Categories
KETIK

Tujuh Teman Terindah

In My Life

There are places I remember

All my life, though some have changed

Some forever, not for better

Some have gone and some remain

All these places had their moments

with lovers and friends, I still can recall

Some are dead and some are living

In my life, I’ve loved them all

-The Beatles-

Salah satu lagu The Beatles yang berkesan dalam hidup saya adalah In My Life. Lagu ini bercerita tentang tempat dan teman yang tersimpan dalam hati kita walaupun kita telah berpisah dengan semua itu. Seperti disebut dalam liriknya, di antara banyak tempat dan teman, tentu ada satu dua yang istimewa. Saya tidak hendak membedakan teman yang satu dengan yang lain. Namun, perjalanan hidup ini mengajarkan saya bahwa ada chemistry yang bermain dalam suatu hubungan pertemanan.

Saya punya seorang teman, sebut saja namanya Juli. Kami bersekolah di sekolah yang sama sejak TK sampai universitas. Bahkan rumah kami bertetangga. Namun, entah mengapa, saya dan Juli tidak pernah berbagi cerita dari hati ke hati. Di sisi lain, ketika baru jadi mahasiswa, saya bertemu teman baru yang sampai saat ini jadi teman asik dalam suka dan duka. Pastinya ini tidak terlepas dari sunnatullah, bukankah Allah yang menjadikan kita berpasang-pasangan? Nah, dalam Ketik7 ini saya akan mencoba menggambarkan tujuh teman tempat saya berbagi suka dan duka.

 Teman kuliah yang saya sebut di atas tadi punya sifat cuek, apa adanya. Tidak ragu dalam mengemukakan pendapat, dia menjadi sparing partner saya dalam berdiskusi macam-macam topik. Salah satu kesukaannya adalah traveling, membuat kami sering sama-sama menjelajah kampus, gunung, dan laut. Jelajah kami yang paling anyar adalah ke Taman Nasional Baluran tahun lalu. Sudah lama kami hanya bersua lewat media daring. Dia masih apa adanya, pekerja keras, selalu optimis, dan ceria.

Teman berikutnya yang ingin saya perkenalkan adalah Ibu Atria. Saya pernah menulis tentang dia di blog pribadi saya. Pembawaan supel dan ramah melengkapi wajah manisnya. Ibu Atria ini tempat curahan hati dan meminta tolong orang “sekampung” karena sulit mengatakan tidak. Sifatnya ini lama kelamaan luntur karena sering saya kritik, hehehe. Sekarang, dia sudah dapat berpikir dulu sebelum mengatakan iya. Berteman dengan ibu yang satu ini membuat saya belajar cara berempati dan menanggapi kesusahan orang lain secara humanis. Dia suka mengajak saya ke tempat-tempat makan berkelas, sebaliknya saya suka mengajak dia jajan di pinggiran. Langit dan bumi bertemu dalam persahabatan kami.

Teman baik saya tidak melulu cewek, ada juga yang cowok. Persahabatan kami terbentuk secara perlahan, dibangun oleh banyak peristiwa yang saya sendiri tidak menyadari. Awalnya, karena terlibat dalam organisasi kemahasiswaan, kami sering berbagi strategi dan solusi. Teman saya ini betawi tulen. Sepertinya orang Betawi kalau bicara selalu nyablak (ini yang saya tangkap sewaktu menonton Si Doel Anak Betawi). Tetapi teman saya ini bicaranya selalu hati-hati. Dia rada-rada idealis, bersedia kerja di lapangan asal sesuai dengan passion nya. Dia juga sangat pemurah. Saya selalu dapat mengandalkan dia bila ada teman yang perlu bantuan, terutama bantuan keuangan.

Teman yang berikut adalah kolega saya. Umurnya lebih tua empat tahun. Namanya Andi. Orang kadang tertukar menyebut nama kami karena bunyinya mirip. Andi dan Dian, kalau diulang-ulang memang jadi tertukar. LOL. Kolega saya ini orangnya tegas, bahkan terkesan galak. Saya dan kolega lain pun, yang sudah lama berteman, masih suka kaget kalau menerima kata-katanya yang tidak dapat ditawar. Andi keturunan Bugis, tapi lahir dan besar di Jambi. Karena suami saya juga Bugis dan kota kelahirannya bertetangga dengan keluarga Andi, sejak awal dia sudah curiga bahwa kami bersaudara. Teka-teki itu terjawab ketika kami mengikuti seminar di Brunei Darussalam dan bertemu dengan keluarga kakak Andi yang sudah beberapa tahun bekerja dan menetap di sana. Percakapan pertama suami saya dengan kakak ipar Andi langsung membuka simpul kekerabatan kami. Lucunya, saya dan Andi langsung berpelukan dan berseru, “Ternyata benar, kita keluarga!” Siapa sangka, saya malah menemukan keluarga baru di negeri orang. Sungguh, hanya Allah yang mampu menyambung tali silaturahmi kita. Omong-omong, Andi ini perempuan, ya.

Rasanya tidak benar bila saya tidak memasukkan suami saya di sini. Hanya, saya tidak perlu menulis panjang-panjang tentang dia. Orang bilang wajahnya ganteng. Orang bilang dia bisa diandalkan. Yang jelas sampai saat ini dialah yang mau menerima semua kekurangan saya dan mencoba mengerti. Saya selalu merasa bahwa saya adalah orang yang sederhana, tidak banyak menuntut. Tetapi, tentu saja itu SALAH BESAR. Ah, andaikan suami saya tidak mengasihi saya pastilah dia tunjukkan daftar tuntutan saya melebihi tinggi Tugu Monas.

Orang yang menjadi pamungkas pos ini adalah Ibu saya. Ibu adalah ibu dan teman sejati saya. Ibu saya tipe ibu rumah tangga dengan spesialisasi perawat gigi. Keahliannya sebagai ibu rumah tangga segudang: memasak, menjahit, mengatur keuangan, membacakan cerita pengantar tidur siang, menjaga rumah tetap apik, dan masih banyak lagi. Sewaktu berganti profesi menjadi asisten dokter gigi dia terampil membersihkan karang gigi, termasuk menambal gigi yang bolong. Dengan segudang pengalaman, ibu saya adalah teman yang sangat berharga yang tidak ada duanya.

