To Live Like a Tree

Sebatang pohon selalu menimbulkan rasa kagum dan hormat dalam diri. Sejak tumbuh dari bijinya, ia telah menetapkan tujuan hidupnya: menjulang mencapai matahari. Akarnya yang bening murni, tak takut menembus gelapnya tanah, dunia baru yang belum dikenalnya. Daun pertamanya mungil menggemaskan, muncul dengan malu-malu, menyapa matahari dan mengendus-endus bau asing yang bernama udara. Batangnya begitu tipis dan halus, gemetaran bertemu angin yang ingin berkenalan. Kita tidak akan mengira dari kerapuhan itu kelak lahir sebatang pohon yang perkasa.

Saya selalu teringat sebatang pohon bila daun-daun semangat saya rontok dan impian saya tercerabut. Saya mengingatnya karena ia senantiasa menghadirkan daun-daun baru, tak peduli berapa pun daunnya dirontokkan oleh keganasan alam. Bila cabangnya dipangkas, ia tidak ngambek dan berhenti tumbuh. Sebaliknya, dengan gembira ia melahirkan tunas-tunas baru. Mungkin ia malah berkata, “Baguslah. Lupakan kehidupan lamamu, biarkan yang baru datang!” Di saat paling ekstrim pun, ketika pokok batangnya tumbang, ia terus mencoba tumbuh kembali sampai takdir menjemputnya. Kalau ingat pohon yang tak kenal lelah berdiri tegak, saya jadi malu sendiri karena terlalu banyak mengeluh dan mengharap pamrih.

Begitu banyak kehidupan ditawarkan oleh pohon: dari ujung akar sampai ujung daun. Akar, yang tak terlihat, sebenarnya sangat sibuk. Selain membawa bahan-bahan makanan ke daun, akar suatu pohon menjalin komunikasi dengan akar pohon lain di sekitarnya. Mereka bercakap-cakap agar hidup bertetangga tetap harmonis. Yang punya kanopi luas diharapkan berdiri lebih tegak biar pohon-pohon yang kecil tetap bisa bertemu matahari. Berbagi makanan yang disediakan jamur-jamur yang hidup di akar juga dilakukan agar pohon mana pun – besar-kecil, tua-muda, yang cantik-yang biasa – bisa tetap survive. Kalau ada serangga yang mengancam, informasi langsung diedarkan agar semua bisa mempersiapkan diri. Jauh di atas, daun sibuk bekerja agar pohon dapat menyediakan buah-buahan untuk burung, kera, kalong, dan berbagai hewan pemakan buah, termasuk kita. Bahkan ulat dan semut pun dipersilahkan menikmati hidangan yang disediakan daun, karena pohon tahu ulat akan menjadi kupu-kupu dan semut membantu pohon memangkas daun-daunnya. Demikianlah para pohon saling menghormati. Di alam, pelit dan berlebih-lebihan adalah hal-hal terlarang.

Siapa yang mengira sebatang pohon mendapat tempat yang sangat terhormat ketika namanya ditorehkan oleh Yang Maha Kuasa.

Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata (QS Qaaf: 7)

Di ayat yang lain:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya setiap musim, dengan seizin Rabbnya (Q.S. Ibrahim: 24-26).

Demikianlah, pohon selalu didampingkan dengan kebaikan dan kecantikan. Betapa indahnya lukisan kehidupan ini. Alangkah baiknya bila kita menanam lukisan yang indah ini di sekeliling kita. Dalam hati, dalam pikiran, dalam setiap langkah kita menyusuri jalan hidup, dan di habitat tempat kita tinggal. Biarkan lukisan itu bertumbuh di dekat kita, karena tidak hanya keindahan yang ia berikan, tetapi juga udara kehidupan itu sendiri. Biarkan filosofinya mengurangi keburukan kita, manusia, yang selalu merasa paling kuat dan cantik, padahal sebenarnya kita lemah dan penuh polesan.

My dear, tree, I wish to live like you.

5 thoughts on “To Live Like a Tree

  1. Bagus sekali tulisannya, kak. Memang benar sebuah pohon manfaatnya sangat banyak, tidak hanya nilai ekonomis kayu atau daunnya saja. Pohon juga menyimpan air, menghasilkan oksigen, dan jutaan makhluk hidup menjadikan sebuah pohon sebagai habitat. Jadi ingat pelajaran ekologi. Hehe.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s