Kisah Sebuah Celana Dalam

Dengan raut muka masam Viska keluar dari gedung perkantoran. Mulai besuk ia tak lagi menjadi penghuni gedung itu. Perusahaan tour and travel tempatnya bekerja tak mampu bertahan menghadapi imbas pandemi covid-19.

Aturan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar sudah 10 kali diperpanjang Gubernur. Orang-orang dihimbau untuk tidak bepergian kecuali sangat penting. Para pekerja dirumahkan. Sebagian bekerja dari rumah. Jalanan berubah sepi. Pusat keramaian tak lagi terdengar keriuhannya sebagaimana sebelum wabah corona melanda. Entah kapan berakhirnya semua ini, tak seorang pun tahu. Dan Viska harus menelan pil pahit. Ia menerima surat pemutusan hubungan kerja.

Belum terpikir olehnya bagaimana hidup setelah itu. Bulan depan handphonenya tak akan lagi menerima notifikasi pemberitahuan transfer gaji seperti bulan-bulan sebelumnya. Belum terpikir bagaimana ia menebus obat untuk ibunya yang sedang sakit-sakitan. Bagaimana melunasi uang sekolah adiknya yang masih SMA? Sejak kepergian sang ayah untuk selamanya, Viska lah yang kini menjadi tulang punggung keluarga.

Lowongan pekerjaan makin sulit didapat. Untuk tetap survive, Viska mencoba berdagang kelontong di rumahnya yang kecil dan sederhana. Keuntungannya masih kecil, hanya cukup untuk makan.

Di suatu malam, pukul 02:00 WIB mata Viska enggan terpejam. Pikirannya menerawang. Memikirkan cara agar bisa menyelamatkan ekonomi keluarganya. Ia terus berselancar di layar handphone. Mencari informasi barangkali ada peluang usaha yang menjanjikan. Hingga akhirnya ia menghentikan jemarinya pada sebuah berita menarik seperti yang ingin dicarinya.

“Wow, boleh juga idenya!” Seketika ia tersentak bercampur gembira.

“Tapi aku harus terkenal lebih dulu.” bisik Viska dalam hati. “Yeah, aku bisa manfaatkan kelebihanku.”

Viska menghampiri cermin yang menempel di dinding kamarnya. Di depan kaca ia pandangi tubuhnya. Tubuh yang tinggi, molek dan semampai. Berparas cantik, juga seksi. “Aku memiliki modal untuk terkenal.” gumamnya.

Bermodal handphone yang menjadi barang mewah satu-satunya, ia mencoba peluang lewat media youtube. Ya, menjadi youtuber. Viska sudah membayangkan konten apa yang akan mengisi channel yotubenya. Ia ingin memodifikasi adegan artis yang sedang viral dan menjadi trending topic di twitter. Tapi Viska tak akan menirunya mentah-mentah. Cukup memodifikasi gerakan-gerakannya sehinggga tidak terlihat vulgar. Walau demikian netizen yang update dengan berita-berita artis tersebut akan dengan cepat menangkap gerakan apa yang diperagakan Viska. Dengan mengenakan thanktop yang dipilihnya membuat bagian-bagian erotis Viska tampak menerawang. Lekuk-lekuk tubuh indahnya disertai gestur yang menggoda berpotensi membuat imajinasi lelaki terbang tinggi. Dengan konten seberani itu Viska berharap netizen akan cepat mengenalnya.

Benar saja, dalam waktu seminggu, dunia maya dihebohkan oleh konten youtube Viska yang viral di media sosial. Viralnya konten itu bahkan sampai mengalihkan isu-isu politik yang selama ini sering menjadi bahan perseteruan di kalangan akar rumput. Kini seorang mantan karyawan perusahaan tour and travel bernama Viska mendadak terkenal di seantero negeri, bahkan di luar negeri. Bahkan secara drastis popularitasnya mulai menguntit Atta Halilintar.

Tetapi, dengan popularitas yang dimilikinya ia masih belum bisa mengumpulkan pundi-pundi rupiah seperti yang diharapkan. Viska begitu dendam dengan keadaannya yang terpuruk usai diberhentikan dari pekerjaannya. Ia benci masa lalunya yang tak mampu membawa berobat ayahnya sampai menemui ajal. Ia benci keadaannya yang tak punya uang untuk menebus obat ibunya. Ia benci pandemi yang memupus harapannya untuk bekerja mencari nafkah. Ia benci corona. Ia ingin segera mengakhiri itu semua.