Categories
KETIK

My Circle

Sumber foto : Fimela.com

My circle? Lingkaran saya maksudnya? Yah, pastinya hanya sedikit. Karena saya orang yang cukup pendiam, tidak supel, jadi tidak terlalu banyak juga lingkaran pertemanannya ataupun orang-orang yang dekat dengan saya, bisa sampai hitungan jari saja.

Karena hanya sedikit, saya akan mendeskripsikan mereka yang cukup dekat. Sebenarnya tidak terlalu dekat juga, sih.

Categories
KETIK

Perspektif Rasa dari Seorang Sahabat

Bicara tentang orang terdekatku sekarang ini, aku bakal cerita mengenai mereka yang kuanggap sahabat.  Aku urutkan dari yang paling lama kukenal.

Diurutan pertama ada kawan LDR-an, namanya Sarita. Kenal sudah dari zaman SD, cuma dekatnya baru sejak SMA. Sarita ini memiliki rambut hitam lurus mirip bintang iklan sampo dan badannya berisi tapi tidak tinggi.

Dia cewek yang ceria, cendrung heboh, pintar, dan tipe yang senang berpetualang. Lengket banget sama dia sewatu jaman putih-abu. Kemana-mana selalu bersama, baik main dan juga mengerjakan tugas sekolah.

Berteman dengan dia sangat seru. Aku sering diajak melakukan kegiatan anti-mainstream. Seperti  mengintai orang yang dia suka, nekad bertamu ke rumah cowok itu demi bertemu ibunya, dan menjaring ikan di kolam milik cowok itu. Luar biasa perjuangan dia buat dapat perhatian dari orang yang disukainya.

Selanjutnya adalah kawan satu kosan, namanya Ella. Dia tipe perempuan tomboy. Rambutnya selalu pendek dan berwarna coklat muda. Kelihatan galak dari luarnya, karena fisiknya yang tinggi besar, tapi orangnya asik banget kalau dah nyambung sama dia.

Kawan dia kebanyakan cowok, makanya mentalnya itu beda sama cewek kebanyakan. Lebih sangar dan tidak suka diatur. Tipe yang langsung berontak saat ada hal yang tidak sesuai dengan prinsipnya. Kadang juga suka bikin aku emosi, lantaran wataknya yang keras kepala dan agak egois. Ella juga tipe yang ambisius mendapatkan apa pun yang dia mau.

Lalu, aku bakal ceritain kawan-kawan yang mengisi hari-hariku di kampus.

Ada dua sohib yang seringnya aku ajak ngopi bareng. Mereka adalah Tira dan Isa. Mereka ini banyak miripnya. Dari umur mereka yang seumuran, setahun lebih tua dariku dan sifat-sifat mereka juga lumayan mirip. Mereka sangat sederhana, tidak suka keribetan dan juga kalem. Yang membedakan adalah Tira ini bertubuh mungil sedangkan Isa berbadan jangkung.

Saat bersama mereka aku malah mirip sales yang lagi menawarkan produk, lebih berapi-api dan terlalu heboh bercerita, sedangkan reaksi mereka tetap tenang. Aku bisa sangat terbuka dengan mereka berdua, tidak sungkan mau curhat apa saja kepada mereka. Itulah akan selalu menyenangkan menghabiskan waktu bertiga.

Kemudian ada si Dwi yang juga teman sekelas dan kawan ngopi. Dwi yang paling sering main ke kosanku, malahan suka sampai menginap. Aku dan Dwi tingginya sama, hanya saja postur badannya lebih berisi dibandingkan diriku. Dimanapun dia selalu menggunakan rok. Katanya sudah kebiasaan dari kecil.

Sifatnya agak sedikit manja. Makanya dia ingin selalu ada temannya ke mana-mana. Paling penakut juga, jadi hal-hal yang bersinggungan dengan dosen selalu minta saran lebih dulu ke kami. Namun, dialah yang paling rajin dari kami berempat. Seringnya, tugas kuliah dia selesaikan duluan tapi lucunya tetap saja masih menunggu kami juga untuk mengumpulkannya.

Berikutnya ada Erly, sang pemecah telor karena dia ini baru saja menikah. Aku turut bahagia mendengarnya, walau sedikit kecewa karena keadaan sekarang tidak memungkinkan untuk hadir di acaranya. Erly ini mirip putri salju, lantaran kulitnya putih banget, aku sering minder sendiri jalan di sebelahnya.

Dia anak sulung sama sepertiku, jadi kami cocok mengeluhkan tanggung jawab anak sulung bersama. Dia juga yang paling responsif dari yang lainnya, lebih mudah bertanya hal mendesak padanya dan juga untuk curhat kepadanya lebih nyaman, karena dia ini begitu pengertian.

Satu lagi ada cewek cantik dan lembut, aku memanggilnya Mbak Mut. Usianya terpaut dua tahun lebih tua dariku, tapi wajahnya sangat irit, masih imut-imut kayak anak SMP. Kulinya juga putih tidak beda jauh sama Erly. Pokoknya kalau lihat parasnya itu buat adem.

Pembawaan Mb Mut yang mengayomi dan suka membantu menjadikan dia mudah disayangi. Kurasa Mbak Mut ini adalah orang yang paling sering aku repotin. Eh, bukan aku saja, tapi yang lainnya juga. Kami merasa seperti punya kakak yang dapat diandalkan saat situasi genting dan kepepet. Sangat lembut dan baik luar dalam sih orangnya.

Terakhir, ada si ceriwis, namanya Oyik. Dia punya kulit sawo mateng dan paras yang sangat ayu. Sebenarnya, kami ini setipe. Tipe anak manis yang bawel dan heboh.

Kami berdua layaknya sepasang pembuat rusuh. Bisa dipastikan ribut deh kalau sudah bertemu. Ributnya bukan kayak cekcok atau berdebat gitu, hanya saja kami ini agak kelewatan lebay kalau menanggapi sesuatu, dan terlalu bersemangat saat bercerita.

