Bersentuhan dengan Kupu-kupu

Beberapa kali dalam hidup saya bersentuhan dengan kupu-kupu. Ada beberapa pengalaman tentang kupu-kupu saat kecil dan dewasa. Pengalaman itu teringat hingga dewasa.

Saat kecil kami sekeluarga, ayah, ibu, saya, dan adik pernah mencari kupu-kupu untuk dijadikan insektarium. Ibu adalah guru biologi di sebuah SMP. Kami tinggal di perumahan baru. Rumah dan penduduknya masih jarang. Masih banyak lahan yang ditimbuhi semak-semak. Di lahan itu, selain semak-semak juga ada bunga-bunga liar yang mekar.

Di pagi hari, kami berjalan ke sebuah jalan utama. Warga menyebutnya jalan kembar karena ada 2 jalan dan di tengahnya ada taman. Di taman itu banyak ditumbuhi tumbuhan liar. Uniknya banyak juga bunga bermekaran. Karena banyak bunga, maka otomatis pula banyak kupu-kupu yang beterbangan di atasnya mengunjungi bunga-bunga liar yang mekar.

Kami sekeluarga membawa jaring kupu-kupu dan bekas kardus sepatu. Kami menangkap kupu-kupu yang bertebaran di atas tanaman bunga liar. Setelah kupu-kupu tertangkap dengan jaring. Kami mengambilnya dan memasukkannya ke kardus sepatu.
Sesampainya di rumah ibu menyuntiknya dengan bius lalu ditata di pigora. Jadilah  insektarium.

Pada saat kuliah semester 3, ada mata kuliah Anatomi Avertebrata. Mata kuliah ini mempelajari tentang hewan-hewan avertebrata/tidak bertulang belakang. Avertebrata meliputi banyak jenis. Salah satunya adalah serangga. Mata kuliah ini selain teori juga ada prakteknya. Salah satu prakteknya adalah membuat insektarium.

Prosedurnya adalah menangkap serangga dengan jaring lalu menyuntiknya dengan obat bius lalu menatanya di sebuah pigora. Salah satu tujuannya adalah sebagai media pembelajaran siswa. Jadi, kami dilatih untuk membuat media pembelajaran untuk murid kami saat kami jadi guru nantinya.

Kelas kami mendapat bagian mencari serangga di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Untuk pencarian serangga ini kami sekelas datang 3 kali ke kebun binatang surabaya. Kami datang sekelas. Kelas kami dibagi menjadi 5 kelompok. Satu kelompok terdiri atas 3 orang, karena jumlah siswa sekelas kami 15 orang saja.

Kelompok saya mendapat bagian di zona aves/ burung Kebun Binatang Surabaya. Kami mencari kupu-kupu, kumbang dan serangga lain di wilayah itu. Kami bertiga menangkap serangga tersebut menggunakan jaring biru besar.

Kegiatan ini berlangsung sejak pagi sampai siang. Kami mendapat kupu-kupu putih yang terbang rendah, kupu-kupu kuning, capung, kumbang hitam besar di atas pohon dan tanaman merambat yang tinggi, dan berbagai serangga lain. Setelah menangkap dengan jaring, kami memasukkannya ke toples yang sudah diberi kapas berklorofom. Serangga-serangga itu pun pingsan.

Saat kegiatan mencari serangga itu, banyak orang yang melihat kami. Beberapa orang merasa heran dan bertanya tentang apa yang kami lakukan. Mungkin mereka heran mengapa ada orang yang menangkap serangga di tempat wisata. Kami menjawab bahwa sedang melaksanakan tugas kuliah menangkap serangga.

Setelah seharian berlelah-lelah kami pun istirahat dan menyempatkan untuk berfoto. Agenda berfoto ini sebagai hiburan dan sekaligus untuk kenang-kenangan kami setelah lulus dari kampus bahwa kami pernah bersama-sama mencari serangga di KBS.

Setelah 3 kali pengambilan data. Kami pun menata serangga serangga yang terkumpul di pigora. Kegiatan ini kami lakukan secara berkelompok di kos atau di kampus. Kami menyuntiknya dengan cairan tertentu tepat di badannya. Jadi jika kupu-kupu disuntik di badannya bukan di sayapnya, lalu ditata dengan cantik di pigora. Setelah jadi, kami mengumpulkan tugas kami ke dosen mata kuliah ini.

Saat semester 5, ada satu mata kuliah yang membuat kami kembali bersentuhan dengan kupu-kupu. Mata kuliah itu adalah reproduksi hewan. Salah satu tugasnya adalah mengamati telur ulat hingaa berkembang menjadi kepompong dan kupu-kupu. Kami harus mencari telur ulat terlebih dahulu. Tempat mencari ulat yakni di tanaman bunga mentega.

Di suatu pagi, kami sekelas pergi ke taman sebuah perumahan. Di situ ada tanaman bunga mentega. Kami mencari telur ulat di bunga mentega itu. Seharian kami mencari telur ulat di beberapa tanman bunga mentega yang cukup besar sambil bercanda dan berbincang-bincang agar tidak jenuh. Hingga siang hari kami tidak menemukan telur ulat itu.

Di tengah-tengah pencarian itu tidak lupa kami mengambil foto juga sebagai hiburan dan sebagai kenang-kenangan di esok hari. Kini setelah 5 tahun lulus dari bangku kuliah, saya melihat banyak perbedaan dengan sekarang. Dahulu kami masih ramping dan polos ternyata.

Di kesempatan lain kami mencari lagi dan akhirnya berhasil menemukan telur ulat untuk diamati perkembangannya.

Advertisement

One thought on “Bersentuhan dengan Kupu-kupu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s