Meminjam Cerita Rani

Malam ini Rani terpaksa pulang sendirian di tengah guyuran hujan dan kekesalan hatinya, dia menangis sesenggukan sepanjang jalan. Biasanya dia tidak berani berjalan sendirian malam-malam seperti ini, namun karena terpaksa juga rasa kesal mau tidak mau dia memberanikan diri. Dalam hati dia mengutuk kekasihnya yang malam ini membatalkan perjanjian yang sudah direncana seminggu lalu.

“Maunya apa coba anak itu? Dia pikir bisa seenaknya gitu batalin janji? Aku nunggu dari jam enam sampai setengah sembilan, tapi ngga datang gitu aja. Sial!” dengusnya pelan sambil terus berjalan sembari memeluk jas hujannya yang sama sekali tidak mengurangi dinginnya cuaca malam ini.

Jalan Rotemham mulai sepi. Hanya ada lentera yang sengaja dihidupkan untuk menghalau jalan malam hari. Suara burung hantu juga sudah mulai terdengar dari kejauhan. Rani sedikit berjingkat ketika melewati genangan air dan sesaat terdengar suara langkah seseorang di belakangnya. Karena penasaran dia pun membalikkan badan. Namun, dia tidak mendapati apa-apa. Setelah dirasa aman dia lalu melanjutkan jalannya. Ketika Rani membelok ke gang menuju rumahnya, dia kembali mendengar suara langkah patah-patah seperti tadi.

“Kok aku merinding,” ucapnya pelan sambil berjalan lebih lekas. Air matanya masih menggenang di pelupuk, mungkin kali ini tidak ada maaf dari Rani untuk Bara, kekasih yang sudah menemaninya selama tiga tahun itu.

“Ran.” Suara parau itu terdengar jelas dikesunyian malam. Rani lalu membalikkan badannya dan mendapati seorang lelaki dengan jaket kulit yang tertutup jas hujan transparan dengan membawa tas hitam di punggungnya, lelaki itu berbadan tegap dan berjalan cepat menujunya. Namun, Rani malah membalikkan badan lalu melanjutkan jalannya lebih lekas. Dia tidak mau menemui lelaki itu, sungguh tidak mau. Beberapa menit lalu dia telah membuat hatinya teraduk-aduk.

“Kenapa ngikutin aku sih?” ucapnya pelan hampir berbisik.

“Rani, tunggu dong. Maafin aku,” teriakan itu semakin jelas.

Rani lalu berhenti dari jalannya, “Kamu pulang saja, aku ngga mau ketemu kamu, Bara.”

Bara yang tadinya berjalan lekas ikut berhenti ketika melihat Rani juga berhenti. Baru setelah Rani berjalan, Bara ikut jalan kembali serupa tadi. Bara berjalan semakin cepat dengan mengendap-endap agar langkahnya tidak terdengar. Dia pura-pura tak mendengar perkataan Rani, yang dia ingin sekarang hanya memeluk tubuh itu dan minta maaf.

“Udah, gausah ngendap-ngendap semacam maling, aku tahu kamu udah ada di dekat aku.” Rani semakin lekas berjalan.

“Ya sudah aku berhenti,” ucap Bara lantang.

Seketika Rani berhenti dan terduduk dengan kaki ditekuk. Hujan semakin deras mengguyur dan kakinya semakin lemas. Antara dingin dan kelelahan.

“Nah … jangan lari-lari makanya, aku udah bilang.” Bara lantas berlari mendekati kekasihnya, “Aku bantu jalan, ya?” Bara kembali mencari kesempatan.

“Ngga usah, kamu pulang saja. Tadi kalau kamu ngga kejar, aku juga ngga bakal capek,” bantah Rani sambil terus menepis tangan bara.

Bara tidak mendengar ucapan Rani, tangannya tetap mencoba membantu Rani berdiri dan memapahnya. Hingga lama kelamaan Rani luluh dan membiarkan Bara membantunya. Sebelumnya Rani benar-benar tidak mau sebab dia masih merasa kesal, namun di sisi lain kakinya sudah tidak lagi sanggup untuk berdiri. Jika tidak dibantu mungkin dia tidak bisa sampai rumah juga.

“Aku antar sampai rumah,” ucap Bara sembari tersenyum. Hujan deras berubah menjadi gerimis ketika sepasang anak muda tersebut berjalan dengan rapat.

Sesampainya di depan latar rumah Rani, seorang laki-laki dengan perawakan sama dengan Bara duduk di kursi sembari berbincang dengan Dharma, ayah Rani.

“Hlo kok kamu di sini, Bara?” Rani bingung, “Lalu dia siapa?“ lanjutnya sembari menunjuk seseorang di sampingnya yang tadi membantu berjalan. Namun, orang itu sudah tidak ada di samping Rani sekarang. Rani mulai gusar.

“Siapa?” Bara yang ada di kursi duduk masih bingung dengan tingkah Rani, sedari tadi yang dia tahu Rani berjalan sendiri. Dharma juga ikut bingung.

“Ran, kamu tadi itu jalan sendirian. Sambil terpincang-pincang gitu kakimu, kok malah bingung,” jelas Dharma.

