Untukmu, Aku

Untukmu, Aku.

Mungkin waktu sepuluh tahun yang kamu lewati telah mengubahmu menjadi orang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Ditempa dari silih bergantinya suka-duka yang tak akan ada habisnya, dibekali pemahaman baru tentang bagaimana hidup ini berjalan. Ya, memang apa lagi yang kamu harapkan dari dunia, isinya akan selalu begitu. Jadi tak perlu dirisaukan. Tak mengapa jika kamu menangis pada setiap kehilangan yang harus kamu lepaskan, memaki setiap kejadian yang tak sesuai harapan, tapi cukup sebentar saja. Aku tahu kamu punya banyak cara untuk keluar dari hal-hal merepotkan semacam itu.

Mungkin kamu telah menghapus banyak idealismemu yang kata orang tak masuk akal untuk kamu jalani. Atau malah kamu menambah koleksi idealisme baru yang entah untuk alasan apa lagi. Apapun itu, selama kamu tahu konsekuensi apa yang akan kamu dapat, jalani saja. Aku juga tidak tahu kenapa ada banyak orang yang berharap terlalu tinggi terhadapmu. Katanya kamu harus jadi diri sendiri, tapi ya… begitulah, mungkin kamu masih merasakannya sekarang. Lucu sekali. Namun, aku harap kamu tidak sekeras kepala dulu untuk mendengarkan pendapat orang lain yang mungkin baik untukmu. Karena nyatanya dalam menjalani hidup ini kamu tak bisa hanya bermodalkan sesuka hatimu saja.

Atau, mungkin di antara waktu sepuluh tahun ini kamu sudah menjadi penghuni tetap liang sempit bernama kuburan dan tidak sempat menemukan surat ini. kudoakan dari sekarang, semoga kamu dijemput oleh sebaik-baiknya kematian. Semoga kamu tidak mati konyol di jalanan karena terlalu sering melamun saat berkendara. Kalau sampai itu terjadi, sumpah, aku ingin menertawakanmu. Jadi, berhentilah melamunkan segala hal. Ingat-ingat selalu, sudah sampai mana hitungan dzikirmu itu, haha. Sepertinya hanya itu yang bisa membuatmu tetap berada di dunia nyata.

Tentang mimpi-mimpi, hmm… kapan terakhir kita punya mimpi yang benar-benar diperjuangkan? Rasanya itu jarang terjadi, yang ada hanya ambisi sesaat lalu berakhir dengan kamu yang tak peduli sama sekali. Dan semua itu akan berulang entah berapa kali. Apakah sekarang masih begitu? Apa mimpimu masih sebatas tulisan di jurnalmu lalu kamu lupakan begitu saja? Aku tidak tahu sekarang kamu punya motivasi seberapa besar untuk akhirnya mau mewujudkan apa yang dulu pernah kamu tuliskan. Padahal di lubuk hatimu yang terdalam, kamu tahu bahwa kamu bisa kalau saja mau sedikit lagi berusaha. Tapi memang kamu orang yang sulit dimotivasi, kadang aku pun gemas padamu yang begitu.

Sudahlah, surat ini sudah terlalu panjang untuk sekadar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pasti. Aku, kamu yang lebih muda sepuluh tahun darimu sekarang ini, tahu apa tentangmu yang aku yakin punya pandangan baru lagi soal banyak hal. Semoga kamu dan keluarga selalu dalam lindungan sang pemilik kehidupan. Duh, aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku tulis di atas. Aku akhiri saja, sebelum aku berubah pikiran dan menarik lagi semua kata-kataku ini. Kuharap surat ini tidak terasa semenggelikan saat aku menuliskannya, nanti.

Bandung, 03 Mei 2021

2 thoughts on “Untukmu, Aku

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s