Mawar Berdarah

Bagaimanapun juga, ini adalah kisah cinta yang tragis, bagi sosok tuan yang nyawanya tersurai dalam tangkup lenganku. Darah masih hangat di atas kulitnya, kelembutan di antara jemarinya, menyerasikan warna yang begitu indah, seperti tuangan anggur murbei pada cawan pualam sewarna susu. Mudah saja bagiku untuk melihat alpanya denyut yang melalui nadi lelaki itu, serta kulit yang beralih pucat dengan semburat kelabu pekat.

Semua itu tak lantas melungsurkan perasaanku. Dengan kelembutan yang khidmat, aku merunduk, mendaratkan kecupan ke pipi yang dingin, tak peduli pada sisa noda merah darah yang menempel pada wajah sendiri.

Itu adalah peristiwa setelahnya. Akhir dari kisah cinta yang luar biasa manis sekaligus menyakitkan.

Sebelumnya, adalah masa di kala cinta mekar dan berkembang bagai mawar yang menakjubkan tanpa mengacuhkan duri yang mencuat dari tangkainya. Seiring berjalannya waktu, semua kelopaknya yang indah layu dan luruh. Menyisakan cucuk tajam di bawah sana sebagai sisi kejam yang tersisa dari keindahan yang sudah berlalu. Ketika kubaringkan sang tuan di atas bentangan kain sutra dan menyelinap keluar dari jendela yang terbuka dengan tirai sewarna salju berkebit tertiup angin, ingatanku terlempar kembali pada masa ketika sosok yang kucintai adalah seorang tuan perkasa.

Aku melihatnya untuk pertama kali di bawah naungan bunga sakura lewat tengah malam, di kala pendar bulan merampas kelopak merah muda nan lembut dan mengubahnya menjadi perak berkilauan. Lelaki itu berbaring di rumput, sebotol sampanye mahal terselip di bawah lengannya.

Saat itu juga, aku terpesona. Cahaya bintang menyentuh pipinya dengan kilau anggun, sementara bayang-bayang terbenam ke dalam matanya. Untuk waktu yang lama, aku berdiri di trotoar, menonton, mengagumi, menuliskan detail-detail peristiwa ke dalam ingatan, yang masih menyisakan warna-warna pastel setiap kali kukenang kembali.

Aku menunggu sampai kelopak matanya yang lelah jatuh memejam, untuk mendekatinya. Dari jarak yang lebih dekat, ia pun tampak lebih cemerlang. Lebih cantik dibandingkan siapa pun yang pernah kulihat; daripada bunga-bunga halus di atas sana, juga sungai yang meliuk-liuk di tepi lereng. Mungkin sang tuan adalah sesosok malaikat yang jatuh atau cuma mengambil cuti sementara dari surga. Pemikiran yang kemudian kutepis, sebab aku tahu tidak ada malaikat yang akan membiarkan makhluk sepertiku mendekat.

Aku berjongkok di sampingnya, menyapu beberapa helai bulu matanya yang gelap dan tipis. Bagian bibirnya mulus bagai pualam merah muda yang digosok sampai mengkilap benar. Kulitnya begitu putih dengan semburat merah pada sisi yang tepat, seakan menyaru dengan helai sakura yang jatuh pelan-pelan.


Potongan cerita ini merupakan bagian dari cerita Bloody Rose yang pernah saya pos ke blog sekunder saya. Diceritakan dengan gaya bahasa implisit, ditandai dengan beberapa kata dan kalimat kias di dalamnya. Saya merevisi sedikit dan mengubahnya menjadi sudut pandang orang pertama tunggal. Pada versi asli, saya menggunakan sudut pandang orang kedua. Memangnya ada sudut pandang orang kedua? Secara teori, tidak ada. Itu hanya pengembangan dari sudut pandang orang pertama, atau sudut pandang orang ketiga. Dimaksudkan agar pembaca bisa lebih menyelami cerita jika kita langsung menunjuk tokoh utamanya sebagai ‘kamu’ atau ‘kau’.

17 thoughts on “Mawar Berdarah

Comments are closed.