“Tapi, Yah, Bar. Tadi itu, ada Bara di samping aku yang bantu aku jalan.” Rani lalu menjelaskan apa yang dia alami.

“Sudah, kamu masuk sana!” Perintah Dharma. Rani yang ketakutan lantas melenggang ke dalam rumah dan meninggalkan Bara dan Ayahnya yang masih bingung dengan sikap Rani.

_O0O_

Siang tadi, telah terjadi kecelakaan di jalan Rotemham. Korbannya seorang pengendara motor dan seorang pejalan kaki. Kejadian terjadi pada pukul 12.00 siang, ketika seseorang sedang menyebrang jalan dan dari arah utara pengendara motor melaju dengan kencang. Karena rem mendadak dan jalan licin, maka sepeda yang ditumpanginya terperosok dan masuk ke dalam jurang setinggi sepuluh meter penyebrang jalan juga ikut terpental hingga lima meter jauhnya sampai bahu jalan. Diketahui pengendara sepeda motor seorang laki-laki yang menggunakan jaket kulit warna hitam, dengan tas hitam yang isinya satu buket bunga mawar merah.

Suara  pembawa berita sore ini cukup bersemangat menggema dari tv ruang depan, Ranidae yang sedang bersiap-siap untuk kencan dengan Bara tidak memperdulikan suara dari televisi tersebut. Dalam hatinya yang ada hanya rasa bahagia sebab akan segera bertemu pujaanya setelah sekian lama menjalin hubungan longdistance. Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar dengan riasan yang cukup sederhana tapi sangat manis.

“Ma, aku pergi.” Sambil membanting pintu depan dia keluar.

“Lekas pulang,” seru Risma. Tapi sudah tak ada jawaban dari Rani.

– perempuan aksara.

15 thoughts on “Meminjam Cerita Rani

  1. Dari judulnya sbenernya aku penasaran. Cerita Rani yang manakah yang dipinjam 🤔 kalau ada hubungan dengan berita terkini aku kurang paham. Kurang mengikuti berita. Makanya bingung sama judulnya 😬 cerita rani yang mana yang dipinjam sbnernya 🤔

    Dengan alur maju mundur cukup membuat begidik juga bacanya.

    Like

    1. wkwkwkwk
      judulnya meminjam cerita rani. jadii aku mengibaratkan rani yang menceritakan pengalamannya ke aku. dan darii ranii aku membuat cerita tersebut. jadi meminjam di sini istilahnya menggunakan. agak ga nyambung sih, tapi menurutku masukk dan membuat pembacanya berpikir antara kata meminjam cerita dan isi cerita.

      Like

  2. Ini genre horor ya, Fit. Ada tanda tanya di diri Rani, dan jawabannya ada dalam kilas balik saat Rani bersiap-siap keluar rumah. Tapi dia mengabaikan berita di TV.
    Cukup tegang suasana saat Rani bertemu Bara sedang ngobrol dengan ayahnya.

    Mungkin yg dimaksud meminjam itu sebenarnya bercerita dengan sudut pandang orang ke-3, tapi kisahnya berdasarkan cerita salah satu tokohnya, Rani. Menurutku sih dengan sudut pandang itu tak mengapa jika menceritakan kisah yang diceritakan Rani. Sebab kalau meminjam, nanti mesti balikin kan? hehehe. Just kidding, Fitri.

    Bagus kok ceritanya. Untuk soal typo ada sih sedikit. Biar maestronya nanti yg berikan catatan ya. 😀 colek, Kang Fahmi.

    Like

    1. haha terima kasih, mas. tapi sebenarnya di sini yang saya maksud meminjam itu karena saya kan sebagai pencerita dan seolah-olah si rani ini kawan saya, maka rani cerita ke saya dan saya yang nulis. jadi saya pakai judul “meminjam” hehehe mungkin demikian.

      Like

  3. Koreksi:
    1. direncana (direncanakan)
    2. dikesunyian (di kesunyian)
    3. gausah (gak usah)
    4. ngga (nggak)
    5. Hlo (lho)
    6. menyebrang (menyeberang)
    7. penyebrang (penyeberang)
    8. Suara  pembaca (Suara pembaca) // lebih satu spasi
    9. tv (televisi)
    10. memperdulikan (memedulikan)
    11. pujaanya (pujaannya)
    .
    Note : Masih menunggu Perempuan Aksara menulis KETIK tanpa typo

    Like

    1. direncana dan direncanakan apakah beda arti, ya?
      kalau setau saya, kak. kalau kata hlo itu kan masuk dialog, jadi mau saya tulis hlo atau lho atau loh itu bukan masalah, Mas. dari dulu saya tidak pernah dapat kritik seperti itu kalau sudah masuk ke dialog pemain, karena logat itu beda beda, kecuali typo ya. hehehe

      note : kapan ya saya dikritik mengenai alur cerita, bukan cuma typo aja dan kapan ya saya ngga dapat kritik seperti ini, hehehe.

      Like

      1. tapi kasi komen alur lebih menarik, daripada komen typo terus. hehehe biar ada hal lain yang dikasih perhatian.
        kan manusia engga ada sempurnanya, mau sepandai pandainya tupai melompat juga akan jatuh. penulis hebat pun kadang bisa typo, mas. apalagi saya yang masih menye menye gini. wkwkwk

        Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s