WKWK 9 – Keluarga Kedua

Aku masih ingat hari itu, tanggal 13 Februari 2021, satu hari sebelum Valentine, kami melakukan video conference untuk menggantikan acara Malam Pengikat Kata di Warung Kopi Wak Kecik (WKWK). Corona masih menguasai Bumi dan banyak aktivitas manusia yang terhambat, termasuk kegiatan rutin kami. Wak Kecik dengan berat hati menutup warungnya. “Entah untuk sementara atau sementerus, boi,” candanya waktu kutanya kapan akan buka lagi.

Satu tahun tujuh bulan, tak terasa sudah selama ini aku tak bertemu dengannya. Tak ada kabar sama sekali darinya. Aku pun tak berinisiatif mencari tahu. Biarlah takdir mempertemukan kita kembali, begitu kukatakan kepada diri sendiri. Setiap orang memiliki kesibukan dan prioritas hidup masing-masing. Tapi anehnya pagi ini keinginan untuk mengetahui kabarnya menjadi bangkit lagi. Semua bermula ketika selepas Subuh ada notifikasi kalender di ponsel. Satu minggu lagi adalah acara ulang tahun Ikatan Kata (IK). WKWK adalah basecamp kami, tempat berkumpul, bercengkrama, saling mengakrabkan diri. Aku jadi kangen barista kecil dan hitam itu. Seorang perantau tangguh, terpantau galak dan meledak-ledak namun bisa begitu care di lain waktu. Aku putuskan untuk menghubunginya.

Dua kali sambungan telepon tak mendapatkan respon. Kupikir memang Wak juga sudah punya kesibukan yang lain. Tiba-tiba muncul pesan darinya. 

Wak sedang nyetir. Sepuluh menit lagi Wak telpon balik.

Aku senang membacanya. Wak Kecik masih ingat ternyata. Syukurlah.

###

Enam hari berlalu sejak aku menelpon Wak Kecik. Dia dengan senang hati menerima permintaanku untuk merayakan hari ulang tahun IK di sana. Wak Kecik bilang sejak 3 minggu WKWK dibuka, pengunjung yang datang masih sedikit dan belum sebanyak 2 tahun lalu. Dia berharap dengan kedatangan tim rusuh dari IK bisa meramaikan WKWK. Aku mengamininya lantas kutambahkan ide kalau semua member iK akan post kegiatan kumpul-kumpul nanti di sosial media. Dan agar bisa menarik banyak pengunjung, ruangan WKWK mesti didesain ulang menjadi lebih instagramable. Wak Kecik manggut-manggut menyetujui usulanku itu.

Sekarang aku sedang di toko souvenir dan bingung mau beli apa untuk acara tukar kado nanti. Ada begitu banyak barang unik, menarik dan antik di sini. Tapi ternyata semakin banyak pilihan justru semakin sulit memilih mana barang yang cocok untuk dibawa pulang.

Sudah hampir satu jam, aku hanya mondar-mandir di toko. Beralih dari satu item ke item lain. Membanding-bandingkan semua aspeknya seperti harga, volume, berat dan nilai estetika benda itu. Ah, aku lupa satu hal, barang yang kubeli juga mesti berguna. Kurasa kriteria terakhir adalah yang paling penting.

Pukul 11 lebih 3 menit, aku keluar dari toko tanpa membawa hasil. Bagaimana ini? Besok sudah hari H tapi aku belum punya kado. Sudahlah, mungkin nanti sore atau malam aku hunting lagi. 

Kuseret kaki dengan agak malas dan terasa berat seolah-olah ada bola besi yang rantainya terikat di kaki. Aku berhenti ketika ponsel berdering. Dari istriku. Ia bertanya kapan aku pulang ke rumah. Kujawab akan pulang kalau kadonya sudah kudapatkan.

“A, ini sudah enam hari lho kamu keluar cari kado untuk acara itu. Masa sih masih belum dapat? Jangan berpikir terlalu rumit dan pemilih. Tentukan saja satu, beli, bawa ke rumah, nanti aku yang bungkusin kado. Selesai. Besok tinggal bawa ke WKWK. Cari saja benda yang paling dekat dengan kamu, A. Apa benda yang identik dengan penulis?”

Tanpa menunggu jawaban, istriku menutup teleponnya. Mungkin ia kesal karena aku selama 5 hari berturut-turut tidak pulang tepat waktu. Selepas kerja aku segera keluar untuk hunting kado. Dan hari ini pun saat libur, aku masih keluar rumah untuk mencari kado yang pas. Ucapannya barusan menohokku. Kok aku berpikir terlalu rumit ya. Oke, sebelum pulang aku akan mencari sekali lagi dan benda apapun yang kutemukan nanti dan sekiranya ada hubungannya dengan penulis, akan aku beli.

