Review Novel Rindu

Lagi-lagi saya harus tertatih-tatih memenuhi tugas wajib sebagai seorang “Pengikat Kata”. Kali ini saya terseok di Ketik-9. Tidak sulit sebenarnya, hanya me-review novel. Sesuatu yang sangat saya sukai sejak dulu. Apalagi novel yang harus di-review adalah novel Andrea Hirata yang berjudul Ayah. Sejak dulu ingin sekali saya membaca novel ini. Tapi entahlah, hingga di batas tenggat waktu yang telah ditetapkan saya belum juga membeli novel itu. Padahal jikapun sudah memiliki, saya masih harus membutuhkan waktu untuk membacanya.

Akhirnya novel Rindu, karya Tere Liye ini lah sebagai pengganti novel Ayah yang harusnya saya review di Ketik ke-9 ini. Terimakasih kepada Kang Fahmi yang sudah memaklumi ketidaksempurnaan eksekusi tugas dari saya. Dan berikut inilah review saya terhadap novel Rindu, karya Tere Liye:

Melihat judul dan desain sampulnya, awalnya saya mengira novel ini adalah novel percintaan karya Tere Liye yang lain, seperti Sunset Bersama Rosie atau Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah. Tapi begitu membaca blurb di sampul belakang, saya lekas tahu bahwa kisah percintaan hanyalah bagian kecil yang akan dikisahkan di novel ini.

Novel setebal 544 halaman ini bercerita tentang perjalanan rombongan haji di era Hindia Belanda, menggunakan kapal uap bernama Blitar Holland. Tere Liye merangkai potongan-potongan cerita dari beberapa tokoh yang masing-masing memiliki konflik pribadi. Ada Bunda Upe, guru mengaji di kapal, yang dibayang-bayangi oleh masa lalunya yang gelap. Ambo Uleng, pemuda bugis, pelaut tangguh yang tersandera jiwanya karena putus cinta. Daeng Andipati, saudagar terpandang dari Makassar, yang seolah memiliki segalanya, tapi tak pernah benar-benar merasakan bahagia. Mbah Kakung, yang sangat mencintai istrinya, dan dihantui oleh ketakutan akan kehilangan cinta sejatinya. Terakhir Akhmad Karaeng, sosok ulama Gowa kharismatik yang biasa dipanggil Gurutta, pemecah kebuntuan segala persoalan yang terjadi, namun kesulitan menemukan keberanian pada dirinya sendiri untuk menggelorakan perlawanan terhadap penjajah.

Membaca novel ini, saya seakan dibawa untuk ikut merasakan suasana perjalanan haji tempo dulu, berada di kapal selama berbulan-bulan, bertemu dengan penumpang lain dari penjuru Nusantara, makan dan berbincang di kantin kapal, hingga asik berplesir ke kota-kota pelabuhan yang terkenal di masa itu.

Membaca novel ini saya juga mendapat gambaran akan penjajahan dari sudut pandang lain. Bahwa penjajahan adalah murni keputusan politik pemerintahan sebuah negara. Terkadang, tak ada sangkut pautnya dengan penduduk negara itu. Sebagai contoh, tidak semua orang Belanda setuju dengan penjajahan negerinya atas negeri kita. Banyak dari mereka berada di Indonesia, sekedar menjadi pekerja (seperti awak kapal Blitar Holland ini) yang memperlakukan bangsa kita sama hormatnya seperti memperlakukan bangsa mereka sendiri. Novel ini adalah salah satu sumber dimana kalian akan menemukan bahwa orang Belanda tidaklah semengerikan seperti yang ada pada cerita-cerita sejarah yang sering kita dengar sewaktu kecil.

Hanya saja, bagi saya, novel ini terlalu tebal di bagian awal. Sebagai informasi, konflik utama baru muncul setelah kita membaca lebih dari separuh isi novel. Separuh sebelumnya terlalu banyak diisi oleh penggambaran rutinitas harian di kapal, konflik-konflik minor yang bergiliran terjadi dan terselesaikan, yang terus di ulang-ulang. Perjalanan menuju konflik juga terasa diundur, peristiwa-peristiwa lain tampak hanya sebagai pendukung saja. Meskipun, cara seperti itu, tetap saja berhasil membuat pembaca seperti saya, untuk tetap membaca halaman per halaman atas nama penasaran. 😁.

‘Keseriusan’ novel ini yang tergambar dari tebalnya halaman, riset yang mumpuni tentang susana geo-politik di tahun 1930-an, dan pilihan konflik kelima tokoh yang mengambil problem populer, serasa ‘rusak’ akibat hal sederhana seperti pilihan nama tokoh yang terkesan tidak serius. Seperti nama kedua putri Daeng Andipati yang selalu mewarnai hampir seluruh konflik yang dikisahkan pada novel ini, Tere Liye memilih memberi nama kedua karakter itu dengan nama Anna dan Elsa. Membuat pembaca menerka-nerka bahwa nama keduanya terinspirasi oleh nama dua putri di film Frozen. Entah bagaimana, pilihan nama yang seperti itu membuat aura ‘kesakralan’ sebuah novel luntur begitu saja.

Meskipun demikian, Tere Liye tetap saja menjadi juara dalam hal menyisipkan nilai-nilai moral di setiap karya tulisannya. Setiap membaca novelnya, saya selalu terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tak terkecuali ketika membaca novel ini.

Itulah review dari saya. Kalau menurut kalian bagaimana? Setuju kah? Atau jangan-jangan belum baca novelnya nih 😁.

One thought on “Review Novel Rindu

  1. Aku baru membaca novel ini pada bagian awal. Adegan yang diingat adalah ketika Gurutta mengajar ngaji di atas kapal. Dan betapa perjalanan haji dari Indonesia ke Mekkah, Arab Saudi sungguh sangat lama. Memakan waktu berbulan-bulan. Oya, tentang nama Anna dan Elsa itu aku berpikiran sama.

    Koreksi:
    – ini lah (inilah)
    – dimana (di mana)
    – di ulang-ulang (diulang-ulang)
    – Setuju kah? (Setujukah?)

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s