Preposisi dalam Dakwah

Photo by Raphael Schaller on Unsplash

Saya adalah bagian dari pemuda yang mulai menggeluti hobi menulis. Sebenarnya dari kecil saya sudah mulai menulis karya yaitu beberapa cerpen dalam satu buku tulis ketika di Sekolah Dasar (SD). Namun seiring berjalannya waktu, saya lebih fokus belajar daripada menulis karya. Dan ketika beranjak dewasa seperti sekarang inilah, saya mulai belajar menulis kembali.

Menjadi pemuda yang beranjak dewasa ini, saya belajar banyak hal termasuk dalam dakwah Islam. Jika boleh dikatakan, saya terlambat masuk ke dalam organisasi, barulah kemudian pada awal kuliah saya mengenal betapa pentingnya pemuda dalam berorganisasi apalagi organisasi Islam, seperti saya pertama mengenal IMMPB (Ikatan Mahasiswa Muslim Politeknik Batam) tahun 2014 hingga 2015.

Berbicara tentang pemuda, menulis dan dakwah, menjadi menarik untuk dibahas secara umum sambil belajar preposisi yang baik dan benar. Setelah saya banyak membaca tulisan teman-teman Ikatan Kata (IK), saya menjadi paham bahwa belajar preposisi ini sangat penting untuk dilakukan. Saya sering kali terjebak dalam penulisan kata “di“, dan “ke”. Dan saya bahkan tidak tahu bahwa penggunaan kata “pun” dan “nya” juga perlu diperhatikan dengan benar.

Tahun 2019 lalu, saya pernah bergabung dalam Proyek Buku Pertama Gerakan Hang Nadim Menulis (Gerhanalis) sebagai salah satu penulis, editor dan desainer. Ketika saya menyunting tulisan teman-teman saya, saya sering kali mendapati tulisan kata “di” yang banyak kesalahan dan sering menemui tulisan yang tidak benar tanda bacanya (kesalahan dalam penulisan). Dari hal tersebut saya menyadari bahwa hanya sebagian kecil yang saya pahami dan menjadi pengalaman berharga karena belajar menyunting atau memperbaiki tulisan orang lain.

Sekarang saya akan mempelajari preposisi dengan menggunakan pembahasan umum tentang dakwah (atau yang pernah saya alami) seperti yang sudah disinggung pada judul di atas. Tidak hanya saya, teman-teman pembaca pun bisa mempelajarinya juga bersama saya ataupun membaca pos dari blog IK di sini.

Photo by fotografierende on Unsplash

Preposisi, atau disebut juga sebagai kata depan, “di” yang menunjukkan arah atau tempat harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Kita harus bisa membedakan dengan “di” sebagai kata kerja pasif (harus disambung).

  • Islamic Leadership Training Pengurus Komisariat Barelang Raya telah diadakan pada tanggal 20 Februari 2020 berlokasi di Gedung Dispora, Baloi, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
  • Islamic Leadership Training dikenal juga dengan sebutan Dauroh Marhalah 1, yang hanya dapat diikuti oleh Mahasiswa.
  • Setiap orang mempunyai kesempatan menjadi seorang pemimpin, karena jiwa kepemimpinan itu bukanlah sesuatu yang diwariskan. (qoutes dari Nurmiati)
  • Pemuda haruslah membentuk karakter dirinya sejak dini, ditempa dengan tantangan dan ditumbuhkan melalui perjuangan. Agar ia mampu dan siap berkontribusi untuk agama dan negeri.
  • Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) adalah salah satu wadah yang cocok untuk pemuda dalam mengembangkan dirinya di dunia dakwah. KAMMI hadir di Indonesia maupun di mancanegara seperti KAMMI Turki dan KAMMI Malaysia, agar dapat terus melanjutkan perjuangan dakwah Islam.
  • Salah satu syarat mengikuti Islamic Leadership Training (ILT) Pengurus Komisariat Barelang Raya ataupun Pengurus Komisariat Hang Nadim adalah siap untuk mengikuti pembinaan di KAMMI.