Kembali ia teringat sebuah berita tentang seorang DJ cantik yang sukses menjual celana dalamnya seharga Rp50.000.000,- Sebuah angka yang sangat besar untuk seorang Viska. Perlu bekerja keras bertahun-tahun di tempatnya bekerja dahulu untuk mendapatkan uang sebesar itu. Dan sekarang di saat sudah terkenal, ia ingin mengumpulkan banyak uang dengan waktu singkat.

Maka tak berpikir lama, ia membuka akun instagram. Diambilnya camera untuk memotret produk yang akan ditawarkan itu di akun instagramnya. Dilepasnya celana dalam bekasnya, lalu ditampilkan di etalase instagram. Viska membandrolnya dengan angka Rp1.000.000.000,- Ya, Viska tak mau tanggung-tanggung. Satu milyar rupiah untuk sebuah celana dalam bekas dari seorang youtuber cantik yang sedang berada dalam puncak popularitas. Ia melihat, peluang seperti itu di zaman sekarang selalu ada.

CD bekasku yang belum dicuci. Yang mau dan serius, silahkan transfer 1M ke rekeningku : Bank Miun No-rekening: 120XXXXXXXXXX. an: Viska Venesia.

Beberapa jam kemudian, postingan instagramnya banjir komentar. Ada yang bertanya-tanya, ada yang jijik, ada yang menawar, ada yang membuli dan mencaci maki.

“Ih, jorok lu.”

“Dasar perempuan sakit.”

“Udah gila lu, ya?”

“Haram.”

“Pasti bau terasi.”

“Jijik gue.”

Tetapi banyak juga yang memujinya.

“Genius.”

“Brilliant, tahu aja peluang… haha”

“Tarik sisss….”

“Semongko…”

“Busyet dah, nih cewek.”

Yang menawar dan mengajak ketemuan tak kurang jumlahnya.

“100 juta deh.”

“Di pasar 10 ribu dapet, Neng.”

“Ketemuan yuk.”

“100 ribu, boleh gak?”

Itulah beberapa komentar yang mampir di instagram Viska. Komentar-komentar sejenis bahkan lebih pedas dan sadis. Ada puluhan ribu lebih. Dari jumlah itu, ternyata ada juga yang nyangkut dan serius membeli.

Maka terjadilah transaksi antara Viska dan seorang penggemarnya. Keesokan harinya sejumlah uang satu milyar telah ditransfer ke rekeningnya dalam beberapa kali transfer.

Melihat bukti-bukti transfer di layar handphone, Viska bersorak kegirangan. Usahanya berhasil dan kini ia sudah menjadi orang kaya. Mendadak milyuner. Puluhan juta subscribers telah mengantarnya mendulang finansial yang fantastis. Cukup dengan menjual satu celana dalam. “Zaman memang sudah gila.” gumamnya sambil tertawa-tawa meluapkan kegembiraan.

Setelah berita tentang celana dalam 1 milyar itu viral, undangan demi undangan talk show bertubi-tubi menghampiri Viska. Termasuk undangan podcast seorang artis terkenal, Deddy Corbuzier yang sudah memiliki belasan juta subscriber itu. Kesempatan ini tak ingin dilewatkannya. Ia berharap karirnya terus melejit.

Dalam podcastnya, Deddy bertanya tentang alasan atau motivasi Viska terkait penjualan celana dalam.

“Apa yang menjadi alasan seorang Viska menjual celana dalam bekas? “, seperti biasa Deddy mencecar dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengorek-ngorek sisi lain kepribadian tamu-tamunya. Namun tetap dengan gaya santai dan penuh canda.

“Aku awalnya bingung, Om. Mau kerja apa di saat pandemi seperti ini buat orang sepertiku. Perusahaan tempatku bekerja sudah bangkrut. Tidak banyak lagi perusahaan membuka lowongan. Berdagang sudah aku coba. Hasilnya sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Aku gak mungkin diam menunggu orang memberiku uang.”

“Berarti murni motif ekonomi, ya?”

“Sejujurnya begitu. Dan di saat seperti itu aku menemukan inspirasi sukses dari seorang Dinar Candy, DJ yang pernah menjadi tamu di podcast Om juga. Lalu kupikir, mengapa aku tidak mencoba? Apa yang kumiliki tidak kalah dengan yang dimiliki Dinar Candy. Terutama dalam hal fisik. ”

“Dengan apa yang kamu lakukan itu ada banyak netizen yang mengatakan kamu menjual tubuhmu. Apa tanggapanmu?”

“Beda dong, Om. Aku hanya menjual kulitnya, isinya nanti dulu lah.. hahahaha.” jawab Viska sambil tertawa lepas. Deddy pun terbahak-bahak mendengar kepolosan Viska.

