Pahlawan Berkostum Orange

Pada ketik kelima para anggota diberikan sebuah tantangan menulis dengan tema pahlawan. Seperti biasanya sebelum menulis, aku membutuhkan beberapa data untuk berkenalan dengan subjek yang akan ditulis. Kali ini ia adalah pahlawan.

pahlawan/pah·la·wan/ n orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani;

Arti pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Menurut arti tersebut pahlawan juga bisa berupa orang biasa. Bukan hanya seorang manusia super yang bisa terbang dan memancarkan sinar laser dari mata. Bukan hanya manusia super yang dari tangannya bisa mengeluarkan jaring laba-laba. Bukan juga manusia kaya raya, super jenius, yang bisa membuat baju tempur terbang.

Setelah membaca ulang berkali-kali arti dari pahlawan tersebut, langsung ada satu sosok muncul di benakku. Aku yakin kebanyakan dari kita pun akan memilih pahlawan yang sama. Mereka adalah orang tua kita. Tetapi aku juga yakin bahwa pahlawan ini sudah sering dituliskan oleh banyak penulis. Tidak perlu banyak alasan yang dituliskan untuk mereka. Karena kebanyakan orang tua akan melakukan pengorbanan, menjadi berani dan memperjuangkan kebenaran untuk anaknya. Bukan begitu?

Mari berpikir kembali, siapa sosok pahlawan kedua yang akan muncul di kepalaku. Tidak lama pahlawan itu datang memunculkan dirinya. Masih ingat dengan bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu? Bencana alam yang terjadi di bumi Kalimantan Selatan. Banjir besar yang menenggelamkan bahagia dan tenangnya warga Kalimantan Selatan. Mungkin bagi beberapa orang yang tinggal di daerah Pulau Jawa dan sekitar, banjir sudah menjadi biasa. Berlebihan sekali sih orang-orang Kalimantan Selatan ini. Sampai-sampai pada saat itu mereka meramaikan Twitter dengan #KalselJugaIndonesia. Tunggu dulu, biar aku jelaskan alasan sikap berlebihan tersebut. Sikap itu dikarenakan bencana tersebut merupakan banjir terbesar selama tiga puluh tahun terakhir. Kota Banjarmasin terkenal dengan nama Kota Seribu Sungai, karena memang banyak memiliki sungai. Tapi tidak pernah selama hidup, aku melihat kota ini tergenang air yang tinggi. Belum pernah satu provinsi terendam air setinggi itu sebelumnya.

Oleh karena banjir besar terakhir adalah tiga puluh tahun yang lalu. Warga Kalimantan Selatan pun kaget dan kurang tanggap dalam mengatasinya. Pada tiga hari pertama, kesulitan sangatlah terasa. Saat itu bantuan sangatllah minim. Jangan tanya bantuan dari luar daerah, kabar kebanjiran saja banyak yang tidak tahu. Aku masih ingat betapa khawatirnya kami sekeluarga dengan keluarga di kota sebelah. Menurut kabar dari mereka, rumahnya terendam tinggi. Bahkan ada yang kehilangan, karena rumah mereka ikut terbawa arus air. Saat itu hanya do’a yang bisa kami bantu dari rumah. Kami yang tinggal di ibukota Kalimantan Selatan juga terjebak air, tidak bisa keluar rumah. Sungguh, baru itu kami merasakan ketakutan dan kekhawatiran besar bersama.

Pada hari keempat, kami mendapatkan berita bahagia dari saudara di daerah pelosok. Mereka mengabarkan bahwa akhirnya mereka dijemput oleh beberapa relawan ke pengungsian. Beredar pula beberapa foto orang-orang berjaket warna orange menggendong dan menuntun para pengungsi melalui air bah. Ada yang dijemput dengan perahu karet, ada juga yang dijemput dengan helikopter dari atap rumah. Melihat foto-foto tersebut tentu saja membuat bibirku mengucap banyak syukur. Sampai-sampai mataku ikut merespon dengan menjatuhkan beberapa tetes air mata. Orang-orang berjaket orange itu, mereka adalah pahlawan bagi keluarga kami.

Setelah beberapa hari berlalu, komunitas berjaket orange tersebut semakin banyak jumlahnya. Adikku menanyakan, siapa orang-orang itu. Relawan kataku.

“Oh namanya relawan toh. Pasti mereka gajinya gede ya mbak. Soalnya kerjanya susah, nyelamatin orang-orang, ngelewatin air gede gitu pula.”

Perkataan tersebut cukup menarik perhatianku. Apakah para relawan itu digaji?

Aku lansung mencari tahu bagaimana kerjanya relawan, bagaimana sistem gajian dan sebagainya. Google pun bekerja dengan cepat memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku.

relawan/re·la·wan/ /rélawan/ n orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan).

Ada kata sukarela di dalamnya. Jadi apakah mereka tidak dibayar? ah tidak mungkin. Siapa sih yang mau melakukan pekerjaan berat begitu tanpa dibayar, pikirku lagi. Setelah hampir tiga puluh menit mencari di berbagai sumber, aku mendapatkan kesimpulan.

Relawan melakukan hal dengan sukarela, aktivitasnya memberikan dampak positif bagi lingkungan atau organisasi yang dibantu. Bagian yang membuatku mengernyitkan dahi adalah, mereka melakukannya tanpa motivasi mengharapkan imbalan uang. Memang ada beberapa pihak yang memberikan sejumlah uang. Tapi biasanya uang tersebut hanya untuk biaya akomodasi yang diperlukan.

Aku tidak memiliki kenalan atau orang dekat seorang relawan. Jadi aku tidak bisa mengkonfirmasikan hal tersebut.

“Mereka kerjaannya keren ya mbak. Pasti banyak pahalanya deh kakak-kakak relawan itu. Iyakan mbak?”

Aku tersenyum sambil mengangguk menjawab pertanyaan adik. Terima kasih bapak dan kakak Relawan. Kalian sungguh memberikan kehangatan di tanah yang sedang menggigil karena terendam air ini.

One thought on “Pahlawan Berkostum Orange

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s