Perjalanan ini Kembali Ke Awal

“Jangan bengong, Arila. Katakan saja apa yang sedang kamu pikirkan.” Beni melangkah mendekati Arila yang sedari tadi tebengong sembari membawa nampan berisi teh.

“Kenapa tiba-tiba kamu ada di sini, duduk di sini dan melakukan pekerjaanmu di sini? Aku benar-benar tidak paham dengan sikapmu, Ben.”

“Oke … aku jelaskan. Tadi aku ke kantor sebenarnya, terus aku suntuk sekali dengan pekerjaan. Lalu aku melarikan diri ke sini, berharap bertemu kamu dan aku ingin ngobrol sama kamu juga. Sudah beberapa hari aku ingin datang ke sini tapi karena pekerjaanku yang banyak jadi belum sempat.” Arila tetap diam mendengarkan Beni.

“Aku engga paham sama sikap kamu, Ben. Aku bingung.” Arila tetap sama dengan posisinya tanpa sedikit saja menatap Ben yang duduk di sebrang meja.

Beni menatap saksama perempuan yang sedari tadi gelisah, “Arila, aku ke sini mau minta maaf soal surat cerai dan sikapku yang kurang membuatmu berkenan waktu itu.” Arila terdiam.

“Aku yang salah dan aku yang engga sepantasnya melakukan itu, padahal kamu saja masih ingin di sini. Aku minta maaf Arila,” ucap Beni penuh ketulusan.

Air mata Arila mulai menetes sama persis dengan apa yang terjadi kepadanya sesaat sebelum dia sampai rumah. “Aku aja engga tau maksud kamu melakukan semua itu apa, Ben. Bahkan sampai sekarang aku masi bingung.” Arila menyeka air matanya. “Ben … berat untuk aku menerima semua kehilangan yang bertubi-tubi itu.”

Tanpa menunggu air mata Arila lebih banyak terjatuh, Ben lantas meninggalkan tempat duduknya dan menuju Arila. Dipeluknya perempuan ringkih itu agar lebih tenang, “Maaf, Arila. Aku yang salah,” ucapnya halus.

“Ben, aku tau kita menikah karena terpaksa. Karena kamu ingin menuntaskan janji dengan orang tua kita. Tapi aku engga bisa, Ben. Aku engga bisa kalau akhirnya kita jadi begini setelah orang tua kita tiada.” Arila masih tetap menangis dipelukan Beni, pelukan yang sangat lama tidak dia rasakan.

“Aku janji bakal perbaiki sikapku, kasih aku kesempatan, Arila. Sekali lagi.”

“Arila lihat aku,” Beni melonggarkan pelukan dan merangkum wajah Arila yang masih sembab dengan air mata. “Aku mencintaimu, Arila. Sungguh. Kasih aku kesempatan dan maafkan atas kebodohanku itu.”

“Ben, kamu punya perempuan lain?” ucap Arila melepaskan rangkuman tangan Beni.

“Kok kamu bilang gitu?” ucap Beni sedikit terkejut.

“Habisnya kamu minta cerai tiba-tiba, ga ada apa apa. Cuma karena kita engga seranjang selama berapa hari terus kamu minta cerai,” Arila mulai mencerca Beni.

“Arila, perempuanku itu hanya kamu, Arila Arinda Putri. Aku engga ada niat untuk selingkuh meski hubungan pernikahan kita belum benar-benar sempurna.” Ben mengambil duduk di depan Arila dan menatap Arila tajam
“Tidak ada yang bisa membuat aku sesayang ini dan semencintai ini selain kamu. Percaya aku, ini bukan kata-kata anak kecil yang sedang jatuh cinta, Arila. Tapi cinta itu yang membuat aku kembali sama kamu, di sini dan memeluk kamu.” Beni lalu mengambil tangan kanan Arila dan mengecupnya.

“Maaf, sayang.” Pipi Arila mulai merah dan bibirnya tersenyum simpul mendengar itu, perlakuan manis memang sering dia dapat, tapi ini benar-benar lebih manis dari sebelumnya.

-end-

– perempuan aksara.

One thought on “Perjalanan ini Kembali Ke Awal

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s