Puku dan Tiga Kawan Barunya

Hay … namaku Puku, sore ini aku sedang melihat Chiku berlari-lari bermain bersama teman-temannya, ada Roki si kucing hitam, Piu si kucing oren dan satu lagi temanku Chiku si kucing abu-abu. Sedangkan aku adalah seekor kupu-kupu yang sangat iri dengan kucing yang bisa berlari ke sana dan ke mari dengan bahagia dan memiliki ekor lucu.

“Puku,” panggilnya sambil lari ke arahku. “Apa kau mencariku?”

“Ah … tidak. Aku tadi tidak sengaja melihatmu bersama teman-teman lalu aku berhenti sejenak di bunga mawar ini.”

“Memang mau ke mana kamu? Ini sudah sangat sore untuk kamu kembali.”

“Tidak, Chiku. Aku juga akan lekas kembali setelah ini. Bahagia sekali kamu bersama mereka.”

“Haha … jangan keras keras sini aku kasih tahu sesuatu,” ucap Chiku dan semakin mendekat kepadaku. “Kami sedang berbincang tentang rumah mana lagi yang akan kami mintai makan. Sebab, Tuan kami sedang tidak ada di rumah.”

Aku pun tertawa, “Apa aku tidak salah dengar?”

“Ya bagaimana, kami tidak bisa mencari makan sendiri. Kalau ketahuan mencuri makanan kami pasti diusir-usir belum lagi kalau yang punya rumah kasar, bisa-bisa dibunuh kami bertiga.” Dengan pilu dia menjelaskan. “Kamu enak, Puku. Bisa mencari makanan kamu sendiri.”

“Tapi kamu lebih enak bisa berjalan ke mana-mana pakai kaki, lari-lari. Seandainya aku punya kaki, mungkin aku tidak susah untuk bersamamu dan sama-sama mencari makan. Punya banyak teman.”

“Ya sudah Puku, kamu balik gih. Ini sudah makin sore kamu harus kembali ke tempat kamu. Hati-hati besok kita ketemu lagi.”

“Salam untuk Piu dan Roki, ya. Bye ..,” pamitku dan aku melanjutkan terbang.

Dalam perjalanan aku masih mikir enaknya jadi Chiku, betapa indah jika hidup ini memiliki banyak teman. Bisa berjalan ke mana pun yang aku mau dan bisa berteman dengan manusia. Apa mungkin aku tidak pernah bisa demikian? Aku yang sangat pemalu dengan manusia ini, yang merasa dia akan menyiksaku jika bersama mereka. Atau hanya pemikiranku saja yang terkadang buruk? Tapi, ntahlah terkadang aku iri dengan kucing itu.

***

Sore harinya di tempat yang sama, aku hanya melihat Roki dan Piu. Lalu ke mana Chiku? Karena penasaran aku mendekati mereka.

“Ke mana Chiku?” tanyaku.

“Hay … Puku, Chiku sedang di rawat Tuan kami karena semalam dia diserempet motor di gang depan itu,” ucap Roki dengan raut wajah kecewa.

Aku pun terkejut mendengar kabar tersebut “Kenapa bisa? Apa kalian tidak pelan-pelan?” ucapku tak sabar.

“Sudah, Pu. Tapi kadang manusia yang buru-buru dan tidak hati-hati.” Kini giliran Piu yang berbicara. Aku semakin dibuat miris oleh pernyataan Piu dan Roki yang mengatakan bahwa kaki Chiku mungkin akan diamputasi karena benar-benar parah. Aku ngeri membayangkan hal itu jika benar-benar terjadi. Kasihan sekali Chiku.

“Kamu harusnya bersyukur dengan apa yang kamu punya Puku, sayap cantik dan bisa terbang bebas. Bisa makan tanpa bergantung ke manusia,” ucap Roki pelan.

Aku hanya terdiam, seolah Roki bisa membaca pikiranku selama ini. “Kamu benar, Roki. Kita hanya perlu bersyukur dengan peran yang sudah Tuhan berikan kepada kita selama ini.”

“Tunggu sampai Chiku pulih, ya. Kami pasti memberi kabar tentangnya kalau kamu bersedia mampir ke tempat ini seperti biasanya.” Kata Piu.

“Jangan khawatir, Pu. Chiku pasti baik-baik saja. Doakan, ya.”

Setelah berpamitan dan menyampaikan salam untuk Chiku kami pun berpisah. Di jalan menuju pulang aku masih khawatir soal Chiku tapi yang dikatakan Roki dan Piu benar kalau semua punya lebih dan kurang masing-masing termasuk aku. Mungkin memang Tuhan menciptakan aku dengan bentuk yang seperti ini ada maksudnya dan menciptakan mereka ada maksudnya juga. Sayapku cantik, kaki dan ekor mereka cantik. Semua cantik dan punya fungsi masing-masing. “Ahh … Tuhan memang adil,” ucapku pelan.

– perempuan aksara.

4 thoughts on “Puku dan Tiga Kawan Barunya

      1. Menurutku ceritanya rapi dan runtut. Mungkin penggambaran wujud si tokohnya bisa lebih detail. Dideskripsikan lebih baik lagi. Jadi yang baca sudah bisa menduga hewan apa sih yang sedang ada dalam fabel ini dan bisa attach atau ikut hanyut ke dalam ceritanya.

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s