Menyapa Sepuluh Murid Baru

Assalamu’alaikum.

Halo teman-teman! Bagaimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat. Senang berjumpa lagi dengan kalian. Pada kesempatan ini, kita berjumpa di KETIK-9. KETIK-9 ini bertema review novel. Aturan awal adalah mereview satu bab dalam Novel Ayah. Jika tidak memiliki novel tersebut, maka bisa menggunakan novel lain dengan cara izin terlebih dahulu kepada admin (Kak Fahmi).

Kali ini, saya tidak mereview Novel Ayah. Penyebabnya adalah saya tidak memilikinya. Saya jarang membeli novel dan hanya memiliki sedikit novel. Biasanya, saya meminjam novel di perpustakaan. Perpustakaan umum yang dekat rumah saya jarang menyediakan novel terbaru. Sebagian besar adalah novel sastra lama. Itulah sebabnya, saya menyukai novel lama. Hal ini sudah saya tuliskan di KETIK-4 saya: Nostalgia Buku Fiksi.

Novel yang saya pilih adalah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Saya memilikinya. Itu pun sebenarnya milik bapak saya yang mendapatkan doorprize dari sebuah seminar. Pertama kali saya membacanya saat kelas 9 SMP. Sebelum menulis ini, saya mencari novel itu di rak buku yang berada di gudang.

Sebenarnya, saya ingin mereview novel lama, yaitu Gadis Pantai karya Pramudya Ananta Toer. Saya memiliki novel itu. Saya juga mencari Novel Gadis Pantai di gudang, lalu melihat-lihat isinya sekilas. Ternyata, satu bab terdiri dari banyak sekali halaman (74 halaman). Belum lagi, ukuran hurufnya juga kecil-kecil dan spasinya kecil. Bisa dibayangkan besarnya energi dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membaca satu bab novel itu. Akhirnya, niat itu saya urungkan.

Lebih baik saya memilih Novel Laskar Pelangi karena satu babnya tidak terlalu banyak (8 halaman). Ukuran huruf dan spasi di novel ini juga besar. Setelah mantap dengan Novel Laskar Pelangi. Saya pun konfirmasi kepada Kak Fahmi.

Pertama kali saya membaca novel ini yaitu saat saya kelas 9 SMP. Bagi saya saat itu, Novel Laskar Pelangi agak sulit di bab-bab tengah dan belakang. Saya banyak menemukan kosa-kata baru dan asing. Apalagi, saya termasuk jarang sekali membaca novel sebelum itu. Semua Tetralogi Laskar Pelangi pernah saya baca. Semua saya pinjam dari teman. Terkecuali Laskar Pelangi, karena milik saya sendiri.


Baik, langsung saja reviewnya ya. Saya ingin menyampaikan ini dengan format yang agak berbeda, yaitu berupa laporan tugas sekolah. Pada suatu hari, ada seorang siswa kelas 5 SD yang mendapat tugas selama school from home (SFH). Tugasnya adalah kerja sama siswa dan orang tua. Sang Ibu membaca sebuah bab novel, lalu siswa mewawancarai ibunya tentang isi bab dan kesan setelah membaca bab itu.

Setelah wawancara, siswa harus menuliskan wawancaranya di buku tulisnya. Inilah hasil wawancaranya:

Anak: “Bunda, Novel Laskar Pelangi ini ceritanya tentang apa?”

Bunda: “Novel Laskar Pelangi ini cerita utamanya adalah tentang kehidupan 10 anak SD Muhammadiyah Belitong. Bab pertama berjudul Sepuluh Siswa Baru.”

Anak: “Bagaimana latar tempat, waktunya, dan suasananya?”

Bunda: “Latar waktu novel ini adalah di tahun 1980-an awal. Latar waktu bab 1 adalah di pagi hari. Saat itu tahun ajaran baru. Latar tempatnya adalah di sebuah sekolah, tepatnya di teras sekolah. Sekolah itu bernama SD Muhammadiyah Gantong. Bangunan sekolahnya doyong seolah akan roboh. Suasananya saat itu adalah para tokoh merasa cemas, namun di akhir bab menjadi bahagia.”