Sifat identik lainnya adalah sama-sama pemalas. Sifat yang terakhir itu menjiplak, sangat serupa kadarnya. Kami berdua sering sekali menjadi makhluk yang paling terakhir mengerjakan tugas. Paling-paling buntunya cuma menyalin tugas punya Mbak Mut.

Aku rasa cukup sudah mendeskripsikan sosok mereka dari sudut pandangku. Mereka tetap punya peran dan warna sendiri dalam hidupku. Keberadaan mereka pun kuakui begitu berarti mengisi hari-hariku. Di sudut hatiku terdalam aku tahu benar bahwa aku sangat senang memiliki mereka sebagai sahabat-sahabatku.

Categories
KETIK

Tujuh Orang Pilihan Di Antara Sekian Banyak Pilihan

Setiap orang pasti punya orang-orang terdekat yang selalu membuat hidup mereka lebih berarti. Dengan adanya orang terdekat setiap kita akan merasa dicintai dan dihargai juga diharapkan untuk terus ada dan merasa dibutuhkan. Tentu saja hal itu serupa dengan aku, berikut akan aku sebutkan orang-orang terdekat yang selama ini sudah benar-benar menjadi bagian di hidup aku.

1. Ibu
Ibuku yang cantik itu, adalah perempuan hebat yang tidak pernah lelah untuk menjadi yang terbaik untuk anaknya. Dengan segala upaya dan usahanya beliau selalu memberikan yang terbaik untuk aku juga keluarga. Ibu adalah sosok yang paling berpengaruh untuk hidupku yang sudah diusia seperempat abad ini, beliau jugalah yang mendukung untuk semua usaha dan pekerjaanku.

2. Bapak
Tidak ada kata yang lebih manis untuk pria yang selalu membuat aku tenang ketika disampingnya. Bapak adalah orang yang mencinati keluarga juga aku, anak terakhirnya yang bandel. Beliau suka sekali mengajak aku pergi untuk sekadar makan atau mencari udara segar demi menuntaskan sedikit penat sehabis bekerja. Beliau yang selalu menuruti mauku dan tidak pernah mengeluh sedikit pun untuk setiap hal yang terkadang susah beliau kabulkan.

Kata orang, anak perempuan akan sangat dekat dengan bapaknya dari pada ibunya. Bagiku sama, beliau tidak pernah bisa dipisahkan satu sama lain dalam hidupku.

3. Novia Eka Ambarwati
Seorang perempuan yang usianya sama seperti aku, dia suka sekali makan kepala ikan nila bakar. Novia adalah sahabat yang sudah hampir tujuh tahun ini melengkapi hidupku. Sahabat yang menurut aku mau dan tidak sungkan nurutin apa yang aku minta dan pengen. Tapi dia sekarang sudah punya anak, meski begitu persahabatan kami tidak pernah berhenti.

4. Fatimah Putri Chandra Dewi
Dia teman dekatku juga, aku, dia dan Novia Eka adalah teman sepermainan. Fatimah atau yang sering dipanggili Imeh ini punya tai lalat yang sama seperti aku di atas bibir, tempatnya pun sama. Kadang kalau foto ada yang tanya, “Apakah saudara?” Hanya mirip tai lalatnya saja sebenarnya. Dia orang yang iseng banget, humoris dan bisa buat temen-temennya ketawa dengan cara dia yang unik.

5. Azakia Moza Pangesti
Perempuan dari Jawa Barat yang suka sekali makan cokelat, dia adekku. Sekarang umurnya dua puluh tahun. Dia suka sekali masakan seblak dan jajan. Suka habisin uang kakaknya hanya untuk jajan aja. Azakia ponakan yang ngeselin tapi kalau tidak ada dia rasanya kurang greget hidup aku karena tidak ada yang ajakin jajan.

6. Novi Anggoro Wati
Sudah hampir dua tahun ini dia merantau, karena virus covid-19 ini juga, jadi dia tidak bisa balik ke kampung. Dia temen yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Seorang perempuan yang menurutku nekat dan punya keinginan keras untuk mencapai suatu hal. Tapi jangan pernah mengajak dia untuk bernyanyi karena nada yang dia hasilkan akan jauh jalurnya dari yang biasa didengarkan.

7. Novi Pratamawati
Kontak di gawaiku memang dominan dengan nama Novi. Ada sekitar empat orang yang bernama sama, termasuk perempuan yang satu ini. Dia sama seperti Novi Anggoro, rumahnya dekat denganku. Dia kerja di rumah sakit dan karena Covid-19 juga jadi kami jarang bertemu. Alasannya tentu karena dia kerja di rumah sakit jadi mau tidak mau kami harus jaga jarak dan saling menjaga. Biasanya kami bertiga yang suka ke sana ke mari dan jajan, tapi karena satu atau dua hal jadi kebersamaan kita harus tergadai oleh keadaan. Meskipun demikian, komunikasi kita tetep lancar.

Demikian yang bisa aku ceritakan dan tujuh orang terdekatku, mungkin masih ada beberapa. Tapi aku rasa cukup. Terima kasih-

– perempuan aksara.

Categories
KETIK

My Circle

Pada post kali ini, saya ditantang untuk menulis latihan ketik 7 mengenai my circle dengan syarat no typo. Menurut saya, ini merupakan tantangan yang sulit bagi penulis pemula seperti saya. Namun, lebih baik dicoba dari pada terus bertanya apakah saya bisa? gagal atau berhasil itu relatif. Jadi, berikut ini adalah 7 circle manusia paling dekat dengan diri saya di muka bumi ini.

