BTS 29 – Konsistensi Kata dan Tanda Baca

Belajar itu seharusnya memang kepada yang ahli di bidangnya. Dalam hal tulisan, seorang Khrisna Pabichara mengajari para narablog atau blogger tentang bagaimana melakukan trik self-editing atau swasunting untuk tulisan di blog. Pertama kali aku mengenal sosok jenius ini adalah ketika mengikuti kompetisi menulis blog yang diadakan oleh Bang Nodhi (Adhi Nugroho). Daeng Khrisna ini merupakan salah satu juri pada kompetisi itu.

Pada blog Kompasiana, beliau membagikan ilmu yang menurutku tidak hanya berharga namun penuh makna bagi para blogger yang ingin serius membenahi kualitas tulisannya. Dan pada kesempatan ini mari kita cermati bersama tulisan beliau mengenai Trik Swasunting 1 – Konsistensi Kata dan Tanda Baca.

###

Buat apa narablog belajar swasunting? Bukankah tulisan seamburadul dan seberantakan apa pun bebas diposkan di blog? Jika semata-mata memajang tulisan, jelas bisa. Tidak ada larangan. Akan tetapi, saya percaya bahwa Anda tergolong umat yang selalu tergerak untuk memperbaiki diri dan selalu bergairah untuk bertumbuh dan bertambah.

Lagi pula, Anda bisa “menyelam sambil minum air”. Dengan kata lain, terus menulis seraya tetap belajar. Kalau tidak, Anda tidak akan melirik dan membaca trik swasunting sederhana ini. Baiklah, mari kita mulai!

Pemilihan kata yang tepat akan memudahkan Anda untuk mencurahkan gagasan dan memudahkan pembaca dalam mencerna gagasan Anda. Begitu amanat Datus C. Smith Jr. Dalam A Guide to Book Publishing (1992: 77), Smith menekankan supaya editor (dalam artikel ini berarti penulis yang ingin melakukan swasunting) menjaga konsistensi dalam menggunakan kata dan tanda baca.

Meskipun Anda leluasa memilih kata, entah ragam resmi entah ragam cakapan, Anda mesti konsisten. Tidak asal menghambur-hamburkan kata. Jika sejak awal tulisan Anda memakai “aku”, sebaiknya Anda setia menggunakan “aku”. Jangan dicampur aduk dengan “gue” atau “saya”. Kecuali dalam kisah dengan banyak tokoh yang berbeda karakter.

Tatkala Anda menata kalimat dan menyusun alinea, perhatikan tanda baca. Apakah peletakan titik (.) atau koma (,) sudah tepat? Apakah tanda seru (!) atau tanda tanya (?) sudah taat asas? Apakah tanda hubung (-) atau tanda pisah (–) sudah benar?

Ups, jangan pusing. Santai saja. Kalau perlu seduh kopi atau teh dan siapkan camilan (ragam takbaku: cemilan). Kemudian, silakan Anda simak contoh (1) berikut.

Demi meningkatkan ketrampilan menulis, teman teman bisa mengikuti Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan oleh Kopitulis. Teman teman bisa bergabung tanpa harus keluar duit . Banyak materi-materi yang berharga dan berguna demi karir teman-teman. Tunggu apalagi ,buruan daftar!.

Hasil swasunting (1):

Demi meningkatkan keterampilan menulis, temanteman bisa mengikuti Kelas Menulis Kreatif yang akan diselenggarakan oleh Kopitulis. Kalian dapat bergabung tanpa harus keluar duit. Banyak materi berharga yang berguna bagi karier kalian. Tunggu apa lagi, buruan mendaftar!

Berdasarkan contoh (1) di atas, ada beberapa hal yang dapat kita lahap. Pertama, kejelian memilih kata. Penulisan yang tepat adalah keterampilan, dari kata dasar terampil. Begitu juga dengan karier, bukan karir. Pada kalimat kedua, subjek teman-teman bisa kita ganti dengan kalian sebagai variasi.

Adapun kata bisa ditukar dengan dapat supaya selaras dengan duit pada akhir kalimat, sekaligus sebagai variasi kata bisa yang sudah muncul pada kalimat sebelumnya. Sementara itu, banyak dan materi-materi merupakan bentuk jamak, jadi gunakan salah satunya saja. Bisa banyak materi, boleh materi-materi.

Terakhir, makna apalagi adalah ‘membandingkan dua situasi atau kondisi’. Misalnya: Dia saja ditolak, apalagi aku. Dalam contoh (1), penggunaan apalagi tidak cocok dengan konteks kalimat. Mestinya menggunakan apa lagi untuk menegaskan agar pembaca tidak berpikir panjang lagi.

Kedua, kepatuhan menggunakan tanda baca. Pada contoh (1) terdapat kata ulang yang ditulis teman teman. Penulisan kata ulang harus menggunakan tanda hubung (-). Jadi, teman-teman.

Simak pula ihwal penggunaan tanda titik dan tanda koma pada contoh (1). Tanda titik dan tanda koma rapat dengan kata yang diikutinya. Tidak didahului spasi, tetapi diikuti spasi. Perhatikan perbaikan pada [duit. bukan duit .] dan [apa lagi, buruan bukan apa lagi ,buruan].

Terakhir, pada tanda seru (!) sudah ada tanda titik. Demikian juga dengan tanda tanya (?). Jadi, tanda seru dan tanda tanya tidak perlu diikuti tanda titik pada akhir kalimat. Itu hal receh yang sering dilakukan oleh para bloger.

SUMBER

Note : blogger (dalam bahasa inggris, ditulis miring), dan narablog atau bloger (dalam bahasa Indonesia) adalah orang yang mempunyai blog yang ia gunakan sebagai wadah untuk menuangkan ide-ide tulisan dari pikirannya.

###

Yuk belajar tentang sastra lainnya di sini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s