Mengulang Kembali

“Jo, ini betulan kamu? Tanyaku saat mendapati seseorang berdiri di depanku.

Malam ini kami sedang reunian di kafe Hijau-tosca. Banyak dari temanku yang berubah. Mulai dari fisik, penampilan, cara bicara, dan bahkan sudut pandang tentang suatu hal. Tidak heran, kami memang jarang berjumpa karena pekerjaan kami. Tidak kemungkinan kami akan terus bersama bukan. Ada kalanya kami berpisah dan bertemu kembali, untuk hanya sekadar tanya kabar dan berbagi pengalaman.

Dia akrab dipanggil Jo. Dulu ketika masih sekolah, Jo suka dengan sepak bola. Walaupun tidak terlalu tinggi, tetapi bisa dibilang dia adalah jagoan kelas. Wajahnya yang mulus, kulit kuning langsat, hidung mancung, dan yang pasti dia ganteng, dan masuk ke dalam daftar cowok incaran.

Jo adalah tipe cowok cuek dan dingin. Namun jangan salah, dia baik sebenarnya pun jahil tentunya. Dan hari ini, masya Allah sekali. Dia datang dengan sweater dan celana jeans. Bahkan dia lebih tinggi sekarang, terlihat gagah. Dia menyapa dan duduk di sebelahku. Bertanya kabar dan masih banyak lagi. Lima menit kemudian, datanglah Yuni.

“Yun!” Sapa Jo sambil melambaikan tangan. Yuni pun duduk di sebelah Jo dan menggamparnya sebab Jo lebih dulu datang. Mereka memang seperti itu, tidak pernah mau akur.

Yuni ini cewek tomboi yang kemudian berubah menjadi gadis anggun nan lembut. Ketika kecil Yuni suka bermain kelereng atau bermain kartu bersama kami berempat–aku, Jo, Kifli, dan Ivan. Dari cara berjalan serta penampilannya sungguh cowok sekali. Namun, Yuni memiliki rambut panjang lurus yang sangat bagus. Bahkan Yuni jago memasak loh. Dia sama jahilnya seperti Jo, tetapi dia banyak tingkah, cerewet pula.

Setelah sekian tahun berlalu, dia mulai terlihat lebih cantik daripada sebelumnya. Mungkin karena dia punya pacar. Jadi dia merawat dirinya menjadi gadis sejati. Satu hal yang tidak berubah dari Yuni, dia masih jerawatan.

“Berangkat sama siapa?” Tanya Jo kemudian. Yuni menunjuk seseorang. Lelaki itu berjalan mendekati kami, mengangkat tangan ke arahku. Alisku bertautan satu sama lain, aku tidak mengenalinya. Aku pun akhirnya menerima uluran tangannya. Setelah dia menyebutkan nama, aku berdiri dan tersenyum. Ternyata Kifli.

“Masih suka memalak es, mang?” Godaku padanya, dia tertawa. Aku, Jo, dan Yuni memeluknya.

Hobinya memalak es, apa pun itu yang penting bisa menghilangkan dahaga, katanya. Kifli ini murid terbandel sepanjang sejarah. Dia tidak mau diatur, baju sekolah berantakan, rambut acak-acakan, pacarnya banyak. Namun di sisi lain dia seseorang yang penuh tanggung jawab. O iya walaupun seperti itu, Kifli bisa cengeng ketika sakit dan begitu kasar saat sembuh. Dan dia juga termasuk jagoan kelas.

Sekarang lihatlah penampilannya, walaupun tak dipungkiri wajah sangarnya tidak pernah hilang. Hanya saja dia terlihat lebih rapi, tentu karena dia sudah menikah tahun lalu. Dia menggunakan kemeja polos yang dibalut sweater serta celana bahan.

“Tidak akan bisa dia seperti itu. Sudah menjadi ayah sekarang.” Ejek Yuni yang dulunya menjadi incaran Kifli perihal es.

“Permisi-permisi, mas Ivan ganteng mau lewat. Tega banget, mas Ivan enggak diajak berpelukan.”

Ivan. Satu-satunya cowok alay di kelas kami. Ivan dekat dengan Jo, mereka sudah seperti sepasang kekasih yang tidak mau LDR-an, semasa sekolah. Ivan jago menggambar, dia suka anime, dan dia penggemar Naruto.

Sifat Ivan adalah kebalikannya Jo. Dia lebih manis ketika bertutur kata. Sikapnya akan sama saja kepada semua orang. Dan dia suka menggombali para gadis. Siapa yang tidak terpikat dengannya, dia manis dan humoris tidak membosankan dan banyak omong. Jika kalian ingin tahu, dia pun masuk dalam daftar incaran.

Datangnya Ivan membuat acara reunian ini semakin ramai dan sesekali gaduh. Ya siapa lagi biang keroknya kalau bukan Jo dan Yuni. Dan Ivan adalah kompor sejati. Aku dan Kifli hanya diam dan menikmati pertunjukan itu. Kini tinggal menunggu tiga lagi yang belum muncul.

