Puisi : Mendung Tanpo Udan

Mendung tanpo udan. (Mendung tanpa hujan. Keadaan gemuruh yang pernah saya rasakan dan mungkin pembaca juga.)

Iki ati dudu dolanan. (Ini hati bukan mainan. Seringnya orang berbuat tanpa berpikir hingga perbuatannya disangka hanyalah candaan.)

Iki roso kang ora biso kelaran. (Ini perasaan yang tidak bisa untuk disakiti. Dalam bait ini saya tegaskan lagi bahwa hati manusia tidak boleh disakiti apapun alasannya. Hati manusia itu suci sehingga yang menyentuh atau memasuki haruslah suci bukan untuk mengotori.)

@ @

Kulo namung biso titip layang iki. (Saya hanya bisa menitipkan surat atau tulisan kecil ini untuk diriku dan kalian yang membacanya. Karena saya hanya bisa menyampaikan dan menuliskan (titip) dan belum bisa sepenuhnya menjadi tauladan dari tulisan saya ini. Tafsiran dari tulisan saya bisa saja berbeda dengan tafsiran pembaca. Jika menemukan tafsiran lain boleh komentar di kolom bawah.)

Kanggo sampean sing wes pernah ning jero ati. ( Untuk dirimu yang pernah ada di dalam hatiku. Aku hanya bisa menyampaikan perasaan seperti ini. Terimakasih sudah mampir dan singgah di hatiku.)

Teko nggowo roso, bali nggowo loro ati. (Datang membawa kabar baik (rasa sayang), pergi membawa membawa kabar buruk. Sebenarnya siklusnya selalu benar. Dan saya tidak menyalahkan. Jika orang yang datang pasti membawa kabar baik. Dan yang pergi membawa keburukan kita. Seperti apa yang pernah saya tahu, bahwa tamu datang membawa buah tangan dan itu berkah kemudian pulang membawa (dosa yang kita perbuat yang dilebur oleh tamu tersebut) di perjalanan. Maka jangan kau sia-siakan tamu tersebut.)

@ @

Namung kabeh kui wes tinakdir saking Gusti. (Dan itu sebenarnya sudah takdir dari Tuhan (Allah) kepada kita. Kita hanyalah pemain (wayang) yang dimainkan oleh Tuhan (dalang). Dan kita wajib bersyukur akan kehambaan kita. Agar kita selalu ingat Sang Pencipta (Kholiq). Agar selamat dunia akhirat. Aamiin..)

Takdir kang ora biso di owahi. (Takdir yang tidak bisa kita rubah(kecuali kaum itu yang mengubahnya) karena ada takdir mubram dan takdir muallaq.)

Mergo kui kabeh dalane soko Illahi. (Karena semua itu sudah menjadi titah kita dari Sang Pencipta. Kita hanya bisa melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.)

Seno rahmanto @senoanto23

Karanganyar, 8-7-21

5 thoughts on “Puisi : Mendung Tanpo Udan

Leave a Reply to Muhammad Seno Rahmanto Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s