Dialek

Sedikit cerita dan sedikit pelajaran, aku punya seorang teman dekat, awal kuliah sampai sekarang. Dulu aku pikir setiap hari dia selalu marah-marah tidak jelas pada awal perkenalan kami, tentu aku dan teman-teman yang lain sebagai penyebab kemarahannya mungkin saja, pikiranku seperti itu.

Semakin kuselidiki ternyata cara berbicaranya memang seperti itu, serasa kami selalu dimarahi, baik itu saat berdiskusi dalam kelas atau menyampaikan sesuatu padaku. Nadanya agak kasarlah menurutku, sampai suatu waktu aku pernah berbalik marah kepadanya hanya karena kebiasaanya itu. Aku ceritanya baper nih dengan kelakuannya itu. Hihihi.

Sebelum terlanjur menganggap dia sebagai pemarah, ternyata pada saat itu aku baru tahu bahwa itu adalah variasi dari bahasanya, itulah yang dinamakan dialek, yah dialek. Katanya, orang-orang yang ada di daerahnya kalau berbicara kurang lebih seperti itu jadi yah patut dimengerti. Apa cuman aku kali yah yang terlalu bawa perasaan?

Aku yang sebelumnya sempat baper soal cara berbicaranya itu, lama-lama aku paham bahwa itu adalah dialek dari daerahnya. Kalau aku tidak keliru dialek kupelajari pada mata kuliah sosiolinguistik. Pada saat itu aku gagal paham kalau ternyata temanku itu tidak marah tapi memang dialeknya seperti itu.

Ohiya, selain pelajaran dari teman soal dialek, di ikatan kata aku menemukan beberapa pelajaran. Kalau sebelumnya cara belajarku terlalu monoton untuk belajar tata bahasa, seperti hanya membaca PUEBI dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, untuk mempelajari ejaan dan sebagainya. Setelah bergabung di Ikatan kata ada cara-cara belajar yang tidak terlalu membosankan yakni mengerjakan ketik, jadi apa yang telah di pelajari sebelumnya direalisasikan dalam kalimat. Misalnya penggunaan kata Pun, preposisi dan sebagainya, pokoknya tantanggannya seru.

Sayangnya kalau persoalan dialek ini belum bisa kuketahui dari masing-masing pengikat kata, selain kami belum pernah berkomunikasi lisan dan juga yah karena jarak kami yang berjauhan dan sibuk masing-masing. Semoga kita segera bersua.

13 thoughts on “Dialek

  1. Hai, Chan! Sawatdika!

    Untuk pos yang menggunakan Page Break atau sebaiknya berikan link navigasi ke halaman berikutnya. Atau kamu arahkan pembaca untuk klik page di bawah pos setelah Related Pos (tambilan Desktop). Kalau baca di Reader WP sih langsung ke bawah, tak perlu klik halaman selanjtunya

    Liked by 1 person

Comments are closed.