WHAT Arinderela LEARNED

Photo by Alina Vilchenko on Pexels.com

Sebelum memulai tulisan ini, aku kembali membuka tulisan pertamaku di Ikatankata. Di sana postingan pertama author Arinderela tercatat pada tanggal 25 November 2020. Berarti sudah kurang lebih dua tahun aku bergabung menjadi anggota di komunitas ini, time flies. Kembali membaca tulisan-tulisan tersebut, membuat ku menyadari adanya perubahan cara menulis dari tiap postingannya. Tentunya menjadi lebih baik, insha Alloh. Sebenarnya ilmu-ilmu penulisan tersebut sudah pernah aku dapatkan di bangku sekolah. Tetapi si penulis dengan ingatan Dory ini tentu saja dengan mudah melupakannya. Bisa karena terbiasa, katanya. Iya, aku sering lupa karena tidak terbiasa menggunakan penulisan yang benar. Menjadi anggota di komunitas ini, kembali mengingatkan mengenai hal tersebut.

Berikut ada beberapa pelajaran yang kembali aku ingat kembali :

  1. Preposisi
  2. Penulisan sesuai KBBI

Hanya dua saja? terlihat sederhana pula, ya kan? Tapi sungguh mempelajari dua ini saja masih banyak salahnya hingga detik ini. Mempelajari dua ini saja pun menjadikan banyak perubahan di tulisanku.

Preposisi di sini, banyak jenis dan banyak kali pula kita temui di penulisan sehari-hari. Kecil-kecil cabe rawit, ujar kebanyakan orang. Sebelumnya, kesalahan yang sering aku lakukan adalah penulisan -pun yang sering kali aku bingungkan. Dipisah atau digabung. Selain itu kesalahan lainnya adalah penulisan kepemilikan, seperti rumahku yang seringnya aku tulis dengan rumah(spasi)ku. Bisa dilihat dari tulisanku sebelum diingatkan kembali dengan preposisi, dan dibandingkan dengan tulisanku setelah diperkenalkan lagi dengan preposisi.

Penulisan sesuai dengan KBBI. Lagi-lagi terlihat sederhana ya? pastinya banyak dari kita, aku sendiri mengira selama ini penulisanku sudah sesuai KBBI. Tentu saja manusia dengan ingatan Dory ini lagi-lagi salah. Semenjak bergabung dengan Ikatankata, di tiap penulisannya ketua kami kak Fahmi selalu mengoreksi dan memberikan komentar jika ada kekeliruan penulisan. Mengunggah tulisan di Ikatankata, berasa seperti mengumpulkan tugas pekerjaan rumah ke guru Bahasa Indonesia ketika di sekolah ehehehe. Setiap komentar beliau mengingatkan diri ini akan kesalahan-kesalahan kecil. Salah satunya yang bisa aku ingat adalah penulisan ‘aku’ di dalam kalimat. Bisa dilihat dari sini ‘aku’ di dalam kalimat masih kutuliskan dengan huruf besar. Padahal yang benar adalah tetap huruf kecil. Penulisan ‘aku’ dengan huruf besar sama dengan kata lainnya, yakni hanya di kata awal.

Mata mulai sayu mengantuk, sementara masih ada tugas kampus lainnya menanti. Sepertinya cukup sampai di sini dulu tulisan ini mampu melaju. Penulisnya sudah mulai letih.

Semoga hal kecil yang tertulis di sini dapat sedikit bermanfaat bagi pembacanya. Jaga diri untuk yang membaca ini hingga akhir ya. Teruslah menulis, karena tulisan adalah salah satu record perkembangan manusia. Dari tulisannya si penulis tahu, suasana hatinya saat menulis, apa yang ia rasakan saat menulis itu. Sungguh ajaib. Selamat malam, selamat beristirahat semesta.

Advertisement

2 thoughts on “WHAT Arinderela LEARNED

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s