Orang-orang Proyek

Suara kepala sekolah:

Kalau kami melihat buku tamu di sekolah-sekolah penerima DAK, disitu berderet panjang nama-nama tamu yang tak diundang yang tentu saja membuat stress para kepsek. Ini merupakan gejala bola panas

(Radar Cirebon hal. 19, 27 Nopember 2008).

Sebuah bangunan sekolah belum genap satu tahun dibangun telah roboh bagian atapnya. Kalau itu karena bencana alam mungkin tak jadi soal. Gempa bumi atau tanah longsor misalnya, siapapun tidak akan ada yang menaruh prasangka. Tapi yang satu ini, tidak ada hujan, tidak ada petir, tidak ada angin topan, tiba-tiba gedung sekolah itu roboh. Ada apa dibalik peristiwa ini?

Tokoh LSM lantang mengatakan ada pihak-pihak yang harus bertanggung jawab atas ambruknya gedung sekolah tersebut. Ya, itu pasti. Lantas, siapa yang harus bertanggung jawab? Pertama kali jari telunjuk mengarah ke pelaksana proyek. Memangnya apa yang telah dilakukan oleh pelaksana proyek terhadap proyeknya sendiri, terhadap kredibitasnya sendiri? Padahal dari proyek-proyek itulah rumah tangganya bisa tetap eksis. Atau bahkan menjadi sangat kaya raya?

Kaya raya? Nanti dulu. Kaya raya yang seperti apa?

Berita-berita tentang robohnya gedung sekolah (yang paling sering) dan berbagai pemikiran-pemikiran yang tiba-tiba mengusik hati, membuat saya teringat pada sebuah novel yang sudah lama tidak ditengok kembali. Judulnya cukup singkat Orang-Orang Proyek. Penulisnya sudah cukup terkenal dan saya sempat bersilaturrahmi ke rumahnya. Beliau adalah penulis Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari.

Novel yang awalnya dimuat secara bersambung di Harian Umum Suara Merdeka ini bertutur tetang orang-orang yang terlibat dalam proyek pembangunan sebuah jembatan di masa orde baru. Sebagaimana umumnya tulisan beliau sangat lekat dengan alam pedesaan.

Seting lokasi sungai Cibawor bagi saya serasa di tepi Kali Serayu yang membelah beberapa wilayah di sekitar Banyumas dan bermuara di Cilacap. Tokoh pemancing tua Pak Tarya saya resapi sebagai Pak Ahmad Tohari sendiri, yang begitu setia menunggui pancingnya. Pak Tohari yang saya kenal begitu hangat menerima tamu, meskipun sang tamu hanyalah anak-anak yang belum banyak mengenal dunia kepenulisan apalagi dikenal seperti saya ini misalnya.

Teringat Pak Tohari, pernah saya mengirim SMS memberikan ucapan selamat apapun hasilnya atas keikutsertaannya dalam pemilihan anggota DPD mewakili Jawa Tengah, tentunya dengan sisipan tentang masih terasanya orang-orang proyek sebagaimana yang dituturkan dalam novelnya.

Maaf, kok malah ngelantur.

Novel Orang-orang Proyek ini kemudian diterbitkan oleh Jendela dengan ketebalan 288 pada bulan juli 2002, dengan format isi terdiri dari bagian pertama hingga bagian kelima.

Kabul, insinyur muda penuh idealisme terbentur kenyataan, proyek jembatan yang sedang dalam pengerjaannya digerogoti dari segala penjuru. Bahkan termasuk atasannya sendiri yang mengaku menaruh dendam terhadap kemelaratan, yang sekaligus bendaharawan partai penguasa.

Pembangunan masjid pun mendompleng proyek atas nama partai penguasa, sehingga ketika rakyat kecil ikut-ikutan mengambil satu dua sak semen Kabul benar-benar tak bisa menyalahkan wong cilik itu. Toh mereka hanya ikut-ikutan.

Itu belum seberapa. Proyek pembangunan jembatan benar-benar menjadi ajang pamer bagi partai penguasa tanpa mengindahkan ilmu konstruksi bangunan. Betapa tidak, jembatan harus jadi tepat ketika HUT Partai Penguasa. Itu artinya konstruksi jembatan tetap harus dibuat dengan menabrak musim hujan. Padahal pembangunan yang demikian sangat beresiko terhadap kekuatan jembatan. Belum lagi Sang bos memaksakan bahan-bahan yang di bawah standar, Kabul harus mau mengerjakan tanpa ada kata penolakan.

Akhirnya Kabul menyerah, tapi tidak mau terseret arus. Kabul lebih memilih tidak menyelesaikan sisa proyek yang sangat menggerogoti itu, alias mengundurkan diri. Kabul hanya bertanggung jawab pada pembangunan awal.

Saat peresmian tiba, secara diam-diam Kabul turut hadir dan ternyata, juga diikuti secara diam-diam oleh para pekerja yang setia pada Kabul. Kendaraan beriringan melewati jembatan sebagai ajang HUT partai Penguasa dan seolah-oleh ingin meneriakkan inilah hasil pembangunan partai kami.

Kabul nyaris tak lagi bernafas ketika iring-iringan semakin Panjang. Karena, Kabul yakin kekuatan jembatan belum saatnya digunakan, tetapi pada kenyataannya dipaksakan, demi katanya atas nama keberlangsungan pembangunan.

Ketika iring-iringan habis, Kabul melongok bagian bawah jembatan, dan benar apa yang dikhawatirkan, ada retak-retak yang pasti akan mengurangi umur jembatan.

Sekarang yang dikatakan era reformasi masihkah gejala orang-orang proyek ini tetap bercokol?

di ambil dari sindonews.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s