nanti. Yang utama adalah latihan menulis itu.”

Edwin paham. Aku lega. Nunu kaget. Seorang perempuan tiba-tiba datang menghampiri kami.

###

Temukan keseruan obrolan Para Pengikat Kata di WKWK.

13 thoughts on “WKWK 1 – Latihan Menulis

  1. Wkwkw Wak Kecik yang bermanfaat. Sambil ngobrol santai, ngomongin soal nulis.

    Btw, semalem aku sempet browsing wawancara Dewi Lestari di NET TV. Rekaman lama sih, saat menjelang terbitnya serial supernova – gelombang.

    Tips Dewi kalau mau jadi penulis. Menulislah mulai sekarang juga. Tulis apa yang kamu tahu dulu, baru apa yang kamu ingin tahu, lalu kamu juga bisa menulis yang kamu tidak tahu ( utk yg terakhir kamu perlu riset ). Dan, belajar menulis menurut Dee tidak akan pernah ada kata selesai. Terus belajar.

    #JustShare 😀

    Liked by 1 person

Comments are closed.