Female Choice

Jatuh cinta bukan cuma milik manusia. Hewan pun bisa jatuh cinta, termasuk Brownies. Setelah lewat umur satu tahun, Brownies sudah mulai dilepas ke luar rumah, biar gaul sama kucing-kucing lain. Awalnya dia ragu-ragu kalau dibukakan pintu. Celingak-celinguk, maju mundur, lalu melesat tak tentu arah seperti bingung mau ke mana. Lama-kelamaan dia lebih percaya diri, meskipun selalu dimulai dengan mengendus-endus teras. Kini dia sudah tahu mau ke mana, yaitu ke rumah tetangga yang pelihara beberapa ekor kucing. Di sekitar rumah tetangga itu masih ada beberapa kaplingan yang belum dibangun rumah oleh pemiliknya sehingga ditumbuhi pohon pisang, kelor, dan tentu saja semak belukar. Brownies senang main di antara kerimbunan semak belukar di sana, menghabiskan waktu walau cuma duduk-duduk melihat belalang dan kupu-kupu. Belakangan, setelah kucing betina tetangga mulai besar, dia jadi suka ngikutin kucing itu. Layaknya orang jatuh cinta yang malas makan, Brownies juga lupa pulang dan makan.

Jatuh cinta atau rasa suka pada lawan jenis adalah bagian dari fitrah makhluk hidup ciptaan Tuhan. Manusia, hewan, tumbuhan, bahkan mikroba pasti punya ini dalam bentuk dan kadar yang berbeda, tentu. Dalam bentuk paling sederhana, keinginan untuk bertemu dengan mating partner bisa dianalogikan dengan jatuh cinta. Di alam, naluri untuk mencari mating partner ini bisa muncul dalam situasi tertentu, misalnya lingkungan memburuk memaksa ganggang (alga) mencari pasangan untuk membentuk spora yang mampu bertahan lebih baik dalam cekaman (stres).

Tumbuhan, yang tampaknya pasif dan tidak bisa keliaran mencari pasangan, sebenarnya punya bentuk jatuh cintanya sendiri. Putik bunga betina tidak sembarangan menerima serbuk sari bunga jantan, terutama yang satu rumah (alias saudara sekandung). Putik akan menolak mereka (serbuk sari) yang tidak sesuai dengan “standar”. Serbuk sari harus punya chemistry yang pas. Pakar cinta kita bilang, sepasang kekasih biasanya punya chemistry yang cocok. Begitulah kira-kira. Kalau sudah pas, putik akan membuatkan suatu jalan masuk (pollen tube) agar serbuk sari bisa sampai ke rahimnya. Pakar biologi bahkan sudah meneliti sampai level gen yang bertanggung jawab atas penolakan “cinta” putik terhadap serbuk sari, yaitu gen S locus cysteine-rich protein (Strickler et al. 2013). Jadi, jatuh cinta memang rumit.

Jatuh cinta pada hewan tampaknya lebih kompleks, terlebih hewan-hewan “tingkat tinggi”, seperti burung dan mamalia. Perkawinan pada beberapa kelompok hewan tidak serudak-seruduk semaunya. Perkawinan berjalan dalam koridor seleksi seksual (sexual selection) dan pemeran utamanya adalah betina.

Mengapa kodok jantan suka “bernyanyi” memamerkan kantung suaranya yang besar? Mengapa burung merak jantan memamerkan ekornya yang luar biasa indah dan singa jantan memamerkan surainya yang keemasan? Tidak lain adalah untuk memikat betinanya. Kodok, merak, dan singa betina tidak perlu menarik untuk dipikat oleh sang jantan. Tampilan betina yang biasa-biasa saja ini banyak contohnya di burung. Pada kelompok hewan lain, betina tidak perlu punya suara bagus, tanduk super, atau rambut lebat kehitaman untuk dipilih oleh pejantan. Mereka cukup jadi biasa-biasa saja karena merekalah yang memilih siapa yang pantas jadi bapak dari anak-anak mereka (female choice).

Darwin sudah melihat kompetisi para pejantan untuk memikat betina, tapi ia tidak memperhatikan dari sisi betina: mengapa evolusi seksual berkembang ke arah female choice. Pemikiran itu digagas oleh Ronald Fisher, ahli biologi-matematika, di tahun 1958 dalam konsep runway selection (atau Fisherian Selection) (Kirkpatrick 1982). Menurut Fisher, morfologi superior dari pejantan adalah representatif kualitas genetik yang baik. Artinya, para pejantan yang suaranya besar (kodok), ekor indah (merak), atau surai lebat keemasan (singa) pasti memiliki gen yang bagus sehingga keturunan mereka (kelak) pasti akan kuat, banyak jumlahnya, dan mampu bertahan hidup lebih lama. Bagi betina “iming-iming” tersebut sudah cukup menjanjikan, bahkan memang itu saja yang mereka butuhkan.

Kembali pada Brownies, apakah dia punya kualitas untuk dipilih? Menurut saya dia kucing yang tampan (Serius! Ini penilaian obyektif, walaupun tidak valid karena saya bukan kucing betina). Rambutnya putih bersih dan tebal (tapi gampang rontok. Ini keturunan dari emaknya). Suara Brownies sekarang sudah macho, terdengar keras kalau dia ngaong-ngaong (saya tidak tahu bagaimana menulis suara kucing ketika mereka melakukan panggilan kawin). Tapi … si Brownies masih belum pengalaman, belum pernah berantem, masih suka kaget kalau mendengar suara asing. Singkatnya, dia belum jadi kompetitor kucing-kucing jantan yang keliaran di kompleks. Dari sisi betina, kelihatannya kucing-kucing betina di sini punya pesaing berat: majikan Brownies yang sangat protektif. Jadi, Brownies yang kasmaran majikan yang galau.

Bacaan:

Mark Kirkpatrick. 1982. Sexual Selection and the Evolution of Female Choice. Evolution 36(1): 1-12.

Susan R Strickler, Titima Tantikanjana, June B Nasrallah. 2013. Regulation of the S-locus receptor kinase and self-incompatibility in Arabidopsis thaliana. DOI: 10.1534/g3.112.004879

2 thoughts on “Female Choice

  1. Salam untuk Brownies yang lucu dan manis, Bu. Btw, dunia hewan dan manusia terbalik ya dalam hal siapa yang lebih pintar bersolek untuk memikat pasangannya.

    Koreksi:
    1. Celingak celinguk (Celingak-celinguk)
    2. setelah kucing cewek (lebih pas kalau memakai kata ‘betina’)
    3. serudak seruduk (serudak-seruduk)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s