Spirit from Ramea

Anyer Carita masih seperti dalam ingatan lama saya ketika terakhir berkunjung, sekitar empat atau lima tahun lalu. Penginapan-penginapan yang berjajar di sepanjang pantai masih yang dulu, tapi kini tampak jauh lebih kusam dan sepi karena lama tidak dikunjungi wisatawan akibat pandemi Covid-19. Hampir tiga tahun lamanya pandemi menghentikan aktivitas manusia di bumi. Walaupun bagi warga sekitar Carita Covid-19 hanya angin lalu, jejak pandemi ini jelas terlihat pada usaha wisata pantai. Banyak tanda penginapan dijual atau dikontrakkan, pedagang yang biasanya memenuhi pinggiran jalan menghilang, dan lalu lintas di akhir pekan ini tidak segarang dulu ketika mobil berderet mulai dari ujung Anyer sampai Carita. Kunjungan kali ini bukan untuk berlibur, walaupun akhirnya memang menjadi oase dari kesibukan rutin kampus. Setelah beberapa kali menawarkan diri untuk terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas) Dr. Retno Lestari, akhirnya kesempatan ini datang juga. Selama tiga hari (Jumat-Minggu) di akhir Oktober yang menandai musim pancaroba, kami melakukan kegiatan pengmas Universitas Indonesia di tiga desa, yaitu Sukarame, Banyu Biru, dan Ramea.

Boleh dikata kunjungan ke SDN Ramea 2 adalah yang paling meninggalkan kesan. Secara administratif Desa Ramea terletak di Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, Banten. Luas wilayahnya 2.746 km2 dengan jumlah penduduk 1.175.148 jiwa. Lokasi Desa Ramea ada di atas gunung. Jalan ke sana bisa dilalui 2 mobil dan sudah beraspal. Namun, kondisi jalan di beberapa tempat rusak berat dan jadi mengerikan karena medannya naik turun. Butuh waktu 1,5 jam dari Carita untuk sampai di sekolah. Perjalanan ini persis seperti kisah-kisah yang sering ditemukan di buku tentang perjuangan seorang anak untuk menggapai impiannya bersekolah. Bagaimana medan yang berat dan sekolah yang jauh dari layak tergambar jelas hari ini. Kondisi yang sanggup menggugurkan semangat dan impian seorang anak untuk menjadi “orang pintar”.

Tapi saya menemukan sesuatu yang berbeda di sini. Pada dinding ruang guru terpasang beberapa poster yang berisi kutipan atau sering disebut quotes. Ada kutipan tokoh, seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Bung Karno, sedangkan yang lain tanpa nama. Semua menyiratkan semangat untuk maju, untuk berani berubah, untuk out of the box. Satu yang paling menyentuh adalah kutipan yang bertuliskan “Orang Miskin (Boleh) Sukses Sekolah.” Sepulang dari sana saya mencari info tentang kutipan ini di internet dan menemukan sedikit ulasan dari Goodreads. Kutipan itu ternyata judul sebuah buku yang ditulis oleh M. Sanusi. Isinya kisah-kisah orang yang serba kekurangan tapi kemudian berhasil mencapai gelar tertinggi dalam dunia akademik. “Ada Harsito si anak petani yang mendapat gelar profesor riset dari Tokyo, Kebamato orang udik yang menggondol gelar Dr. rer. nat dari Jerman, Hadi Suanto si miskin dari Lumajang yang menjadi dosen di Inggris” (https://www.goodreads.com/book/show/15085742-orang-miskin-boleh-sukses-sekolah)

Saya teringat pada kisah-kisah serupa di Orang Miskin Dilarang Mati di Kampung Ini karya Riza Almanfaluthi. Dashrath Manji, seorang penduduk Desa Gehlaur, Negara Bagian Bihar India, “memotong” gunung dengan alat sederhana untuk membuat jalan pintas yang menghubungkan desanya dengan desa seberang. Ia tidak mau kejadian yang menimpa almarhumah istrinya terulang akibat petugas medis terlambat datang ke desanya yang terpencil. Abdul Rozak, penduduk Desa Pasanggrahan Kabupaten Tasikmalaya, membendung sebuah sungai kecil untuk memulai saluran irigasi sepanjang tiga kilometer agar desanya yang tandus mendapat air. Apa yang saya rasakan di ruang guru SD Ramea 2 membuat saya berharap dan berdoa agar murid-murid di sini, orang tua dan guru-guru mereka, bisa mengejar dan meraih kesuksesan walaupun (mungkin) miskin.

Buya Hamka telah menulis hakikat kemiskinan. Kemiskinan itu ada dalam diri, bisa dimiliki oleh orang yang tidak punya harta benda maupun yang harta bendanya berlebih. Orang yang tidak punya harta benda dikatakan miskin bila tidak ada himmah. Apa itu himmah? Yaitu kemauan atau tekad yang kuat, semangat tinggi, cita-cita yang memandang jauh ke depan. Orang yang punya harta benda dikatakan miskin karena mereka mampu (berada) tetapi tidak tergerak hatinya untuk menolong orang lain yang melarat. Tidak ada rasa kasihan, hanya menghitung laba rugi, perasaannya kasar dan hatinya beku. Itulah sejatinya orang yang miskin. Jangan lupa bahwa Allah telah memberikan “kelebihan” pada seorang manusia, bukan hanya tubuh, tetapi juga akal budi. Potensi akal budi yang sangat hebat ini seringkali dilupakan. Kita lebih sibuk membanggakan tubuh dan apa yang melekat padanya (materi). Padahal ribuan tahun lalu Epiktetos (55-135 M) telah menyindir, “Jangan memegahkan dirimu dengan keunggulan yang bukan milikmu … ketika kau merasa bangga dan mengatakan Aku punya kuda yang cantik akuilah bahwa kau sedang membanggakan keunggulan milik kuda itu. Kalau begitu apa yang menjadi milikmu sendiri?”

Spirit untuk maju itu tidak hanya di ruang guru, tapi juga saya temukan pada orang tua siswa yang hadir di sekolah untuk mendengar program Membaca Nyaring (Read A Loud). Mereka dengan jujur dan berani menjawab pertanyaan, berpendapat, bertanya. Semua mereka kemukakan dengan suara keras dan lantang. Tidak ada kesan “penduduk desa” yang malu dan takut. Bahkan, bila saya bandingkan dengan satu kelas mahasiswa yang saya ajar di kampus, para orang tua siswa ini lebih berani mencoba berinteraksi dengan pengajarnya.

Ketika pulang meninggalkan sekolah, yang tersisa adalah setumpuk pertanyaan di benak. Bagaimana menjaga spirit ini? Apa yang dapat kami lakukan untuk membantu orang tua siswa dan para guru dalam membimbing putra putrinya? Bagaimana meningkatkan kualitas sekolah, tidak hanya dalam hal mental tapi juga fisik? Saya jadi ingat lagi apa yang menyebabkan selama ini kegiatan pengabdian masyarakat lebih sulit dibandingkan riset. Ternyata memang lebih mudah menjadi Menara Gading daripada menjadi gading yang bermanfaat untuk orang banyak.

Advertisement

2 thoughts on “Spirit from Ramea

  1. Pengalaman yang luar biasa, Bu Dian. Orang bisa saja tampak miskin dari penampilan luar namun semangat belajar dari dalam diri yang mampu memutar nasibnya kelak.

    Perjuangan, Himmah dan Menara Gading yang akan saya ingat dari pos ini.

    Untuk judul pos, kata ramea mesti ditulis Ramea.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s