Tenaga Ekstra

“Waduh, apa-apaan sih ini?” ujar Ratih spontan begitu melihat pemandangan di depannya.

“Dasar ya, manusia tapi perbuatan tidak seperti manusia. Bisa-bisanya tidak menghargai orang sama sekali.” ujar Ratih lagi.

Merasa pekerjaannya hari ini bukan pekerjaan ringan, Ratih bergegas kembali ke rumah. Mengambil berbagai peralatan, ada cangkul, parang, serokan sampah dan sapu lidi. Tak lupa membawa mancis dan bensin.

Setelah semua lengkap, Ratih kembali ke rumah sebelah. Rumah kosong dengan pekarangan yang lumayan luas. Dulu rumah ini adalah salah satu rumah yang banyak mencuri perhatian orang lewat. Bukan karena bangunannya yang bagus,  kalau bangunan sama dengan rumah yang lain, namanya juga perumahan. Bahkan bangunan masih sederhana sesuai dengan bangunan asli. Yang menarik perhatian adalah tanaman yang asri, hijau dan tertata rapi. Penghuni rumah adalah sepasang suami istri yang sangat rajin merawat tanaman, benar-benar harmonis dan menumbuhkan rasa cemburu bagi pasangan lain. Namun, ternyata keharmonisan dalam merawat dan menata halaman bukan sebuah jaminan, mereka kalah saat badai menghantam.

Rumah yang dahulu asri pun menjadi terlantar karena sengketa pembagian harta gono gini yang tak berkesudahan, tak ada yang mau mengalah.
Bukan hanya terlantar, pekarangan pun nyaris seperti hutan tak terurus. Tak ada yang peduli.

Sebagai tetangga, Ratih dan suaminya merasa prihatin dengan situasi tersebut. Secara periodik mereka berdua membersihkan pekarangan rumah itu. Waktu membersihkan pertama kali adalah fase paling sulit, rumput sudah setinggi orang dewasa dan rumput yang tumbuh adalah jenis yang susah diberantas. Setelah dibabat, kemudian diberi racun rumput, ditunggu beberapa hari, kemudian dibakar dan dicangkul lagi.
Berkali-kali seperti itu, hanya Ratih dan suami yang mau membersihkan. Mereka pun merasa tidak keberatan dan menganggap itu sekedar olahraga untuk mengeluarkan keringat.

Apa yang Ratih lihat hari ini benar-benar membuat  darahnya mendidih. Entah siapa yang punya ulah, pekarangan tersebut penuh dengan sampah. Ada beberapa cabang pohon mangga dan pohon lain teronggok di sana. Sepertinya begitu dipotong langsung dibuang ke tempat itu.
Bukan hanya itu, ditemukan juga sampah plastik dan beberapa sampah popok bayi sekali pakai. Tak bisa disangkal pelakunya pasti manusia sekitar rumah tersebut, itu bukan ulah binatang tapi ulah mahluk hidup yang paling tinggi derajatnya bernama manusia.

“Bisa mikir nggak sih mereka? Tak mungkin mereka tak tahu siapa yang membersihkan ini saban waktu. Tapi sedikitpun tak ada perasaannya.” Ratih menggerutu sambil bekerja keras memotong ranting demi ranting pohon yang hampir kering tersebut.
“Seharusnya mereka mikir, kalau ini jadi hutan, yang jelek itu komplek mereka. Apa mereka lebih suka melihat rumah ini menjadi rumah hantu?”

Satu persatu ranting demi ranting dipotong dan dibakar. Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba Ratih bisa menyelesaikannya dengan cepat.

“Ini lagi, popok dibuang kemari. Sudah tahu ini sampah yang susah penguraiannya, masih juga dibuang sembarangan. Geram aku kalau begini. Sempat aku tahu siapa yang membuang ini, harus diberi  pelajaran. Tahu nggak dia kalau dunia sudah kewalahan mengatasi sampah-sampah plastik ini. Seharusnya, tidak bisa membantu paling tidak jangan menyusahkan dong …” Ratih sesekali menggerutu sembari bekerja.
Sebenarnya Ratih merasa jijik mengutip sampah-sampah itu, tetapi rasa geram di hati membuatnya melupakan rasa jijik. Mengutip satu persatu dan memasukkan ke pembakaran sampah.

Selesai dengan sampah dilanjutkan dengan mencangkul rumput.
Tak terasa magrib menjelang, azan pun berkumandang dari mesjid kampung. Ratih merasa lelah tapi memandang puas kepada hasil kerjanya hari ini. Emosi yang menggelegak ternyata telah memberikan kekuatan ekstra sehingga mampu menyelesaikan pekerjaan itu dalam hitungan jam.

Gassmom, 220420

Note. Sebuah tulisan receh untuk mengerjakan #ketik17, membuat sebuah tulisan yang memuat salah satu emosi manusia yaitu “marah” tetapi dengan syarat tidak menyertakan kata-kata “marah” dalam tulisan tersebut.

6 thoughts on “Tenaga Ekstra

Comments are closed.