“Nah itu Anto,” celetuk Ivan yang duduk di sebelah Kifli. Yang lainnya langsung menghadap ke arah yang dituju. Benar itu Anto, dia sama saja.

Perawakan Anto ini bisa dibilang seperti Dwayne Johnson: tinggi, besar, dan berotot, tetapi Anto lebih suka memanjangkan rambutnya dan kulit Anto pun kuning langsat seperti Jo. Di antara kami semua, Anto yang paling dewasa. Ya, umur kami memang tidak jauh beda, mungkin hanya selisih beberapa bulan saja. Namun, dia selalu jadi penengah ketika kami membuat keributan. Sikapnya yang tegas malah membuat kami segan kepadanya.

“Halo kang bro, apa kabar?” Sapa Jo,

“Ana kabar baik, antum?”

“Alhamdulillah.” Mereka pun tertawa bersama. Jangan kaget, bahasa mereka memang seperti itu. Absurd. Kebalik-balik, kecampur-campur pula. Nah sekarang tinggal dua orang lagi.

Samar-samar terdengar derap langkah kaki yang hampir berbarengan. Ketika kami menoleh ke sumber suara, terlihatlah dua manusia kembar. Vino dan Vina. Mereka berdua tersenyum ke arah kami. Tidak banyak yang berubah dari mereka, masih sama dengan saat terakhir bertemu.

Vina yang setia dengan gaya berpakaiannya yang heboh ala putri kerajaan. Yang kemana-mana selalu pakai dress atau gaun, membawa tas kecil yang berisi make up dan kipas lipat. Ditambah lagi Vina yang memang jago bahasa Inggris. Dan kulit mulus nan tubuh yang ramping, membuat kesan ideal melekat padanya. Vina juga jago menari balet.

Sedangkan Vino sendiri, tampil dengan gayanya yang sederhana. Kaos hitam adalah kegemarannya. Poni yang selalu disisir ke belakang membuat dia semakin percaya diri. Mata tajamnya dapat membuat para gadis terpikat, apalagi tutur katanya yang sangat halus dan sopan. Dan kemana dia pergi, Vino selalu membawa kamera jadulnya. Bahkan badan Vino tetap seperti dulu, ideal. Aku akui dia memang jago bermain basket, dia juga suka berolahraga. Jadi tidak heran jika tubuhnya terlihat atletis.

“Nah sudah kumpul semua, bukan? Langsung mulai saja ya, soalnya petang aku harus sampai rumah.”

“Laksanakan, papa!” Serempak kami katakan sembari hormat pada Kifli. Kemudian kami tertawa bersama.

Acara pun dimulai, Yuni mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang dari dalam tas yang dia bawa. Kemudian aku mengambil alih kotak itu dan membukanya. Isinya masih sama, hanya saja sedikit lusuh karena sudah lama kami tidak memainkannya. Aku menata isi kotak tersebut di atas meja yang sesekali dibantu Jo dan Ivan. Dan yang lainnya bertugas untuk membagikan uang, Vino yang bertugas menjadi pengurus bank kali ini.

Setelah semua siap, kami pun melakukan hompimpa untuk menentukan siapa yang pertama kali bermain. Beginilah acara reuni kami, tidak biasa memang. Karena sekadar makan dan mengobrol itu sudah umum. Akhirnya Anto menyarankan jika setiap pertemuan kami akan kembali mengenang masa kecil. Yaitu bermain, tidak usah muluk-muluk asalkan masih bisa dimainkan dengan duduk tidak masalah. Dan acara kita hari ini, bermain monopoli.

Advertisement

2 thoughts on “Mengulang Kembali

  1. Akhir-akhir aku sering bertemu dengan Jo di Youtube. Saat video mulai maka ada iklan dari salah satu Ojek Online, berbunyi “Jo adalah cerdikiawan sejati.”

    Hehe..

    By the way, Devi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki :

    1. Jangan lupa sisipkan MORE tag untuk continue reading

    2. dia mulai terlihat lebih cantik dari sebelumnya (kata sambung yang tepat adalah ‘daripada’)

    3. Dalam dunia fashion, istilah yang pas adalah sweater bukan sweeter. Sweater adalah baju penghangat sedangkan sweeter adalah bentuk komparatif dari kata sweet dalam bahasa Inggris. Misalnya, “Mia is sweeter than Leena.” Atau, “This smelled sweeter, like nectar.” Atau. “Dried ginger is hotter then fresh ginger which is sweeter.”

    4. Ejek Yuni yang dulunya menjadi incaran kifli perihal es.(untuk nama orang, huruf pertama mesti kapital, jadi “…menjadi incaran Kifli perihal es)

    5. Jangan kaget, bahasa mereka memang seperti itu. Absturd.(mungkin maksudnya ‘Absurd’)

    6. Ditambah lagi Vina yang memang jago bahasa Ingris.(bahasa Inggris)

    7. Vina juga jago menari ballet. (balet)

    8. “Laksanakan papa!” (“Laksanakan, Papa!”)

    Like

Comments are closed.