Anak: “Siapa saja tokohnya?”

Bunda: “Tokoh yang ada di bab 1 itu adalah Pak Harfan, Bu Mus, 9 anak calon siswa dan orang tuanya. Lalu di akhir bab, ada 1 siswa lagi yang datang bersama orang tuanya.”

Anak: “Sudut pandang apa yang digunakan oleh penulis?”

Bunda: “Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal.”

Anak: “Apakah banyak percakapan langsungnya?”

Bunda: “Di bab 1 ini jarang ada percakapan langsung. Sebagian besar berupa deskripsi saja. Namun tentu saja harus ada beberapa kalimat langsung agar tampak manis.  Percakapan langsungnya hanya sedikit saja.”

Anak: “Bagaimana alur ceritanya, Bun?”

Bunda: “Alur ceritanya adalah ada 9 anak bersama orang tua mereka di depan sekolah. Mereka akan mendaftar menjadi siswa SD Muhammadiyah. Ada juga 1 guru yaitu Bu Mus dan 1 Kepala Sekolah yaitu Pak Harfan. SD itu diharuskan mendapatkan minimal 10 siswa kalau tidak ingin ditutup oleh dinas. Mereka sedang menunggu dan berharap semoga ada siswa baru lagi yang datang.”

“Sementara itu, penulis juga menyajikan spekulasi perasaan-perasaan para tokoh, yaitu perasaan Bu Mus, Pak Harfan, orang tua, dan calon siswa. Spekulasi itu juga digambarkan dengan lucu seakan-akan penulis paham betul perasaan masing-masing tokoh. Penulis bisa menggambarkan kecemasan dari setiap tokoh di bab ini dengan baik.”

Anak: “Bagaimana akhir cerita bab ini?”

Bunda: “Di akhir cerita, ada sebuah titik terang yaitu datanglah seorang anak yang akan mendaftar. Lengkap sudah target 10 siswa baru di sekolah itu. Bab ini berakhir dengan bahagia atau disebut juga happy ending.”

Anak: “Bagaimana kesan Bunda terhadap penulis pada bab ini?”

Bunda: “Penulis dapat menggambarkan dengan sederhana namun membuat pembaca mengerti suasana di pagi itu. Kata-katanya dikemas dengan ringan.” 

Anak: “Berapa lama Bunda membaca bab ini?”

Bunda: “Tak terasa, hanya beberapa menit Bunda membacanya. Tiba-tiba, bab 1 sudah selesai. Bab 1 ini termasuk mudah dibanding bab selanjutnya. Mungkin itu juga yang menjadi daya tarik sebuah novel, yaitu sebaiknya bab-bab awal menggunakan kata dan kalimat yang mudah dimengerti pembaca.”

Anak: “Apakah ada kata-kata sulit di bab ini, Bun?”

Bunda: “Tidak ada, Nak. Di bab ini tidak ada istilah-istilah asing atau ilmiah yang sulit. Di bab-bab selanjutnya Bunda menemukan istilah-istilah tersebut. Jadi, saat membaca bab 1 ini lancar-lancar saja. Hanya ada kata filicium, yaitu nama ilmiah sebuah pohon. Memang di novel ini banyak istilah-istilah ilmiah. Hal ini bagus juga digunakan. Menyebutkan nama sebuah pohon dengan nama ilmiahnya, berarti sesuai dengan kesepakatan internasional. Keuntungannya, akan membuat sebuah novel mudah diterima di kalangan internasional, dan lebih mudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing lain.”

Anak: “Baik Bun, terima kasih sudah menjelaskan tentang bab 1 Laskar Pelangi.”

Bunda: “Sama-sama, Anakku. Terima kasih juga.”

Sekian review dari saya. Terima kasih telah membaca. Semoga bermanfaat.

Wassalamu’aikum.

4 thoughts on “Menyapa Sepuluh Murid Baru

Leave a Reply to Fahmi Ishfah Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s