“Apa yang kamu rasakan saat membaca komentar-komentar netizen, terutama yang berkomentar miring dan pedas?”

“Itu resiko, Om. Aku gak bisa melarang-larang netizen mau berkomentar apa. Itu hak dia. Dan aku juga berhak melakukan apa yang ingin aku lakukan sepanjang tak merugikan orang lain.”

“Tapi aku masih gak habis pikir. Kok ada ya orang mau mengeluarkan uang satu milyar hanya untuk ditukar celana dalam bekas? Untuk fantasi? Atau untuk apa menurutmu?”

“Hahahaha.. aku juga gak tahu, Om. Itu urusan dia lah. Yang aku pikirkan hanya ingin keluar dari kesulitan mencari nafkah di masa pandemi ini. Bayangin, mau cari kerja susah. Diam di rumah terus juga ngapain? Sementara kebutuhan hidup tak bisa ditunda. Yah, soal baik buruk, aku tidak tahu. Entahlah bagaimana Tuhan menilai diriku. Aku pasrah saja. Aku hanya ingin bisa merawat ibuku dan mendampingi adik-adikku menyelesaikan studinya. Dan mengakhiri nasib hidup yang penuh kekurangan pastinya.”

“Dengan cara yang kontroversial?”

Yes. What’s the problem?

“Ya, gak papa sih. Sah-sah saja. Toh laku juga dan tak ada yang dirugikan.” Mereka pun tertawa.

Sejenak suasana terdiam. Entah apa yang dipikirkan Deddy dan apa lagi yang ingin dikoreknya dari tamu seksi ini.

“Oh, ya maaf. Jadi ibumu sedang sakit?” Deddy memulai dialog lagi.

“Iya. Semenjak aku berhenti bekerja, penyakitnya semakin parah. Karena obat yang seharusnya ibu minum, terlambat aku beli.”

“Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Sudah lumayan membaik. Tetapi memang usia ibu sudah lanjut.”

Tetiba handphone Viska berdering. Nama adiknya muncul di layar panggilan. Viska buru-buru menjawab.

“Ada apa, Hesti?”

“Mbak Viska cepat pulang. Ibu sekarat.”

“Apa?” Viska terperanjat mendengar kabar ibunya.

“Ibu sekarat, Mbak. Ia memanggil mbak Viska terus. Cepat pulang ya, Mbak!”

Podcast terhenti sejenak.

“Maaf, Om Deddy. Aku tidak bisa meneruskan acara ini. Aku pamit dulu, ya?” Spontan Viska minta izin pada Teddy.

“Oh, I see, Viska. Tidak masalah. Kamu harus cepat temui ibumu.”

Di rumah, ibunda Viska terbaring lemah di tempat tidur. Ia menghampiri ibunya dengan air mata yang tak mampu dibendung.

“Ibu…”

“Viska, anakku.

“Iya, Bu..”

“Kamu jaga adik-adik, ya.”

“Ibu jangan begitu. Ibu harus sembuh..”

“Rasanya ibu harus pegi, Viska. ”

“Hiks.. ” tangis Viska pecah.

“Jangan lagi menjual sesuatu yang tidak pantas.” Viska mengerti apa yang dimaksud ibunya.

“Ibu tak memerlukan semua itu, Nak. Ibu sudah cukup bahagia melihatmu apa adanya.”

“Ibu…”

“Berjanjilah ya, Viska… doamu yang ibu rindukan.”

“Ibu…”

Beberapa menit kemudian, sang ibunda mengembuskan nafas terakhir di pangkuan Viska.

Begitu terpukulnya hati Viska dengan kepergian ibundanya untuk selama-lamanya, Viska berjanji untuk memenuhi pesan terakhir ibunda.

Maka, sejak itu ia tanggalkan popularitas yang baru diraihnya. Viska hidup tenang di tanah kelahirannya, di kota Bogor. Hidup normal sebagaimana orang-orang biasa yang jauh dari gegap gempita dan puja-puji manusia yang melenakan. Tak ada lagi obsesi untuk membalas dendam masa lalu.

Kini berakhirlah sudah kisah tentang sebuah celana dalam.

*) Sumber Berita

Sumber Berita yang menjadi inspirasi cerita ini adalah tentang seorang DJ bernama Dinar Candy yang menjual celana dalamnya seharga Rp50.000.000,- . (Media Tribunnews.com) 

12 thoughts on “Kisah Sebuah Celana Dalam

    1. hehehe… betul, Bu. Banyak hal-hal yang absurd, tapi nyata terjadi di zaman ini. Banyak hal bisa terjadi mendadak… efek kecanggihan teknologi kali ya, Bu? 😀

      Like

Comments are closed.