Jangan Menyimpan Ketakutan

Apalah yang ditakutkan selain benalu yang melenakan, semacam candu dihisap pelan-pelan. Rasanya rimbun menyegarkan, naungan teduh tempat menumbuhkan sarang, burung tumbuh beranak pinak. Cabang ranting saling membelit menguatkan dalam genggaman. Pelan-pelan tanpa terasakan, sangat meninabobokkan hisap-hisapan semacam candu menggerogoti perasaan, tetap saja terlewatkan. Serasa obat yang menyegarkan. Sambil bercengkerama, menerima celoteh angin membelai daun-daun. Pelan-pelan ranting terbelit terpinggirkan kehilangan daya serap makanan, keriput diseruput benalu lebih dulu sebelum benar-benar bertemu. Oksigen tetap dilepaskan karbon dioksida selalu ditangkap dalam perangkap, sayangnya saat pembagian tak lagi mendapatkan. Begitu perihnya perasaan yang terhisap-hisap. Merana tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lelah dan kecewa.

Untuk apa ketakutan dipertahankan pada rimbun paku sarang burung menggantung pada rindang pohon di pinggir sendang. Tak ada peri mambang menyandang pedang mendiami kerimbunan asplenium. Itu menggelayut bukan janggut lelembut, menjuntai melambai tak meraih apa-apa darimu, selain mengajak merenung tanpa harus bingung, kenapa asplenium harus terus menggantung dalam menyambung kehidupannya. Udara dipertukarkan dengan leluasa meski pada dingin lembab angin pegunungan yang akrab. Tanpa penyanderaan pada dahan tempatnya menetap, hanya numpang dipermukaan tanpa secuilpun akar menancap, apalagi menghisap. Tidak sama sekali. Betapa renyahnya hidup tetap merapat tanpa saling menghisap.

Masihkah kau simpan rasa takut melintasi jalan setapak menuju beringin kurung di tengah alun-alun. Cerita burung yang terus saja membubung. Tiap beringin kurung selalu diselimuti cerita tentang makhluk-makhluk tak kasat mata. Biarlah akar-akar gantung itu tanggung dipunggung dahan-dahan. Tak perlu sajen sesembahan kau hidangkan. Mambang yang bertandang tak akan doyang, selain mempermainkan iman. Tak usah kau pikirkan malam jumat akan bergelantungan, akar-akar tumbuh menjadi ular-ular yang menakutkan. Untuk apa memelihara ketakutan yang akan mengikis iman.

Masih ingatkah di rumpun bambu waktu itu. Derak di malam yang gerimis. Belum diberikan penerangan listrik. Suara kucing serasa mistis memerindingkan tengkuk anak-anak seperti kita.

Kampungmanis, mei 2020

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s