Mr. Fantastic Four dan Invisible Woman adalah Orang Tua Gue

Hari ini Senin tanggal 4 Januari 2021 bertepatan dengan hari ulang tahun salah satu Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia yaitu Martha Christina Tiahahu gue ingin sedikit menuliskan tentang sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidup gue.

Menurut gue pahlawan adalah sosok yang dengan sadar telah berjuang untuk seseorang atau sekelompok orang yang sangat dicintainya tanpa mengharapkan imbalan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidup gue tidak lain tidak bukan adalah kedua orang tua gue sendiri. Gue menyebutnya dengan sebutan Papa dan Mama.

Gue akan memulainya dengan menceritakan Papa gue.

Papa gue bukanlah seorang yang hebat jika dilihat dari kacamata orang lain. Karena Ia bukan seorang pengusaha sukses yang punya harta berlimpah yang hartanya tidak habis dimakan sampai tujuh turunan.

Tapi bagi gue, Ia adalah sosok kepala keluarga sekaligus pahlawan yang sangat bijak karena sangat tau kapan harus menarik dan mengulur anak-anaknya. Papa gue tau banget kapan harus memberi nasihat kepada anak-anaknya. Sepintas terlihat Ia tidak peduli dengan anak-anaknya. Tapi sebenarnya Ia sengaja memberikan batasan yang sangat luas untuk di jelajahi oleh anak-anaknya. Ia akan memperhatikan betul batasan tersebut dan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan anakan-aknya.

Hal itulah yang pada akhirnya menjadi kesempatan emas bagi gue untuk melakukan banyak hal mulai dari yang paling agamis sampai yang paling nakal. Gue jadi punya pengalaman yang sangat luas selama 27 tahun hidup gue.

Gue punya pengalaman sama Papa gue yang benar-benar pada saat itu Papa gue menjadi pahlawan bagi gue dan adik-adik gue.

Suatu saat ketika gue, kedua adik gue dan Papa gue lagi jalan-jalan di pinggil Kali Opak, gue melihat bebek-bebek sedang berenang di kali tersebut. Tiba-tiba gue langsung terpikir untuk melempar batu kearah bebek – bebek itu. Pertamanya gue cuma nimpukin batu ke airnya untuk membuat bebek itu sedikit bereaksi. Tapi lama – lama ketika adik–adik gue mulai mengikuti menimpuk bebek itu gue makin tertantang untuk jauh lebih jago dari adik–adik gue. Maka gue arahkan batu–batu yang lumayan besar itu ke arah bebek tersebut. Dan lemparan gue telak banget mengenai kepala salah satu bebek. Dan karena batunya sebesar batu bata bebek itu langsung tenggelam dan gak muncul–muncul lagi ke permukaan.

Tiba – tiba ada seorang lelaki dewasa agak kurus datang ke arah kami dengan muka kesal. Sebenarnya muka orang tersebut tidak terlalu seram. Tapi yang bikin seram adalah karena dia membawa golok. Dia ngomel – ngomel menggunakan Bahasa Jawa yang saat itu gue belum paham maksudnya. Akhirnya Papa gue melawan orang tersebut dengan halus dan meminta maaf.

Benar-benar gue gak gebayang jika Papa gue saat itu lengah dan tidak menahan orang tersebut.

Baca juga : “Ayo, Timpukin Bebeknyaaaa!!!!”

Lalu tentang Mama gue.

Mama gue juga bukan seorang yang hebat jika dilihat dari kacamata orang lain. Karena Ia tidak memiliki jutaan followers instagram dengan tarif endorsement puluhan juta sekali posting instagram story.

Berbeda dengan Papa yang memiliki batasan yang sangat luas dalam mendidik anak, Mama gue memberikan batasan yang sempit bagi anak-anaknya. Batasannya adalah semua anak-anaknya tidak boleh bersikap tidak sopan, tidak boleh melakukan sesuatu yang dilarang Tuhan dan agama, tidak boleh jorok, harus rajin nyapu, beresin kamar dan hal-hal lain yang seakan kita anak-anaknya hanya harus menyibukkan diri dengan aktifitas berbenah.