Kata depan “ke” yang menunjukkan arah atau tujuan harus dipisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya:

  • Saya pernah mengikuti Dauroh Marhalah 2 (DM 2) yang diadakan tanggal 15 sampai dengan 18 November 2018. Ketika itu saya harus pergi ke Tanjung Pinang (Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau) karena telah lulus pemberkasan, penugasan dan wawancara.
  • Saya sebagai peserta DM 2 diwajibkan membawa buku minimal 2 buah yang tertera pada daftar tugas baca, dan buku tersebut saya letakkan ke ruang kelas sebagai perpustakaan mini selama agenda dauroh berlangsung.
  • Ketika materi yang ke-empat di agenda DM 2 dimulai , saya disuruh kakak panitia untuk duduk ke depan, karena saya terlihat sedikit mengantuk mendengarkan materi dari pagi sampai sore yang cukup kompleks.

Kata depan “ke” disambung jika menyatakan kata kerja atau kuantitas, contohnya:

  • Dauroh Marhalah 2 (DM 2) merupakan jenjang pengkaderan tingkat kedua yang bertujuan untuk membentuk syaksiah (kepribadian muslim) lebih jauh, dan para kader dibentuk menjadi seorang Muharriq (penggerak dakwah).
  • Saya sudah kesekian kali mengingat momen akhir DM 2 lalu, tetapi masih saja sedih karena saya merasa masih belum pantas menjadi seorang da’i ataupun penggerak dakwah, saya masih fokus menggeluti satu bidang yaitu dakwah visual.
  • Saya terkadang iri kepada teman-teman saya yang sudah mempunyai sepak terjang dakwah yang jauh dan ilmu yang mumpuni, saya masih belajar public speaking dan membaca buku-buku tebal dan kompleks pembahasannya tentang Islam.

Ditulis “ke” jika menyatakan nomor urut, contohnya:

  • “Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh, dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat,..” adalah penggalan kalimat poin yang ke-6 dari isi Kredo Gerakan KAMMI.
  • Training Jurnalistik Komisariat KAMMI Barelang Raya adalah training yang ke-2 dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2020 dengan tema “Aktif Menulis di Media Sosial Bagian 2” yang diisi oleh saya sendiri sebagai pemateri umum.
  • KAMMI Daerah Batam akan melaksanakan Dauroh Marhalah 2 yang ke1, pada tanggal 24 sampai dengan 28 Februari 2021.

Kata depan “pun” disambung jika menyatakan penegasan, contohnya:

  • Dauroh Marhalah 1 adalah pembekalan pertama bagi saya untuk mempelajari hal-hal yang dasar seperti mengingat kembali konsep syahadat, sebelum akhirnya saya disebut sebagai anggota ataupun kader.
  • Ada titik dimana saya ingin menyudahi apa yang telah saya lakukan di KAMMI. Tetapi tidak bisa, ketika teringat Allah dan kedua orang tua saya. Meskipun saya tidak maksimal dalam berdakwah, saya masih bisa berkontribusi dalam hal kecil seperti membuat desain poster agenda dan menulis.
  • Kalaupun saya masih bertahan di KAMMI, itu karena saya menganggap bahwa saya merasa hidup dengan terus mengasah kemampuan saya yang sering membuat desain dan terus belajar menulis serta belajar banyak hal untuk mengembangkan diri saya sebagai salah satu penggerak dakwah.