###

Kami janjian di WKWK pukul 1 siang. Ketika aku datang sudah ada empat orang yang hadir. Ada Mas Narno, Arin, Bu Dian dan Seno. Mereka sudah duduk rapi di sofa merah marun yang disusun huruf L. Sofa ini adalah tempat favorit kami ketika nongkrong di sini. Meja besar persegi di depannya telah diisi oleh ragam hidangan dan minuman. Dan ujung meja sudah ada 5 buah kado. Aku menaruh punyaku di sana. Arin segera mengambil lalu menomorinya dengan spidol.

“Satu lagi punya siapa?” tanyaku pada Arin.

“Oh, yang ini punya Hani. dia gak bisa ikut karena anaknya ada jadwal imunisasi hari ini,” Arin mengangkat sebuah kado berukuran sedang yang dibungkus rapi dengan kertas kado hijau motif kodok. 

“Keroppi,” jelas Arin pendek

“Mom Sondang lagi otewe,” tambah Bu Dian, “dan Vera katanya gak bisa hadir juga. Lagi ngurus dokumen buat magang.”

“Berarti tinggal Mas HP ya yang belum ada kabar. Aku juga sudah sempat kirim chat dia tapi belum balas.”

Sekitar sepuluh menit, Mom Sondang datang. Ia setengah berlari menuju kami. Tanpa basi-basi langsung menyambar satu botol air mineral di atas meja. Tampaknya dia lelah sekali.”

Sorry, sorry, tadi taksi onlinenya ada trouble. Ban belakang sebelah kirinya kempis. Jadi aku berlari dari dekat lampu merah yang dekat SPBU di depan itu. Takut telat.”

“Kempisnya karena Mommy duduk di belakang kali, “celetuk Seno.

Mommy bangun lalu menghampiri Seno dan mencubit paha kanannya. “Enak aja. Bukan dong. Aku boleh emak-emak anak 4 tapi body masih kayak Sandra Dewi.”

Seno meringis menahan sakit di pahanya. “Ampun, Mom. Ojo nesu.”

“Apa pula kau bilang aku asu?”

“Sudah-sudah, Mommy duduk saja. Ojo nesu itu artinya jangan marah,” Mas Narno menengahi.

Aku yang sembari tadi berdiri masih tetap dalam posisi yang sama. Mematung sambil memperhatikan tingkah laku member Ikatan Kata, keluarga keduaku. Masing-masing dengan keunikan dan kekhasan sifatnya. Aku tersenyum.

“Sebelum makan-makan kita tukar kado yuk!”

Arin lalu maju ke depan dan mengarahkan teknis tukar kado. Setelah dinomori kado dari masing-masing member, Arin memanggil satu per satu dan diminta mengambil nomor yang ia masukkan ke dalam sedotan yang ukurannya sudah dipotong pendek. Sambil menunggu semua mendapatkan nomor undian kado, Wak Kecik datang sambil membawa sebuah kue ulang tahun. Ada tulisan HBD IK dan lilin angka 3 di atasnya. Sebelum kue itu dipotong, kami berdoa dan memanjatkan harapan untuk masing-masing dan bagi masa depan IK. Tak ada iringan lagu Jamrud yang overused yaitu Hari Ulang Tahun atau lagu Happy Birthday ala Amerika, kami semua menundukkan kepala sambil berdoa. Sungguh 2 menit yang hening dan khidmat.

Usai berdoa Bu Dian berinisiatif untuk memotong kue dan membagi-bagikannya untuk kami dan Wak Kecik serta istri tercintanya. Kue rasa stroberi itu sungguh nikmat disantap. Apalagi bersama teman-teman tersayang. Kemudian Arin memberi kami sinyal untuk membuka kado hasil undian tadi. Aku mendapatkan sebuah tumbler berwarna biru dari Bu Dian. Lumayan, bisa aku pakai untuk minum di kantor. Dan yang mendapatkan kadoku ternyata Mom Sondang. Dia membukanya.

“Biar jadi pengingat Mom untuk terus rajin menulis,” aku buru-buru menjelaskan sebelum Mom bertanya. Hadiah yang dia dapatkan adalah sepasang gantungan kunci berbentuk keyboard komputer dan tetikus (mouse).

“Thanks ya,” kata Mommy sambil tersenyum.

###

Temukan keseruan obrolan Para Pengikat Kata di WKWK

Advertisement

3 thoughts on “WKWK 9 – Keluarga Kedua

  1. Di paragraf Sorry, sorry, …. Ada yang lupa di spasi mas Fahmi.

    Btw, sifatku di sana sesuai sekali di kehidupanku.. Haha.. Sering terkena fitnah.😂 Tapi gapapa.. It’s my live.. Aku sudah riset beberapa kali soalnya..😌

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s