  • Ibu saya, dia memiliki fisik yang lucu, kecil dan mungil. Matanya sipit dengan rambut yang sudah banyak dihiasi putih-putih. Ia suka menonton televisi dengan saluran televisi kesukaanya yaitu indosiar. Di sisi lain, saya sangat suka memakan masakan dia karena dia lihai sekali dalam memainkan alat masak serta memadukan rasa.
  • Ayah saya, dia seorang yang bisa cukup tinggi. Seseorang yang anti dengan hari libur serta identik dengan asap rokok dan kopi hitam. Mungkin keduanya merupakan kombinasi terbaik baginya.
  • Kakak perempuan saya, tinggal di daerah pinggiran utara kota Jakarta. Seorang yang pandai bergaul, ramah, dan dia baik suka memberikan saya jajanan kecil sewaktu belum menikah kalo sekarang saya suka minta dimasakin makanan. Dulu kami sering bercanda dan pastinya bertengkar, namun seiring waktu dan bertumbuh dewasa yang namanya bertengkar sudah berkurang atau mungkin sudah tidak pernah terjadi lagi. Mungkin hubungan adik kakak tidak lengkap kalau tidak adanya pertengkaran. Haha…
  • Maman, merupakan seorang yang jago dengan kata-kata plesetan. Terlahir menjadi anak bontot sama seperti saya membuat kita menjadi satu frekuensi. Dia tidak terlalu tinggi, lebih tua satu tahun dari saya. Memiliki seorang kakak perempuan yang memiliki paras rupawan hingga sekarang. Kalau ketemu dia, saya selalu menanyakan kabar kakak perempuannya bukan dia. Haha… Tapi, menurut saya dia orang yang baik untuk dijadikan teman, kenapa? ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
  • Michael, dengan wajah polos, kulit kuning langsat dan dengan nama pasaran tersebar di berbagai penjuru bumi. Dia merupakan teman baik semasa SMP. Penyuka lagu-lagu klasik zaman dulu dan dia merupakan teman deket pertama saya yang menikah paling awal di umur yang masih sangat muda sekali. Sekarang dia sudah memiliki dua orang anak, saya kalah dong!
  • Timmy, kalau ini merupakan sang legenda contek menyontek di sekolah saya. Dia merupakan partner seperjuangan ketika kelas 8 ( 2 SMP ) untuk kongkalikong dalam menyontek demi naik kelas. Berbagai trik contek mencontek sudah kami terapkan dan uniknya kami tidak pernah ketawan oleh guru padahal kita berdua duduk di depan. Tertarik untuk ilmu contek menconteknya?
  • Tom, kenal sama dia belum lama tapi untuk intensitas dalam pertemanan melalui digital cukup dekat. Memiliki tinggi tubuh ideal 180 cm, penampilan trendy dan kehidupan sosialita selalu berdampingan dengan dirinya. Bertemu dengan dia pertama kali ketika sedang masa probation kerja di salah satu perusahaan di Indonesia. Sekilas tentang dia, dia itu mirip dengan penyanyi dari negeri Tiongkok yang terkenal dengan lagu “Ni Hao Bu Hao”.

Sekilas mengenai circle saya dalam kehidupan ini, semoga dengan adanya circle yang baik dapat membuat kehidupan kalian membaik juga. Karena ada yang bilang kalau lingkungan perteman itu mempengaruhi diri kalian juga. Harapan saya latihan ketik 7 saya tidak ada kesalahan typo dalam penulisan, namun apabila ada mohon maaf karena saya masih manusia biasa. Terima kasih.

Gerry

Categories
KETIK

Lingkaran Saya

Kenalan pertama saya adalah ayah saya. Dia lebih pendek dari saya tapi tampangnya awet muda. Badannya ya seperti badan bapak-bapak tapi yang tidak terlalu obesitas. Dia mengenakan kacamata dan selalu rapi saat keluar dari rumah, sangat berbeda dengan saya yang cuek. Orangnya tertutup tapi sensitif. Dia tidak banyak bicara dan jarang marah. Tapi kalau sudah marah, siap-siap saja bumi terbelah dua haha.

Yang kedua adalah ibu saya. Dulu badannya gemuk! Tapi karena rajin ke dokter dan diet, akhirnya bis aturun banyak. Ibu saya ini adalah orang yang paling tidka bisa diam sejagad raya. Di saat pandemi yang memaksa dia tidak bisa keluar rumah, selalu ada yang dia buat. Sekarang dia lagi suka buat kue-kue. jadi kalau soal memasak, tidak usah diragukan lagi ibu satu ini.

Ketiga adalah kakak saya. Orangnya lebih cuek dari saya tapi sangat setia dengan teman-temannya. Tampangnya mirip dengan saya (kata orang-orang). Seringkali saya disangka seperti kakak saya. Padahal jauh lebih tampan saya. Saat ini dia lagi senang-senangnya bersepda. Dulu dia suka main bola tapi karena sempat cedera jadi tidak diijinkan lagi oleh istrinya.

Categories
KETIK

Tujuh Kawan Dekat

Cukup sulit bagi saya dalam menyusun materi tulisan ini. Bagaimana caranya mendeskripsikan tujuh kawan terdekat, bila tidak sebanyak itu yang rasanya dapat dianggap dekat.

Meskipun ada, bisa jadi yang bersangkutan malah merasakan hal yang berbeda. Jadi, mohon maaf bila ada perbedaan atau juga kekeliruan persepsi dalam tulisan saya ini.

Lalu siapa saja tujuh kawan terdekat di sepanjang hidup saya?

  • Pak Kur

Saya merasa sangat beruntung karena sempat mengenal pria ini. Berkat dia, saya jadi dapat belajar tentang etos kerja, cara mengatur keuangan, bahkan cara menimbang segala sesuatu sebelum memutuskan sebuah tindakan.

Pak Kur merupakan atasan pertama saya, saat masih bekerja sebagai pramuniaga di toko elektroniknya. Walau kami berbeda ras, tapi ia menganggap semua karyawan seperti adiknya sendiri. Bahkan sampai sekarang ini.

Penampilan Pak Kur hampir serupa dengan profil seorang engkoh-engkoh yang sering ditampilkan di layar kaca. Lengkap dengan kacamata dan gaya tertawanya yang sangat unik.

Sudah hampir setengah tahun saya tidak mendengar kabar dari beliau. Mungkin setelah ini, saya akan coba untuk menghubunginya.