Kata depan “pun” dipisah jika menyatakan juga atau saja, contohnya:

  • Perjuangan setiap orang untuk belajar dan melaksanakan amanah berbeda-beda, saya pun ucap syukur kepada Allah karena saya dikenalkan oleh orang-orang seperti mereka, untuk belajar dan menjalankan amanah bersama-sama.
  • Dalam pembelajaran dasar yang kita sering dengar ialah pengetahuan dan keterampilan, saya juga pelajari hal tersebut bersama teman-teman ketika mengikuti dan lulus dari Training For Instruktur (TFI) selama 2 malam 3 hari di Batam, yang lebih banyak belajar tentang keterampilan menjadi penggerak dakwah. Kami pun kemudian disebut instruktur yang bisa menjadi pelaksana pengkaderan.
  • Dalam menghadapi akhir zaman kita perlu berkaca dari sejarah dan kondisi negara Palestina yang menjadi reminder sekaligus bomerang besar bagi kita untuk tetap belajar istiqomah dalam kesabaran, keberanian, dan ketaqwaan. Saya pun menuliskan dengan jelas dibuku, kata-kata dari Ustazdah Nurjannah di agenda kajian dengan tema “Peran Muslimah Akhir Zaman” tahun 2019 lalu.

Kata depan “nya” disambung jika menyatakan kepemilikan orang ketiga atau menunjukkan sesuatu atau sufiks murni. Contohnya:

  • Kita berpikir betapa jauhnya perjalanan ini kan ditempuh, dengan persiapan ataupun tanpa persiapan. Semuanya akan berbeda bukan?
  • Saya biasanya suka membuat desain yang sederhana selama hampir 4 tahun berproses dan menggeluti bidang humas ataupun publikasi di KAMMI Komisariat Hang Nadim dan KAMMI Batam.
  • Kualitas dan totalitas memang penting dalam membentuk profesinalitas kerja dakwah. Namun kesiapan juga penting demi meminimalisir segala kekurangan yang mungkin ada. Tentu setiap kegiatan tidak sepenuhnya dikatakan 100% sempurna, karena pasti ada saja kekurangan yang ditemukan diawal atau diakhir kegiatan.

Kata depan “nya” yang dipisah (untuk menyatakan kepemilikan Tuhan). Contohnya:

  • Tetap tegakkan pundak kita dan melangkah dengan tujuan yang sama, menggapai ridho-Nya.
  • Sebelum benar-benar kembali. Apakah ada getaran pertanda cinta pada-Nya. Atau amarah bergemuruh ketika menemui diri jatuh pada kelalaian. Akankah aku bisa menjawab, mengapa aku mencintai-Nya.
  • Kita berdakwah sesungguhnya adalah belajar tentang keikhlasan pada-Nya, karena jalan dakwah memang tidak mudah dan berliku, tentu ada saja orang yang tertinggal, bertahan ataupun maju sebagai penggerak.

Demikian tulisan ini saya buat untuk melunasi hutang tulisan Ketik6 yang sudah terlewat bahkan mungkin berminggu-minggu, karena saya tidak ingat pasti. Tetapi terima kasih banyak kepada teman-teman Ikatan Kata (IK) yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk terus belajar dan menyelesaikan tulisan ini.

9 thoughts on “Preposisi dalam Dakwah

  1. Akhirnya terbit juga KETIK punya Imas. Sedikit koreksi :
    .
    1. Judul jangan ditulis kapital semua
    2. kedalam (ke dalam)
    3. postingan (pos)
    4. didunia (di dunia)
    .
    Semoga dakwah yang dijalani Imas berjalan lancar dan diberikan kekuatan.

    Liked by 1 person

      1. terima kasih, Pak Guru. dan mohon maaf karena saya typo juga dalam isi komentar bukan dalam posnya

        Memang Pak Guru selalu jeli kalau membaca komentar khususnya dari saya.

        sekali lagi, terima kasih

        Like

  2. Sayapun juga suka menulis dari SD sudah menulis naskah teater. Bahkan penulisan preposisi salah saja langsung di suruh ganti sama bapak
    Sekarang malah nulis suka suka 😅
    Apalagi kalau di bagian dakwah gini suka bingung kalau nulis gelar gelar seperti radhiyallahu ‘anhu, shallallahu alaihi wasallam
    Pengen di spelling kok kepanjangan,disingkat kok gk boleh disingkat2
    Kadang ya suka suka kerjasama otak sama jari klo nulisnya 🤣

    Liked by 1 person

Comments are closed.