Sinamon

Namanya asing buatku. Nama makanan itu aku dengar pertama kali saat seseorang mengantar makanan pesanan istri.

“Ayah mau gak?”

“Apa itu, Ma?”

“Kue Sinamon.”

Aku bertanya dalam hati, kue macem apa itu?

“Ini kue buatan Ibu Yanti. Dia sedang belajar jualan. Kan dia sering beli dagangan Mama. Makanya Mama juga mau support dia, gantian beli produknya.”

“Oh, begitu”, jawabku singkat sambil meneruskan pekerjaan rumah.

Aku masih kenyang. Belum berapa lama makan. Melihat kue Sinamon di meja, aku hanya melirik dengan sebelah mata.

Kue lagi. Paling rasanya juga begitu. Sambil kubayangkan kue bolu, bolu gulung dan semacamnya yang dominan manis yang nikmatnya hanya sampai 3 atau empat gigitan. Sudah itu, neg. Kenyang.

Lalu saat di meja makan, aku raih kue itu. Aku lihat bentuknya memang berupa gulungan kue. Di tengahnya ada lapisan coklat dan cairan selai kental membalut seluruh permukaan kue. Tetapi lapisan dan gulungannya masih terlihat jelas.

Aku cium baunya. Aroma kayu manis terasa dominan. Aku hapal sekali bau rempah itu. Aneh rasanya. Baru kali ini aku melihat kue dengan rasa kayu manis. Aku urungkan untuk mencicipinya. Seleraku surut karena aroma menyengat kayu manis. Soalnya lebih terasa seperti jamu, bukan kue yang beraroma harum seperti setiap kali aku melewati pabrik roti Kong**** saat pabrik itu berproduksi di siang hari.

Akhirnya, sampai kue itu habis aku tak sempat mencicìpinya. Istri dan anakku yang doyan banget kue Sinamon itu.

Besuknya, orang yang sama mengantar pesanan istriku lagi. Aku bisa menebak, pasti kue Sinamon.

Waktu itu selepas Isya perutku belum terisi makanan. Secara reflek perutku menyuruh tanganku membuka lemari es. Aku melihat Sinamon yang baru diantar sore tadi. Kelihatannya tinggal satu roll dari 3 roll saat masih utuh. Karena lapar, lidahku tidak terlalu peduli seleraku. Langsung aku comot kue itu, lalu perlahan aku makan dengan memotongnya sedikit demi sedikit dengan sendok. Mau tahu rasanya?

Hmmm. Ternyata kue Sinamon rasanya lumayan lezat. Tekstur rotinya sedikit kenyal, tapi mudah dikunyah tanpa lengket di lidah. Aroma kayu manisnya memang terasa sekali. Tapi aku abaikan, dan lama kelamaan kok enak di lidah? Perlahan namun pasti, satu roll kue manis sirna berpindah ke lambungku.

Kue ini cukup murah. Satu loyang berisi 3 roll, dengan harga Rp. 18.000.

Saat waktu senggang aku googling dengan keyword “Sinamon”. Ternyata nama makanan itu sudah tenar. Aku saja yang kudet. Hehe.

Sinamon itu berasal dari perbendaharaan bahasa Inggris, cinnamon. Yang artinya kayu manis. Asal nama kue itu adalah Cinnamon Roll. Aku lihat harga-harga di toko online ternyata cukup mahal. Sampai Rp. 70.000 dengan isi 6 roll.

Ternyata kue bikinan tetanggaku tidak bisa dipandang sebelah mata. Enak ketika sudah mengenal dan mencicipinya.

Apakah kamu juga baru mengenal kue Sinamon seperti aku? Kalau sudah mengenal lebih dulu boleh dong ditambahkan reviewnya. Kalau baru mengenal sepertiku, barangkali kamu punya kesan yang berbeda, silahkan dikomen.

Belilah Sinamon. Percayalah, rasanya seperti anda menjadi Ironman. 🤣



“””

5 thoughts on “Sinamon

Comments are closed.