  • Binggo

Tubuhnya tegap, ototnya kekar dan gongongannya menyeramkan. Iya, Binggo bukan seorang manusia. Ia adalah seekor anjing dengan jenis doberman.

Binggo mulai tinggal di rumah saat saya masih berseragam putih dan merah. Ia tidak mengenal apa itu yang namanya kandang dan terbiasa tidur di bawah tempat tidur saya.

Sebenarnya, Binggo lebih tepat disebut sebagai sahabat dari ayah saya. Karena dua bulan setelah ayah saya dipanggil Tuhan, Binggo bersikeras untuk menyusul ke sana.

Selama dua bulan nonstop, Binggo tidak doyan makan, lesu, dan selalu berdiam diri pada setiap harinya. Dokter pun tidak dapat menemukan apa penyakitnya. Kemudian seperti yang sudah kami perkirakan, ia melepas nyawa saat sedang dirawat di dokter hewan.

  • Andriani

Agak lucu bila harus bercerita tentang kisah pertemanan yang satu ini. Awalnya, saat SMA memang kami sudah bersahabat cukup lama. Kemudian memutuskan untuk berpacaran, hanya bertahan selama dua minggu, lalu akhirnya bersahabat kembali saja.

Terakhir, saya bertemu dengannya pada bulan februari kemarin. Saat anak pertamanya berulang tahun yang ke-3. Ia jelas-jelas sudah sangat tampak berbeda bila dibandingkan sewaktu SMA dulu.

Untuk deskripsi fisik lebih jelasnya, tidak akan saya tuliskan di sini. Biarlah seorang wanita menjabarkan fisiknya sendiri. Akan panjang urusannya, bila sampai salah mendeskripsikan sahabat saya yang satu ini.

Tapi yang pasti, intensitas frekuensi kebawelannya semakin luar biasa. Baru kemarin lusa, lewat sambungan telepon, saya terkena semprot karena lupa menyampaikan pesannya kepada ibu saya.

  • Cepot dan Rambo

Keduanya merupakan kucing jalanan yang saya pungut dan pelihara saat sedang tinggal lama di perantauan. Tadinya saya kira mereka sama-sama berkelamin jantan, tapi ternyata Rambo adalah seekor betina.

Jadi mau tidak mau, saya harus mensterilkan keduanya. Tentu saja agar tidak beranak pinak di rumah kontrakan. Lalu hasilnya, Cepot dan Rambo semakin bertingkah seperti layaknya bos besar. Makan, tidur, main sebentar di kasur, bongkar rak sepatu, bikin kotor handuk, kemudian makan lalu tidur lagi.

Cepot berwarna hitam dengan ekor yang buntung, mungkin karena kerasnya hidup di jalan. Sedangkan Rambo, berwarna putih dengan corak abu dan lebih galak daripada seekor anjing doberman.

  • Sabatias

Kami bertemu di belakang kelas 1-C pada suatu sore semasa SMP. Ketika itu, kami berdua sama-sama sedang menunggu giliran untuk dirundung oleh beberapa senior. Alhasil, peristiwa tersebut malah membuat persahabatan kami mulai terjalin.

Butuh waktu berbulan-bulan bagi kami berdua, untuk meyakinkan angkatan kami agar mau melawan balik, bila anak-anak kelas dua dan tiga mulai kembali bertingkah. Dan akhirnya terjadi ‘perang saudara’ di sekolah kami.

Dulu tubuhnya sangatlah kurus, tapi sekarang sudah begitu proposional. Yah, bisa dibilang tipikal cowok kosmopolitan khas ibu kota. Walau begitu, Tias dan saya masih merupakan partner in crime yang cukup kompak sampai saat ini.

  • Lucky

Lucky adalah seekor anjing lagi. Tahun lalu, ketika memutuskan untuk kembali pulang ke kota kelahiran, saya merasa ada yang kurang di rumah jika tidak ada hewan peliharaan.

Kebetulan saat itu, lewat sosial media, adik saya menemukan berita tentang seekor anjing yang dibuang oleh pemiliknya. Tidak butuh pikir panjang bagi saya untuk segera mengadopsi anjing tersebut.

Lucky merupakan anjing yang cukup pintar dan baik sebenarnya. Jadi bingung juga, apa alasan pemilik sebelumnya membuangnya di jalan. Tapi apapun alasannya, membuang hewan peliharaan begitu saja di jalan, bukan sesuatu yang pantas untuk dilakukan.

Saya masih belum paham benar, Lucky adalah hasil persilangan dari jenis anjing apa saja. Kemungkinan ada turunan mini pincher, chihuahua dan dachshund. Tapi yang jelas, ia berwarna coklat tua dan tingginya hanya seukuran betis orang dewasa.

Categories
KETIK

Seven Heroes in My Last Year at College

Yuuuw, begitu baca isi tugas dari Ketik 7, aku senang karena pembahasannya adalah pembahasan yang aku suka. Bagiku sendiri sebenarnya nggak mudah untuk bisa mendeksripsikan seseorang. Tapi ini bagus sih,  sebagai upaya untuk bisa menjadi calon penulis andal yang pandai menggambarkan sesuatu (baik seseorang, benda, hingga suatu peristiwa).

Categories
KETIK Uncategorized

Tanpa Mereka, Aku tak tahu apa itu Sahabat

Di #KETIK7 ini, Kali ini saya akan bercerita tentang Karakter Teman-teman di Lingkaran  Pertemanan Aku.

Punya Teman itu seru, Aku dan mereka sering sekali bermain di sekolah dan suka berbuat onar di kelas Aku. Saling menolong, saling kerjasama, dan sama-sama punya masalah. Apalagi punya teman sahabat itu sangat seru daripada sekedar teman fake biasa. Gak juga teman-teman Aku yang di sekolah doank, tapi di Kampus juga ada meskipun hanya sedikit dan cuman menganggap teman saja yang suka menemani aku kalau pergi ke mall hanya untuk nonton bioskop saja. Bagi aku sih, aku lebih nyaman dengan teman-teman SMA saya. SMA itu adalah hal paling indah dan seperti surga di lingkungan sekolah SMA dulu saya daripada SMP/SD sebelumnya dan masa kuliah sekarang. Di SMA itu pertama kalinya aku mempunyai teman & sahabat, dan juga aku baru mengenal apa itu sahabat.

