Mengingat Mainan Masa Kecil

Bicara tentang mainan masa kecil, boleh ya saya sedikit cerita. Sebenarnya, orang yang paling bisa memberi referensi tentang mainan masa kecil saya adalah orang tua, terutama ibu. Ibu lebih ingat mainan masa kecil anaknya terutama saat masih di bawah 5 tahun.

Kali ini, saya coba menulis dari ingatan saya sendiri maupun dari cerita ibu tentang mainan masa kecil. Tentu tidak semuanya ya, ini hanya sebagian kecil saja.

Sebelum 5 tahun

Kata ibu, sebelum umur 4 tahun, saya pernah memiliki 2 boneka Susan. Saat itu, memang lagi tren boneka Susan dan Kak Ria Enes. Boneka Susan itu bisa menangis sendiri dan bicara sendiri. Jika diberi dot, maka dia akan diam. Boneka Susan terbuat plastik dan menggunakan baterai. Boneka Susan saya yang pertama rusak, lalu beli lagi, dan beberapa saat kemudian rusak lagi. Ini menurut ibu. Saya sendiri tidak ingat bahwa pernah memiliki boneka Susan. Yang saya ingat adalah saat umur 4 tahun, boneka Susan itu sudah rusak. Memang ingatan anak kecil baru benar-benar aktif saat 4 tahun mungkin ya.

Mainan berikutnya yaitu telpon-telponan. Telpon-telponan saya berwarna pink dan bahannya plastik. Bentuknya persis seperti telpon rumah. Mainan yang lain yaitu tembak-tembakan. Meskipun perempuan, saya juga punya mainan tembak-tembakan loh. Saya masih ingat, tembak itu berbahan plastik. Warna dasarnya putih, menggunakan baterai, dan bisa berbunyi macam-macam. Ada bunyi seperti sirine, bunyi tembakan, dan lain-lain. Tembak-tembakan itu mempunyai lampu berwarna merah yang bisa menyala setiap kali berbunyi. Teman-teman saya tertarik dengan mainan itu. Kami sering bermain bersama dengan tembak-tembakan itu.

Saya juga memiliki boneka kecil yang tingginya tidak lebih dari 15 cm. Robot lebih tepatnya. Bentuknya seperti kucing berdiri, bajunya berwarna hijau, teksturnya keras. Di bagian bawahnya bisa diisi baterai. Kata ibu, boneka robot itu dulu memegang tali. Jika ditekan tombol on, tali berputar, dan dia bisa loncat tali sendiri. Saya sendiri tak ingat hal itu. Saya hanya ingat waktu usia saya 4 tahun, boneka itu sudah rusak, talinya hilang, dan tidak bisa loncat tali lagi.

Boneka selanjutnya yaitu boneka anak perempuan. Boneka tersebut terbuat dari plastik, tingginya 15 cm, kepalanya besar. Di bagian bawahnya ada lubang udara. Jika kepalanya ditekan, maka akan mengeluarkan udara dari lubang itu. Boneka ini masih ada sampai sekarang, masih awet, dan tidak ada kerusakan yang berarti. Mungkin karena ibu yang menyimpannya dengan baik sehingga masih ada sampai sekarang. Foto boneka itu ada di bawah ini.

Jpeg

Setelah 5 tahun

Mainan yang saya miliki setelah 5 tahun, seingat saya adalah boneka. Ada 3 boneka yang saya punya. Saya pun menamai boneka itu. Ada yang saya beri nama Tono dan adapula Dedik. Ukurannya kecil, mungkin sekitar 30 cm. Ada juga boneka yang lebih besar tapi tidak saya beri nama.

Setelah 7 tahun

Saat itu, saya memiliki mainan hanphone-handpone-an. Handphone mainan tersebut bertuliskan Motorola. Dia bisa berbunyi jika ditekan tombolnya. Ada bunyi orang berbicara, anjing menggonggong, ada pula lagu. Mainan yang lain yaitu boneka beruang. Ukurannya kecil. Tingginya hanya 15 cm. Boneka beruang ini saya dapatkan saat membeli tas sekolah. Di tas itu ada boneka beruangnya. Boneka beruangnya masih awet sampai sekarang. Fotonya ada di bawah ini.

Jpeg

Mainan apa yang saya inginkan saat kecil dan belum terwujud? Alhamdulillah, tidak ada. Jadi, memang seingat saya tidak ada mainan yang ingin saya miliki namun tidak bisa atau belum sempat membelinya. Sekian tulisan saya tentang mainan masa kecil. Terima kasih.

Mojokerto, 19 Desember 2020

Advertisement

9 thoughts on “Mengingat Mainan Masa Kecil

  1. Masa kecilnya bahagia betulll πŸ˜… btw ini bisa jadi bahan tulisan soal membangun sosok. Bagaimana orang tua dan lingkungan sangat berperan dalam perkembangan anak untuk menjadi sosok yang bagaimana. Tuhhh kenapa kalau anak perempuan mainannya harus boneka? Kalau laki-laki mainananya harus robot-robotan? πŸ€” πŸ˜… apa nggak boleh di balik? Atau kombinasi πŸ˜…

    Soalnya dulu aku mainannya baju2an dari kertas itu lho πŸ˜… dan aku satu2nya anak berkelamin laki-laki diantara temen2ku yang berkelamin perempuan. Daaaan kami bermain baju2an. 🀣

    Lain halnya dengan masHP. πŸ˜‚ mainan mobil-mobilan yang bisa diremot belum kesampaian juga lho πŸ˜…

    Like

    1. Iya kak, alhamdulillah, Belajar menulis kebahagiaan masa kecil agar bisa bersyukur. πŸ™‚

      Bener banget, penting banget belajar menjadi orang tua meski belum menikah dan jadi orang tua. πŸ™‚

      Sepertinya karena fitrah perempuan yang penyayang, jadi mainanya boneka, sedangkan laki2 fitrahnya berpetualang sehingga mainannya robot atau mobil2an.

      Wah, lucu dong Mas Ainin bermain baju2an dari kertas, Berarti mas Ainin ini fitrah penyayangnya besar.
      Btw, pas aku kecil juga ada mainan baju2an itu, tapi aku yg perempuan malah kurang suka bermain baju2an dan barbie. hehe. Mainan itu terlalu cewek bagiku.. hehe, πŸ˜€ kok malah kebalik ya aku?

      Liked by 1 person

  2. Wah.. mantab. Masa kecilmu sangat menyenangkan juga tentunya. Ibu selalu mendampingi.
    Btw, keknya ada bakat jadi Polwan atau ABRI nih, Hani. 😁

    Like

  3. Koreksi:
    1. referenesi (referensi)
    2. Telpon-teponan (Telpon-telponan)
    3. hp (handphone)
    4. saya tidak ada mainan yang ingin kumiliki (saya miliki) // mesti konsisten apakah mau memakai kata ‘saya’ atau ‘aku”
    5. Gambar-gambar atur align center ya

    Like

Comments are closed.