Tapi bukan berarti jasa Mama gue tidak lebih besar dari jasa Papa gue. Jasa seorang ibu melahirkan anaknya jelas tidak terkalahkan oleh jasa siapapun dalam hidup setiap orang. Belum lagi pengorbanannya sebagai seorang ibu rumah tangga yang sangat memelihara anak-anaknya. Mulai dari membesarkan, memberikan pendidikan dasar, memasak setiap hari, menyiapkan bekal dari jaman sekolah sampai sekarang anak-anaknya sudah pada bekerja, mencuci dan menyetrika pakaian hingga merawat ketika anak-anaknya sedang sakit.

Baca juga : Surga Ditelapak Kaki Ibu.

Sebuah kombinasi karakter orang tua yang menurut gue sangat pantas gue syukuri.

Seorang ayah yang memberikan kebebasan tapi tetap dengan penuh pengawasannya yang akhirnya membuat gue menjadi orang yang (menurut gue) lumayan berani mengambil resiko untuk mengejar apa yang gue cita-citakan dan untuk menjaga keluarga namun tetap punya pendirian yang kuat dalam hal sopan santun dan iman berkat pengajaran dari Mama gue.

Mereka adalah pahlawan-pahlawan gue yang telah tanpa pamrih mengorbankan seluruh tenaga, pikiran dan perasaannya untuk membentuk anak-anaknya walaupun terkadang mereka jadi sedikit bertengkar karena perbedaan pendapat dalam mendidik anak.

Gue menggambarkan orang tua gue seperti Mr. Fantastic Four dan Invisible Woman. Dan itu alasannya juga kenapa group whatsapp keluarga gue, gue kasih nama Fantastic Five. Kenapa five? Ya karena jumlah anggota keluarga kami ada lima. Tapi boleh lah gue jadi Human Torch Hahaha.

Sekian tulisan gue kali ini tentang pahlawan dalam hidup gue. Gue yakin kalian juga berpikir sama seperti gue bahwa orang tua kalian adalah pahlawan bagi kalian. Untuk itu hormatilah mereka dan berjuanglah semaksimal yang kali bisa untuk menjaga dan membahagiakan orang tua kalian.

Salam hangat,

Alvi Alevi

Sumber gambar : IMDb

Baca juga :

7 thoughts on “Mr. Fantastic Four dan Invisible Woman adalah Orang Tua Gue

  1. Salam hormat untuk kedua orang tua Alvi
    .
    Koreksi
    .
    1. papa dan mama (Papa dan Mama) // jika sebagai panggilan huruf pertamanya kapital
    2. tau (tahu)
    3. di jelajahi (dijelajahi)
    4. adik – adik (adik-adik) // tamda – jangan ada spasi // sama seperti pada kata apa – apa, anak – anak, jalan – jalan, tiba – tiba, lama – lama, batu – batu, bebek – bebek, muncul – muncul, ngomel – ngomel, benar – benar
    5. adek – adek (adik-adik)
    .
    Dan lakukan koreksi menyeluruh pada kata-kata yang dipakai yang masih menggunakan kata tidak baku

    Like

    1. Padahal saya sudah browsing lho kalau antara tau dan tahu itu untuk tahu lebis tepat untuk surat formal. Untuk artikel lebih tepat pakai tau.

      Trs kata apa lagi misalnya yg tidak kata baku?

      Like

      1. Kan saya gak bilang mas yg formal yang tahu. hehe. Coba deh cari di google “Antara tau dan tahu.”

        Soalnya dalam beberapa hal memang tau lebih tepat digunakan dari pada tahu.
        Misalnya lagunya Rizky Febian yang judulnya Cukup Tau. Apakah perlu diubah jadi Cukup Tahu? hehe.

        Oke nanti diganti ya.

        Trs apa lagi kata yg kurang baku?

        Apakah perlu harus pakai semua kata baku?

        Like

      2. kalau konteksnya lagu itu memang tak ada hubungannya dengan literasi.

        terserah alvi saja. buktinya kata ‘gue’ tidak saya komentari. walaupun sebenarnya bisa pakai aku atau saya

        Like

Leave a Reply to Alvi Alevi Cancel reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s