Dan inilah sederet nama-nama teman aku yang paling dekat di SMA aku. Siapa aja sih ? Aku jabarin nih satu-satu.

  1. Tasya

Dia itu salah satu sahabat pertama aku saat awal memasuki SMA. Awal aku bertemu dengan dia kebetulan kita teman sekelas, waktu itu aku masih kaku kalau mencari teman di kelas (namanya masih polos). Dan aku pertama kalinya berkenalan dengan dia dan masih hanya teman sekelas. Sejak saat awal acara LDKS di Sukabumi, kami menjadi sangat dekat dan sering sekali teman-teman kelas aku menyebut kami adalah teman paketan/ paling couple di kelas ku. Dan Persahabatan kami jadi keliatan saat aku sering main ke rumah dia begitu juga sebaliknya. Dan akhirnya Kami jadi sahabat deh hingga akhir kelulusan SMA. Soal sifatnya Tasya, dia baik, Ramah, dan pernah suka ama Guru yang terkenal muda dan ganteng di sekolahnya, wkwkwk. Saking sukanya, Aku selalu memberitahu dia kalau ada Pak W (nama inisial) lewat di kantin. “eh.. tas. ada Pak W tuh”. Sontak saja, Tasya pun langsung senang melihat ada Guru kami yang lewat, wkwkwk. Aku jadi ikutan senang melihat Guru cogan lewat . Oh ya, Kami sering sekali nonton film bareng di kelas kalau kelasnya lagi istirahat atau jam kosong karena gak ada gurunya. Apalagi kalau filmnya satu kelas lagi. njaaay udah kayak di bioskop. Tapi sekarang, aku jarang sekali ketemu dia karena sibuk dengan kegiatan masing-masing termasuk kuliah, begitu juga kampus kami berbeda tempat. Tapi pernah Aku dan dia ketemu saat rencana untuk nonton bioskop di mall. Terakhir Kami bertemu untuk nonton bioskop akhir Desember lalu.

 

2. Salsa

Sahabat kedua ku setelah Tasya. Cuman saja, dia tidak sekelas dengan ku dan tasya karena Salsa adalah kelas IPA sedangkan aku dan Tasya kelas IPS. Awal aku kenal dia pas saat acara Mos SMA. Itupun aku belum mengenal dia, Jadi waktu itu aku lihat pertama kali dia kena hipnotis oleh gurunya pas lagi acara mos, wkwkw. Acara mos itu paling ngakak dan juga teman-teman satu angkatan ku. Jadi dia tuh di hipnotis ama gurunya terus namanya dia di ganti dengan nama soimah. Pas dia bangun dalam keadaan hipnotis, gurunya langsung nanya ke Salsa.

“Nama kamu siapa ?”. Kata Gurunya .

“Soimah”. Kata Salsa

“Lah. Di name tag kamu kan namanya salsa”. Kata Gurunya sambil menunujuk ke nametag salsa yang ia pakai.

“Bukan pak! nama saya soimah”.

Sontak saja, seisi teman satu angkatan kelas aku di ruangan itu tertawa terpingkal-pingkal melihat kepolosan Salsa yang keadaan tidak sadar alias di hipnotis. Di situlah aku baru melihat Salsa di situ. Dan akhirnya Aku kenalan dengan Salsa saat sedang istirahat. Kebetulan dia lagi ada di balkon sekolah. Waktu itu masih cuman menyapa doank dan sejak acara LDKS kami menjadi sangat dekat dan kujadikan sahabat keduaku setelah Tasya. Aku, tasya, dan salsa bisa di bilang adalah sahabat paling dekat dan setia di sekolah. Dia itu baik, alim, dan juga ramah. Sering sekali di jadikan tempat curhat termasuk aku, hehehe. Aku dan Salsa sering banget lo main terus dan sampai-sampai aku suka main ke rumah dia. Sampai sekarang saja Aku masih ketemu dia dan main ke rumah. Sekarang dia jadi anak rantau di Tangerang karena ia kuliah di UIN.

 

court-cook-DWaiEFt9VT4-unsplash

 

3. Nivan

Habis bahas sahabat aku, sekarang aku akan bahas teman kelas aku yang terkenal kocak dan juga teman cowok aku. Nivan, dia adalah teman kelas aku kocak dan kadang ngeselin juga sih padahal cuman bercanda. Dia salah satu paling aktif dalam organisasi, seperti ikut ekskul pecinta alam, rohis , dan pernaj ikut japan club. Dia ini paling deket ama aku dan Tasya di kelas. Kadang suka bikin kelompok sama saku dan sahabat aku kalau ada tugas kelompok. Oh ya dia juga kenal ama abang aku karena abang aku sekaligus senior di sekolah dan sama-sama satu organisasi ekskul sama Nivan. Dan sampai saat ini dia masih aktif ikut organisasi di kampus, seperti ikut menwa karena ngikut jejak abang aku dan jadi pengurus organisasi BEM UIN dan UIN jabodetabek. Semangaatt boyyy !!!

 

4. Faizah

Teman kelas ku yang terkenal baik dan ramah. Cewek penyuka Kpop ini adalah teman baik ku, tapi agak dekat sih. Pernah aku ngasih hadiah berupa merchandise kpop seperti sticker boyband korea ke dia karena dia emang suka kpop sampai teman kelas aku ada yang minta sticker dari aku, wkwkw, Aku juga pernah kasih hadiah loh ke dia pas dia lagi ulang tahun. Lupa aku waktu itu beli barang buat hadiah ke dia itu apa ya, lupa aku. Sekarang dia satu kampus denganku meskipun berbeda jurusan dan jarang sekali bertemu dengan dia.

 

5. Dhani

Teman kelasku juga yang terkenal berisik, heboh,suka makan, dan kocak deh. Dia suka sekali bermain bola dan pernah main bola di kelas bersama teman-temannya sampai bolanya kena jam dan pecah dan itu membuat kelas tetangga sebelah langsung kaget dan menuju ke kelas aku, wkwkw. Waktu itu kan Kelas aku sama Kelas sebelah di batasi dengan rooling door. Kebetulan kelas ku dan kelas sebelah itu tempat audiotorium yang sering sekali di jadiin tempat acara gitu.

Kembali ke topik dhani, dhani tuh sering nanya ke aku kalau aku punya film bagus di laptop dan suka ikutan nonton film, wkwkwk. Kini, dia masih aktif bermain bola dan juga rutin main futsal dengan klub nya.

 

6. Sukma

Teman kelasku selanjutnya yang terkenal badannya besar, tinggi, dan nyebelin juga sih. Dia cowok, dia emang berisik suka nyanyi-nyanyi gak jelas di kelas. Dia juga gak sabaran mau nonton film di laptop aku. Dulu saat pertama kali kenal dia, dia dulunya nakal, pernah bolos, dan bahkan bikin usil di kelas sampai membuat gurunya merasa jengkel. Sekarang dia berubah dan jadi pintar di kelas. Tapi tetap aja masih nyebelin ke aku. Seperti pernah nyabetin minuman anak kelas pakai sapu tangan dan pernah ngejek ke aku.

 

7. Vina

Aku mengenal dia dan udah temenan udah lama banget sejak SD. Sampai SMA masih satu sekolah sama aku meskipun beda kelas. Gak terlalu dekat sih sama dia pas di SMA. Dia sebenarnya punya sahabat di kelas sejak SD. Dan kini Aku jadi dekat dengan dia dan sejak aku dan dia saling curhat berbagai masalah terutama masalah kuliah dan pertemanan. Sekarang aku malah lebih sering curhat ke dia daripada salsa, soalnya salsa udah sibuk kuliah dan agak jarang sih saling chat di whatsapp lagi. Bahkan, malah aku lebih nyaman ke dia, wkwk. Vina itu baik, ramah, dan jago gambar loh. Gambarnya aja udah bagus dan agak juga suka nonton anime.

 

papaioannou-kostas-tysecUm5HJA-unsplash
“Teman tetaplah teman, yang membedakan adalah teman pada masanya dan teman selamanya”
Arief Subagja

 

 

Dan itulah adalah deretan teman-teman aku di lingkaran pertemananku. Tanpa mereka, Aku tidak tahu apa itu teman dan juga sahabat. Sejak mereka ada di kehidupan ku, Aku mulai meresakan Persahabatan dan pertemanan.

 

Sampai Jumpa di Ketik selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories
KETIK Uncategorized

Kalian Istimewa

Di KETIK7 ini, semua sahabat pengikat kata diberi challenge untuk mendeskripsikan 7 orang terdekat dalam circle kehidupan mereka. Okay, waktunya berpikir keras untuk menentukan siapa yang pantas mendapatkan posisi di dalam tulisan ini. Membosankan rasanya jika aku harus mencantumkan “tentang” keluargaku di sini. Lagipula hampir separuh umurku kuhabiskan di luar lingkungan rumah. Jadi, siapa yang harus kudeskripsikan? Temanku banyak, tapi yang kuanggap “benar-benar teman” mungkin hanya hitungan jari. Mereka yang benar-benar memiliki peran dan singgasana khusus dalam kehidupanku.

Bicara mengenai pertemanan, tak akan pernah ada habisnya jika kutuliskan di halaman kosong ini. Terlalu banyak hal yang telah mengisi relung kehampaan hidupku, walau hanya segelintir orang yang kuizinkan memasuki zona yang menurutku agak sensitif ini. Dalam real life, “kerewelanku” yang sehari-hari memenuhi beranda notifikasi takkan kalian temukan. Aku yang nyata, lebih suka berdiam diri, mengamati, lantas berdialog dengan diri sendiri. Tak ada yang bisa mengusikku ketika aku tenggelam dalam duniaku. Asap yang memenuhi kepala ini telah menenggelamkan aksara, hingga membuatku sulit bersuara. Sudah cukup basa dan basinya, huh! Dengan ini, kuputuskan merekalah yang terpilih.

1- Ola

Manusia pertama yang kukenal saat kakiku menginjak dinginnya lantai asrama perkuliahan untuk pertama kali. Kulit pucat, wajah datar, dan rambut pirangnya sempat membuatku bergidik ngeri saat itu. Namun tak kusangka, kita menjadi teman dekat di hari-hari setelahnya. Ia selalu antusias jika aku mengajaknya berdiskusi mengenai warna rambut. Bahkan aku menjadi kelinci percobaannya dalam bereksperimen. Kita bertiga sangat terlampau dekat. Kita? Ya, aku, ola, dan satu lagi wanita bermata dua, berhidung, bertelinga, dan bermulut yang akan kujelaskan setelah ini. Senyum mereka sudah menjadi senyumku, begitupun tangisnya. Kok jadi melow si! Ola memiliki sedikit permasalahan dengan “diri dan pikirannya“, begitulah yang aku rasakan. Aku dapat membaca pikiran, perasaan, bahkan gerak-geriknya. Ketika ia menyimpan sebuah rahasia, aku dengan santai berbicara “Aku tahu la! Tahu!” Begitulah, bocah bertubuh mungil, yang bercita-cita menjadi dokter, tapi mundur karena tahu passionnya berada di dunia salon. Sayang sekali, ia tak bisa membersamaiku hingga kelulusan nanti. Dimanapun kamu berada, jaga selalu senyummu okay!

2- Alya

Wanita asal kota Bekasi yang kebetulan dipertemukan denganku dalam naungan asrama yang menyenangkan. Di awal pertemuanku, satu kata yang seolah menjadi label di wajahnya “jutek“. Astaga Al, sungguh aku tak bergurau, aku benar-benar benci wajah itu. Tapi, yang ada setelahnya malah pelukan hangat dirinya saat aku hanyut dalam keputusasaan. Manusia berhidung mancung, dan berparas manis ini menjadi teman dekat keduaku. Beberapa kegemarannya yaitu, bermain game online, selfie, dan mengacau waktu rebahanku. Ia sangat piawai menyimpan perasaan dan suasana hatinya. Di saat dirinya sendiri membutuhkan motivasi agar tetap kuat, ia selalu mampu menebar tawa khasnya. Kamu kuat Al!

3- Maryam

Namanya mirip dengan nama ibunda Nabi Isa alaihissalam, begitu pula sifatnya. Wanita kelahiran tahun 1999 ini telah menciptakan banyak kebersamaan denganku. Parasnya yang ke-arab-araban selalu membuatku berdecak kagum. Tubuhnya yang mungil membuatnya terlihat lebih muda dibanding usianya yang sudah menginjak kepala 2 itu. Setelah Ola memutuskan untuk pergi menyisakan kami berdua, Mayam pun menyelinap masuk menggantikan sosoknya. Pemikirannya yang dewasa selalu menjadi penengah di antara huru-hara kemalasan para kaum rebahan. Berbeda dengan aku dan Alya yang selalu asik berkutat dengan gawai, ia dapat memanfaatkan waktunya dengan baik. Selalu mengingatkan kami saat waktu makan tiba, menegur kami saat terlena dengan kesalahan, dan begitu sabar menghadapi diriku dengan segudang egonya. Thank you for being my unpaid therapist mayam!

4- Farah

Aku dan kawan sekamar sepakat untuk memberinya sebutan “Umi”. Kami menobatkannya menjadi ketua kamar. Dan memang ia berhasil menyulap kamar kami menjadi “The Cleanest Room” yang terpilih untuk lokasi shoot profil Ma’had. Seorang sosok yang memiliki kepribadian dewasa, agamis, dan ramah. Entah aku tak tahu rahasia di balik pertemuanku dengannya, mungkin Sang Pencipta ingin aku kembali ke jalan yang benar. Seluruh kalam yang tercipta dari lisannya merupakan perkataan yang bermanfaat. Tak ada waktu yang sia-sia terlewati dalam hidupnya. Kalian takkan pernah menyangka, di balik tubuh mungilnya terdapat sebuah jiwa kedewasaan yang menghiasi. Ia selalu kujadikan panutan utama ketika tercebur dalam sebuah hal yang sia-sia. Thanks for being my motivator umi!

5- Qonita

Anak perempuan dari seorang ustadz sekaligus penulis buku yang pernah kubaca ini kebetulan mendapat jatah ranjang di kamarku. Sungguh beruntung nasibnya, disatukan dengan diriku yang sama-sama memiliki kegemaran rebahan hehe. Rambut keritingnya selalu menjadi bualanku setiap hari. Aku gemash dengan rambutmu qonit! Dan jangan lupakan wajah ke-arab-araban yang merupakan warisan dari Abi dan Umi tercintanya. Pembawaannya yang santai membuatku enjoy berkawan dengannya. Ia gemar membuat humor recehan yang mengundang gelak tawa dan sorakan riuh kami. Di balik diamnya, ia menyimpan banyak keahlian selain membuat humor recehan yang tadi telah kusebutkan. Ia juga memiliki tangan yang sangat lihai menciptakan karya seni khas pelukis ala-ala. Nice to meet you qonit!

6- Aida

Aku tak pernah sanggup bercerita tentang dirinya. Sudah begitu banyak hal yang tercipta antara kami. Perempuan berparas manis yang memiliki lesung pipi ini telah menemani perjalanan hidupku sejak aku menginjak masa remaja. Ia juga gemar menulis dan berkata-kata sama sepertiku, bahkan aku belajar darinya. 7 tahun bukan waktu yang singkat untuk mampu mengenal dirinya. Sosok perempuan yang teguh pendirian, baik hati, dan ramah. Ketulusan kata-katanya bahkan mampu menggedor pintu batinku demi menyadarkanku akan kesalahan. Di balik ketegaran penampilannya, aku ingat bagaimana ia menangisi dirinya sendiri atas kesalahannya di pundakku. Hubungannya dengan keluarga sedang tidak baik kala itu, dan aku terus memotivasinya untuk terus berdiri kokoh. Ia yang sekarang bahkan lebih mengagumkan dari dirinya yang dulu. Aku yang tumbuh bersamanya sangat menyadari hal itu. Thanks for being my best friend ever da!

7- Arya

Kali ini, yang ingin ku ceritakan adalah seorang pria. Tidak, tidak, ia bukan pacar, atau TTM, atau apapun itu sebutannya. Benar-benar murni seorang teman. Tak perlu kusampaikan bagaimana pertemuanku dengannya. Ia tinggal di negara yang bersebelahan dengan negeri tercinta kita ini, Malaysia. Aku mengenalnya setahun yang lalu. Pekerjaan kedua orang tua membuatnya terpaksa harus tinggal berpindah-pindah negara. Ia berkebangsaan Indonesia, tapi sepertinya sudah mulai menetap di negara tetangga kita itu. Berbeda dengan kita yang akrab dengan aroma bangku sekolah, ia menghabiskan masa pendidikannya di rumah “home schooling“. Pria berwajah manis ini, berumur setahun lebih muda dariku. Aku menyukai kepribadiannya yang unik. Seluruh percakapanku dengannya berisi diskusi-diskusi seru, tentunya di tengah kesibukannya yang sangat padat. Satu hal yang membuatku sempat heran, kenapa ia tak pernah menggunakan emoticon ketika mengobrol via chat? Dan jawabannya sederhana, “ribet milihnya” haha. Gemar membantu orang tua, mulai dari memasak, beres-beres, dan kegiatan rumah lainnya. Hey Arya, pulanglah ke negeri asalmu nak! Haha.

Akhirnya aku dapat menamatkan cuap-cuap ini. Yeaay! Mereka yang telah kusebutkan adalah sosok manusia-manusia yang kuizinkan masuk ke dalam zona nyamanku. Terima kasih kalian, terlebih yang telah sabar menghadapi segudang egoku. Sekian, see you soon!